-->

PERANG DAN GEJOLAK EKONOMI MENYEBABKAN KONSUMSI DAGING AYAM DI IRAN TURUN HINGGA SEPARUHNYA

Konsumsi daging ayam di Iran telah turun sekitar 50% selama setahun terakhir. Menurut perwakilan industri, hal ini disebabkan oleh melonjaknya biaya produksi, reformasi subsidi, serta dampak ekonomi dari konflik terkini negara tersebut dengan Israel dan AS, yang telah mengguncang baik produsen unggas maupun konsumen.

"Kenaikan harga ayam hingga empat kali lipat setelah penghapusan nilai tukar khusus secara langsung menurunkan daya beli konsumen dan memangkas konsumsi ayam hingga sekitar separuhnya," ujar Abdollah Ghasemi, anggota dewan Asosiasi Peternak Unggas Gilan.

Ghasemi mengaitkan krisis ini dengan kombinasi kebijakan pemerintah dan gangguan akibat situasi perang. Ia mengatakan bahwa penghapusan nilai tukar bersubsidi untuk pakan impor, vaksin, dan bahan tambahan pakan, ditambah dengan pengendalian harga yang diberlakukan selama konflik, telah sangat menekan margin keuntungan para produsen unggas.

"Biaya produksi melonjak tajam dan para peternak unggas kehilangan kemampuan untuk melanjutkan produksi," kata Ghasemi.

Menurut data resmi, produksi unggas telah merosot drastis dalam beberapa bulan terakhir. Ghasemi menyebutkan bahwa produksi ayam bulanan turun dari 140 juta ekor pada awal tahun menjadi 94 juta ekor dalam beberapa bulan terakhir. Sementara itu, penurunan pasokan belakangan ini telah mendorong kenaikan harga, terutama setelah pemerintah mengumumkan program voucher pangan baru yang sempat meningkatkan permintaan untuk sementara waktu.

Sepanjang tahun ini, perwakilan industri unggas Iran terus mengeluhkan penurunan tingkat konsumsi. Pada bulan Mei, Farzad Talakesh, Sekretaris Jenderal Federasi Unggas Iran, menyatakan bahwa konsumsi ayam telah turun sekitar 25% akibat lonjakan inflasi dan penurunan daya beli rumah tangga.

Laporan mengenai merosotnya konsumsi ayam ini bertolak belakang dengan perkiraan yang lebih optimistis dari pihak berwenang Iran. Awal bulan ini, Kementerian Pertanian Iran menyatakan bahwa konsumsi ayam per kapita tahunan mencapai 26 kg, jauh di atas rata-rata global yang sebesar 15 kg.

Di tengah penurunan konsumsi tersebut, industri ini juga mengalami kerugian besar di sektor pembibitan. Ghasemi mengungkapkan bahwa 40 juta DOC dimusnahkan karena produsen tidak dapat menyalurkannya, sementara banyak peternakan pembibitan memotong induk unggas dan menjual telur fertil ke pasar telur konsumsi alih-alih menggunakannya untuk penetasan.

Related Posts

0 Comments:

Posting Komentar

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer