| Dirjen PKH Mengukuhkan Kepengurusan GPPU 2026 - 2030 (Foto : CR) |
Di balik sepotong daging ayam yang tersaji di meja makan atau sebutir telur yang dikonsumsi jutaan masyarakat setiap pagi, terdapat mata rantai panjang yang sering kali luput dari perhatian. Sebelum ayam dipelihara peternak, sebelum pakan diberikan, bahkan sebelum kandang dipenuhi anak ayam, semuanya bermula dari satu sektor yang menjadi fondasi industri perunggasan, yakni pembibitan. Dari sektor inilah kualitas genetik, produktivitas, efisiensi, hingga keberlanjutan industri ditentukan.
Kesadaran akan pentingnya peran tersebut menjadi benang merah Kongres Ke - 14 Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) yang diselenggarakan di DoubleTree by Hilton Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, pada 22–23 Juli 2026. Mengusung tema "Pembibitan Sebagai Arsitek Industri Perunggasan Nasional", forum empat tahunan ini menjadi momentum bagi pelaku industri untuk menegaskan kembali bahwa kekuatan sektor hulu merupakan kunci dalam menjaga ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan daya saing industri unggas Indonesia di tengah perubahan ekonomi global.
Hulu Dari Industri Perunggasan
Pernyataan tersebut bukan tanpa alasan. Industri perunggasan Indonesia kini telah berkembang menjadi salah satu penyangga utama penyediaan protein hewani bagi masyarakat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada 2024 populasi ayam ras pedaging mencapai lebih dari 3,2 miliar ekor, sementara populasi ayam ras petelur mendekati 390 juta ekor. Produksi daging ayam nasional telah melampaui 4 juta ton per tahun, sedangkan produksi telur ayam ras mencapai lebih dari 6,5 juta ton. Besarnya angka tersebut menggambarkan betapa strategisnya industri perunggasan dalam menopang konsumsi protein nasional. Namun, di balik capaian itu terdapat satu sektor yang bekerja di balik layar, memastikan seluruh rantai produksi dapat berjalan sejak awal, yakni industri pembibitan.
Ketua Umum GPPU periode dalam 2022–2026, Achmad Dawami dalam sambutannya, menilai pembibitan tidak lagi dapat dipersepsikan sebatas kegiatan menghasilkan Day Old Chick (DOC). Menurutnya, pembibitan telah berkembang menjadi pusat pengendali kualitas industri, mulai dari pengelolaan mutu genetik, peningkatan produktivitas, efisiensi produksi, hingga penguatan ketahanan terhadap penyakit.
"Pembibitan adalah titik awal seluruh rantai nilai industri perunggasan. Di era modern, sektor pembibitan juga dituntut untuk terus beradaptasi melalui penerapan teknologi genetika, digitalisasi manajemen breeding, peningkatan biosekuriti, serta penerapan prinsip keberlanjutan (sustainability) dan kesejahteraan hewan (animal welfare). Kemampuan industri pembibitan dalam melakukan inovasi akan sangat menentukan keberhasilan. Ketika sektor hulu kuat, seluruh rantai industri akan tumbuh lebih sehat dan berdaya saing," ujarnya.
Pandangan tersebut sejalan dengan tantangan yang kini dihadapi industri unggas nasional. Fluktuasi harga bahan baku, meningkatnya ancaman penyakit, tuntutan efisiensi produksi, hingga semakin besarnya perhatian terhadap aspek keberlanjutan dan kesejahteraan hewan menuntut sektor pembibitan untuk terus bertransformasi. Inovasi tidak lagi menjadi pilihan, melainkan kebutuhan agar industri mampu bertahan sekaligus berkembang.
Karena itu, Kongres Ke - 14 GPPU tidak hanya menjadi forum organisasi untuk memilih kepengurusan baru. Agenda yang digelar juga dirancang sebagai ruang berbagi gagasan dan memperkuat sinergi antarpemangku kepentingan. Dalam seminar nasional yang menjadi bagian dari kongres, berbagai isu strategis dibahas secara komprehensif, mulai dari dinamika ekonomi global, perkembangan teknologi pembibitan, digitalisasi sistem breeding, penguatan biosekuriti, hingga arah kebijakan pemerintah dalam membangun industri perunggasan yang lebih modern dan berkelanjutan. Pemerintah, akademisi, serta pelaku industri duduk bersama membahas bagaimana sektor hulu mampu menjawab tantangan masa depan.
Perjalanan Panjang 55 Tahun
Momentum kongres tahun ini juga menjadi penanda perjalanan panjang organisasi melalui peluncuran buku Dari Hulu untuk Ketahanan Pangan: Perjalanan 55 Tahun GPPU dalam Membangun Keberlanjutan Industri Perunggasan Indonesia. Buku tersebut merekam sejarah GPPU sejak berdiri pada 20 Desember 1970, sekaligus menjadi dokumentasi perjalanan industri pembibitan nasional selama lebih dari lima dekade. Berbagai fase perkembangan industri diulas, mulai dari modernisasi pembibitan, perubahan kebijakan pemerintah, dinamika penyakit unggas, hingga berbagai inovasi yang membentuk wajah industri perunggasan Indonesia saat ini.
Suasana kongres mencapai puncaknya ketika kepengurusan GPPU periode 2026–2030 resmi dikukuhkan oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI. Prosesi tersebut disaksikan pimpinan perusahaan anggota GPPU, asosiasi perunggasan, akademisi, serta berbagai pemangku kepentingan yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan industri perunggasan nasional.
Melalui mekanisme musyawarah mufakat, peserta kongres mempercayakan kelanjutan kepemimpinan organisasi kepada Drh Asrokh Nawawi sebagai Ketua Umum GPPU periode 2026–2030. Dalam sambutan perdananya, ia menyadari bahwa estafet kepemimpinan yang diterimanya datang pada saat industri menghadapi tantangan yang semakin kompleks.
Menurutnya, perubahan iklim usaha, dinamika ekonomi global, hingga tuntutan peningkatan efisiensi akan menjadi pekerjaan besar yang harus dijawab bersama. Karena itu, ia mengajak seluruh anggota GPPU memperkuat soliditas organisasi sekaligus mempererat kolaborasi dengan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan industri.
"Kami akan terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan. Insya Allah, melalui kebersamaan, kolaborasi, dan kemampuan beradaptasi terhadap berbagai dinamika yang ada, industri perunggasan nasional akan terus tumbuh dan berkembang," katanya optimistis.
Selama 55 tahun berdiri, GPPU telah berkembang menjadi organisasi yang menaungi 37 perusahaan pembibitan unggas di Indonesia. Perjalanan panjang tersebut memperlihatkan bagaimana sektor pembibitan tidak sekadar menyediakan bibit, tetapi juga menjadi fondasi yang menopang keberhasilan seluruh mata rantai industri perunggasan nasional. Ketika sektor hulu mampu menghasilkan bibit yang sehat, unggul, dan berkualitas, maka produktivitas peternak meningkat, industri pengolahan memperoleh bahan baku yang lebih baik, dan masyarakat pun mendapatkan akses terhadap protein hewani yang aman serta terjangkau.
Dari Kongres Ke - 14 ini, satu pesan tampak mengemuka. Ketahanan pangan tidak dibangun hanya di kandang peternak atau di hilir industri pangan, melainkan dimulai sejak proses pembibitan. Di sanalah cetak biru industri perunggasan Indonesia dirancang. Selama sektor pembibitan terus mampu berinovasi, menjaga kualitas, dan memperkuat kolaborasi, ia akan tetap menjadi arsitek yang menentukan arah pembangunan perunggasan nasional pada masa-masa mendatang. (CR)
