Penyakit pencernaan merupakan salah satu masalah ekonomi terpenting dan multifaktorial dalam produksi babi. Diare neonatal dan pasca-penyapihan merupakan penyakit paling sering terjadi, menyebabkan angka kematian tinggi, penurunan laju pertumbuhan, dan peningkatan biaya pengobatan.
Biaya penanganan diare neonatal untuk peternakan dengan angka kematian 10% dan biaya untuk diare pasca-penyapihan bisa mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah per induk babi per tahun. Infeksi pencernaan kompleks selama periode neonatal, serta pada fase pasca-penyapihan dapat terjadi secara bersamaan sehingga menimbulkan pola penyakit klinis yang kompleks, sulitnya tindakan pengendalian dan penanganan.
Diare pada babi secara umum disebabkan oleh agen infeksius dan non-infeksius. Mayoritas agen penyebab penyakit diare pada babi merupakan bagian dari mikroba normal pada saluran pencernaa babi. Usus babi mengandung sekitar 800 spesies bakteri, di antaranya dapat diidentifikasi patogen potensial seperti Clostridium spp., Escherichia coli, dan Salmonella spp. Bakteri ini dapat berubah menjadi patogen penyebab penyakit pada kondisi stres dan shedding bakteri di lingkungan yang sangat tinggi.
Penyakit diare kompleks pada babi secara umum disebabkan oleh multi-agen infeksius, yaitu virus, bakteri, dan parasiter (cacing dan Cystoisosporasuis). Agen virus yang dominan pada diare kompleks pada babi adalah coronavirus dan rotavirus. Sedangkan agen bakterial yang paling dominan menyebabkan penyakit diare kompleks pada babi meliputi E. coli, Clostridium perfingens tipe C, Clostridium perfringens tipe A, Clostridium difficile, Salmonella typhimurium, Lawsonia intercellularis, Brachyspira hyodysenteriae, dan Brachyspira pilosicoli.
Diare kompleks pada babi menjadi masalah yang susah dikendalikan, jika peternak tidak mengetahui sejak dini langkah-langkah pengendalian dan pencegahannya. Faktor lingkungan, hospes, dan agen penyakit menjadi segitiga penyakit infeksius yang harus dikupas satu-per-satu secara terintegrasi. Agen infeksi yang beragam tersebut menyebabkan sulitnya tindakan pengobatan, salah satunya pemilihan antibiotik yang tepat untuk multi-agen bakterial.
E. coli dikenal sebagai kolibasilosis neonatal (umur 0-4 hari), pasca sapih (28-60 hari) hingga 12 minggu. Kolibasilosis ditandai kotoran terlihat diare encer, berwarna putih kekuningan, bersifat basa, usus halus dan lambung bagian fundus terlihat oedematus, serta perdarahan dengan ingesta berbau.
Klostridia adalah basil gram-positif pembentuk spora bersifat anaerobik. Beberapa spesies dari genus Clostridium berkontribusi dalam penyakit diare kompleks pada babi. Clostridium perfringens tipe C dan Clostridioides difficile (sebelumnya Clostridium difficile) dianggap sebagai klostridia patogen enterik yang paling berkorelasi pada babi neonatal. Clostridium perfingens tipe C biasanya terjadi pada neonatal hingga umur tiga minggu. Tanda klinis menciri dengan... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juli 2026.
Ditulis oleh:
Dr Drh Joko Susilo MSc APVet (Wartawan Infovet Daerah Lampung)
& Drh Catrine Relia Patrecia Gultom (Kementan)


0 Comments:
Posting Komentar