-->

CLARIANT PERKUAT KUALITAS PAKAN LEWAT INOVASI CLAY MINERAL DI INDO LIVESTOCK 2026

Tim Clariant bersama IMCD Indonesia. (Foto-foto: Infovet/NDV)

Keikutsertaan PT Clariant Adsorbents Indonesia di pameran Indo Livestock yang berlangsung pada 16-18 Juni 2026 di NICE PIK 2, Tangerang, menyedot perhatian pengunjung. Selain booth yang ramai pengunjung, technical seminar yang diadakan Clariant juga mendapatkan antuasisme tinggi dari peserta.

Mengusung “Inovasi Penggunaan Clay Mineral dalam Industri Peternakan”, seminar eksklusif Clariant berlangsung di Teater 3 NICE PIK 2, di hari kedua Indo Livestock Rabu, (17/6).

“Kami cukup surprised, tidak menduga pengunjung booth Clariant akansebanyak ini. First time kami membuka booth di ajang Indo Livestock, luar biasa senang bisa berinteraksi langsung dengan para customer,” ungkap Regional Manager Asia Pacific for Feed Business Clariant Adsorbents, Erika Kusuma Wardani, ditemui Infovet pada Selasa (16/6).

Erika mengemukakan, pameran peternakan berskala internasional seperti Indo Livestock membuka banyak peluang yang dapat dimanfaatkan pelaku industri, salah satunya untuk membuka kesempatan mendapatkan peluang bisnis.

“Kami juga menjadikan ajang pameran untuk branding, awareness, dan berbagi ilmu tentang clay. Kegiatan ini juga semakin relevan seiring perkembangan teknologi yang sangat pesat,” imbuhnya.

Dalam IDL 2026, Clariant menggandeng salah satu distributor yaitu PT IMCD Indonesia. Business Development Manager Animal Health Division PT IMCD Indonesia, Edy Chandra dan Rizal Iqhbal Putra melihat prospek bisnis toxin binder terus menunjukkan pertumbuhan seiring meningkatnya perhatian industri terhadap kualitas pakan.

Clariant & IMCD Indonesia team berinteraksi langsung dengan customer.

IMCD Indonesia menilai keahlian Clariant dalam pengembangan clay berkualitas tinggi dipadukan dengan pemanfaatan sumber bahan baku lokal dan didukung layanan laboratorium, menjadi solusi untuk mendukung proses produksi pakan secara optimal.

IMCD Indonesia menilai keahlian Clariant dalam pengembangan clay berkualitas tinggi dipadukan dengan pemanfaatan sumber bahan baku lokal dan didukung layanan laboratorium, menjadi solusi untuk mendukung proses produksi pakan secara optimal.

Clay Specialist

Memiliki pengalaman panjang dan keahlian mendalam dalam pengembangan solusi berbasis clay, Clariant menghadirkan produk toxin binder untuk menjawab kebutuhan industri peternakan modern.

Produsen clay terbesar di dunia ini berpengalaman sudah 30 tahun lebih di Indonesia, mengelola 39 tambang clay di seluruh dunia, serta memiliki 57 jenis clay yang dipasarkan di seluruh dunia, sementara untuk Asia Pacific saat ini telah dipasarkan ke 14 negara.

Perbedaan dan jenis-jenis bentonit.

Clariant tidak hanya menawarkan produk, tetapi juga pemahaman ilmiah mengenai karakteristik clay dan kemampuannya mengikat mikotoksin secara efektif. Melalui pendekatan ini, Clariant berkomitmen membantu industri peternakan Indonesia untuk meningkatkan kualitas pakan yang lebih aman.

Tantangan industri peternakan yang semakin kompleks akibat perubahan iklim dan cuaca yang tidak menentu, kualitas pakan menjadi fondasi utama dalam menjaga performa dan kesehatan ternak.

Keberhasilan program kesehatan ternak selain pengaplikasian vaksinasi atau manajemen pemeliharaan, juga bergantung dari pemberian pakan yang aman dan berkualitas.

Pakan yang terkontaminasi mikotoksin dapat menurunkan konsumsi pakan, mengganggu fungsi organ, melemahkan sistem imun, hingga menyebabkan respons vaksinasi menjadi tidak optimal.

“Mikotoksin sering menjadi penyebab utama nutrisi dalam pakan tidak terserap sempurna. Hal ini mengganggu sistem imun dan dampaknya efektivitas vaksinasi berpotensi tidak tercapai secara optimal,” ujar Erika.

Sebagai penyedia utama produk khusus berbasis clay, antara lain bentonite, attapulgite, zeolite, saponite, kerolite, sepiolite, dan lainnya; Clariant memberikan solusi dalam meningkatkan kualitas pakan ternak melalui lini produk toxin binder. Secara selektif menargetkan mikotoksin dengan tetap mempertahankan nutrisi pakan yang penting.

Berbeda dengan banyak produk toxin binder yang masih bergantung pada bahan baku impor, Clariant mengembangkan solusi berbasis sumber daya lokal yang dipadukan dengan pengalaman global dalam teknologi adsorben mineral.

Seminar Clay Mineral

Foto bersama peserta seminar.

Sesi seminar Clariant menghadirkan pembicara yakni Dosen Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat (ULM) dan peneliti Mycotoxin Research Group Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Ika Sumantri, S.Pt. M.Si. M.Sc. Disusul dengan pemaparan materi dari Erika Kusuma Wardani.

Mengawali materi presentasinya, Prof Ika menyebutkan jamur tumbuh optimal pada suhu 25-37°C dengan kelembapan 80-85%. Kemudian produksi mikotoksin meningkat pada lingkungan yang cenderung basa (alkali).

Prof Ika menerangkan alur perpindahan mikotoksin sedari pakan terkontaminasi kemudian dimakan ternak hingga menimbulkan residu yang masuk ke susu, telur, daging yang dikonsumsi manusia.

Menurutnya, mikotoksin bukan sekadar persoalan kualitas pakan, melainkan ancaman yang memengaruhi kesehatan ternak, produktivitas, hingga keamanan pangan. Dalam kondisi iklim tropis seperti Indonesia, pengendalian mikotoksin harus dilakukan secara preventif melalui peningkatan kualitas pakan, penyimpanan, dan penerapan manajemen peternakan yang baik, serta penggunaan toxin binder berbasis clay yang tepat.

Sementara Erika menjelaskan bahwa kemampuan bentonit dalam mengikat mikotoksin dipengaruhi kualitas mineralnya. Bentonit dengan luas permukaan yang lebih besar, volume mikro pori yang tinggi, serta struktur pori yang optimal memiliki kemampuan adsorpsi yang lebih baik terhadap mikotoksin.

Erika menggarisbawahi bahwa toxin binder yang baik tidak hanya efektif mengikat toksin, tetapi juga harus tetap menjaga ketersediaan nutrisi bagi ternak.

Rangkaian produk Clariant di antaranya Toxisorb™, Bentomax™, dan Terrana™ hadir sebagai solusi pengikat multitoksin berbasis clay mineral 100% alami.

Bentomax™ tampil sebagai solusi mycotoxin binder yang tak tertandingi. Diformulasikan dari kalsium bentonit pilihan berkualitas tinggi hanya menargetkan mycotoxin tanpa menyerap nutrisi pakan, sehingga nilai gizi tetap terjaga optimal, dan pastinya terjual dengan harga yang affordable.

Hasil pengujian menunjukkan Toxisorb™ Premium mampu bekerja sinergis dengan enzim fitase dalam meningkatkan pelepasan fosfor dari asam fitat.

Lebih lanjut, Erika mengungkapkan bahwa Toxisorb™ Premium juga memiliki kemampuan mengadsorpsi endotoksin yang dihasilkan bakteri gram-negatif. Kemampuan ganda ini menjadi nilai tambah di tengah tantangan peternakan modern, ketika kualitas bahan baku pakan semakin dipengaruhi perubahan iklim dan risiko kontaminasi.

Fungsi tambahan Toxisorb™ Premium dalam mengadsorpsi endotoksin ini menunjukkan bahwa produk tidak hanya berperan sebagai toxin binder, tetapi juga mendukung kesehatan saluran pencernaan ternak. (ADV)

DUKUNG KETAHANAN PANGAN BERKELANJUTAN, JAPFA TAMPILKAN INOVASI DAUR ULANG AIR DAN EKONOMI SIRKULAR DI INVIROTECH 2026

Booth JAPFA di INVIROTECH diminati oleh murid-murid dari berbagai Sekolah Menengah. (Foto-foto: JAPFA)

Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup, PT JAPFA Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) berpartisipasi dalam Indonesia International Environment Technology and Innovation Expo & Conference 2026 (INVIROTECH) yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta.

Pada pameran yang berlangsung pada 11–13 Juni 2026 tersebut, JAPFA menampilkan berbagai inisiatif keberlanjutan yang menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam memperkuat ketahanan pangan melalui pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab, penerapan ekonomi sirkular, serta transisi menuju energi yang lebih bersih. Salah satu pencapaian yang ditampilkan adalah peningkatan volume daur ulang air sebesar 94% pada tahun 2025 dibandingkan tahun 2023. Capaian ini mencerminkan komitmen JAPFA untuk menjadikan keberlanjutan lingkungan sebagai fondasi dalam mendukung ketahanan pangan yang berkelanjutan, terukur, dan transparan.

Tim JAPFA menjelaskan daur ulang air pada anak-anak Sekolah Dasar.

Bagi JAPFA, efisiensi air tidak hanya menjadi upaya pelestarian lingkungan, tetapi juga investasi jangka panjang untuk membangun operasional yang tangguh. Sebagai perusahaan agrifood, JAPFA menyadari pentingnya ketersediaan air bersih dalam mendukung seluruh rantai bisnis, mulai dari peternak hingga konsumen. Karena itu, perusahaan terus berinvestasi dalam pengembangan fasilitas daur ulang air, peningkatan efisiensi penggunaan air, serta penerapan praktik konservasi air di berbagai unit operasionalnya antara lain melalui pemanenan air hujan (rainwater harvesting).

Rachmat Indrajaya, Direktur JAPFA, mengatakan, “Setiap tetes air yang berhasil didaur ulang merupakan langkah nyata untuk memperkuat ketahanan operasional di tengah meningkatnya risiko kelangkaan air. Kami tidak memandang keberlanjutan sebagai trade-off bagi bisnis, melainkan sebagai cara untuk memastikan nilai ‘Berkembang Menuju Kesejahteraan Bersama’ dapat terus diwujudkan di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin dinamis.”

Booth JAPFA tak pernah sepi dari pengunjung.

Selain pengelolaan air, JAPFA juga memaparkan capaian dalam pengelolaan limbah. Sepanjang tahun 2025, perusahaan berhasil mengalihkan lebih dari 90% limbah non-B3 atau sekitar 137.000 ton limbah dari tempat pemrosesan akhir (TPA) melalui berbagai pendekatan seperti efisiensi operasional, penggunaan kembali (reuse), dan daur ulang. JAPFA juga menerapkan prinsip ekonomi sirkular dengan mengolah bagian unggas dan ikan yang tidak digunakan untuk konsumsi menjadi produk bernilai tambah, serta memanfaatkan kotoran ternak sebagai pupuk. Berbagai pendekatan pengelolaan limbah ini dilakukan baik secara internal maupun kolaborasi dengan masyarakat atau kelompok masyarakat untuk memperluas nilai tambah dan manfaat lingkungan, sosial, dan ekonomi.

Di sektor energi dan pengendalian emisi, JAPFA terus mempercepat transisi menuju sumber energi yang lebih bersih dan ramah lingkungan. Sejak 2025, perusahaan secara bertahap menghentikan penggunaan batu bara di seluruh fasilitas operasionalnya dan beralih ke sumber energi yang lebih berkelanjutan, seperti gas alam serta biomassa berbahan bakar cangkang kemiri dan cangkang sawit. Saat ini, energi biomassa telah berkontribusi sekitar 35% terhadap total kebutuhan energi perusahaan. Upaya tersebut turut diperkuat melalui pemasangan panel surya dengan total kapasitas terpasang 1,8 MWp di berbagai unit produksi.

Komitmen JAPFA terhadap praktik bisnis berkelanjutan juga mendapat pengakuan dari sektor keuangan. Pada tahun 2021, perusahaan memperoleh pendanaan melalui Sustainability-Linked Bond (SLB) senilai US$350 juta, yang kemudian dilanjutkan dengan Sustainability-Linked Loan (SLL) dari BNI sebesar Rp1,42 triliun (US$ 95 juta) pada tahun berikutnya. Kedua instrumen tersebut mengaitkan kinerja finansial dengan pencapaian target-target keberlanjutan yang dievaluasi secara berkala oleh pihak independen.

VAKSINDO PERLUAS AKSES PASAR GLOBAL MELALUI EKSPANSI KE KAWASAN EAEU

Pertemuan membahas rencana ekspor produk Vaksindo ke negara Uni Ekonomi Eurasia (EAEU) di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Senin (6/4). (Foto-foto: Infovet/NDV)

PT Vaksindo Satwa Nusantara kembali menunjukkan kiprahnya di pasar internasional dengan melaksanakan persiapan mengekspor vaksin ke kawasan Eurasian Economic Union (EAEU). Langkah ekspansif ini bukan sekadar pencapaian bisnis, namun mempertegas posisi Indonesia sebagai negara yang semakin diperhitungkan dalam industri kesehatan hewan global.

Dukungan pun datang dari Kementerian Pertanian yang disampaikan melalui Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dr Drh Agung Suganda MSi. “Kami sangat mendukung penuh terhadap upaya perluasan pasar vaksin hewan Indonesia ke kawasan EAEU,” kata Agung dalam pertemuan yang berlangsung di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Senin (6/4).

Agung memberikan apresiasi kepada PT Vaksindo Satwa Nusantara. “Vaksindo menunjukkan komitmen dan kinerja yang kuat sebagai produsen vaksin hewan nasional, tidak hanya dalam memenuhi kebutuhan dalam negeri namun juga berhasil menembus pasar internasional,” lanjutnya.

Audiensi ini dihadiri oleh delegasi Rosselkhoznadzor, I. A. Samoilova, kemudian Presiden Direktur PT Vaksindo Satwa Nusantara, Dr Teguh Y. Prajitno beserta tim auditor Good Manufacturing Practices (GMP) Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH).

Melalui proses audiensi ini, pemerintah berharap dapat memperoleh hasil yang positif sebagai langkah awal membuka akses ekspor vaksin hewan Indonesia ke negara anggota EAEU yaitu Rusia, Kazakhstan, Belarus, Armenia, dan Kirgistan.

“Tentunya kita semua sangat berharap rencana ekspor vaksin ke negara Rusia ini akan sukses. Dukungan untuk Vaksindo kami berikan dengan memperhatikan regulasi yang ada dan melakukan percepatan sesuai dengan prosedur negara pengimpor,” tutur Direktur Kesehatan Hewan, Drh Hendra Wibawa MSi PhD.

Hendra pun menyampaikan bahwa pemerintah optimis, mengingat pengalaman Vaksindo yang telah mengekspor vaksin dan obat hewan ke lebih dari 20 negara.

Perkuat Kapabilitas Riset Berstandar Internasional

Selama beberapa tahun terakhir, Vaksindo memperkuat kapabilitas riset dan pengembangan serta memastikan produknya memenuhi standar internasional yang ketat. Ekspansi ke negara kawasan Eurasian menjadi bukti bahwa produk vaksin unggas buatan dalam negeri mampu bersaing, baik dari sisi efektivitas maupun keamanan.

Suasana audiensi berlangsung interaktif.

Permintaan dari negara-negara ini terhadap vaksin unggas yang diproduksi Vaksindo, menjadi bukti nyata pengakuan pasar internasional terhadap kualitas produk dalam negeri.

“Kami mengembangkan dan memproduksi vaksin yang terjamin efikasinya, sesuai dengan standar ISO 9001:2015, ISO 17025 dan tentunya CPOHB serta GMP. Didukung penelitian yang komprehensif,” tandas Teguh Y. Prajitno.

Lini produk utama Vaksindo yang rencananya akan diekspor meliputi vaksin ND, AI, IB, IBD. Sebagai pabrik vaksin hewan pertama di Indonesia sejak 1983, Vaksindo memproduksi vaksin untuk segmen hatchery, breeding, dan peternakan komersial.

Produk Vaksindo telah menjangkau lebih dari 24 negara baik di kawasan Asia dan beberapa negara lainnya di kawasan Timur Tengah. Hal ini menunjukkan portofolio produk Vaksindo telah memenuhi standar internasional (GMP & ISO).

Dengan fondasi yang kuat, inovasi berkelanjutan, dan visi global yang semakin jelas, Vaksindo berada pada jalur pertumbuhan menjanjikan. Vaksindo hadir sebagai kebanggaan industri dalam negeri dan berkontribusi nyata untuk kesehatan hewan dunia. (ADV)

CAPAIAN STRATEGIS DISNAKKESWAN PROVINSI SUMATERA BARAT DALAM PENGUATAN SEKTOR PETERNAKAN

Disnakkeswan Sumbar melakukan sosialisasi konsumsi protein hewani dalam rangka peringatan Hari Susu Nusantara

Sektor peternakan Sumatera Barat bukan sekadar urusan memelihara ternak hewan, melainkan denyut nadi ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) membuktikan komitmen tersebut melalui deretan pencapaian yang tidak hanya di atas kertas, tetapi berdampak langsung ke peternak dan masyarakat.

Dari surplus produksi telur yang melimpah hingga garda terdepan perlindungan dari wabah penyakit, menjadi bukti bagaimana transformasi peternakan di Sumbar didorong untuk lebih maju, sehat, dan berdaya saing.

Disnakkeswan Sumbar telah menyalurkan bantuan ternak dan alat serta mesin peternakan, untuk meningkatkan produksi dan populasi peternakan.

Untuk ruminansia, di antaranya adalah penyaluran 40.000 liter N2 cair, plastic sheet, dan plastic glove untuk optimalisasi reproduksi sapi. Ditambah bantuan 20 ekor ternak sapi Simental beserta obat­obatannya. Lengkap dengan 4 unit mesin pencacah pakan ternak.

“Kami juga menyerahkan 5 ekor pejantan pemacek sapi pesisir untuk peningkatan mutu genetik, guna pelestarian plasma nutfah Sumatera Barat,” kata Kepala Disnakkeswan Sumbar, Sukarli SPt MSi. “Untuk ruminansia kecil sudah disalurkan 240 ekor kambing beserta obat-obatannya.”

Terkait peternakan unggas, 4.000 ekor itik dan 6.000 ekor ayam KUB disalurkan pada masyarakat/peternak. Semua beserta pakan dan obat­obatannya. Selain itu Disnakkeswan Sumbar juga memberikan bantuan 16 unit mesin tetas telur.

“Produksi peternakan Sumbar mengalami surplus. Ketersediaan telur mencapai 363.332 ton dan kebutuhannya sekitar 328.244 ton. Ketersediaan daging ayam 70.544 ton jauh melampaui kebutuhan sebesar 47.610 ton.” Kepala Bidang Bina Usaha dan Kelembagaan Disnakkeswan Sumbar, Nirmala SPt MSi menjelaskan. “Ketersediaan susu sekitar 975 ton dibandingkan kebutuhan sebesar 591 ton. Kemudian ketersediaan daging sapi mencapai sekitar 26.581 ton sementara kebutuhan berada di angka 24.367 ton.”

Sosialisasi peningkatan konsumsi protein hewani juga terus dilakukan. Ditindaklanjuti dengan penyaluran telur 12.000 butir dan susu 3.000 botol.

Produksi yang tinggi tentu tidak akan berarti tanpa adanya jaminan kesehatan dan keamanan pangan. Disnakkeswan Sumbar tak henti bekerja keras sebagai ‘perisai’ yang melindungi ternak hewan dan manusia dari ancaman penyakit.

Terkait penyakit hewan menular strategis (PHMS), Disnakkeswan Sumbar berhasil merealisasikan 30.000 vaksinasi rabies dari target 30.000 dosis, 2.000 vaksinasi Jembrana dari target 2.200 dosis, 50.375 vaksinasi PMK dari target 50.375 dosis, 3.000 vaksi nasi Septicaemia Epizootica (SE) dari target 3.000 dosis.

Selain itu berhasil menerbitkan sertifikat Nomor Kontrol Veteriner (NKV) untuk 11 unit usaha, dari target 10 unit usaha pada unit usaha produk asal hewan. Pelatihan Juru Sembelih Halah (Juleha) berhasil meluluskan 80 orang juleha ruminansia dan 50 orang juleha unggas.

Kemudian sebanyak 374 Sertifikasi Veteriner diterbitkan untuk hewan, dan 4.949 untuk produk hewan, terkait lalu lintas HPM (Hewan, Produk Hewan, dan Media Pembawa Penyakit Hewan Lainnya).

Layanan pengujian mutu produk peternakan Disnakkeswan Sumbar telah menambah ruang lingkup akreditasi ISO 17025 2017 dengan parameter oksitetrasiklin, penisilin, tilosin dan kanamisin (bioassay) untuk laboratorium kesmavet, serta parameter kadar air dan kadar abu untuk laboratorium pakan.

“Kami telah memproduksi telur fertil 64.932 butir, DOC ayam KUB 39.481 ekor, pullet 3.268 ekor, serta menghasilkan 2.560 ekor ayam afkir untuk konsumsi,” terang Sukarli. “Di Rumah Sakit Hewan Provinsi Sumatera Barat juga telah diuji 2.164 sampel aktif dan 5.075 sampel pasif. Telah dilakukan pula pelayanan USG terhadap 75 pasien, pelayanan bedah terhadap 369 pasien, pelayanan rawat inap sebanyak 1.384 pasien, pelayanan rawat jalan sebanyak 4.610 pasien, dan pelayanan pengujian PCR.”

Untuk mendukung peternakan sapi Disnakkeswan Sumbar telah mendistribusikan 55.800 dosis semen beku. Serta melakukan pelestarian dan pemanfaatan pakan lokal yang efektif untuk peningkatan produksi ternak sapi.

“Disnakkeswan Sumbar juga menjadi wadah penelitian dan riset yang berkolaborasi dengan perguruan tinggi dan BRIN, serta tujuan magang dari mahasiswa dan mahasiswi dari berbagai universitas,” pungkas Sukarli. “Kami juga melakukan launching penetapan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) pada 3 UPTD lingkup Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan.” (ADV)

SEABAD NEWCASTLE DISEASE: KOMITMEN CEVA MENGAWAL MASA DEPAN PERUNGGASAN

Country Director PT Ceva Animal Health Indonesia, Edy Purwoko, turut mendampingi Dirkeswan pada seremoni pembukaan The Guards of A Century. (Foto-foto: Istimewa)

Sebagai perusahaan yang berkomitmen pada kesehatan unggas, PT Ceva Animal Health Indonesia terus berperan aktif meningkatkan awareness peternak terhadap penyakit Newcastle Disease (ND). Upaya tersebut diwujudkan melalui berbagai program edukasi berkelanjutan, layanan teknis di lapangan, hingga publikasi laporan disease surveillance setiap bulan sebagai sumber informasi terkini bagi industri.

Komitmen tersebut kembali ditegaskan melalui forum ilmiah internasional yang diinisiasi oleh Ceva Santé Animale bertajuk The Guards of A Century: 100 Years with Newcastle Disease. Diselenggarakan pada 10-12 Februari 2026 di Novotel Bogor Golf Resort & Convention Center, acara ini menghadirkan ilmuwan, otoritas veteriner, dan pelaku industri vaksin dari 15 negara dalam satu panggung kolaborasi global.

Sejumlah pakar dunia turut hadir dalam forum ini. Sesi pembuka disampaikan oleh Dr Hendra Wibawa, MSc, PhD, Direktur Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI. Ia mengulas sejarah penemuan ND di Indonesia sekaligus menegaskan langkah-langkah sistematis pemerintah dalam pengendalian penyakit ini melalui penguatan kebijakan, biosekuriti, vaksinasi, dan sistem laboratorium. Dilanjutkan oleh Prof Ian Brown dari The Pirbright Institute, Inggris, yang memaparkan laporan pertama TM Doyle tentang penyakit “baru” di Newcastle-upon-Tyne serta perjalanan panjang riset dan kemajuan ilmiah ND di Weybridge. Paparannya memberikan perspektif global tentang bagaimana pengendalian ND berkembang selama 100 tahun terakhir.

Pembaruan klasifikasi genetik virus ND dijelaskan oleh Dr Kiril Dimitrov, DVM, PhD, yang menyoroti pentingnya sistem penamaan yang lebih terstandarisasi secara global. Sementara itu, Dr Atsushi Yasuda dan Dr Moto Esaki membagikan pengalaman pengembangan awal vaksin HVT-F hingga evolusinya menjadi vaksin HVT/ND modern.

Dari sisi epidemiologi, Prof Dr JA (Arjan) Stegeman dari Utrecht University menekankan pentingnya strategi vaksinasi dalam memutus transmisi virus di tingkat populasi.

Prof Dr Vilmos Palya, Scientific Expert Ceva, menjelaskan perjalanan pengembangan dan konfirmasi teknologi rHVT-F dalam membangun respons imun yang optimal. Melengkapi sesi tersebut, Dr Marcelo Paniago memaparkan hasil berbagai uji tantangan yang dikumpulkan selama bertahun-tahun. “Hasil uji menunjukkan kemanjuran vaksin rHVT-F terhadap genotipe NDV velogenik yang muncul,” tegasnya.

Sebagai penutup, Mustafa Seckin Sandikli, Global Poultry Director Ceva Santé Animale, menegaskan komitmen berkelanjutan Ceva dalam mendukung kemajuan dan keberlanjutan industri unggas dunia.

Momen bersama seluruh peserta usai meninjau berbagai fasilitas di lingkungan BRMP Veteriner.

Kementan Apresiasi Ceva

Direktur Kesehatan Hewan (Dirkeswan) Kementerian Pertanian, Drh Hendra Wibawa MSi PhD, menyampaikan apresiasi tinggi kepada Ceva atas komitmennya menyelenggarakan konferensi internasional ini.

Hendra menuturkan bahwa ND masih menjadi penyakit hewan strategis dengan dampak besar bagi produktivitas unggas di dunia.

“Di luar tantangan teknis di tingkat lapangan, penyakit ini juga memiliki implikasi yang lebih luas terhadap stabilitas pasokan pangan asal hewan, perdagangan, dan ketahanan pangan secara keseluruhan,” katanya.

Menurut Hendra, penguatan sistem juga dilakukan melalui peningkatan kapasitas laboratorium. “Untuk memastikan mutu dan keandalan pengujian diagnostik yang menjadi dasar kebijakan tersebut, pemerintah memperkuat kapasitas laboratorium sebagai pilar utama sistem kesehatan hewan,” ujarnya.

Salah satu momen berkesan dalam rangkaian acara adalah kunjungan ke Balai Besar Perakitan dan Modernisasi (BRMP) Veteriner Kementerian Pertanian. Di lokasi inilah para peserta berkesempatan melihat langsung tempat virus ND pertama kali dipelajari di Indonesia—sebuah situs bersejarah yang menandai awal perjalanan panjang riset ND di tanah air. (ADV)

NOVUS LUNCURKAN PROVENIA® FEED SOLUTION, SOLUSI PROTECTED BENZOIC ACID UNTUK KESEIMBANGAN USUS

Seminar “Restoring Intestinal Balance for Peak Performance” dihadiri oleh para nutrisionist, R&D feedmill, formulator, peternak broiler, serta pelaku industri pakan. (Foto-foto: Dok. Infovet & Istimewa)

"Gut health merupakan salah satu faktor yang penting untuk animal performance dalam industri kita. Solusi dari NOVUS yang merupakan fokus acara hari ini adalah launching produk terbaru protected benzoic acid, PROVENIA® Feed Solution. Saya juga berharap dari acara ini kita mendapat tambahan masukan dari hasil diskusi yang akan disampaikan oleh para pembicara kita hari ini,” kata Regional Sales Director NOVUS Indonesia & Malaysia, Rika Riantika, saat membuka launching produk dan seminar Restoring Intestinal Balance for Peak Performance, Rabu (20/8).

Rika Riantika

Sementara itu, Managing Director NOVUS Asia Pacific, Rajeev Murthy, menyampaikan bahwa beberapa tahun terakhir NOVUS meluncurkan dan menjalankan Project Destiny. Sebuah rencana strategis multifase untuk mengalihkan fokus perusahaan ke solusi gut health yang berorientasi pada pelanggan. Langkah ini merupakan penyesuaian untuk mengarahkan NOVUS ke arah yang lebih kolaboratif dan keberlanjutan.

Rajeev Murthy

“Kami mengevaluasi platform atau produk apa saja yang bisa kami tambahkan banyak value ke industri, pasar mana yang bisa kami operasikan dengan sukses, dan di mana kami harus mengalokasikan sumber daya, energi, dan fokus kami,” ujar Rajeev.

“Kami berfokus pada tiga platform yang kami yakini dapat membuat perbedaan besar. Yakni mineral, enzim, dan gut health, yang merupakan platform penting bagi industri karena prioritas produksi terus berubah.”

Optimalisasi Fungsi Usus, Kunci Masa Depan Industri Unggas Berkelanjutan

Selama 30-40 tahun terakhir permintaan protein hewani di dunia semakin meningkat. Diproyeksikan satu dekade mendatang permintaan akan meningkat 14%, dimana unggas menjadi industri utama protein hewani.

“Tapi bagaimana kita berproduksi dengan efisien jika kita sendiri menghadapi berbagai masalah dan tantangan? Lebih dari 50 tahun kita sangat bergantung pada penggunaan antibiotik untuk meningkatkan kinerja ternak. Karena alasan inilah kita perlu fokus pada fungsi usus,” kata Global Head Nutritional Consultancy Services, Vetworks, Dr Miriam Alberto-Tempra.

Miriam Alberto Tempra

Dengan meningkatnya permintaan akan produksi pangan dan pakan, industri didorong untuk memproduksi ayam dan telur dengan cara paling efisien. Kualitas pakan juga menjadi pertimbangan utama karena memengaruhi kesehatan usus.

Penting juga untuk mengetahui fungsi usus karena akan menjadi pertimbangan dalam mengoptimalkan performa ayam. Keberhasilan produksi protein hewani yang efisien dan berkelanjutan sangat dipengaruhi fungsi usus.

Minggu Pertama, Pondasi Sistem Pencernaan untuk Performa Optimal

Private Poultry Farm Consultant, Tony Unandar, menjelaskan bahwa dibanding hewan lain saluran pencernaan ayam lebih pendek. Karena itu membutuhkan kinerja yang maksimal, supaya pakan bisa dirubah menjadi nutrisi tunggal yang bisa diambil ayam untuk pertumbuhan dan produksi.

Tony Unandar

Ayam membutuhkan bakteri dari lingkungannya untuk menjaga keseimbangan bakteri dalam ususnya supaya memberikan efek positif pada ayam itu sendiri. Hal ini membutuhkan kondisi tertentu dalam usus.

“Masalahnya pada ayam kecil status mikrobium ini belum stabil sampai akhir minggu pertama. Sedangkan dia membutuhkan pertumbuhan yang cepat namun bantuan mikroba belum banyak, sekresi enzim belum maksimal, perkembangan anatomi ususnya belum maksimal,” terang Tony.

“Kondisi inilah yang membutuhkan kita memberikan beberapa suplementasi nutrisi atau bahan yang bisa mempercepat perkembangan anatomis usus, mempercepat settle-nya kolonisasi mikroflora usus, dan mempercepat kelangsungan proses pencernaan yang mendekati optimal.”

Dasar pembentukan saluran cerna pada ayam ditentukan oleh pertumbuhan minggu pertama. Jika di minggu pertama pertumbuhan ayam tidak maksimal, artinya dasar pertumbuhan sistem pencernaan tidak optimal. Akibatnya FCR-nya tidak akan bagus, fungsi usus sebagai penyerap nutrisi maupun untuk mucosal immunity akan lemah.

“Maka nutrisi tunggal yang tidak diserap akan dimanfaatkan sejumlah bakteri yang ada dalam usus. Itulah awal mula terjadinya dysbiosis, bakteri menggunakan nutrisi yang tidak bisa diserap oleh ayam untuk menghasilkan metabolit yang merusak sel epitel ayam,” tambah Tony.

PROVENIA® Feed Solution, Teknologi Protected Benzoic Acid untuk Kesehatan Usus Ayam

Technical Services Manager NOVUS Indonesia & Malaysia, Priskila Sophia Hutapea SPt MSi, memperkenalkan PROVENIA® Feed Solution produk baru dari Novus International. PROVENIA® Feed Solution merupakan protected blend of organic acid, dimana komposisi utamanya adalah benzoic acid yaitu minimal 48%.

Priskila Sophia Hutapea

Asam organik merupakan salah satu solusi dari semua portofolio probiotik yang saat ini tersedia di lapangan. Merupakan solusi yang paling cepat kelihatan hasilnya dalam hal memodulasi bakteri di saluran pencernaan ternak. Karena efektivitas dari asam organik bisa punya kontak langsung dengan bakteri patogen terutama bakteri gram negatif,” kata Priskila.

Asam organik bekerja sebagai pathogen inhibition, memiliki efektivitas yang langsung terhadap bakteri patogen gram negatif, seperti Salmonella dan E. coli. Mampu menstimulasi populasi bakteri baik. Ketika populasi bakteri patogen turun, tentu populasi bakteri baik akan bertambah.

Efektivitas asam organik berbeda-beda tergantung pKa dan pH lingkungan di mana asam organik itu berada. Di antara beragam jenis asam organik yang ada, benzoic acid menjadi pilihan terbaik terkait kesehatan usus ayam. Karena memiliki kemampuan antibakterial yang sangat kuat di kondisi pH usus netral, selektivitas terhadap sifat antibakterialnya, dan memicu gut diversity.

PROVENIA® Feed Solution dengan benzoic acid sebagai salah satu komponen utamanya, merupakan satu-satunya patented protected benzoic acid. Benzoic acid, fumaric, dan formic acid menempel di granule lalu diproteksi sehingga sangat mudah untuk ditangani, tidak berdebu, non irritating. Ketika dicampur di pakan ataupun premix menghasilkan homogenitas yang bagus dan tidak terjadi caking.

Metode protection akan melindungi benzoic acid sehingga tidak akan dicerna dan tidak akan diserap di saluran pencernaan atas. Hanya akan lepas di saluran percernaan belakang dimulai dari duodenum, dan sekali rilis benzoic acid dan bahan lainnya langsung lepas, dimana benzoic acid akan mempunyai efek yang paling utama. Benzoic acid harus diproteksi karena bekerja hanya di saluran pencernaan bagian belakang, dimana bakteri patogen paling banyak terdapat.

Riset Novus pada 2007, membandingkan antara free benzoic dengan protected benzoic acid. Ketika tidak diproteksi maka bisa dicerna dan diserap di saluran pencernaan atas. Selanjutnya ketika mencapai saluran pencernaan bagian belakang tidak terlihat lagi efeknya.

Sebaliknya, data riset menunjukkan protected benzoic acid dirilis mulai dari duodenum dan hasilnya terlihat hingga di usus besar. Sebesar 65-70% dari active ingredient dilepaskan di duodenum dan juga jejunum diteruskan sampai ke belakang.

Beberapa ujicoba membuktikan PROVENIA® Feed Solution mampu meningkatkan average daily gain sebanyak 2,75% di hari ke-35 dan FCR turun hampir tiga poin. PROVENIA® Feed Solution juga memiliki efektivitas jika dikombinasikan dengan essential oil, hasilnya body weight naik signifikan dan FCR juga turun signifikan, serta mampu memperbaiki sel epitel usus.

Karena efek yang baik pada kesehatan usus, PROVENIA® Feed Solution juga berkontribusi terhadap better litter quality. Karena mampu mencegah wet dropping yang menyebabkan wet litter, bisa menyebabkan penyakit atau insiden di kaki ayam dan menimbulkan level amonia yang tinggi.

“Efektivitas benzoic acid pada PROVENIA® Feed Solution selain menurunkan populasi bakteri patogen, sekaligus meningkatkan populasi bakteri Lactobacillus. Maka produksi dari asam laktat akan meningkat. Akibatnya populasi Clostridium cluster yang menghasilkan buteric acid akan meningkat. Sehingga selain antibakterial, gut microbiota diversity, juga mendapatkan natural production acid continuously di sekum,” pungkas Priskila.

Pemberian plakat sebagai tanda terima kasih kepada para pembicara.

Para peserta seminar pun antusias mengikuti jalannya acara dan aktif terlibat dalam tanya jawab dengan para pembicara. Peserta yang beruntung mendapatkan door prize menarik. NOVUS juga memberikan plakat penghargaan sebagai tanda terima kasih kepada para pembicara. (ADV)

Testimonial


Dr Pristian Yuliana SPt MSi (Head of Department R&D, QA/QC PT Kerta Mulya Saripakan)

“Seminar yang sangat menarik, informatif, dan terkini terutama tentang heat stress dan AGP. Berdasarkan pemaparan para pembicara dan penyajian data, produk PROVENIA® Feed Solution yang di-launch NOVUS ini cukup bagus, high technology, dan secara technical baik. Penggunaan produk juga bisa untuk ternak hewan monogastrik. Menurut saya, market juga akan luas dari farm yang self mixing, feedmill premix dapat diterima.”


RD Satrya Wira Hamidjaya (Manager Quality Control Department PT Charoen Phokpand Indonesia)

“Materi yang dikupas sangat terbaru dan faktual. Apalagi saat ini case koksi banyak terjadi. Penjabaran mengenai keunggulan benzoic acid ini dapat menjadi solusi dan produk PROVENIA® Feed Solution saya rasa akan diterima positif di market Indonesia.”

EDUKASI MAKANAN BERGIZI HINGGA PERAYAAN KEMANUSIAAN WARNAI HUT KE-40 BBPMSOH

bbpmsoh
Penyampaian materi tentang gizi dan konsumsi telur ayam disajikan lewat dongeng. (Foto-foto: Dok. Infovet)

Masyarakat sekitar Gunung Sindur, Bogor, bersuka cita mendatangi acara Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH) Fair, Kamis (21/8). BBPMSOH Fair diselenggarakan dalam rangka merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-40 BBPMSOH dan HUT ke-80 Republik Indonesia.

Acara disemarakkan dengan berbagai bakti sosial, mulai dari edukasi dan berbagi makanan bergizi berupa susu dan telur untuk siswa-siswi SDN Gunung Sindur dan SDN Flamboyan Gunung Sindur.

Perayaan kemanusiaan juga hadir lewat aksi nyata. Salah satunya dengan mendistribusikan bantuan ke Jalur Gaza yang disalurkan melalui Komite Nasional Rakyat Palestina, wilayah Banten. Tim BBPMSOH juga melaksanakan kegiatan pemberian santunan kepada anak yatim dan dhuafa.

Tak ketinggalan, yang membuat acara ini semakin menarik adalah tampak antrian para pawrent (sebutan untuk pemilik anabul). Mereka mendatangi posko pemeriksaan, serta vaksinasi gratis untuk kucing dan anjing.

Antrian para pawrent bersama kucing dan anjing untuk dicek kesehatannya.

Selain itu, terdapat pasar murah sembako dan kuliner UMKM seperti kue mochi, aneka masakan rumah, berbagai olahan ayam kampung, ayam negeri, puyuh dan bebek, hingga minuman segar.

Pengadaan bazaar ini disambut gembira oleh masyarakat. Selain dapat membeli beras dengan harga murah, mereka juga terlihat gembira mendapat potongan harga saat membeli produk skincare dari brand Wardah. Adapun juga layanan kesehatan yaitu bekam serta butik antik yang menjual pakaian bekas layak pakai, yang juga diminati masyarakat.

Membaur Bersama Masyarakat

Kepala BBPMSOH, Drh Hasan Abdullah Sanyata menuturkan gelaran BBPMSOH Fair ini merupakan tasyakuran memperingati hari jadi ke-40 yang dikhususkan untuk masyarakat sekitar Gunung Sindur.

Hasan Abdullah Sanyata

“Kami selalu membuat program, kegiatan yang bisa dinikmati seluruh lini masyarakat dan tim BBPMSOH dapat membaur bersama mereka,” tutur Hasan. Imbuhnya, keberadaan BBPMSOH juga harus menyentuh kebutuhan masyarakat.

BBPMSOH merupakan Unit Pelaksana Teknis di bawah Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian. Pada 2 Agustus 1985, dilakukan peresmian penggunaan gedung BBPMSOH oleh Menteri Pertanian Ir Achmad Affandi.

Konsisten Sosialisasi Gizi

Melalui peringatan hari jadinya yang ke-40, BBPMSOH menunjukkan konsistensinya dalam meningkatkan pemahaman mas yarakat akan pentingnya asupan gizi yang seimbang, terutama dalam memperhatikan konsumsi protein yang cukup.

“Kami selalu mendukung program pemerintah, khususnya dalam penyediaan protein hewani untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak sekolah. BBPMSOH juga berkomitmen untuk terus berkontribusi dalam pengendalian penyakit hewan melalui penjaminan mutu obat hewan di Indonesia,” lanjut Hasan.

Kepala Bagian Umum BBPMSOH, Drh Cynthia Devy Irawati MM, menambahkan bahwa agenda “Sosialisasi dan Gerakan Makan Bergizi untuk Anak SD” bertujuan meningkatkan pemahaman kepada masyarakat akan manfaat telur ayam sebagai sumber gizi yang mudah diakses dan terjangkau.

Kegiatan ini sukses terlaksana berkolaborasi dengan aparatur setempat seperti Kecamatan Gunung Sindur, Kelurahan Gunung Sindur, Polsek Gunung Sindur, Koramil Gunung Sindur, dan Puskesmas Gunung Sindur.

Dukungan Perusahaan Obat Hewan

Momen pemberian piagam penghargaan kepada ASOHI atas dukungannya terhadap BBPMSOH.

“BBPMSOH sangat berterima kasih atas dukungan Asosiasi Obat Hewan Indonesia, PT Agroveta Husada Dharma, PT Eben Haezer, PT Agro Makmur Sentosa, PT Mensana Aneka Satwa, PT Sanbio Lab, PT Novindo Agritech Hutama, PT Romindo Primavetcom, PT Zoetis Animalhealth Indonesia, PT EMVI Indonesia, PT Nutricell Pasific,” sebut Hasan.

PT Agroveta Husada Dharma dan PT Eben Haezer menyumbangkan bingkisan susu cair, sementara itu PT Agro Makmur Sentosa, PT Mensana Aneka Satwa, PT Novindo Agritech Hutama, dan PT Sanbio Laboratories memberikan paket makanan.

PT Romindo Primavetcom dan PT Zoetis Animalhealth Indonesia menyumbangkan vaksin rabies. PT EMVI Indonesia menghibahkan 100 dosis obat tetes kutu anjing dan kucing, serta PT Nutricell Pasific memberikan sebanyak 16 boks pet food. (ADV)

TAMPILKAN INOVASI PRODUK PETERNAKAN, STAND DISNAKKESWAN PROVINSI SUMBAR TARIK PERHATIAN

Tim Disnakkeswan Sumbar bersama Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Perkumpulan Insinyur dan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI), Dr Ir Audy Joinaldy. (Foto­foto: Istimewa)

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Provinsi Sumatra Barat (Sumbar) kembali hadir pada pameran Indo Livestock 2025 Expo & Forum yang berlangsung di Grand City Convex, Surabaya, 2-4 Juli 2025.

Menempati stand No. 10, Disnakkeswan Sumbar menampilkan berbagai produk UMKM olahan dari peternakan, seperti dadiah, rendang 3 in 1, rendang susu, hingga minuman sarang burung walet. Produk-produk unggulan dan inovasi di bidang peternakan yang dipamerkan ini menarik minat pengunjung Indo Livestock 2025.

“Inovasi terbaru yaitu rendang susu yang merupakan produk khas Sumbar,” ungkap Kepala Disnakkeswan Sumbar, Sukarli SPt MSi.

Sejak hari pertama penyelenggaran pameran, tim Disnakkeswan Sumbar banyak menerima pertanyaan seputar produk yang ditampilkan. Kepala Bidang Bina Usaha Disnakkeswan Sumbar, Nirmala SPt MSi, mengungkapkan banyak pengunjung yang tertarik untuk bekerja sama.

“Banyak sekali tamu atau pengunjung, baik dari perorangan maupun perusahaan ingin berkolaborasi. Mereka ingin mengetahui lebih banyak sekaligus membantu memasarkan produk terutama dadiah dan minuman sarang burung walet,” tutur Nirmala.

Produk unggulan seperti dadiah merupakan yogurt tradisional khas Minangkabau. Dadiah memiliki berbagai manfaat, antara lain meningkatkan kesehatan pencernaan, membantu menurunkan tekanan darah dan kadar kolesterol dalam darah. Selain itu, dadiah juga dapat meningkatkan daya tahan tubuh karena mengandung probiotik alami.

Lebih lanjut Nirmala mengemukakan, inovasi lainnya yang juga banyak ditanyakan oleh pengunjung adalah rendang 3 in 1.

“Rendang 3 in 1 ini di dalamnya terdapat rendang daging sapi, rendang suir daging sapi, rendang ubi singkong. Produk yang sangat ekonomis dan banyak pengunjung pameran yang mencicipi dan responsnya positif,” ujar Nirmala.

Bersertifikasi dan Berdaya Saing

Kepala Disnakkeswan Sumbar (dua dari kiri) dan tim.

Produk-produk dari UMKM dan para pelaku usaha dari Sumatra Barat terjamin halal dan berkualitas baik karena telah memiliki sertifikasi halal dan PIRT.

Sertifikasi ini penting untuk meningkatkan kepercayaan konsumen dan memperluas jangkauan pasar.

“Kita memang menampilkan produk di pameran Indo Livestock masih dalam jumlah yang terbatas. Setelah melihat antuasias pengunjung, kami bergerak cepat untuk nantinya berkoordinasi dengan para pelaku usaha jadi akan kami follow up untuk menetapkan langkah promosi berikutnya,” tandas Nirmala.

Sementara itu, Sukarli menambahkan, Indo Livestock 2025 merupakan pameran internasional terkemuka di industri peternakan, pengolahan hasil ternak, dan kesehatan hewan yang selalu sukses digelar dan tentu memberikan dampak positif untuk Sumbar.

Melalui Indo Livestock 2025, produk peternakan Sumbar hingga hilirisasinya bisa semakin dikenal dan memiliki pasar lebih luas. Tak hanya lokal, namun nasional hingga internasional. Selain itu juga berdampak pada kemajuan UMKM.

Ikon Bukittinggi

Stand Disnakkeswan Sumbar dipadati pengunjung pameran.

Selain aneka ragam produk olahan hasil peternakan khas Provinsi Sumbar, booth Disnakkeswan Sumbar juga menampilkan hiasan ikon Kota Bukittinggi yaitu Jam Gadang dan Rumah Gonjong.

Tim Disnakkeswan Sumbar sekaligus turut serta mempopulerkan Kota/Kabupaten Provinsi Sumbar, serta dengan senang hati menyambut kedatangan perusahaan dan instansi-instansi lain untuk berkolaborasi.

Untuk berinteraksi maupun menjalin kerjasama, dapat mengunjungi https://disnak.sumbarprov.go.id/ dan Instagram @disnakkeswan_sumbar. (ADV)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer