Gratis Buku Motivasi "Menggali Berlian di Kebun Sendiri", Klik Disini Info Iptek | Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan -->

Fapef UGM Terapkan Metode Teleconference dalam Simposium


Foto : Dok. Fapet UGM

Menyambut era revolusi industri 4.0, sektor peternakan dituntut untuk mampu berinovasi dalam memanfaatkan perkembangan teknologi. Tema hangat ini mengemuka dalam Simposium Nasional Penelitian dan Pengembangan Peternakan Tropik (Simnaster) 2018, Senin (5/11/2018) di Auditorium Drh R Soepardjo Fakultas Peternakan (Fapet) UGM.

Simposium ini menggunakan metode teleconference, serta turut mempelopori program #IndonesiaEfisien 4.0. Maksud dari penggunaan teknologi dan program efisiensi ini adalah untuk turut mempelopori penyelenggaraan simposium yang mengutamakan efisiensi dalam penggunaan peralatan dan perlengkapan seminar.

Kebaruan dari metode Simnaster 2018 adalah pendaftaran dapat menggunaan gadget, karena menggunakan aplikasi khusus Simnaster 2018.

Perkembangan industri peternakan saat ini meliputi inovasi pakan, manajemen feedlot, komputasi data, ekonomi digital, big data dan sebagainya. Perkembangan ini selanjutnya mengarah pada sistem automatisasi yang dibutuhkan untuk memudahkan peternak dan industri dalam mengelola usahanya.  Automatisasi memungkinkan industri menghemat sumber daya dan mengoptimalkan efektivitas hasil produksi dalam waktu cepat.

“Acara ini bertujuan memperkenalkan Internet, Communication, and Technology (ICT) dalam bidang peternakan sebagai sarana meningkatkan kesejahteraan peternak dan memenuhi kebutuhan industri. Selain juga menyediakan wadah bagi stakeholder, industri, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan peternak rakyat untuk menjalin networking,” terang Ketua Panitia Seminar, Dr Ir Endy Triyannato SPt dalam keterangan resminya.

Simposium ini diikuti kurang lebih 150 peserta dengan 46 pemakalah oral dan 26 pemakalah poster dengan berbagai macam tema terkait industri peternakan 4.0. Antara lain tema nutrisi unggas, nutrisi ruminansia, produksi ternak unggas, produksi ternak perah, produksi ternak potong, sosial ekonomi peternakan, inovasi teknologi dalam bidang peternakan, dan lainnya.

Tantangan Bagi Fapet UGM

Jumlah publikasi riset internasional yang dihasilkan oleh peneliti Indonesia semakin meningkat dalam lima tahun terakhir bahkan berada di atas negara Singapura dan Thailand. Kendati demikian, kenaikan tersebut belum diikuti oleh kualitas produk hasil riset karena masih kuatnya ego sektoral masing-masing lembaga.

Oleh karena itu, antarperguruan tinggi dan lembaga riset saling bersinergi untuk menghasilkan hasil riset yang bisa dibanggakan oleh Indonesia di mata internasional.

“Tantangan kita, belum memiliki ikon nasional yang bisa dibanggakan karena antarlembaga tidak sinergi,” kata Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pe­ngembangan, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Muhammad Dimyati, saat menjadi pembicara kunci pada Simnaster 2018 ini.

Melansir dari laman fapet.ugm.ac.id, Dimyati memberi tantangan bagi peneliti di Fakultas Peternakan UGM untuk menghasilkan salah satu produk riset yang bisa dibanggakan bangsa Indonesia.

“Pesan Pak Menteri, tahun depan Fakultas Peternakan bisa hasilkan produk riset sapi Indonesia,” ujarnya. (NDV)




Peneliti Bblitvet Presentasi Makalah Trypanosomosis di Kantor OIE Paris

April H Wardhana saat menyampaikan presentasi makalahnya (Foto: Istimewa)

Peneliti  Balai Besar Penelitian Veteriner (Bblitvet), April H Wardhana SKH MSi PhD mewakili Indonesia dalam pertemuan jejaring internasional Non-Tsetse Transmitted Animal Trypanosomosis (NTTAT) yang ke-4 diselenggarakan pada 29 Juni 2018 di kantor OIE di Paris. Berbeda dengan pertemuan sebelumnya, pertemuan tahun ini dilanjutkan dengan kegiatan menuju laboratorium rujukan Trypanosomosis pada tanggal 2-6 Juli 2018 di Montpellier, Perancis.

Agenda utama pertemuan ini adalah membahas dua Trypanosomosis yang disebabkan oleh Trypanosoma evansi (Surra) dan Trypanosoma equiperdum (Dourine). Dalam pertemuan tersebut, April berkesempatan memaparkan presentasi tentang dua wabah Surra yang terjadi pada tahun 2010-2012 di Pulau Sumba dan tahun 2013-2014 di Provinsi Banten.

Kedua wabah tersebut memiliki sejarah yang berbeda sehingga jumlah kematian ternak yang ditimbulkan akibat infeksi T. evansi juga berbeda. Terjadinya wabah Surra di Sumba perlu mendapat penanganan yang serius, sehingga Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) memasukkan Surra kembali ke dalam daftar Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS).

“Ketika pemaparan, saya memperoleh perhatian yang cukup besar dari para peserta dengan banyaknya pertanyaan yang diberikan. Apresiasi juga diberikan oleh para peneliti terkait informasi kronologis terjadi wabah yang runut dan strategi pengobatan Surra yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia,” ungkap April kepada Infovet pekan lalu.

Lebih lanjut, April menerangkan pertemuan di Montpellier juga membahas potensi Trypanosomosis pada hewan sebagai zoonosis baru. Berdasarkan literatur, dugaan sebagai zoonosis pernah dipublikasikan pada tahun 1903 di India, namun hal tersebut tidak banyak menarik perhatian.

Ketika kejadian Surra pada tahun 2004 yang mengifeksi peternak sapi di India, membuat para peneliti mulai menganalisis hingga ke aras molekular. Saat itu diketahui bahwa peternak yang terjangkit Surra tidak memiliki Apolipoprotein 1 (Apo L1) di dalam darahnya, sehingga parasit mampu berkembang biak di dalam darah.

Protein ini bersifat trypanolitik (membunuh Trypanosoma dalam darah manusia normal). Ketika itu, para peneliti sepakat bahwa Apo L1 adalah kunci faktor yang menjawab mengapa manusia dapat terinfeksi Trypanosoma dari hewan.

Pendapat tersebut kurang tepat setelah terjadinya kasus Surra yang menginfeksi wanita di Vietnam pada tahun 2015. Wanita tersebut memiliki Apo L1 norma ldalam darahnya, tetapi parasit ini masih mampu berkembang biak dalam tubuhnya. Disamping T. evansi, spesies lainnya yang menginfeksi manusia adalah T. lewisi. Parasit ini banyak ditemukan pada tikus, termasuk tikus rumah.

Selanjutnya, para peneliti Trypanosoma di dunia membuat jejaring internasional yang diberi nama Network on Atypical Human Infection by Animal Trypanosomes (NAHIAT). Jejaring ini dikoordinasi oleh Institute of Research for Development (IRD) dan Center for International Collaboration on Agricultural Research for Development (CIRAD) yang didukung oleh Food and Agriculture Organization (FAO), Office International de Epizooties (OIE), World Health Organization (WHO) dan beberapa lembaga penelitian internasional dan universitas lainnya.

Para peneliti dari berbagai negara 
NAHIAT memiliki tugas untuk mengumpulkan informasi dan melaporkan kasus trypanosomiasis pada manusia yang diinfeksi oleh Trypanosoma pada hewan seperti T. evansi dan T. lewisi, termasuk memberikan rekomendasi langkah-langkah yang harus dilakukan agar kasus ini tidak tersebar lebih meluas.

Menurut April, OIE menyediakan dana cukup besar untuk negara-negara anggota dalam rangka melakukan kegiatan penelitian terkait pengembangan metode deteksi dan pengobatan. Topik kegiatan penelitian difokuskan pada Surra dan Dourine dengan melibatkan beberapa anggota jejaring internasional NTTAT.

“Proposal penelitian dirancang oleh beberapa anggota dan harus diselesaikan pada Agustus 2018, sehingga diharapkan kegiatan penelitian dapat dilakukan tahun 2019,” pungkasnya. (NDV)

Terampil Mengoperasikan “Broiler Closed House”

Menghadapi era globalisasi dan MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) 2016, bisnis ayam pedaging (broiler) dituntut untuk mampu bersaing dalam kualitas produk dan efesiensi biaya operasional. Ayam pedaging adalah hasil rekayasa genetik yang memerlukan pakan, obat-obatan, vaksinasi dan lingkungan yang mendukung untuk mencapai produksi daging ayam maksimal. Salah satu untuk mencapai lingkungan yang nyaman, udara yang sehat dan kondisi minim stress, antara lain dengan menggunakan kandang tertutup (Closed House).
Awal mulanya sistem Closed House diterapkan di daerah sub-tropis yang memiliki empat musim, namun dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa, di daerah tropis yang memiliki dua musim seperti Indonesia juga memberi pengaruh yang efektif dalam mengatur kondisi lingkungan yang dibutuhkan ayam. Adapun tipe ventilasi yang pas untuk iklim tropis adalah ‘Sistem Tunnel’.
Pada Sistem Tunnel dibuat dengan tujuan agar keadaan lingkungan luar seperti udara panas, hujan, angin dan intensitas cahaya matahari tidak berpengaruh banyak terhadap keadaan di dalam kandang. Sebagian besar kandang dibuat tertutup dengan tembok, seng atau layar, kecuali bagian ujung kandang untuk udara masuk (inlet) dan bagian ujung kandang lainnya untuk tempat kipas/exhaust fan (outlet), sehingga kondisi udara dalam kandang tergantung pada kondisi udara lingkungan.
Sistem Tunnel lebih cocok untuk kandang di dataran tinggi (pegunungan) karena udaranya relatif bersih dan sejuk, sedangkan untuk kandang di dataran rendah (pantai) sebaiknya dipakai ‘Sistem Colling Pad’, di mana udara yang masuk dalam kandang disedot oleh kipas melalui bantalan (pad) khusus yang dialiri air hingga suhu dan kelembaban udara yang masuk disesuaikan dengan kebutuhan ayam.
Beberapa keuntungan menggunakan kandang Closed House antara lain, 1) Meningkatkan kepadatan ayam tanpa mendirikan bangunan baru. 2) Ayam lebih tenang, segar dan nyaman. 3) Udara yang tersedia lebih baik. 4) Meningkatkan produktivitas dan pertumbuhan ayam. 5) Mengurangi jumlah tenaga kerja (man power). 6) Suhu lebih dingin. 7) Ayam tidak terpengaruh oleh perubahan cuaca lingkungan.
Meskipun Closed House identik dengan “Rumah Idaman Ayam”, namun tidak ada jaminan bagi ayam yang dipelihara memiliki tingkat kematian (mortalitas) yang rendah. Bahkan, pernah muncul di farm tertentu fenomena “mati massal” pada DOC (anak ayam) di dalam Closed House. Selain disebabkan penyakit, fenomena mati massal tersebut dipicu oleh, sistem bangunan kandang yang tidak ideal,  pengoperasian kandang tertutup yang salah, dan manajemen yang menyimpang.
Untuk mengatasi mati massal, dibutuhkan manajemen penanganan (handling) DOC secara ketat yang berbeda dengan manajemen kandang terbuka (Open House). Manajemen DOC pada Closed House yang perlu diperhatikan, antara lain pertama, untuk hari awal pada brooder (indukan pemanas) paling depan sebaiknya dipasang tirai untuk menahan (blocking) angin langsung yang mengenai DOC yang berfungsi juga sebagai pengefektifan indukan. Kedua, pemasangan brooder dimodifikasi sehingga membentuk brooder memanjang kiri dan kanan, bagian tengah untuk jalan operasional di samping bahan brooder juga harus dapat dialiri angin. Ketiga, Posisi indukan/brooder harus tepat dipasang searah yaitu mengarah ke Exhaust Fan belakang (posisi ini terbalik dari pada kandang terbuka). Dan keempat, jangan menggunakan box DOC sebagai tempat pakan karena akan menstimulasi pertumbuhan jamur.
Luas kandang dan bobot badan broiler sangat berpengaruh pada sirkulasi/peredaran udara di dalam kandang. Jika bobot badan terlalu besar, maka akan timbul panas berlebih yang bersumber dari tubuh ayam broiler sendiri. Berdasarkan teori, Closed House yang masih memakai tempat pakan (feeder) dan tempat minum (drinker) manual, memiliki kepadatan 20 ekor/m2, sedangkan bila menggunakan tempat pakan dan minum otomatik kepadatannya mampu mencapai 24 ekor/m2.
Walaupun masih menggunakan tempat pakan dan minum manual, tingkat kepadatan (density) populasi Closed House sudah hampir dua kali lipat bila dibandingkan Open House yang hanya 12 ekor/m2. Oleh karena itu, penggunaan lahan Closed House lebih hemat 30% dibanding lahan Open House, dan keunggulan lainnya yaitu Closed House dapat dibuat dua tingkat atau berdempetan.
Untuk mencegah terjadinya kelebihan panas (Over Heating) di dalam Closed House Tipe Tunnel, maka perlu memperhatikan standar kebutuhan kipas. Misalkan, Closed House memiliki panjang 52 m, lebar 8 m dan tinggi 2,2 m, kepadatan 12 ekor/m2 dan standar 1 kg bobot badan = 4 CFM. Maka volume udara Closed House = 52 x 8 x 2,2 x 12 x 4 CFM = 43.929,6 CFM. Kipas 36 inch yang dibutuhkan = 43.929,6 : 9.000 (untuk 36 inch) = 4,881 dibulatkan 5 kipas (36 inch).
Kebutuhan kipas akan berubah sejalan dengan volume Closed House dan tatalaksana program kipas. Bila Closed House memiliki enam buah kipas berukuran 48 inch berdaya 1-1,5 PK, tatalaksana penggunaan kipas diatur tujuh hari pertama dinyalakan satu kipas saja, hari ke 7-14 kipas kedua dan ketiga mulai dinyalakan, hari ke 15-21 kipas keempat dan kelima dinyalakan dan selanjutnya semua kipas dihidupkan. Keenam kipas itu, tiga buah adalah kipas otomatis dan tiga buah yang lain kipas direct. Kipas otomatis baru diaktifkan ketika suhu dalam kandang naik, sedang kipas direct diprogram selalu menyala. Untuk mengatur semua mekanik dan elektronik disentralisasikan di ‘Control Panel’ yang merupakan “otak” karena mengatur pemrograman aktivitas kipas, colling pad, batas suhu mulai ayam kepanasan dan batas maksimal penyimpangan suhu. Oleh karena itu, supervisi/anak kandang perlu memiliki keterampilan mengoperasilan Control Panel dengan cara Learning by Doing (Belajar sambil bekerja). Personil kandang perlu memiliki disiplin yang tinggi dan mampu menghadapi teknologi tinggi perunggasan, oleh karena recruitmet harus selektif dan ketat dengan training/pelatihan secara berlanjut.
Kecepatan aliran udara perlu diukur, di mana makin tinggi kecepatan aliran udara, maka semakin besar efek penurunan suhu yang dirasakan tubuh ayam. Batas maksimal kecepatan angin adalah 2,5 m/detik. Dampak kecepatan angin yang tinggi adalah menerbangkan debu-debu litter (alas kandang) yang memicu gangguan pernafasan karena udara kotor yang berasal dari debu-debu itu.
Hal lain yang perlu diperhatikan pada Closed House ialah sebaran ayam (bird migration). Bila ayam merata menempati segala penjuru kandang, berarti bahwa setiap tempat dalam kandang adalah tempat yang nyaman bagi ayam. Selain itu, pada kandang Closed House dibutukan penerangan yang memadai, misalnya kandang Closed House memiliki luas 1.150 m2 (115 x 10 m), maka perlu dipasang lampu pijar lima watt berjarak tiga meter antar lampu. Kesediaan listrik yang baik sangat vital pada Closed House, karena bila aliran listrik mati bisa mengancam kelangsungan hidup ayam yang dipelihara.
Sebagai contoh untuk kandang Closed House berkapasitas 43.000 ekor, minimal perlu tersedia listrik 41 KW dengan saluran tiga phase. Untuk mendukung aliran listrik tersebut tetap lancar, harus tersedia cadangan genset berdaya 50 KW. Berarti untuk tiap 10.000 ayam pedaging yang dipelihara dibutuhkan 10.000 watt, yang dibantu genset berdaya 15 KW.
Penggunaan Closed House dalam bisnis ayam pedaging memang tampaknya mahal pada awal pembangunan kandang dan pembelian peralatan, tetapi bila telah beroperasi dengan kapasitas populasi yang berpuluh ribu atau berjuta ekor ayam, maka jatuhnya biaya produksi menjadi lebih murah dan kualitas ayam lebih unggul, apalagi bila usaha bersifat terpadu (Integrated Company), di mana bibit, pakan, obat-obatan dan vaksin diproduksi sendiri serta pemotongan dan pemasaran dilakukan sendiri.
Selamat menggunakan kandang Closed House untuk bersaing dengan negara tetangga dalam bisnis ayam pedaging !!
                                               Oleh : Sjamsirul Alam 
Praktisi perunggasan alumni Fapet Univ. Padjajaran 

NUTRIGENOMIK, Jembatan Antara Ilmu Nutrisi dan Genetik

Beberapa penelitian di bidang nutrisi ternak banyak mengeksplorasi terkait defisiensi ataupun kelebihan dari beberapa komponen nutrisi yang dapat menyebabkan penyakit pada ternak, yang selanjutnya berpengaruh terhadap menurunnya produktivitas ternak. Akan tetapi terobosan di bidang genomik mendorong perkembangan beberapa teknologi yang dapat diaplikasikan di bidang nutrisi.
Beberapa teknik baru itu seperti genomik, proteomik, metabolik dan bioinformatik menjadi solusi untuk menjembatani gap antara nutrisi dan genetik. Telah banyak diketahui bahwa kekurangan pakan, ketidakseimbangan nutrisi dan atau kelebihan pakan memiliki efek yang mendalam, yang dapat menyebabkan memburuknya kesehatan dan performa. Hal ini menunjukkan bahwa, komponen nutrisi dalam pakan mempunyai efek langsung pada proses molekuler yang pada akhirnya dapat merubah ekspresi gen.
Kemajuan dalam ilmu nutrisi menemukan bahwa nutrisi atau metabolitnya dapat mengatur berbagai fungsi tubuh secara langsung atau dengan merangsang atau menonaktifkan regulator tertentu. Oleh karena itu, untuk mempelajari hubungan gen nutrisi atau interaksi antara genomik dan nutrisi, nutrigenomik telah diperkenalkan dalam penelitian bidang nutrisi.

Konsep Nutrigenomik
Nutrigenomik merupakan suatu studi ilmiah yang mempelajari mengenai dinamika, regulasi dan cara dari suatu gen spesifik berinteraksi dengan suatu senyawa atau bioaktif pada suatu makanan tertentu. Menurut Hippocrates, makanan  akan diubah menjadi informasi genetik yang di ekpresikan sehingga memberikan profil metabolisme yang berbeda yang akan berdampak pada pola makan dan kesehatan.
Nutrigenomik adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara faktor genetik dengan nutrisi yang memiliki komposisi spesifik dan yang mampu menginduksi ekspresi gen dalam tubuh. Nutrigenomik merupakan aplikasi genomik dalam pengembangan teknologi baru, seperti transkriptomik, proteomik, metabolomik, dan epigenomik berbasis pada analisis fungsi gen dan ekspresinya.
Nutrigenomik adalah ilmu yang mempelajari hubungan molekuler antara stimulasi nutrisi dan respon dari gen, sehingga akan dapat dipahami tentang bagaimana nutrisi mempengaruhi jalur metabolisme/metabolic pathways dan kontrol homeostasis, bagaimana regulasi ini terganggu pada fase awal dari penyakit yang berhubungan dengan pakan, dan sejauhmana kepekaan genotipe berkontribusi terhadap penyakit tersebut pada individu.
Dilihat dari perspektif nutrigenomik, nutrien merupakan sinyal dari pakan, yang terdekteksi oleh sistem sensor sel, yang mempengaruhi ekspresi gen dan protein, serta produksi metabolit. Meskipun hanya sedikit, penelitian pada interaksi molekuler dari bahan pakan mengindikasikan bahwa ekspresi gen dimodifikasi dari komponen pakan, termasuk di dalamnya makrokomponen (karbohidrat, protein, lemak dan kolesterol), vitamin (diantaranya A, B, E, D), mineral (diantaranya Fe, Se, Ca) dan phytocompounds termasuk flavonoids, isothiocyanates dan indoles.
Ilmu yang mempelajari bagaimana gen dan produk gen berinteraksi dengan komponen kimiawi pakan untuk mengubah fenotip, dan sebaliknya, bagaimana gen dan produk metabolisme nutrisi disebut nutritional genomics atau nutrigenomics. Dilihat dari perspektif nutrigenomik, nutrien merupakan sinyal dari pakan, yang terdekteksi oleh sistem sensor sel, yang mempengaruhi ekspresi gen dan protein, serta produksi metabolit. Tahapan yang krusial dari nutrigenomik adalah transcriptomics, proteomics dan metabolomics.

Interaksi antara Nutrisi dan Gen
Pakan telah lama dianggap sebagai suatu campuran komplek dari substansi alami yang menyediakan energi dan building block untuk perkembangan dan penopang suatu organisme. Disamping hal itu, nutrisi memiliki berbagai aktivitas biologis. Beberapa nutrien ditemukan bertindak sebagai penangkal radikal yang dikenal sebagai antioksidan dan beberapa lainnya terlibat dalam perlindungan terhadap penyakit.
Beberapa nutrien lainnya telah terbukti menjadi molekul pemberi isyarat yang kuat dan bertindak sebagai hormon nutrisi. Beberapa metabolit sekunder dari tanaman yang dikenal sebagai phytochemical bertindak sebagai modulator kesehatan dan produksi pada hewan. Banyak penyakit dan gangguan terkait dengan nutrisi suboptimal dari nutrisi yang esensial, ketidakseimbangan macronutrients, atau konsentrasi toksik senyawa makanan tertentu.
Ada penyakit multietiological yang disebabkan interaksi nutrisi yang berbeda terhadap beberapa gen (Mariman, 2006). Hal ini berdasarkan keragaman luar biasa pada makhluk hidup dalam pencernaan makanan, penyerapan nutrisi, metabolisme, dan ekskresi telah diamati dan penyakit genetik dalam proses ini telah dilaporkan. Integritas fungsional dari gen terutama tergantung pada sinyal metabolik yang diterima nukleus dari faktor internal, misalnya hormon, dan faktor-faktor eksternal, misalnya nutrisi, dimana nutrisi merupakan salah satu yang paling berpengaruh dari rangsangan lingkungan.
Genom berevolusi dalam menanggapi berbagai jenis rangsangan lingkungan, termasuk gizi. Oleh karena itu, ekspresi informasi genetik dapat diatur lebih tinggi oleh, nutrisi, mikronutrien, dan phytochemical yang ditemukan dalam makanan. Nutrigenomic yang mempelajari pengaruh nutrien pada kesehatan melalui perubahan di tingkat genom (gen), transkriptom (mRNA), proteom (protein), metabolom (metabolit) serta perubahannya di tingkat fisiologis.

Aplikasi Nutrigenomik pada Kesehatan dan Nutrisi Ternak
Efek dari variasi genetik ini dipengaruhi oleh lokasi gen tersebut dan ekspresi protein dari gen tersebut dan berefek terhadap proses matobolisme gen-gen terkait (genes cascade). Perubahan dalam gen juga memberikan dampak yang berbeda terhadap populasi (ras) yang berbeda. Susunan DNA tertentu juga memiliki ketahanan terhadap penyakit tertentu.
Oleh karena itu, perkembangan ilmu nutrigenomik merupakan momen yang krusial untuk merevolusi pemahaman manusia terhadap apa yang dimakannya. Beberapa komponen nutrisi essensial juga dapat mempengaruhi perubahan aktivitas gen dan kesehatan, seperti karbohidrat, asam amino, asam lemak, kalsium, zinc, selenium, folate dan Vitamin A, C & E, dan juga komponen bioaktif non-essesial mempengaruhi secara signifikan terhadap kesehatan.
Sampai saat ini, hampir 1000 gen penyakit manusia sudah teridentifikasi, 97% diantaranya diketahui sebagai penyebab penyakit monogenik (artinya mutasi di satu gen saja sudah cukup untuk menjelaskan penyebab penyakit). Pada beberapa penyakit monogenik, modifikasi asupan makanan dapat mencegah munculnya gejala klinis. Nutritional genomic menjanjikan terciptanya sejumlah rekomendasi diet sebagai hasil penelitian yang mendalam tentang interaksi nutrien-gen. Rekomendasi diet yang diharapkan adalah yang sesuai dengan pola variasi genetik individual (nutrisi individual= personalized nutrition) sehingga dapat diterapkan sebagai nutrisi pencegahan terhadap timbulnya penyakit kronik.
Penemuan mutakhir menyatakan bahwa efek sehat dari komponen makanan sebagian besar berhubungan dengan interaksi spesifik pada tingkat molekular yaitu partisipasi komponen diet dalam pengaturan ekspresi gen dengan mengubah aktifitas faktor transkripsi, atau melalui sekresi hormon yang mengganggu faktor transkripsi (Gambar 1).

Gambar 1: Skema interaksi nutrien-gen. (Dikutip dari Gillies PJ, J Am Diet Assoc 2003;103:S52)
Nutrisi tidak hanya bertindak sebagai substrat untuk metabolisme tetapi dapat juga mempengaruhi proses yang berlangsung secara bersinambungan dari (Dikutip dari Go et al J. Nutr. 135: 3016S–3020S, 2005)6 genom ke transkriptom ke proteom (genotip) ke fenotip (Dikutip dari Go dkk J. Nutr. 135: 3016S–3020S, 2005)6
Nutrigenomics adalah analisis prospektif untuk mengetahui peranan berbagai zat gizi dalam mengatur ekspresi gen. Berbagai teknologi genomik canggih antara lain DNA microarray, RT- PCR (Real Time-Polymerase Chain Reaction), dan lain-lain diterapkan untuk menelitii efek zat gizi pada tingkat genom, transkriptom, proteom dan metabolom (Gambar 2).
Gambar 2: Teknologi yang digunakan pada genomik, transkriptomik, proteomik dan metabolomik
untuk mempelajari respons selular terhadap perubahan lingkungan nutrisional.
Nutrigenomics sebagai ilmu pengetahuan temuan, bertujuan memahami pengaruh nutrisi terhadap jaras metabolisme, pengendalian homeostasis serta bagaimana pengaturan ini terganggu pada penyakit yang berkaitan dengan diet.
Studi ekspresi gen dapat digunakan untuk identifikasi jalur/pathway dan kandidat gen yang berpengaruh terhadap sifat ekonomis. Nutrisi dan genetik sangat mempengaruhi performa reproduksi hewan perah. Hal ini sangat penting selama masa transisi dan menyusui dini, ketika hewan tersebut sangat sensitif terhadap ketidakseimbangan gizi.
Nutrigenomik dapat digunakan untuk memahami bagaimana managemen nutrisi dapat diterapkan untuk mengatasi penyakit, performa dan produktivitas pada ternak. Dalam perjalannya pada penelitian nutrigenomik pada ternak ruminansia, tujuan nutrigenomik adalah untuk mempelajari pengaruh pakan pada perubahan ekspresi gen atau proses regulasi yang mungkin terkait dengan berbagai proses biologi yang berkaitan dengan kesehatan hewan dan produksi.
Dalam studi pada sapi pejantan yang mendapat nutrisi terbatas karena asupan pakan yang buruk, hal ini berefek pada ekspresi gen tertentu yang berhubungan dengan turnover protein, cytoskeletal remodeling dan metabolic homeostasis (Byrne, et.al., 2005).
Ada beragam informasi tentang pengaruh pakan pada ekspresi gen yang terkait dengan sifat produktif atau reproduksi ternak. Sebuah penelitian menyatakan bahwa kekurangan selenium dalam ransum pakan akan mengubah sintesis protein pada level transcriptional (Rao, et.al, 2001). Hal ini menyebabkan efek samping seperti efek peningkatan dari stres melalui peningkatan regulasi ekspresi gen spesifik dan signal pathway.
Di sisi lain, gen yang bertanggung jawab untuk mekanisme detoksifikasi dan perlindungan dari kerusakan oksidatif terhambat, konsekuensi ini akhirnya mengarah pada perubahan ekspresi fenotipik gejala terkait defisiensi selenium.

Dari contoh di atas terlihat bahwa, mungkin nutrigenomik dapat digunakan untuk mengidentifikasi penanda khusus untuk memanipulasi ekspresi gen melalui penggunaan nutrisi atau kombinasi keduanya, sehingga dapat meningkatkan kinerja hewan produktif serta keseluruhan. Penemuan penanda gen yang berkaitan dengan sifat-sifat ekonomis penting pada ternak seperti susu, daging, produksi wol dll. Ekspresinya dapat ditingkatkan dengan pengaturan pakan merupakan kajian penelitian nutrigenomik yang akan membantu untuk meningkatkan produksi ternak yang berkelanjutan.

Oleh: Ayu Septi Anggraeni
Penulis adalah Kandidat Peneliti Bidang Bioteknologi Peternakan dan Ilmu Ternak, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)

Pentingnya Pemberian Pakan Sedini Mungkin

Pertumbuhan yang sangat pesat pada ayam broiler adalah sebesar 85% merupakan kontribusi dari aspek perubahan genetik, sedangkan nutrisi pakan hanyalah menjawab atas kebutuhan nutrisi yang tercipta karena proses seleksi genetik tersebut. Adalah dibutuhkan keseimbangan kombinasi antara seleksi genetik untuk pertumbuhan, komposisi karkas dan efisiensi pakan terus berkembang pesat, dimana setidaknya 2-3% perbaikan performans per tahun. Walaupun perkembangan laju pertumbuhan tersebut dikarenakan adanya perbaikan terhadap status kesehatan dan kekebalan terhadap penyakit serta perbaikan dalam hal kelainan metabolik, namun bukan berarti tidak ada kendala fisiologis sebagai konsekuensi faalinya.

Kendala dalam memacu kelangsungan perkembangan embryonal dan neonatal
Telah diketahui bahwa ada pengaruh induk dalam hal ini adalah ukuran telur (egg size) pada pertumbuhan masa embryonal. Laju pertumbuhan embryo dalam masa inkubasi sangat ditentukan oleh perkembangan sistem pencernaannya. Termasuk di dalamnya adalah masalah kemampuan untuk tumbuh dan berkembang yang terkait dengan kecukupan jumlah suplai nutrien, khususnya asam amino pada anak ayam yang baru menetas.  Masalah lainnya adalah kemampuan anak ayam untuk melepaskan panas (kalor/heat increment) sebagai hasil proses katabolisme, agar anak ayam dapat segera tumbuh dengan cepat sesuai dengan potensi genetiknya
Untuk memacu pertumbuhan ayam adalah dengan cara mulai awal dengan ukuran DOC yang lebih besar, karena ada korelasi positif antara berat DOC dan berat waktu panen. Untuk menjawab tersebut ada dua pilihan , yakni (1) dimulai dengan ukuran telur tetas (hatching egg/HE) yang lebih besar atau (2) meningkatkan laju pertumbuhan semasa embryonal. Kedua opsi tersebut kelihatannya agak sulit diterapkan mengingat bahwa (1) Berat telur HE dan Hen Day Production (HDP) mempunyai korelasi negatif; (2) Pertumbuhan embryonal sangat dibatasi dalam komposisi dan ukuran telur.

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan embryonal
Terdapat banyak faktor yang berkontribusi dan dapat mempengaruhi pertumbuhan pada masa embryonal, antara lain: (1) Kandungan protein dalam telur; (2) menurunnya kandungan dan ketersediaan oksigen; dan (3) inefisiensi/gangguan metabolisme dalam pengunaan nutrien telur oleh embryo; serta (4) gangguan dalam mekanisme metabolisme embryonal dan tingkat penggunaan yolk sac
Studi dari Mc-Loughlin yang mempelajari laju pertumbuhan (growth rates) embryo dari berbagai ukuran telur (HE) menunjukkan bahwa ternyata terkendala oleh terbatasnya ruang (space) dalam telur. Pada HE kecil (40-50 g) pertumbuhan mulai terhambat pada hari ke-8 masa inkubasi; dan HE medium (50-60 g) pertumbuhan mulai terhambat pada hari ke-10 masa inkubasi; sedangkan melambat pada hari ke-8 pada HE besar (60-70 g). Kendala ini akan terjadi lebih awal mengingat potensi pertumbuhan ayam (broiler) terus meningkat alias lebih maju umur pencapaian berat badannya.

Periode pemberian pakan awal (Early Feeding)
Pertanyaannya adalah apakah ada peluang bahwa anak ayam dapat dipacu untuk tumbuh lebih cepat setelah menetas?
Dalam kondisi komersial bisa saja (dan sering) terjadi bahwa DOC terkondisikan ‘puasa’ selama 48 hingga 72 jam post-hatched (paska penetasan), sebelum mendapatkan akses ke pakan dan air minum. Studi yang dilakukan oleh Noy dan Sklan (2008) menunjukkan bahwa perlakuan  pemberian pakan pada saat menetas (1 jam dari pembersihan kerabang/cangkang telur)  dengan makanan padat, semi padat atau bahan/materi non pakan dan non nutrisional/tidak bergizi (seperti serbuk gergaji).
Hasilnya menunjukkan bahwa pada pencapaian berat badan sampai umur 21 hari dibandingkan dengan ayam yang tidak diberikan pakan selama 36 jam dihasilkan peningkatan berat badan pada umur 4 hari meskipun efek serbuk gergaji  bersifat sementara. Ada beberapa stimulasi mekanik dari GIT, khususnya di ampela (gizzard) berkaitan dengan paska penetasan.
 Konsumsi pakan lebih awal menghasilkan bebarapa hal berikut: (1) yolk (kuning telur) dapat digunakan untuk pertumbuhan awal/permulaan GIT jika disuplementasi  melalui pemberian pakan dari luar (exogenous feed); (2) pemberian pakan awal juga meningkatkan penggunaan kuning telur (yolk) dan secara sempurna dicerna setelah empat hari; (3) kekurangan nutrien awal mengakibatkan perkembangan GIT yang terlambat, dan (4) pemberian pakan lebih awal pertumbuhan dan proporsi/perbandingan daging dada menjadi meningkat. Sebagaimana terlihat pada grafik tersebut di bawah ini.
Grafik perubahan dalam berat badan (BW), usus halus (SI) dan berat residual kuning telur (Yolk) secara in vivo.

Grafik penyerapan gula (glucose), asam oleat (OA) dan asam amino Metionin (Met) secara in vitro; pada ayam yang dipuasakan selama 36 jam (H) dan yang diberi pakan langsung (F) setelah menetas.

Mengapa ayam menggunakan pakan daripada kuning telur?
Ternyata jika ada pilihan diberikan pada anak ayam yang baru menetas mengonsumsi pakan atau menyerap residu (sisa) kuning telur, maka anak ayam akan memlih mengonsumsi pakan melalui insting fisiologisnya. Hal ini lebih jauh diketahui bahwa lemak residu kuning telur adalah tidak keseluruhannya adalah lemak energi tinggi. Residu kuning telur adalah tersusun dengan komposisi untuk pertumbuhan membran sel dan sistem syaraf pusat (SSP/CNS) berupa chol-esters, phospholipida, dan omega-3 PUFA
Sedangkan protein yang terkandung dalam residu kuning telur mengandung sekitar 200 mg maternal antibodi sebagai proteksi kekebalan awal, bukan sebagai cadangan sumber asam amino (protein). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ayam yang dipuasakan ternyata tidak lebih cepat dalam menggunakan residu kuning telur dari pada ayam yang diberi pakan. Komponen residu kuning telur diperlukan sebagai kekebalan pasif sebagai dasar dari pertumbuhan dan sistem kekebalan.

Residu kuning telur sebagai sistem kekebalan anak ayam yang baru menetas
Anak ayam sangat tergantung pada pada maternal antibodi dan kemampuan respon bawaan, itulah sebabnya anak ayam tidak memiliki kemampuan untuk merespon terhadap tantangan lingkungan. Karena itu maka pelaksanaan imunisasi pada induk breeder sudah diketahui adalah sebagai cara terbaik jangka pendek untuk memperbaiki daya hidup (livability) anak ayam. Kemampuan ayam broiler dalam merespon terhadap tantangan lingkungan berkembang selama dua minggu pertama dan mencapai optimum pada umur 4-5 minggu.
Jika dihitung masa sekarang ini empat minggu pertama adalah merupakan 80% dari total umur ayam. Kebutuhan nutrien makro umur 0-2 hari sudah dipahami dengan baik, tetapi belum banyak diketahui untuk kebutuhan akan mikro nutriennya. Sistem penunjang pertumbuhan yang didominasi pertumbuhan saluran cerna (Gastro intestinal tractus/GIT) dibandingkan organ tubuh lainnya, tumbuh sangat pesat pada umur seminggu pertama.
Pertumbuhan sistem kekebalan mukosal sangat tergantung pada asupan pakan dari luar, status mikro mineral, dan paparan mikrobial, bukan dari kuning telur. Sedangkan diketahui bahwa kondisi neonatal (post-hatched) anak ayam memiliki kadar proteksi antioksidan enzimatis yang sangat terbatas, itulah sebabnya pemberian antioksidan pada induk breeder. Diketahui juga bahwa penambahan mineral mikro pada anak ayam dapat memperbaiki status kekebalan neonatal dan produksi enzym serta metabolisme secara keseluruhan.

Dengan mengetahui dan memahami proses fisiologis tentang pertumbuhan embryonal dan pertumbuhan neonatal, maka adalah sangat penting untuk memastikan bahwa anak ayam yang baru tiba dapat kesempatan untuk akses dan mendapat asupan pakan seawal mungkin setibanya di kandang. Hal tersebut hanya bisa terjadi jika situasi kandang dan brooding yang kondusif disertai anak kandang yang mengawasi dan melaksanakan kegiatan kesehraian memiliki kesadaran dan perilaku yang menunjang pula.

Oleh : Dr. Drh. Desianto Budi Utomo - Sekretaris Jenderal Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Vice President - Feed Technology PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk.

SEKELUMIT MANAJEMEN PRODUKSI AYAM BROILER

Type ayam ras pedaging atau istilah kerennya ayam broiler, sebelumnya merupakan hasil sampingan (by product) dari ayam petelur. Namun saat ini industri peternakan ayam ras pedaging sudah banyak berdiri khususnya untuk menghasilkan ayam pedaging, meliputi budidaya ayam broiler (farming operation) dan industri pengolahan daging ayam.
Tidak ada data yang jelas mengenai jumlah dan skala usaha di berbagai negara di dunia ini. Namun yang pasti, perkembangan jumlah dan skala usaha budi daya ayam selalu  bertambah dari tahun ke tahun sejalan dengan pertambahan populasi penduduk yang membutuhkan produk peternakan ayam broiler dan peningkatan mampu dan sadar gizi masyarakat.
Problem yang dihadapi peternakan ayam pedaging adalah keterbatasan lahan, sehingga peternak yang bersangkutan harus menyiasati perencanaan dan pembangunan kandangnya, antara lain dengan membangun kandang modern yang dilengkapi peralatan serba otomatik. Dengan cara ini kandang mampu menampung jumlah ayam lebih banyak dengan tenaga kerja yang dipakai lebih sedikit. Tenaga kerja pada usaha budi daya ayam broiler hampir 95% dilakukan dengan Sistem Kontrak Per Periode. Tenaga kerja dibayar berdasarkan berat daging ayam yang dipanen atau ayam yang dijual per ekor. Sistem upah borongan merupakan cara yang paling sederhana dan saling menguntungkan antara pemilik modal (inti) dan peternak pelaksana (plasma).

Berbagai Jenis Permodalan
1. Modal Mandiri : permodalan usaha ayam broiler murni menggunakan modal peternak sendiri, tidak meminjam ke Bank atau pihak lain.
2. Pola Kemitraan : yaitu beternak ayam broiler dengan cara menjalin kerjasama, baik dengan pemodal, perusahaan pakan, maupun perusahaan pembibitan (yang memproduksi DOC).
Pola Kemitraan antara lain dapat dalam bentuk
a) Pola Simpan Pinjam, yaitu peternak meminjam modal untuk  usaha budidaya ayam broiler kepada pihak pemodal seperti Bank. Pada akhir periode atau dalam jangka waktu tertentu, pinjaman harus dikembalikan dengan tambahan prosentase bunga atau prosentase keuntungan, yang jumlahnya telah disepakati terlebih dahulu.
b) Pola Kemitraan dengan Perusahaan Pakan : dimana peternak bermitra hanya sebatas suplai pakan ternak, selebihnya peternak yang menyediakan. Peternak memiliki wewenang penuh untuk mengelola usahanya, namun peternak memberikan jaminan senilai pakan yang akan digunakan kepada perusahaan pakan ternak tersebut.
c) Pola Kemitraan Bagi Hasil : dimana  prosentase pembagian hasil (keuntungan) untuk peternak 20% dan untuk pemodal 80%, peternak hanya hanya menyediakan kandang dan peralatannya, sedang hal-hal lain seperti biaya operasional, pakan, obat-obatan, vaksin disuplai dari pemodal atau perusahaan peternakan.
d) Pola Kemitraan Inti Plasma : peternak berperan sebagai plasma dari perusahaan pemodal/perusahaan peternakan yang berperan sebagai inti yang mensuplai biaya operasional, pakan, obat-obatan dan vaksin. Pada pola ini ditawarkan bagi hasil atau kontrak harga, biasanya hasil panen broier diambil (“ditangkap”) oleh pihak inti dan kemudian dilakukan hitung-hitungan pembagian hasil sesuai kesepakatan awal. Segi positif pola ini ialah terjadi transfer teknologi dari pihak inti ke plasma agar lebih maju dan kelak bisa mandiri dalam usahanya.

Skala Usaha Broiler Komersil
Terdapat 3 macam skala usaha peternakan ayam broiler, antara lain : 1) Skala Kecil (Peternakan Rakyat), jumlah ayam  yang dibudidayakan 1.000 – 50.000 ekor, tetapi umumnya  5.000 – 25.000 ekor. Karakteristik Peternanakan Rakyat  ialah modal terbatas, kontinuitas usaha sepanjang tahun tidak berjalan lancar, perkandangan dibangun sederhana, lokasi dekat perumahan penduduk dan kepemilikannya bersifat perorangan.
2) Skala Sedang (Peternak Mapan / Peternak Besar), jumlah ayam yang dimiliki 50.000 – 500.000 ekor, status kepemilikan masih perorangan, manajemen pemeliharaan lebih maju dibanding peternakan rakyat, secara legal belum membentuk perusahaan berbadan hukum.
3) Skala Besar (Skala Perusahaan), peternakan ayam broier ini sudah bernaung dibawah perusahaan yang secara legal sudah memiliki Badan Hukum (PT atau CV), jumlah ayam yang dipelihara bervariasi, umumnya diatas 100.000 ekor sampai juataan ekor. Operasional perusahaan ada yang dikelola sendiri, ada juga yang bermitra dengan peternakan rakyat dengan pola kemitraan.

Perencanaan Skala Usaha
Suatu peternakan ayam broiler sebenarnya adalah “pabrik daging ayam”, dimana berlaku prinsip-prinsip manajemen pada umumnya sebagaimana yang berlaku di pabrik/industri, hanya yang membedakannya peternakan ayam broiler mengelola “benda bernyawa” yang memerlukan ketelitian ekstra dibandingkan pabrik yang mengelola benda mati. Salah satu yang dituntut agar teliti ialah dalam perencanaan produksi dan perencanaan pembangunan kandang, agar perputaran “roda pabrik daging ayam” berjalan normal dan sesuai target produksi yang diharapkan serta memberikan keuntungan (profit) semaksimal mungkin.

Selengkapnya silahkan baca Majalah Infovet eds November 2015

HARUSKAH PEMBATASAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK DI PAKAN?

Oleh :  Prof. Dr. Ir. Budi Tangendjaja MSc. MAppl.

Di Eropa setelah pelarangan penggunaan AGP dilakukan, malah terjadi peningkatan penggunaan antiobitika untuk pengobatan dan juga dilaporkan ada tendensi bahwa penampilan produksi menurun jika dibandingkan dengan waktu AGP masih digunakan secara bebas. Bagaimana dengan Indonesia? 

Akhir-akhir ini isu mengenai penggunaan antibiotika pada ternak menjadi topik yang hangat dibicarakan saat peraturan mengenai penggunaan antibiotika akan diubah. Isu ini menjadi penting karena tidak hanya menyangkut kepentingan pengambil kebijakan tetapi juga memberikan implikasi tidak hanya dari sisi kebijakan tetapi dari sisi produksi ternak itu sendiri, dari sisi konsumen hasil ternak dan juga berpengaruh terhadap ekonomi secara keseluruhan baik dalam importasi maupun perdagangan. Oleh karena itu, ada baiknya kita melihat secara keseluruhan mengenai isu ini agar terlepas dari kepentingan tertentu dan permasalahan yang ada di Indonesia.

Hampir semua pabrik pakan mencampurkan antibiotika ke dalam pakan yang diproduksinya agar ternak dapat tumbuh dengan optimal. Keuntungan yang diperoleh dari penampilan produksi dapat jauh lebih tinggi (bisa > 5 kali lipat) bila dibandingkan dengan biaya penggunaan antibiotika tersebut. Meskipun AGP dimasukkan ke dalam pakan, masih banyak ditemui ternak-ternak yang dipelihara mengalami sakit dan peternak mencoba mengobatinya sendiri dengan antibiotika yang dijual bebas di pasaran tanpa mendapatkan resep atau bahkan advis dari dokter hewan. Banyak peternak yang mungkin menggunakan jenis antibiotika yang tidak tepat, jumlah dan pemakaiannya yang tidak mengikuti petunjuk yang ada.
Beberapa antibiotika yang digunakan untuk pengobatan seringkali sama dengan antibiotika dan dipakai pada manusia. Yang lebih fatal lagi adalah ketika peternak mengobati ternaknya tetapi tidak sembuh kemudian peternak meningkatkan dosis pengobatannya dan ketika ternak tidak sembuh, ternak yang sakit tersebut
dijual untuk dipotong karena peternak tidak ingin mengalami kerugian.
Hal yang disebutkan diatas dapat mengakibatkan timbulnya residu obat antibiotika bagi konsumen yang memakan produk ternak tersebut sehingga secara tidak langsung, konsumen ikut mengkonsumsi antibiotika yang tidak diketahuinya. Permasalahan penggunaan antibiotika yang tidak terkontrol di lapangan dapat menjadi hal serius dibandingkan dengan penggunaan AGP dilakukan oleh pabrik pakan yang terdaftar.
Dalam hal ini pengawasan jauh lebih penting untuk dilakukan dalam melindungi konsumen dari residu antibiotika yang terdapat dalam produk ternaknya.

Paparan beliau mengenai Antibiotik pemacu pertumbuhan (AGP-Antibiotic Growth Promoter), Isu pemakaian AGP (residu, resistensi terhadap obat, lingkungan), Perkembangan penggunaan AGP di negara lain dan bagaimana dengan Kondisi peternakan di Indonesia di sajikan secara lengkap oleh Prof. Dr. Ir. Budi Tangendjaja MSc. MAppl. di Majalah Infovet edisi September 2014.

Untuk selengkapnya silahkan baca infovet edisi September 2014 dan untuk pemesanan silahkan sms ke no Hp. 0856 90 000 52 





ARTIKEL POPULER MINGGU INI

ARTIKEL POPULER BULAN INI

ARTIKEL POPULER TAHUN INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer