Gratis Buku Motivasi "Menggali Berlian di Kebun Sendiri", Klik Disini SEKELUMIT TENTANG HATCHERY VACCINATION | Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan -->

SEKELUMIT TENTANG HATCHERY VACCINATION


Oleh:
Tony Unandar (Private Poultry Farm Consultant)

Secara universal, perkembangan teknologi sediaan vaksin bagi ayam modern dalam dua dekade terakhir selain sangat mencengangkan, juga memberikan efek domino yang signifikan. Hatchery vaccination alias aplikasi vaksin yang dilakukan di hatchery/tempat penetasan anak ayam umur sehari (day old chick/DOC) menjadi terobosan baru yang tak terhindarkan. Dalam paparan yang sangat terbatas, penulis mencoba berbagi pengalaman lapangan dan menyelisik argumentasi teknis hatchery vaccination dari publikasi penelitian ilmiah yang rata-rata mulai ditemukan menjelang peralihan antara abad ke-20 dan 21.

Sejarah Peradaban Hatchery Vaccination
Penyakit viral dalam peternakan ayam modern ibarat “momok” yang tak lekang oleh waktu, bahkan cenderung menunjukkan dinamika yang terus berkembang dan variatif, serta dapat menimbulkan kerugian besar. Di lapangan, untuk kontrol penyakit viral hanya mengandalkan dua buah pendekatan, yaitu biosekuriti dan vaksinasi. Implementasi biosekuriti sangat tergantung pada prasarana dan kualitas sumber daya manusia yang ada, sedangkan praktik vaksinasi sangat tergantung pada bentuk sediaan vaksin dan teknik aplikasinya (Capua et al., 2006).

Praktik lapangan terkait hatchery vaccination diintroduksi pertama kali secara formal ketika pada 1969, Churchill dkk. dalam jurnal ilmiah Nature edisi 221 berbagi hasil obsevasinya. Untuk mengoptimalkan respon tanggap kebal ayam terhadap vaksinasi Mareks, maka imunisasi secara subkutan menggunakan vaksin live attenuated MDV (Mareks Disease Virus) harus dilakukan sedini mungkin pasca menetas alias pada DOC di lingkup hatchery. Kelak diketahui ada beberapa argumentasi yang mendukung hal itu, yakni:

1. Walaupun MDV dapat menstimulasi kedua bentuk respon tanggap kebal adaptif (adaptive immunity), namun karena partkel MDV tergolong dalam virus yang relatif besar dengan arsitektur antigenik yang sangat kompleks, maka respon kekebalan dengan perantaraan sel (cell-mediated immunity/CMI) pada MDV akan lebih dominan dan lebih protektif dibanding respon kekebalan dengan perantaraan antibodi (humoral immunity/HI). Karena CMI tidak diturunkan pada progeni (DOC) dari induknya dan umumnya sediaan vaksin MDV dalam bentuk cell-associated, maka efektivitas respon hatchery vaccination tidak begitu terpengaruh oleh adanya kekebalan dari induk alias maternal immunity/MI (Sharma dan Graham, 1982).

2. Karena fakta hasil penelitian mengindikasikan bahwa MDV sangat tahan berada dalam kondisi-kondisi lapangan dan bersifat “ubiquitous” (ada dimana-mana), maka MDV secara alamiah termasuk agen penyakit yang bersifat endemik alias mampu menetap dalam lingkungan kandang ayam untuk kurun waktu relatif lama. Ini berarti, kemungkinan DOC dapat terpapar secara dini oleh MDV lapangan ketika saat tebar ke dalam brooding sangatlah besar (Box et al., 1976).

Pada tahap selanjutnya, yaitu lebih dari satu dekade setelah introduksi hatchery vaccination pertama kali pada DOC terhadap vaksinasi MDV dengan live-attenuated vaccine, maka pada 1982 diperkenalkan metode hatchery vaccination dalam bentuk lain, yaitu... Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Juni 2022. (toe)

Related Posts

0 Comments:

Posting Komentar

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

ARTIKEL POPULER BULAN INI

ARTIKEL POPULER TAHUN INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer