-->

TIONGKOK MENENTANG PENYELIDIKAN ANTI-DUMPING UE TERHADAP BEBEK PEKING

Penyelidikan anti-dumping Uni Eropa terhadap impor bebek Peking beku asal Tiongkok telah memicu reaksi keras di Tiongkok, di mana perwakilan industri unggas menuduh Brussels bersikap munafik dan menerapkan standar ganda.

Meskipun penyelidikan ini menyasar produk khusus yang sebagian besar ditujukan untuk restoran Tiongkok di seluruh Eropa, para produsen memperingatkan bahwa hal ini bisa menjadi awal dari sengketa perdagangan yang jauh lebih luas terkait produk unggas.

Kasus bebek Peking ini merupakan "serangan gencar" terhadap impor Tiongkok, yang diluncurkan sebagai respons atas meningkatnya defisit perdagangan UE dengan Tiongkok, tulis analis pertanian lokal Zhang Zhiyu dalam sebuah unggahan blog.

Pada tahun 2025, defisit perdagangan UE dengan Tiongkok mencapai €359,8 miliar, dan pada kuartal pertama tahun ini, angka tersebut mencapai €98 miliar, kata Zhiyu, mengutip data perdagangan resmi.

Tiongkok menguasai sekitar seperempat pasar bebek Eropa yang bernilai €800 juta pada tahun 2025, ujar Zhiyu. Meskipun volume perdagangannya kecil, sengketa ini secara luas dipandang sebagai upaya untuk mengimbangi posisi Tiongkok dalam perdagangan produk pertanian.

Namun, pembatasan tersebut bisa berdampak cukup berat, mengingat UE merupakan pasar penting dan premium bagi ekspor bebek Tiongkok.

Industri unggas Tiongkok juga sangat menolak klaim Brussels bahwa daya saing bebek Peking yang kuat disebabkan oleh subsidi negara.

UE menyatakan meluncurkan penyelidikan anti-dumping terhadap impor bebek Peking Tiongkok karena produk tersebut dijual dengan harga rendah yang tidak wajar, hal yang pada dasarnya tidak benar, kata Hou Zhuocheng, ketua Cabang Ilmu Unggas dari Asosiasi Ilmu Peternakan dan Kedokteran Hewan Tiongkok.

Menurut Zhuocheng, keunggulan harga Tiongkok mencerminkan biaya produksi yang lebih rendah, bukan praktik dumping, dan bersumber dari kekuatan struktural industri bebek negara tersebut.

Zhuocheng mengatakan bahwa sebagian besar bebek yang diternakkan di Tiongkok adalah jenis Cherry Valley, yang mencapai bobot siap potong hanya dalam waktu 35-40 hari. Dengan rasio konversi pakan sebesar 1,6-1,8 kg pakan per kg daging, biaya produksinya rendah, yakni sekitar 2,5 yuan (US$0,35) per kg. Sebagai perbandingan, ujarnya, ras bebek lokal Eropa memiliki siklus pertumbuhan yang lebih lama, tingkat konversi pakan yang lebih rendah, serta biaya produksi yang lebih tinggi.

Perwakilan industri Tiongkok juga mempertanyakan cakupan penyelidikan tersebut, dengan argumen bahwa produk yang disasar oleh Brussels tidak sesuai dengan daging bebek yang sebenarnya diekspor Tiongkok ke Uni Eropa.

Dalam pernyataan yang dirilis pada 14 Juli, Kamar Dagang Tiongkok untuk Bahan Makanan dan Produk Lokal (China Chamber of Commerce for Foodstuffs and Native Produce) mengumumkan bahwa pihaknya telah mengadakan rapat koordinasi khusus untuk menanggapi penyelidikan Uni Eropa tersebut. Kamar Dagang tersebut menyatakan bahwa seluruh produk bebek yang diekspor dari Tiongkok ke pasar Eropa berasal dari bebek Cherry Valley, bukan dari ras bebek Beijing tradisional yang disebut dalam penyelidikan, yang mengindikasikan adanya ketidaksesuaian mendasar antara produk yang sedang diselidiki dan komposisi ekspor Tiongkok.

Related Posts

0 Comments:

Posting Komentar

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer