-->

JANGAN SIA-SIAKAN CANGKANG TELUR, ADA MANFAATNYA

Kandungan kalsium pada cangkang telur dapat dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi. (Foto: Istimewa)

Cangkang telur mengandung kalsium yang berfungsi untuk meningkatkan pertumbuhan dinding sel tanaman. Tanpa asupan tersebut, tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik dan cepat.

Pagi itu, pukul 05:30, suasana dapur penyedia Makan Bergizi Gratis (MBG) di kawasan Cinangka, Kota Depok, tampak ramai. Para pekerja dapur tampak sibuk menyiapkan ratusan paket makanan yang akan dikirim ke sekolah tak jauh dari lokasi dapur MBG. Di bagian luar belakang dapur, tampak seorang pria paruh baya sedang memilah sampah sisa dapur.

Sutarno, pemilah sampah tersebut memisahkan cangkang telur dari sampah basah lainnya. Pecahan cangkang telur ayam yang cukup banyak itu ia masukkan ke dalam plastik. Sementara, sampah sisa sayuran dan lainnya dimasukan ke dalam plastik lain.

Aktivitas mengepul sampah dari dapur MBG dilakukan Sutarno selepas waktu subuh. Menurutnya, kepingan cangkang telur tersebut sengaja dipisah, karena sudah dipesan oleh tetangganya. “Katanya sih buat campuran pupuk organik. Saya juga enggak tahu persis, yang penting dibayar. Sekilo bisa Rp 10 ribu, lumayan,” tuturnya.

Memanfaatkan sampah cangkang telur untuk pupuk tanaman sudah diketahui banyak orang, terutama para pecinta tanaman hias.

Dalam banyak literatur disebutkan, cangkang telur mengandung garam yang tinggi serta senyawa organik dalam telur dikhawatirkan dapat mencemari lingkungan akibat aktivitas mikroba di dalamnya. Namun, kandungan kalsium pada cangkang telur cukup tinggi dan dapat bermanfaat sebagai sumber nutrisi pada tanaman.

Cangkang telur juga memiliki kandungan fosfor yang cukup yang dapat bermanfaat untuk tanaman. Salah satu pemanfaatan cangkang telur yaitu dengan mengolah cangkang telur menjadi pupuk organik cair.

Dalam artikel berjudul Potensi Cangkang Telur Sebagai Pupuk Pada Tanaman Cabai Di Desa Sayang Kabupaten Jatinangor, karya Engela Evy Ernawati, Atiek Rostika Noviyanti, Yati B. Yuliyati, dari Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Padjadjaran, disebutkan kandungan cangkang telur terdiri atas 97% kalsium karbonat, sisanya fosfor, magnesium, natrium, kalium, seng, mangan, besi, dan tembaga. Cangkang telur mengandung hampir 95,1% adalah garam-garam organik, 3,3% bahan organik (terutama protein), dan 1,6% air.

Kandungan kalsium pada cangkang telur yang cukup besar dapat dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi bagi tanaman. Kalsium merupakan suatu zat yang berperan penting dalam pembentukan struktur tubuh, tulang, dan gigi pada manusia dan hewan, serta dinding sel pada tanaman.

Peran kalsium lain khususnya pada tanaman antara lain, menebalkan dinding sel, meningkatkan pemanjangan sel akar, kofaktor proses enzimatis dan hormonal, pelindung dari cekaman panas, hama, dan penyakit.

Sudah Diteliti Profesor
Keabsahan informasi tentang kandungan cangkang telur juga disampaikan oleh Prof Ambar Pertiwiningrum PhD dari Departemen Teknologi Hasil Ternak, Fapet UGM, yang melakukan penelitian ini. “Kami sudah lama melakukan penelitian tentang pengolahan lain dari limbah untuk dapat menghasilkan nilai tambah bagi para petani, khusunya petani jamu,” ujarnya kepada Infovet.

Limbah cangkang telur tak hanya bermanfaat untuk pupuk tanaman hias, tetapi juga baik untuk tanaman sayuran seperti jamur tiram. Guru besar ini bukan hanya meneliti cangkang telur, namun juga pemanfaatan limbah kotoran unggas untuk meningkatkan produksi jamur tiram. Tentu saja setelah melalui proses pengolahan.

Selain membuat media jamur sebagai substitusi dedak oleh limbah biogas kotoran ayam, Prof Ambar juga menggunakan limbah cangkang telur yang dapat digunakan sebagai pengganti kapur yang lebih ramah lingkungan.

Master Gardeners dari Hamilton County, Tenn, melalui laman SF Gate menyebutkan, cangkang telur terbuat dari kalsium karbonat. Ini merupakan bahan utama yang digunakan dalam kapur pertanian. Dari penelitian yang dilakukan oleh Jeff Gilman, seorang penulis buku berjudul The Truth About Garden Remedies, menunjukkan bahwa air rendaman cangkang telur mengandung 4 miligram kalsium dan kalium.

Selain kandungan tersebut, manfaat cangkang telur juga berasal dari fosfor, magnesium, dan natrium di dalamnya. Beberapa nutrisi tersebut berperan penting dalam pertumbuhan hingga kesuburan tanaman.

Untuk memanfaatkan limbah ternak unggas, termasuk cangkang telur, menjadi media tanam jamur tiram putih, tidak serta merta digunakan layaknya para petani menggunakannya sebagai pupuk kandang selama ini. Ada perlakuan khusus atau proses yang dilalui agar menghasilkan media tanam dan hasil panen jamur yang bagus.

Jamur tiram putih menjadi pilihan dalam penelitian Prof Ambar, mengingat tingkat konsumsi jamur di dalam negeri jumlahnya cukup besar. Hasil olahan jamur tiram putih tergolong jenis sayuran yang digemari masyarakat. Kini hasil olahannya pun makin bervariasi, bukan hanya dijadikan sayur untuk lauk, tetapi juga diolah jadi olahan kering sebagai camilan.

Menurut Prof Ambar, kandungan gizi jamur tiram putih cukup tinggi. Berdasar penelitian sebelumnya, protein pada jamur tiram setiap 100 gram kandungan sebesar 27%, atau lebih tinggi dibanding protein pada kedelai tempe sebesar 18,3% setiap 100 gram. “Serat jamur sangat baik untuk pencernaan, kandungan seratnya mencapai 7,4-24,6%, sehingga cocok untuk tubuh,” ungkapnya.

Tujuh Manfaat
Ada tujuh hal penting tentang manfaat cangkang telur bagi tanaman. Pertama, sebagai pupuk kompos. Cangkang telur mengandung kalsium yang berfungsi untuk meningkatkan pertumbuhan dinding sel tanaman. Tanpa asupan tersebut, tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik dan cepat. Caranya, cuci bersih cangkang telur dan keringkan. Kemudian hancurkan dan campurkan dengan kompos.

Kedua, mencegah pembusukan tanaman. Manfaat ini berasal dari kandungan kalsium yang terdapat dalam cangkang telur. Asupan tersebut dapat diserap oleh tanaman sehingga membuatnya tidak mudah busuk. Caranya, cuci dan keringkan cangkang telur. Kemudian haluskan dan masukkan ke dalam lubang tanah sebelum menanam tumbuhan.

Ketiga, penangkal hama. Caranya, cuci dan keringkan cangkang telur terlebih dulu. Kemudian hancurkan jadi bagian-bagian besar, lalu tebarkan di sekitar halaman. Cara ini dapat mencegah siput dan cacing merusak tanaman.

Keempat, wadah menyimpan benih. Manfaat cangkang telur ini dapat diperoleh dengan cara mencuci cangkang telur terlebih dulu, kemudian keringkan. Lalu isi setengah bagian dari cangkang telur dengan tanah dan masukkan benih. Siram dengan sedikit air dan simpan sampai benih siap ditanam di tanah.

Kelima, penutup lubang pot. Pertama-tama, cuci bersih cangkang telur dan pecahkan menjadi bagian-bagian besar. Selanjutnya, gunakan pecahan tersebut untuk menutup lubang atau pot yang rusak. Cangkang ini juga berperan dalam memberikan nutrisi pada tanah di dalam pot guna meningkatkan kesehatan tanaman.

Keenam, sebagai pupuk alami. Menurut American Society of Plant Biologists, kalsium yang terdapat di dalam cangkang telur memberikan efek pertumbuhan dan perkembangan pada tanaman. Caranya, masukkan bubuk cangkang telur ke dalam wadah air dan diamkan selama beberapa hari. Gunakan air tersebut untuk menyiram tanaman.

Ketujuh, penyubur tanah. Manfaat cangkang telur ini berkat kandungan kalsium di dalamnya. Kegunaannya bisa dirasakan dengan baik pada tanah dengan tingkat keasaman yang tinggi. Caranya, haluskan cangkang telur yang telah dicuci dan dikeringkan. Kemudian campurkan dengan tanah yang digunakan untuk menanam tanaman.

Jika ingin membuat pupuk organik dari cangkang telur, caranya tak terlalu sulit. Bersihkan cangkang telur yang akan dibuat pupuk. Sterilkan cangkang telur dengan memasukkan ke dalam air panas. Keringkan cangkang telur dengan cara dijemur. Tumbuk cangkang telur hingga menjadi serpihan halus.

Untuk hasil yang lebih baik, campurkan cangkang telur dengan air ke dalam botol bekas. Tambahkan gula jawa dan EM4 dengan perbandingan 1 : 1 ke dalam botol. Tutup botol bekas dan campurkan pupuk dengan cara mengocok botol. Diamkan selama 10-14 hari untuk memaksimalkan proses fermentasi. Bila perlu, sesekali buka tutup botol bekas supaya gas yang ditimbulkan selama proses fermentasi dapat keluar.

Itu tujuh manfaat dan cara membuat pupuk organik dari cangkang telur, semoga bisa menginspirasi, dan mulai sekarang jangan lagi sia-siakan limbah cangkang telur. Ibarat pohon kelapa, semua bagian telur memiliki manfaat luar biasa. ***

Ditulis oleh:
Abdul Kholis
Koresponden Infovet Daerah Depok,
Konsultan media dan penulis buku,
Writing Coach Griya Menulis (Bimbingan Menulis Buku & Jurnalistik),
Juara I Lomba Jurnalistik Tingkat Nasional (Unsoed, 2021) & Juara I Kompetisi Menulis
Artikel Tingkat Nasional dalam rangka HATN, 2022

HATI-HATI DALAM MEMANFAATKAN MANUR SEBAGAI PUPUK

Selain penghasil pangan, peternakan ayam juga menghasilkan limbah sampingan berupa manur. (Sumber: Istimewa)

Usaha peternakan unggas yang merupakan bagian dari pertanian memiliki fungsi utama untuk memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat sekaligus berperan dalam penggerak perekonomian bangsa. Kebutuhan protein hewani semakin meningkat sejalan dengan pertumbuhan penduduk, akan tetapi di sisi lain peternakan semakin terhimpit karena terbatasnya lahan.

Selain itu, keadaan juga diperparah dengan limbah hasil peternakan berupa manur, keberadaan manur sangat mengganggu karena menimbulkan bau yang tidak sedap bagi masyarakat dan dapat membuat lingkungan kotor dan tidak nyaman. Sudah banyak kasus peternakan unggas diprotes bahkan ditutup paksa oleh warga sekitar peternakan karena dirasa mengganggu kenyamanan warga setempat.

Kandungan Dalam Manur 
Manur secara tradisional bisa dimanfaatkan sebagai pupuk atau penyubur tanaman, terutama tanaman pangan karena kaya akan nutrisi yang dibutuhkan tanaman. Manur seringkali langsung dimanfaatkan sebagai pupuk tanpa pengolahan lebih lanjut. Namun begitu, meskipun mengandung zat nutrisi tanaman yang tinggi, di dalam manur juga terkandung berbagai jenis bakteri patogen seperti Escherichia coli, Listeria, SalmonellaCampylobacter. (Pell 1997).

Bakteri-bakteri tersebut dapat mengontaminasi lingkungan sekaligus menimbulkan penyakit bersumber makanan (foodborne disease), berdasarkan data WHO (2017), terdapat 600 juta orang atau 1 dari 10 orang di dunia mengalami sakit setelah mengonsumsi makanan terkontaminasi oleh mikroorganisme patogen. Bakteri-bakteri tersebut diketahui juga dapat bertahan cukup lama di lingkungan yang sesuai, seperti Salmonella dan Campylobacter dapat bertahan selama sebulan, sedangkan Listeria dapat bertahan hingga tiga bulan. (Nicholson FA et al. 2005).

Ternak yang sedang diobati dengan antibiotik atau memakan pakan yang mengandung Antibiotic Growth Promoter (AGP) dapat menghasilkan manur yang mengandung residu antibiotik beserta bakteri yang membawa sifat resisten (Antibiotic Resistance Bacteria/ARB) (Youngquist CP et al. 2016).

Adapun jenis-jenis antibiotik yang diekskresikan melalui urin dan feses dan terdapat pada manur antara lain, Klortetrasiklin, Sulfa dan Tylosin. Kontaminasi antibiotik ke lingkungan dapat meningkatkan risiko resistensi antibiotik, risiko ini ditambah dengan hadirnya bakteri yang membawa gen resisten karena bakteri tersebut mampu menyebarkan sifat resistensinya melalui transfer plasmid kepada bakteri lain dan melalui perkembangbiakan bakteri itu sendiri.

Keberadaan bakteri-bakteri pembawa gen resistensi antibiotik dan residu antibiotik pada manur merupakan permasalahan yang dapat mengancam kesehatan, baik pada ternak maupun manusia. Salah satu metode yang dapat dilakukan untuk mengurangi bahaya biologis yang ditimbulkan oleh kontaminasi manur ke lingkungan adalah pengomposan manur.

Pengomposan Manur
Menurut Cooperbrand (2000), pengomposan adalah sebuah proses transformasi bahan organik seperti manur, serasah, sisa makanan dan bahan lainnya menjadi substansi mirip tanah atau humus. Proses pengomposan sendiri melibatkan mikroorganisme yang bersifat aerob dan anaerob. Proses aerob lebih umum terjadi, proses ini terbagi menjadi dua tingkat, yaitu mesofilik (10-45°C) dan thermofilik (45-70°C), proses pengomposan dapat berlangsung dari beberapa minggu hingga 40-50 hari.

Perubahan fisik, kimiawi dan biologis yang terjadi pada saat pengomposan manur dapat mengeliminasi bakteri patogen seperti Escherichia coli O157 H7, Salmonella enteritidis (Lung et al. 2001), Listeria (Grewal et al. 2013), bahkan populasi koliform dapat berkurang hingga 99,9% dengan pengomposan selama tujuh hari (Larney et al. 2003). Selain dapat menghilangkan bakteri patogen, pengomposan manur ternyata juga dapat mendegradasi residu antibiotik yang dieksresikan oleh ternak.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dolliver et al. (2008), kadar Klortetrasiklin, Monensin dan Tylosin berkurang selama proses pengomposan manur kalkun, pengurangan yang terjadi berlangsung selama 19 hari, merujuk pada proses pembuatan kompos biasa yang memakan waktu hingga 50 hari, maka dapat diasumsikan kadar antibiotik dalam manur ternak yang dibuat kompos berada dalam kadar minimal atau bahkan hilang sama sekali. Antibiotik golongan lainnya seperti Sulfonamide dan Trimetroprim dapat berkurang dengan proses fermentasi anaerob dalam waktu lima minggu (Mohring et al. 2009).

Pengomposan manur merupakan sebuah metode untuk meminimalisir bahaya penyakit infeksi sekaligus resistensi antibiotik pada lingkup peternakan, metode ini mudah dilakukan dan tidak banyak membutuhkan biaya, sehingga sangat ideal untuk diimplementasikan. Kompos hasil proses pengomposan juga dapat dimanfaatkan dengan tingkat keamanan yang lebih tinggi sebagai pupuk, karena telah terbebas dari bakteri maupun antibiotik. ***

Drh Afdi Pratama
Staff Dinas Perikanan dan Peternakan, Kabupaten Bogor

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer