Gratis Buku Motivasi "Menggali Berlian di Kebun Sendiri", Klik Disini Kandang Sapi | Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan -->

POTENSI VIRTUAL HERDING DAN VIRTUAL FENCE UNTUK TERNAK SAPI

Peternakan sapi yang digembalakan. (Foto: Istimewa)

Sejumlah penelitian dilakukan di Australia untuk mengetahui sejauh mana potensi penerapan virtual herding (penggembalaan secara virtual) terhadap ternak sapi. Salah satunya dilakukan oleh Dana Campbell dan timnya dari CSIRO (Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation).

Cara Kerja Virtual Herding
Untuk menerapkan virtual herding, Dana dan timnya memasang kalung GPS pada sapi-sapi yang ditempatkan di kandang paddock. Pada area kandang diatur garis pagar virtual (virtual fence) yang menciptakan zona inklusi di mana sapi dikehendaki berada dan zona eksklusi di mana sapi tidak boleh memasukinya.

Ketika sapi berada di zona inklusi mereka tidak menerima sinyal atau isyarat apapun dari perangkat. Ketika sapi mendekati garis pagar virtual, perangkat akan mengeluarkan nada peringatan audio yang diikuti oleh kejutan elektrik jika sapi terus bergerak maju.

Jika sapi terus menyeberang ke zona eksklusi, mereka masih akan menerima audio dan kejutan elektrik juga saat mereka terus bergerak lebih jauh ke dalam zona eksklusi. Namun, jika sapi berbalik untuk bergerak kembali ke arah zona inklusi, mereka tidak lagi menerima peringatan apapun.

Sistem tersebut melatih sapi untuk menanggapi peringatan audio sehingga mereka dapat menghindari menerima kejutan elektrik jika berhenti segera setelah mendengar peringatan audio tersebut.

“Kami melakukan serangkaian penelitian untuk memeriksa respons hewan terhadap pelanggaran pagar virtual dan melihat penerapan teknologi ini untuk dapat menggembalakan ternak,” kata Dana.

“Kami kemudian melakukan studi skala yang lebih besar untuk melihat respons kesejahteraan hewan jika kami memaparkannya ke pagar listrik standar versus pagar virtual. Kemudian menjajaki penerapan teknologi untuk membatasi hewan dari area yang sensitif atau terlarang untuk mereka.”

Respons Sapi Terhadap Pagar Virtual
Penelitian pertama dirancang untuk melihat bagaimana sapi merespons jika pagar virtual dipindahkan. Hal itu dengan pemahaman bahwa produsen atau peternak mungkin ingin membuat pagar sementara untuk sapinya.

Paddock dipasang dan sapi diberi akses penuh ke seluruh paddock pada awalnya sehingga mereka dapat terbiasa dengan area tersebut. Kemudian satu garis pagar virtual dibuat yang memungkinkan sapi hanya memilik akses ke 40% area paddock. Sapi-sapi tersebut dilatih untuk mengenali sinyal peringatan pagar virtual selama sekitar satu minggu.

Kemudian garis pagar digeser sehingga sapi memiliki akses ke 60% area dan digeser lagi sehingga sapi bisa mengakses 80% area paddock. Selanjutnya garis pagar sedikit diubah menjadi memanjang di sepanjang paddock untuk melihat seberapa baik sapi benar-benar merespons sinyal peringatan.

Hasilnya sapi tetap berada di zona inklusi. Tapi ketika pagar virtual digeser sehingga zona inklusi lebih luas, mereka hanya dalam waktu empat jam untuk mengetahuinya dan bergerak ke zona yang semula eksklusi.

Virtual Herding
Dana menuturkan, “Studi berikutnya yang kami lakukan adalah melihat penerapan teknologi ini untuk dapat menggembalakan sapi dalam jarak dekat. Kami menggunakan gadget untuk berkomunikasi dengan perangkat yang terpasang pada sapi dan paddock serta untuk mengatur pagar virtual.”

Beberapa jenis desain pagar dicoba pada beberapa kelompok sapi dengan protokol yang sama. Pada hari pertama sapi ditempatkan di paddock. Hanya GPS yang diaktifkan dan pagar virtual tidak dipasang.

Kemudian setelah sapi terbiasa dengan paddock pada hari ketiga pagar virtual diaktifkan. Di hari keenam sapi digiring ke salah satu sisi paddock dan pada hari ketujuh digiring ke arah yang berlawanan.

“Kami menemukan bahwa jenis pagar virtual yang paling berhasil adalah back fence. Jadi saat hewan bergerak kami mengaktifkan pagar di belakang mereka dan kami menggesernya saat hewan terus bergerak,” jelas Dana.

Back fence didesain agar sapi tidak bisa berputar balik. Tidak ada peringatan yang diberikan selama sapi bergerak ke arah yang diinginkan. Tapi jika mereka berbalik dan mencoba bergerak kembali maka mereka akan menabrak garis pagar virtual dan mendapatkan peringatan.

Dengan back fence sapi bisa digiring sepanjang 300 m dalam waktu kurang dari 20 menit. Hal ini relatif, tergantung dari kecepatan sapi dalam bergerak. Saat digiring sapi sebagian besar tetap bersatu sebagai satu kelompok dan tidak ditemukan adanya sinyal stres pada mereka.

Dampak Terhadap Animal Welfare
Penelitian ketiga dilakukan bertujuan untuk benar-benar memahami apakah teknologi pagar virtual memiliki dampak terhadap animal welfare dan bagaimana perbandingannya dengan pagar listrik yang sudah digunakan secara luas.

Sapi yang digunakan dalam penelitian selain dipasangi kalung GPS juga dipasangi alat IceQube untuk merekam profil perilaku sapi. Kemudian sapi dicatat berat badan awalnya. Setelah diberikan waktu seminggu untuk menyesuaikan diri dengan paddock, sapi diambil sampel tinjanya untuk memeriksa metabolit hormon stresnya.

Kemudian pada kelompok yang berbeda pagar virtual dan pagar listrik diaktifkan. Zona inklusi yang diberikan seluas enam hektare. Selama masa penelitian dilakukan pengukuran berat badan dan pengambilan sampel tinja mingguan. Tidak ada perbedaan besar antara sapi yang diberi pagar listrik dengan pagar virtual.

 “Kami menemukan sapi yang terpapar pagar virtual menunjukkan waktu berbaring yang sedikit lebih rendah setara dengan kurang dari 20 menit per hari. Kami tidak yakin apakah itu mungkin memiliki implikasi lain dalam jangka panjang atau apakah 20 menit itu relevan secara biologis untuk sapi atau tidak,” kata Dana.

Disimpulkan bahwa perilaku dan fisiologis animal welfare menunjukkan perbedaan minimal antara pagar listrik dan pagar virtual.

Mencegah Sapi Memasuki Area Terlarang
Penelitian terakhir yang dilakukan adalah melihat penerapan teknologi virtual herding untuk mencegah sapi memasuki area sensitif atau terlarang. Ini berguna jika peternak memiliki area yang tidak mudah dipagari atau area yang mungkin diinginkan memasang pagar sementara.

Uji coba pertama adalah zona riparian komersial dilakukan di peternakan komersial di New South Wales. Pagar virtual dibuat selama sekitar 10 hari. Ada satu titik dimana empat ekor sapi menyeberang ke zona eksklusi selama sekitar 30 menit sebelum teknologi virtual herding membalikkan dan menggiring mereka ke kawanannya.

Ketika pagar virtual dinonaktifkan, sapi-sapi mengakses lebih banyak area daripada sebelumnya. Terjadi sangat cepat yaitu hanya beberapa jam setelah pagar virtual dinonaktifkan.

Teknologi virtual herding juga bisa menjauhkan sapi dari area pohon atau tanaman muda yang sedang beregenerasi. Uji coba yang dilakukan di Australia Selatan menunjukkan sapi tetap berada di dalam zona inklusi untuk sebagian besar waktu.

“Teknologi virtual herding bekerja di banyak situasi yang berbeda, tetapi tentu saja ada lebih banyak aplikasi yang dapat kami coba untuk benar-benar memahami dimana teknologi dapat diterapkan. Kami belum menemukan dampak kesejahteraan hewan yang besar saat ini berdasarkan langkah-langkah yang telah kami gunakan,” tukasnya. (NDV)

VENTILASI KANDANG UNTUK SAPI PERAH DEWASA

Dalam mendesain ventilasi kandang sapi ada beberapa prioritas yang harus diperhatikan. (Foto: Istimewa)

Sapi perah dewasa menghasilkan banyak panas. Terutama yang berproduksi tinggi sangat sensitif terhadap heat stress.

“Kandang berventilasi alami berkinerja cukup baik ketika sapi berproduksi rendah,” kata Nigel B. Cook, MRCVS, University of Wisconsin-Madison dalam webinar yang diselenggarakan oleh Artex Barn Solutions.

“Tapi ketika sapi menghasilkan lebih banyak susu mereka akan menghasilkan banyak panas di kandang dan ventilasi alami sistem lama menjadi tidak memadai.”

Heat stress sendiri dapat berpengaruh pada fungsi rumen, sitem pencernaan dan imunitas. Juga meningkatkan risiko acidosis, mengurangi kesuburan, menimbulkan masalah kesehatan seperti kepincangan dan pneumonia, meningkatkan risiko mastitis, serta menurunnya produksi susu.

Selain itu heat stress juga mengurangi waktu berbaring sapi sekitar tiga jam per hari. Karena ketika temperatur naik sapi mengakumulasi panas ketika berbaring, sehingga harus berdiri untuk menghilangkan panas.

Sapi juga akan cenderung berkumpul di tempat gelap yang lebih dingin. Atau di tengah kandang menjauh dari dinding kandang. Ventilasi kandang penting untuk heat control dan memanajemen heat stress. Dalam mendesain ventilasi ada beberapa prioritas yang harus diperhatikan.

Target kecepatan udara di resting area sapi. Pertukaran udara yang cukup untuk menghilangkan panas, gas berbahaya, kelembapan dan patogen dari kandang. Sistem harus bekerja dengan baik di semua musim. Hemat biaya instalasi dan operasional. Juga mempertimbangkan iklim, layout kandang, siap merawat dan membersihkan kipas-kipas.

Terakhir adalah preferensi konsumen atau kontrak dengan perusahaan, apakah mereka tidak keberatan sapi di kandang terus, atau menghendaki sapi sesekali di keluarkan dari kandang.

Ventilasi Alami dengan Kipas di Atas Stall
Ventilasi alami masih menjadi pilihan di banyak situasi dan terhitung ekonomis untuk berbagai kondisi iklim. Dalam kandang dipasang deretan kipas di setiap baris stall. Kipas umumnya terpisah sekitar 6-7 meter, sudutnya miring tajam di atas sapi. Jika lokasinya tepat akan dapat membangun kandang berventilasi alami yang dapat beroperasi dengan baik di iklim yang bervariasi.

Ventilasi alami cocok untuk iklim bervariasi sepanjang tahun, namun tidak terlalu panas dan terlalu lembap. Kandang hanya ada satu, atau ada beberapa kandang dengan jarak antar kandang yang optimal minimal 30 meter. Cocok untuk kandang yang lebarnya sempit dengan maksimal enam baris stall.

Lokasi yang ideal adalah yang mendapatkan angin dengan baik, perlu dipertimbangkan juga arah angin agar kandang mendapatkan aliran udara yang memadai.

Ventilasi alami cocok untuk daerah yang biaya listriknya tinggi. Nigel mengatakan, “Ada banyak bagian Eropa dimana biaya listriknya tinggi dan ini adalah jenis ventilasi yang dominan di sana.” Ventilasi alami bisa dipilih jika pasar lebih menyukai sapi yang rutin di keluarkan dari kandang.

Ventilasi Positive Pressure Tube
Sistem ventilasi ini menggunakan tabung vinil untuk membawa udara segar yang bergerak cepat ke dalam kandang. Beroperasi dengan baik dalam jarak yang relatif pendek.

Cocok untuk iklim bervariasi, tapi tidak terlalu panas dan lembap. Kandang kecil dengan kapasitas 100 ekor atau kurang, dengan dinding samping yang tertutup dan langit-langit rendah.

Bisa diterapkan untuk daerah dengan biaya listrik tinggi dan dimana pasar menyukai sapi rutin di keluarkan dari kandang. Letak pintu kandang fleksibel dengan ventilasi model ini. Karena udara dipaksa masuk ke dalam kandang menggunakan tabung vinil.

Ventilasi Positive Pressure Hybrid
Kipas dipasang tidak di atas stall, tapi di sepanjang kedua dinding samping kandang untuk mendorong udara dari samping ke arah sapi-sapi. Pada musim panas tirai ditutup dan kipas dinyalakan. Pada musim dingin tirai dibuka sehingga pada dasarnya menggunakan ventilasi alami.

Sistem ini cocok untuk daerah dengan iklim bervariasi yang tidak terlalu panas dan lembap. Untuk kandang sempit panjang dengan tata letak empat baris head to head dan feed lane ada di tengah.

Wilayah yang biaya listriknya tinggi bisa menerapkan ventilasi ini, karena tipe ini cukup rendah listrik meskipun membutuhkan banyak kipas. Namun biaya instalasi kipas bisa tinggi. Cocok untuk pasar yang menghendaki sapi mempunyai akses keluar kandang.

Ventilasi Low Roof Tunnel
Ventilasi low roof tunnel dengan dinding samping polycarbonate cocok untuk iklim panas, namun tidak bagus untuk wilayah yang mempunyai musim dingin.

Jadi sistem ini cocok untuk daerah dengan iklim panas sepanjang tahun. Kandang yang ideal yaitu dengan tiga feed lane dan delapan baris stall, sebaiknya panjangnya kurang dari 150 meter.

Karena membutuhkan listrik cukup tinggi maka ideal untuk daerah dimana biaya listriknya rendah. Juga jika pasar tidak masalah jika sapi di kandang terus-menerus, karena kandang dengan ventilasi seperti ini harus tertutup terus.

Ventilasi Hybrid Tunnel
Vetilasi tipe ini menggunakan kipas-kipas kubah untuk menarik udara dari dinding samping, lalu di keluarkan melalui tengah-tengah atap. Kipas ditaruh di bagian tengah atap untuk membantu aliran udara agar udara terjaga dekat dengan sapi.

Tidak cocok untuk daerah yang panas sepanjang tahun. Cocok untuk daerah dimana musim panasnya lebih panas dan lebih dingin di musim dingin. Tunnel digunakan saat musim panas dan ventilasi alami digunakan di musim dingin.

Kandang yang ideal adalah dengan tiga feed lane dan delapan baris stall dan panjangnya kurang dari 150 meter. Membutuhkan banyak kipas sehingga bagus untuk daerah yang biaya listriknya murah. Pada ventilasi tipe ini sapi bisa rutin sesekali di keluarkan dari kandang ke padang rumput.

Ventilasi Cross dengan Penyekat
Penyekat digunakan untuk menciptakan kecepatan udara dan mengarahkan udara yang diperlukan di resting area sapi. Penyekat harus dapat ditarik atau dibuka di musim dingin. Harus hati-hati karena penumpukan suhu dan akumulasi panas di dalam kandang adalah masalah dengan desain ventilasi ini. Sebaiknya menggunakan evaporative cooling.

Cocok untuk daerah dengan iklim bervariasi. Kandang lebar dengan beberapa feed lane dan hingga 10 baris stall. Hemat listrik, sapi di kandang terus-menerus.

Ventilasi Croos Tanpa Penyekat
Ventilasi tipe ini menggunakan kipas untuk menciptakan kecepatan udara di stall. Kipas dipasang menyilang di atas stall, sehingga didapat udara yang bergerak cepat di tempat sapi beristirahat. Pendinginnya menggunakan evaporative cooling.

Biaya instalasi dan pengoperasian lebih mahal dibanding yang memakai penyekat karena lebih banyak kipas yang dipasang. Cocok untuk daerah yang iklimnya bervariasi. Kandang lebar dengan beberapa feed lane dan stall lebih dari 10 baris. Ideal ketika biaya listrik di daerah tersebut rendah dan pasar tidak masalah jika sapi di kandang terus-menerus.

Ventilasi Cross ‘Big Box’ dengan Langit-langit Rendah
Pada tingkat maksimum mampu menciptakan kecepatan udara yang memadai di tempat sapi beristirahat. Kandang mempunyai langit-langit rendah sekitar 5-5,5 m tingginya. Kotak udara ditaruh di langit-langit untuk mengarahkan udara ke sapi dan sekitarnya. Kipas masih digunakan tapi hanya sedikit, menggunakan evaporative cooling.

Cocok untuk daerah dengan iklim panas sepanjang tahun dan kandang lebar dengan beberapa feed lane dan kurang dari 10 baris stall. Membutuhkan banyak listrik dan sapi di kandang terus-menerus. (NDV)

MANAJEMEN PETERNAKAN DALAM MENGHADAPI PMK

Medik Veteriner Muda, Balai Veteriner Lampung, Drh Joko Susilo, saat memaparkan presentasinya dipandu oleh Septiyan Noer Erya sebagai moderator. (Foto: Dok. Infovet)

Pencegahan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang ideal saat ini adalah dengan populasi tervaksin, karena sekarang sangat sulit untuk menemukan zona hijau atau daerah yang tidak tertular, selain dengan tidak memasukkan sapi dari daerah tertular PMK dan menerapkan disinfeksi dan sanitasi yang baik di kandang.

Hal itu seperti disampaikan oleh Medik Veteriner Muda, Balai Veteriner Lampung, Drh Joko Susilo, yang menjadi narasumber tunggal dalam Webinar Nasional “Manajemen Peternakan Hadapi Wabah PMK”, Kamis (11/8/2022).

Dijelaskan Joko, dalam budi daya ternak sapi penting untuk memperhatikan kesejahteraan hewan untuk menghindari sapi dari segala macam bentuk ancaman penyakit dengan memenuhi beberapa hal, diantaranya bebas rasa haus dan lapar.

“Berikan pakan hijauan terbaik dan pakan alternatif yang dapat memacu produktivitas, serta pemberian air bersih secara adlibitum,” ujar Joko mengawali presentasinya.

Lebih lanjut dijelaskan, pemeliharaan sapi juga harus bebas dari ketidaknyamanan. Dengan menjaga lingkungan tetap bersih, kering dan nyaman, serta terlindung dari panas dan hujan, kebutuhan kandang cukup, serta lantai kandang tidak licin ataupun terlalu kasar.

“Karena jika lingkungan kandang tidak nyaman bisa menyebabkan permasalahan yang dapat menurunkan daya tahan tubuh ternak, sehingga penyakit mudah menyerang dan bisa memperparah kondisi sapi yang terserang penyakit. Berikan kandang yang senyaman mungkin bagi ternak,” jelasnya.

Dengan begitu, pemeliharaan sapi juga akan terbebas dari rasa sakit dan penyakit. “Terkait sapi yang terserang PMK, itu akan terjadi penurunan nafsu makan. Oleh karena itu, dalam penanganannya kita harus menganggapnya seperti keluarga sendiri, membantunya makan dengan cara disuapi,” ucap Joko.

Dengan menjaga kebersihan kandang dan lingkungan sekitar, tidak melalulintaskan hewan dari daerah tertular, pemberian pakan hijauan dan air minum yang cukup, vaksinasi, disinfeksi dan sanitasi untuk menetralisir virus, diharapkan dapat menjadi pegangan peternak dalam menjaga sapi-sapinya tetap sehat.

Hal itu juga yang diungkapkan Mantan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan periode 1999-2004, Dr Drh Sofjan Sudardjat MS, yang turut hadir dalam webinar. “Pentingnya sanitasi untuk mencegah penyebaran PMK. Sebab, tikus yang memakan kotoran sapi bisa menjadi penyebar PMK kemana-mana,” kata Sofjan.

Upaya lain yang juga dapat dilakukan untuk memutus penyebaran PMK, dijelaskan Sofjan, adalah dengan melakukan pemusnahan atau stamping out. Walau berpotensi kehilangan biaya besar, hal itu menjadi upaya yang sangat baik dalam menangani wabah PMK agar tidak menimbulkan kerugian yang semakin meluas. (RBS)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

ARTIKEL POPULER BULAN INI

ARTIKEL POPULER TAHUN INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer