-->

PELUANG BARU PERUNGGASAN DI SEMINAR NASIONAL HATN 2026

Foto bersama dalam Seminar Nasional rangkaian HATN 2026. (Foto: Istimewa)

Bertempat di Auditorium Lantai 3 Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM), Rabu (9/9/2026), rangkaian Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN) 2026 diawali dengan Seminar Nasional (Semnas) bertajuk “Protein Up: Mengeksplorasi Peluang Baru bagi Industri Perunggasan Indonesia”.

Acara dimulai dengan sambutan dari Prof Aris Haryanto MSi, perwakilan Dekan FKH UGM, dilanjutkan oleh Ketua PINSAR Indonesia yang diwakili oleh Ricky Bangsaratoe, yang sekaligus menegaskan pentingnya kolaborasi antara akademisi, asosiasi, pelaku usaha, dan industri dalam menghadapi dinamika sektor perunggasan.

Pada kesempatan tersebut, narasumber seminar selaku Lead of Supply Chain Lever Foundation, Muhammad Sandi Dwiyanto, menjabarkan gambaran mengenai perkembangan sistem produksi cage-free di tingkat global, perubahan ekspektasi konsumen, serta peluang implementasinya dalam konteks industri telur Indonesia.

Dari sisi pencegahan penyakitnya, Guru Besar FKH UGM, Prof Michael Haryadi Wibowo, menyoroti bagaimana perubahan sistem pemeliharaan dapat memengaruhi tantangan kesehatan unggas, biosekuriti, manajemen litter, kepadatan, hingga strategi pencegahan penyakit.

Adapun perspektif lapangan hadir melalui Layer Farm Manager PT Widodo Makmur Unggas (WMU), Ir Arif Afiata Rahmat, yang membawa pengalaman praktis dari level produksi, termasuk tantangan adaptasi, manajemen flock, produktivitas, dan pembelajaran selama menjalankan sistem cage-free.

Sementara itu, peran teknologi dibahas oleh Sales Specialist Kaleter, Drh Kokot Februhadi, , dalam mendukung transisi menuju sistem produksi yang lebih modern, mulai dari desain dan fasilitas kandang, hingga teknologi yang membantu monitoring dan efisiensi manajemen.

Dan dari sisi nutrisi, Nutritionist & Business Development PT Dinamika Megatama Citra, Drh Henri E. Prasetyo, mengangkat bagaimana strategi nutrisi dapat menjadi salah satu fondasi utama keberhasilan produksi unggas modern. Bukan hanya mengenai formulasi pakan, tetapi juga bagaimana meningkatkan efisiensi penggunaan nutrien, menjaga kesehatan saluran pencernaan, mengoptimalkan kualitas bahan baku, serta menghubungkan efisiensi pakan dengan produktivitas dan profitabilitas.

Pendekatan tersebut menjadi semakin relevan ketika industri menghadapi volatilitas harga bahan baku dan tuntutan efisiensi yang semakin tinggi. Dalam konteks cage-free, manajemen pakan perlu diselaraskan dengan karakteristik konsumsi pakan, aktivitas ayam, kesehatan kaki, kualitas telur, dan target produksi.

Dengan demikian, cage-free bukan sekadar perubahan sistem kandang, tetapi bagian dari transformasi rantai nilai industri telur yang membutuhkan kesiapan teknologi, SDM, kesehatan unggas, nutrisi, serta strategi bisnis. (HENRI)

Related Posts

0 Comments:

Posting Komentar

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer