-->

Pemanfaatan Kotoran Sapi untuk Pakan Ayam Kampung

Kotoran sapi yang diolah dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak ayam kampung dengan hasil yang cukup baik. (Sumber: Istimewa)

Ayam kampung atau ayam buras (bukan ras), merupakan salah satu ternak unggas yang umum dibudidayakan oleh masyarakat pedesaan. Namun, populasi ayam kampung di Indonesia pada 2015 sudah mencapai 285 juta ekor.

Permintaan daging dan telur ayam kampung juga semakin meningkat, walau harganya lebih tinggi dibandingkan ayam ras. Namun disayangkan, sebagian besar masyarakat  masih memelihara ayam kampung secara tradisional. Bahkan masih banyak masyarakat yang memelihara tanpa menyediakan kandang.

Salah satu alasan sebagian masyarakat memelihara ayam kampung dengan cara diumbar adalah mahalnya harga pakan, jika harus membudidayakan secara intensif. Padahal memelihara ayam kampung memiliki prospek yang menjanjikan dan menguntungkan, asalkan memenuhi persyaratan, yakni menggunakan bibit, vaksinasi secara intensif dan teratur, serta menggunakan pakan yang murah dan berkualitas.

Agar memperoleh formula pakan yang murah diperlukan kejelian untuk mencari bahan pakan alternatif, yaitu kotoran sapi dan domba/kambing yang bisa diolah. Fase layer (bertelur) merupakan masa produktif ayam petelur, termasuk ayam kampung, yaitu umur sekitar 20 minggu hingga afkir (90-100 minggu), di mana pada fase ini tidak 100% menggunakan pakan pabrikan, tetapi menggunakan konsentrat yang dicampur dengan jagung, dedak dan bungkil kelapa.

Sebagai contoh ramuan pakan ayam kampung petelur dengan komposisi sebagai berikut. Pakan A (25% konsentrat pabrikan, 40% jagung kuning giling, 35% dedak padi). Kemudian Pakan B (25% konsentrat pabrikan, 40% jagung kuning giling, 20% tepung kotoran sapi, 15% dedak padi). Sebaiknya pemberian dikombinasikan dengan probiotik 1 cc per liter air minum untuk meningkatkan produktivitas telur hingga 5-6% dibandingkan dengan pemberian pakan konvensional dan menghilangkan kemungkinan penurunan produksi.

Perbandingan Nutrisi
Komposisi nutrisi pakan A (konvensional) dan pakan B (dicampur tepung kotoran sapi), dapat dilihat pada Tabel 1 berikut:

Tabel 1: Perbandingan Komposisi Nutrisi Pakan A dan Pakan B, untuk Ayam Kampung Petelur
Jenis pakan
Komposisi (%)
Protein kasar
Serat kasar
Lemak
Kalsium
Fosfor
Energi (Kkal/Kg)
Pakan A
16,30
7,73
8,39
1,60
0,65
3.760
Pakan B
17,64
8,61
5,10
2,89
0,62
3.623

Sumber: Ir Suprio Guntoro (2018).

Dari Tabel 1 tersebut tampak bahwa kandungan protein kasar dan serat kasar Pakan B lebih tinggi dari pada Pakan A, ini disebabkan kandungan protein dan serat kasar pada tepung olahan kotoran sapi lebih tinggi dari pada dedak padi. Sedangkan kandungan energi Pakan B sedikit lebih rendah dari Pakan A, tetapi kandungan nutrisi lainnya (lemak, kalsium dan fosfor) secara umum tidak begitu signifikan.

Teknik Pengolahan Kotoran Sapi
Kotoran sapi perlu diolah dahulu melalui beberapa tahapan agar bisa menjadi bahan pakan bernutrisi, antara lain:

a. Persiapan bahan, pilih kotoran sapi/kerbau/domba/kambing yang masih segar atau sudah berumur tiga hari dan bebas dari campuran tanah. Kemudian jemur kotoran tersebut selama satu hari untuk mengurangi kadar airnya.

b. Persiapan inokulan, persiapkan peralatan (corong, wadah penampung) dan bahan inokulan (gula putih/merah atau mollase, bibit inokulan). Masukkan air bersih (bebas dari lumpur atau kaporit) ke dalam wadah, lalu campurkan irisan gula/mollase dengan perbandingan 1:100 dari bobot air, jadi untuk 100 liter air digunakan 1 kg gula/mollase, lalu aduk gula/mollase sampai larut. Masukkan bibit inokulan sebanyak 1 liter atau 1% dari volume air dan aduk kembali. Kemudian tutup wadah rapat-rapat, lalu diamkan 30-60 menit di tempat teduh.

c. Proses inokulasi, hamparkan kotoran sapi dalam kondisi setengah kering hingga setebal 3-4 cm di atas terpal. Siramkan cairan inokulan dengan menggunakan sprayer ke permukaan kotoran sapi sampai merata. Tebarkan lagi kotoran sapi setebal 3-4 cm di atas kotoran yang telah terinokulasi, lalu siram lagi dengan larutan inokulan. Ulangi hingga semua kotoran sapi terinokulasi.

d. Fermentasi, bungkus dan ikat rapat-rapat semua kotoran sapi yang terinokulasi dengan karung/plastik/terpal, lalu simpan dan tutup dalam bak khusus fermentasi selama 5-6 hari.

e. Pengeringan, setelah lima hari proses fermentasi, lalu kotoran sapi di bongkar dan dijemur di bawah sinar matahari selama 3-4 hari (bila di dataran rendah) atau 5-6 hari (bila di dataran tinggi).

f. Penepungan, setelah kotoran cukup kering, lakukan penepungan dengan menggunakan mixer. Tujuan penepungan agar bahan kotoran sapi lebih lembut, sehingga mudah dicampur dengan bahan pakan secara merata, lebih mudah dikonsumsi dan meningkatkan daya cerna.

Teknik Pencampuran
1. Untuk skala kecil, dapat dilakukan secara manual menggunakan tangan atau sekop, dengan tahapan sebagai berikut:

a. Siapkan wadah bersih pencampur pakan seperti terpal, lembaran plastik yang dihamparkan di lantai.

b. Taburkan bahan yang jumlah persen komposisinya terkecil di atas hamparan tersebut, dalam hal ini dedak padi. Kemudian taburkan bahan yang komposisinya lebih besar (tepung kotoran sapi) di atas bahan pertama, lalu aduk secara merata. Di atas campuran kedua bahan tadi, taburkan bahan yang lebih besar komposisinya yaitu konsentrat pabrikan dan jagung secara merata.

c. Bagi bahan pakan tersebut menjadi empat bagian, aduk setiap bagian secara merata, lalu satukan kembali. Aduk kembali bahan pakan agar lebih merata menggunakan sekop/tangan.

2. Untuk skala besar, dilakukan dengan menggunakan mixer, sehingga lebih homogen dan efisien. Bahan pakan bisa langsung dimasukkan ke tabung mixer, diawali dengan bahan yang komposisinya terbesar. Pencampuran dilakukan dalam waktu 10-15 menit. Jangan lebih dari 15 menit karena bahan bisa terpisah lagi.

Keuntungan Penggunaan Tepung Kotoran Sapi

Berdasarkan hasil pengamatan Ir Suprio Guntoro (2018), ternyata terdapat beberapa keuntungan dari penggunaan tepung kotoran sapi, seperti disajikan pada Tabel 2 berikut:

Tabel 2: Manfaat Penggunaan Tepung Kotoran sapi Terhadap Produksi Telur, Pendapatan dan Keuntungan Ayam Kampung
Jenis pakan
Konsumsi pakan (gr/ekor/hari)
Feed Convertion Ratio
Produksi telur (butir)
Pendapatan (Rp)
Keuntungan (Rp)
A
77.52
2,98
1.763
2.291.900
1.110.581
B
78,46
2,98
1.761
2.289.300
1.222.316
C
74,25
2,67
1.894
2.462.700
1.426.298
Sumber: Ir Suprio Guntoro (2018).
Keterangan:
Pakan A = Pakan campuran 25% konsentrat pabrikan + 40% jagung giling + 35% dedak padi.
Pakan B = Pakan campuran 25% konsentrat pabrikan + 40% jagung giling + 20% tepung kotoran sapi
Pakan C = Pakan campuran 25% konsentrat pabrikan + 40% jagung giling + 20% tepung kotoran sapi + 0,125 cc Probiotik/ekor/hari (dalam minuman).
Per ekor ayam kampung diberikan 125 cc probiotik per liter air dan per liter air minum untuk delapan ekor ayam.

Dari Tabel 2 tersebut tampak bahwa pakan C yang diberi probiotik dalam air minum mendapat banyak manfaat dan keuntungan, yaitu konsumsi pakan lebih sedikit, FCR lebih rendah, produksi telur meningkat, pendapatan naik dan bertambah. Jadi penggunaan tepung kotoran sapi untuk campuran pakan ayam kampung petelur tidak perlu diragukan lagi.

Demikianlah sekilas tentang penggunaan tepung kotoran sapi untuk menekan biaya produksi ayam kampung petelur yang selalu dibayangi naiknya harga bahan pakan, baik konsentrat pabrikan, jagung maupun dedak padi. Selamat mencoba. (SA)

Panen Raya Jagung, Petani Siap Suplai Kebutuhan Peternak

Jagung untuk kebutuhan pakan ternak. (Foto: Infovet/Ridwan)

Menteri Pertanian (Mentan), Amran Sulaiman, menghadiri acara panen raya jagung di Desa Mojorejo, Kecamatan Modo, Kabupaten Lamongan, Rabu (6/2). Kabupaten Lamongan merupakan salah satu sentra pertanaman jagung di wilayah Jawa Timur.

Dengan tibanya masa panen jagung ini, Mentan Amran berharap para petani dapat mensuplai kebutuhan jagung peternak.

“Kami harap Bulog dapat membantu menyerap jagung petani, sehingga dapat menjadi buffer stock,” kata Menteri Amran.

Untuk memenuhi kebutuhan peternak, utamanya wilayah Kabupaten Blitar yang merupakan sentra ternak ayam petelur, Mentan secara spontan berinisiatif membuat kesepakatan antara kedua Kabupaten. Kesepakatan pembelian jagung ini akan menjembatani keduanya, dengan Bulog berada di tengah untuk mengatur penyerapan jagung dan pasokan dari Lamongan ke Blitar.

“Ini model baru, enggak usah pulang ambil stempel. Kertas kesepakatan ini tolong masing-masing dibawa pulang. Traktor dan dryer kami bantu kirim ke sini, hasilnya kirim ke Blitar,” ungkap Amran.

Untuk memperlancar kesepakatan tersebut, Mentan Amran menyiapkan minimal 20 dryer dengan kekuatan 10 ton per 8 jam. Kendali mesin ada di Dinas Pertanian dan Bulog, sehingga dapat dipastikan jagung petani diserap Bulog dan hasilnya dikirim ke peternak di wilayah Blitar. Selain dryer, Mentan juga memastikan pemerintah memberikan bantuan 10 traktor roda empat serta lima unit alat panen.

“Ini semua untuk rakyat, bukan tengkulak. Kami tidak ingin dipermainkan. Ini solusi konkret dan permanen,” tegasnya. 

Pada kesempatan yang sama, Wakil Bupati Lamongan, Kartika Hidayati, menyampaikan, panen raya jagung ini sebagai wujud syukur memasuki musim panen. “Kami berterima kasih kepada Menteri Pertanian karena petani kami pada tahun 2018 telah banyak dibantu untuk pengembangan jagung,” katanya.

Sepanjang 2018, Kementerian Pertanian telah memberikan bantuan berupa UPPO (Unit Pengolah Pupuk Organik) sebanyak 17 unit, dryer UV sebanyak 10 unit dan rice milling unit (RMU) modern. 

Dari laporan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Lamongan, memperkirakan panen jagung di Kabupaten Lamongan hingga pekan ketiga Februari 2019 seluas 11.395 hektar. Titik lokasi panen berada di Kecamatan Modo, Bluluk, Ngimbang, Sambeng, Sukorame, Mantup dan Solokuro.

Luas lahan jagung di Kecamatan Modo sendiri 1.627 hektar yang dimiliki oleh beberapa kelompok tani dengan rata-rata kepemilikan 0,5 ha per orang. Sedangkan luas hamparan jagung di lokasi panen saat ini mencapai 496 hektar.

Menurut Wakil Bupati Lamongan, Kartika, harga jagung di tingkat petani saat ini untuk tongkol berkisar antara Rp 2.000-2.200 per kg, sementara pipilan basah Rp 3.500-3.800 per kg dan pipilan kering Rp 4.800-5.000 per kg.

Ia menyebut, saat ini pihaknya memiliki program inovasi tanam Jagung dan peternakan yang terkenal dengan sebutan Tersapu Jagat (Ternak Sapi Usaha Jagung Meningkat).
“Berkat inovasi ini, kita manfaatkan kotoran sapi menjadi pupuk organik untuk tanaman jagung, sehingga jagung yang dihasilkan menjadi dua kali lipat provitasnya menjadi rata-rata sebanyak 10,3 ton per hektar, yang biasanya hanya rata-rata 5-6 ton,” pungkasnya. (INF)

2019, Malindo Feedmill Proyeksikan Penjualan Tumbuh 15%

Acara public expose Malindo Feedmill (Foto: Ridwan/Infovet)

PT Malindo Feedmill Tbk, memproyeksikan pertumbuhan penjualan naik 15% sepanjang 2019 menjadi sekitar Rp7,4 triliun.

Pada 2017, emiten bersandi saham MAIN membukukan pertumbuhan penjualan negatif 4% year on year (yoy), menjadi Rp5,44 triliun dari posisi Rp5,23 triliun. Namun, perseroan berhasil membukukan pertumbuhan yang positif hingga akhir 2018.

Direktur MAIN Rudy Hartono Husin mengungkapkan, kinerja hingga akhir 2018 berhasil tumbuh dua digit. Dari sisi bilangan, katanya, pertumbuhan penjualan perseroan pada 2018 sekitar 19%--20%. Dia mengungkapkan, angka pertumbuhan sepanjang 2018, hampir mirip dengan pertumbuhan pada kuartal III/2018, dimana kenaikan dua digit sudah terjadi.

Bila mengacu pada penjualan bersih MAIN pada 2017, maka nilai yang dikantongi perseroan pada 2018 akan berkisar Rp6,4 triliun. Dalam catatan Bisnis, MAIN mengincar pertumbuhan pendapatan 15% atau menjadi Rp6,25 triliun. Namun, pertumbuhan pendapatan perseroan pada 2018 mendekati 20%.

"Pertumbuhan revenue [2018] similar dengan kuartal III/2018. Tahun ini, kami ingin tumbuh 15%," ungkapnya, Senin (4/2/2019).

Dia mengungkapkan, kinerja 2018 naik hingga dua digit karena pada 2017 membukukan pertumbuhan yang negatif. Rudy mengharapkan, kondisi positif pada 2018 bisa berlanjut hingga akhir 2019.

Saat ini, pelaku bisnis unggas mengharapkan pesta demokrasi pada tahun ini bisa berjalan dengan aman dan damai. Bila hal itu terjadi, tambahnya, 2019 akan kembali menjadi tahun yang positif bagi perseroan.

Sebagai informasi, hingga September 2018, MAIN membukukan pendapatan Rp4,84 triliun, naik 19,55% yoy dari sebelumnya Rp4,05 triliun. Laba bersih melonjak 6.642,24% yoy menuju Rp186,76 miliar dibandingkan dengan per kuartal III/2018 senilai Rp2,77 miliar.

September 2018, capaian pendapatan perseroan terutama ditopang peningkatan penjualan pakan, anak ayam usia sehari (DOC), dan ayam pedaging. Untuk ayam broiler, Malindo menjualnya langsung ke restoran besar, sehingga tidak terlalu terpengaruh harga pasar.

Dari sisi saham, kinerja saham MAIN sepanjang awal 2019 telah naik 32,26% menuju level Rp1.845 per saham. Sementara itu, pada penutupan perdagangan Senin (4/2/2019), harga saham MAIN naik 75 poin atau naik 4,24%. (Sumber: https://market.bisnis.com)

Pentingnya Manajemen Tempat Pakan dan Minum Ayam Broiler

Kekurangan jumlah tempat pakan dan minum, serta kepadatan yang tinggi, dapat menyebabkan kasus kanibalisme, meningkatnya angka kesakitan, bahkan kematian yang berakibat pada kegagalan panen. (Foto: Infovet/Ridwan)

Usaha ayam broiler di dalam negeri terus meningkat, baik usaha budidaya maupun usaha pembibitan (breeding farm), sejalan dengan semakin meningkatnya permintaan daging ayam dan meluasnya usaha kuliner berbahan daging ayam. Untuk itu, peternak broiler dituntut menyediakan ayam broiler yang ASUH (Aman, Sehat, Utuh dan Halal), di mana untuk mencapai hal tersebut dibutuhkan manajemen dan pengetahuan peternak yang mumpuni sesuai standar.

Salah satu manajemen perkandangan yang sering kerap dianggap enteng oleh peternak ialah penyediaan tempat pakan dan minum ayam yang harus sesuai dengan populasi dan kepadatan (density). Padahal hal ini sangat berpengaruh pada keseragaman (uniformity), laju pertumbuhan dan kesehatan ternak itu sendiri.

Pada umumnya konsumen, baik pribadi atau usaha kuliner, menyukai ayam pedaging yang berbobot padat, seragam dan higienis. Ayam broiler yang tidak seragam, cacat, kurang sehat, cenderung akan ditolak konsumen, yang berarti kerugian bagi peternak.

Kebutuhan Tempat Pakan dan Minum
Tempat pakan dan minum yang tidak sesuai populasi ayam yang dipelihara akan berakibat pada terjadinya kompetisi pada masing-masing ternak dan menyebabkan keseragaman bobot badan tidak tercapai.

Berikut ini disajikan standar pemeliharaan broiler, baik komersial (budidaya), breeder pullet dan breeder production, seperti pada Tabel 1 berikut:

Tabel 1: Luas Kandang, Tempat Pakan dan Minum untuk Broiler
Jenis ayam
Jenis lantai
Umur (minggu)
Luas per ekor (cm2)
Luas tempat pakan per ekor (cm2)
Luas tempat minum per ekor (cm2)
Broiler Komersial
Floor
Floor
0-4
4-8
279
697
2,5
2,5
0,5
0,5
Broiler Breeder Pullet
Floor
Floor
Floor
0-8
9-16
16-20
743
1.208
1.858
2,5
7,6
10,2
1,3
1,5
2,5
Broiler Breeder Production
 Floor
Slat-Floor
20
≥ 20
2.322
1.858
10,2
10,2
5,0
5,0
Sumber: Esminger, “Poultry Science”, 3rd Edition, Illinois, 1992.

Luas permukaan tempat pakan dengan sistem talang (memanjang) untuk setiap ekor ayam broiler yang berumur 5-7 minggu adalah 5-7,6 cm, sedangkan untuk tempat pakan berbentuk tabung (diameter 38 cm) atau kapasitas 5 kg, satu buah tempat pakan model tabung dapat dipakai 30-35 ekor ayam.

Sementara tempat minum, baik tipe talang memanjang, galon manual, galon otomatis, maupun nipple harus selalu berisi air, karena kekurangan air minum akan berdampak buruk pada pertumbuhan dan keseragaman bobot ayam.

Seperti pada Tabel 2 berikut, disajikan keperluan luas permukaan tempat minum ayam broiler.

Tabel 2: Kebutuhan Tempat Minum Broiler Komersial
Umur ayam (minggu)
Talang otomatis atau biasa (ekor/cm2)
Kebutuhan tempat minum untuk 1.000 ekor
Talang yang panjangnya 2,4 m (buah)
Tipe kubah (galon)/(buah)
Tipe cups (buah)
Tipe nipple (buah)
0-8
2,0
4
16
94
94
9-panen
2,8
6
22
138
138
Sumber: North & Bell, “Commercial Production Manual”, New York, 1990.

Perhatikan Kepadatan

Setelah peralatan tempat pakan dan minum dilengkapi sesuai standar, jumlah pemberian air minum juga harus sesuai dengan kebutuhan ayam agar pertumbuhannya berlangsung normal, seperti disajikan pada Tabel 3 berikut:

Tabel 3: Kebutuhan Air Minum Ayam Broiler Komersial
Umur ayam (minggu)
Jumlah air minum (liter/100 ekor/hari)
1
3,80
2
5,70
3
7,60
4
9,90
5
12,90
6
16,00
7
18,00
8
20,80
9
22,70
10
24,60

Sumber: Cara Pemeliharaan Ayam Pedaging CP 707, 1980.

Selain itu, kepadatan dan luas lantai juga perlu diperhitungkan karena erat hubungannya dengan rencana akhir/target berat ayam yang akan dipanen. Perhitungan ini harus dilakukan karena adanya hubungan nyata antara kepadatan ayam dengan pertumbuhan, konversi pakan dan tingkat kematian (mortality), di mana semakin berat bobot ayam yang akan dipanen, kepadatan harus semakin rendah sepeti pada Tabel 4 berikut:

Tabel 4: Hubungan Berat Badan, Luas Lantai dan Kepadatan Broiler Komersial
Berat ayam hidup (kg)
Luas lantai (m2/ekor)
Kepadatan (ekor/m2)
Daging yang dihasilkan (kg/m2)
1,36
0,05
20,0
28,0
1,82
0,06
16,7
30,3
2,27
0,08
12,5
28,4
2,72
0,09
11,1
30,2
3,18
0,11
9,10
29,0

Sumber: North & Bell, Commercial Chicken Production Manual, New York, 1990.

Efek lainnya dari kekurangan jumlah tempat pakan dan minum, serta kepadatan ayam yang tinggi, adalah timbulnya kasus kanibalisme, meningkatnya angka sakit (morbidity) dan tingkat kematian, yang notabenenya akan menyebabkan kegagalan panen. (SA)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer