Sektor unggas di Suriah mengalami tingkat kematian unggas yang tinggi dalam beberapa pekan terakhir, menyusul temuan kandungan toksin dalam kadar tinggi pada kiriman jagung kuning. Kondisi ini mendorong para peternak untuk meminta dukungan tambahan di tengah lonjakan biaya produksi dan menyusutnya margin keuntungan.
Thaer Al-Hussein, anggota Komite Pembibitan Unggas, menyatakan dalam sebuah wawancara radio lokal bahwa Suriah perlu memperketat pengawasan impor serta meningkatkan pemantauan terhadap pasar pakan ternak, mengingat tingginya angka kematian unggas telah menyebabkan kerugian besar di seluruh industri tersebut.
Laporan mengenai meningkatnya angka kematian unggas di berbagai peternakan di Suriah telah muncul di media lokal sejak September, meskipun skala masalah yang sebenarnya belum diketahui secara pasti.
Al-Hussein tidak mengungkapkan asal kiriman jagung tersebut. Turki merupakan pemasok utama jagung bagi Suriah, dengan kontribusi sekitar 83% dari total volume impor pada tahun 2024, sementara sebagian kecil lainnya didatangkan dari Ukraina dan Lebanon.
Kontaminasi mikotoksin merupakan risiko yang sudah dikenal dalam rantai pasok jagung di Suriah. Laporan lokal menyoroti kurang memadainya infrastruktur pengeringan, yang menyebabkan jagung rentan terhadap kelembapan dan pertumbuhan jamur.
Tingginya angka kematian unggas menambah tekanan pada industri yang memang sudah berjuang menghadapi biaya produksi yang tinggi, margin keuntungan yang tipis, serta persaingan dari produk impor.


0 Comments:
Posting Komentar