-->

STUDI MESIR MENYOROTI SALMONELLA YANG RESISTEN TERHADAP BERBAGAI OBAT PADA AYAM BROILER

Sebuah studi baru oleh para peneliti dari Universitas Mansoura dan lembaga-lembaga yang berkolaborasi di Mesir telah mengidentifikasi strain Salmonella enterica yang resisten terhadap berbagai obat dengan keragaman genetik pada ayam broiler, yang menggarisbawahi perlunya pengawasan penyakit yang lebih kuat dan penggunaan antimikroba yang lebih bertanggung jawab dalam produksi unggas.

Diterbitkan dalam Scientific Reports, studi tersebut menemukan bahwa unggas dapat bertindak sebagai reservoir untuk Salmonella yang resisten terhadap antimikroba. Beberapa strain membawa elemen genetik bergerak yang memungkinkan gen resistensi menyebar antar bakteri, meningkatkan tantangan dalam mengendalikan infeksi. Para peneliti mengatakan temuan tersebut menyoroti pentingnya memantau resistensi antimikroba pada unggas.

Para peneliti menganalisis 29 isolat Salmonella enterica yang dikumpulkan dari peternakan ayam broiler di Mesir. Pengujian laboratorium menemukan gen resistensi yang terkait dengan beberapa kelompok antimikroba, termasuk tetrasiklin, aminoglikosida, fenikol, dan sulfonamida.

Studi ini juga mengidentifikasi beberapa serovar Salmonella, termasuk S. Kentucky, S. Jerusalem, dan S. Colorado, yang membawa banyak gen resistensi. Beberapa menunjukkan profil resistensi obat yang luas, artinya mereka resisten terhadap hampir semua kelas antimikroba yang umum digunakan.

Para peneliti juga mendeteksi gen resistensi aphA1 dan fosA3 pada Salmonella dari ayam broiler. Ini adalah salah satu laporan pertama tentang gen-gen ini pada Salmonella yang terkait dengan unggas di Mesir dan menyoroti perlunya pengawasan berkelanjutan.

Salah satu temuan utama penelitian ini adalah bahwa banyak gen resistensi terkait dengan integron kelas 1 – elemen genetik bergerak yang memungkinkan bakteri untuk bertukar gen resistensi. Ini berarti resistensi antimikroba dapat menyebar lebih mudah antar bakteri dalam sistem produksi unggas dan berpotensi melalui rantai makanan.

Analisis genetik juga menunjukkan bahwa bakteri resisten sangat beragam, menunjukkan bahwa beberapa strain resisten yang berbeda beredar dalam produksi ayam broiler Mesir daripada satu strain dominan.

Produsen unggas, dokter hewan, dan pembuat kebijakan harus terus mempromosikan penggunaan antimikroba yang bertanggung jawab sambil memperkuat program pengawasan. Mendeteksi bakteri resisten sejak dini dapat membantu membatasi penyebarannya.

Resistensi antimikroba menjadi kekhawatiran yang semakin meningkat bagi industri unggas global karena dapat mengurangi efektivitas pengobatan penyakit bakteri pada hewan dan manusia. Para peneliti mengatakan bahwa pemantauan berkelanjutan dan peningkatan biosekuriti akan penting untuk membantu memperlambat penyebaran strain Salmonella yang resisten dalam produksi unggas.

Related Posts

0 Comments:

Posting Komentar

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer