Tim peneliti di Texas A&M University, Amerika Serikat, tengah bersiap untuk menguji teknologi inovatif yang dapat membantu para peternak unggas dalam menangani salah satu ancaman penyakit paling persisten di industri ini: flu burung yang sangat patogen (HPAI).
Proyek ini akan meneliti apakah cahaya ultraviolet jauh (far-ultraviolet), yang dikenal sebagai far-UVC, dapat mengurangi patogen yang terbawa udara di dalam kandang unggas tanpa membahayakan unggas, pekerja, maupun operasional peternakan.
Morgan Farnell, profesor mikrobiologi dan imunologi unggas sekaligus wakil kepala departemen di Departemen Ilmu Unggas Texas A&M, menyatakan bahwa wabah HPAI yang terjadi saat ini terus menghadirkan tantangan bagi sektor perunggasan. Meskipun flu burung tidak dianggap endemik di Amerika Serikat, virus tersebut tetap ada dalam populasi satwa liar dan terus mengancam produksi unggas komersial.
Farnell bersama rekannya, Ziteng Xu, akan memimpin fase ketiga sekaligus fase terakhir dari program penelitian jangka panjang yang akan dimulai pada musim semi. Penelitian ini akan berfokus untuk menentukan apakah cahaya far-UVC mampu mengurangi jumlah patogen yang terbawa udara di dalam kandang unggas komersial dalam kondisi produksi yang sesungguhnya.
Teknologi far-UVC berbeda dari sistem ultraviolet pembunuh kuman konvensional karena mampu menonaktifkan virus dan bakteri tanpa menembus terlalu dalam hingga merusak kulit serta mata manusia maupun hewan. Karakteristik ini menarik perhatian besar dari para peneliti, yang melihat potensi penerapannya di lingkungan yang dihuni makhluk hidup, seperti rumah sakit, sekolah, restoran, dan fasilitas peternakan.
Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh para peneliti dari Columbia University dan St. Jude Children’s Research Hospital telah mengkaji teknologi far-UVC dalam ruang isolasi khusus. Temuan tersebut menjadi landasan bagi pengujian di lingkungan yang lebih luas, menyerupai skala komersial. Kini, para peneliti dari Texas A&M berupaya menentukan apakah teknologi ini dapat memberikan hasil serupa di kandang unggas dengan kepadatan populasi burung seperti pada skala komersial.
Uji coba akan dilaksanakan di kompleks peternakan unggas universitas tersebut. Para peneliti akan menggunakan peralatan pengambilan sampel udara untuk mengukur organisme indikator (seperti bakteri aerob, koliform, dan Staphylococcus aureus) sebelum dan sesudah paparan far-UVC. Pengukuran ini akan membantu para ilmuwan menilai apakah teknologi tersebut mampu mengurangi patogen yang berkaitan dengan ancaman penyakit, termasuk flu burung.
Tim Xu juga akan meneliti aspek penerapan praktisnya. Debu di dalam kandang unggas dapat menyerap atau menyebarkan cahaya ultraviolet, yang berpotensi memengaruhi kinerja teknologi tersebut. Oleh karena itu, para peneliti akan memantau seberapa besar radiasi yang mencapai area yang dihuni oleh unggas. Sistem kamera berbasis kecerdasan buatan akan melacak pergerakan dan perilaku unggas, sehingga para ilmuwan dapat mengevaluasi dampaknya terhadap kesejahteraan, ritme sirkadian, serta performa pertumbuhan unggas.
Proyek ini merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk mengembangkan teknologi keamanan hayati terintegrasi. Xu sedang merancang sistem yang menggabungkan pengolahan udara menggunakan far-UVC dengan ventilasi bertekanan positif serta perangkat robotik untuk disinfeksi lantai. Para peneliti akan mengevaluasi komponen mana yang memberikan pengendalian patogen secara efektif.


0 Comments:
Posting Komentar