Thursday, April 28, 2016

Begini Hasil Sidang Lanjutan Uji Materi UU No. 41 Tahun 2014 di MK

Di hadapan Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi yang dipimpin Wakil Ketua MK Anwar Usman, Sekretaris Jenderal PPSKI (Perhimpunan Peternak Sapi Dan Kerbau Indonesia) yang juga Dosen Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran Bandung, Rochadi Tawaf, menyampaikan bahaya dari masuknya ternak hidup dari negara yang statusnya belum bebas penyakit hewan menular utama, yaitu potensi tertular penyakit mulut dan kuku (PMK). Epidemi PMK akan mengakibatkan terjadi kerugian sosial ekonomi yang sangat besar.
Rochadi Tawaf (tengah) diapit para mantan Dirjen Peternakan yaitu
Sofjan Sudardjat dan Soehadji saat sidang lanjutan di MK.  
Berdasarkan sensus pertanian oleh Biro Pusat Statistik (BPS) 2013, sebanyak 98% ternak sapi dikuasai oleh usaha peternakan rakyat. Usaha tersebut berada di pedesaan sebagai usaha ternak yang bersifat tradisional, terkendala teknologi, skala kecil, dan cenderung digunakan sebagai keperluan adat budaya dan keagamaan. Penyerapan tenaga kerja di sektor ini, juga cukup besar. Tahun 2015 sebanyak 4,2 juta orang terserap atau sekitar 11% dari total tenaga kerja sektor pertanian. Dengan tingkat pendidikan sangat rendah yaitu 37,4 %  berpendidikan SD.
Berdasarkan hal tersebut, kondisi peternakan rakyat Indonesia sangat rentan terhadap berbagai intervensi, khususnya penyakit. Oleh sebab itu, peternakan Indonesia perlu diproteksi. Hal demikian sejalan dengan konsideran Undang-Undang Peternakan dan Kesehatan Hewan butir b, yaitu “bahwa dalam penyelenggaraan peternakan dan kesehatan hewan, upaya pengamanan maksimal terhadap pemasukan dan pengeluaran ternak hewan, dan produk hewan, pencegahan penyakit hewan …”. Konsideran ini mengisyaratkan bahwa tiada pilihan lain bagi Pemerintah, selain harus bertindak melakukan pengamanan maksimal atau maximum security terhadap hal-hal yang berkaitan dengan pembangunan peternakan.
Sementara itu, Tri Satya Putri Naipospos, pakar dari Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies, selaku ahli yang dihadirkan Pemerintah mengungkapkan kemampuan produksi daging dalam negeri masih sekitar 439.053 ton dibandingkan dengan kebutuhan nasional sebanyak 674.059 ton.
Artinya, ada kekurangan pasokan. Sedangkan tingkat konsumsi daging sapi kita sekarang berkisar 2,61 kg per kapita, dengan demikian Indonesia adalah yang terendah di Asia Tenggara. Oleh karena itu, Pemerintah tengah mencari alternatif sumber penyediaan pasokan ternak dan produk hewan dari negara-negara yang biasa memasok atau biasa berdagang dengan Indonesia. Peluang itu harus diambil guna mencegah penularan dari negara lain yang mungkin saja belum bebas PMK.
Saat ini ada banyak negara yang sekarang belum bebas tetapi ada kemajuan dalam hal menciptakan zona-zona bebas. Pertanyaannya adalah sekarang, apakah zona bebas penyakit yang diinginkan pemerintah itu bisa kita katakan aman atau tidak? Apakah mendukung dalil Pemohon bahwa dengan memasok produk dari zona bebas dalam negara tertular akan memudahkan masuknya virus PMK ke Indonesia ?
Pemerintah juga menghadirkan Ishana Mahisa selaku Ketua Umum Asosiasi Industri Pengolahan Daging Indonesia. Sebagai saksi, ia menjelaskan pemasukan bahan baku daging keperluan industri hanya didapatkan dari negara bebas PMK. Pada saat ini, industri pengolahan daging dalam kondisi kebimbangan setelah pihaknya mendapatkan data dari BPS yang menunjukkan peningkatan impor daging olahan melonjak tajam sejak 2012 sampai dengan 2015.
Dalam lima tahun terakhir terjadi kenaikan harga daging sapi beku impor untuk keperluan industri. Akibatnya, perusahaan yang kebanyakan berbasis daging sapi mulai bergeser ke produk yang berbasis ayam. Dan para pebisnis berbasis ayam itu memiliki pabrik lebih dari satu, karena ketersediaan bahan baku ayam lebih banyak ketimbang daging sapi atau daging merah
Sebelumnya, sejumlah dokter hewan, peternak, dan pedagang hasil ternak, yaitu Teguh Boediyana (Ketua PPSKI), Mangku Sitepu, Gun Gun Muhamad Lutfi Nugraha, Rachmat Pambudy, Mutowif, dan Dedi Setiadi merasa dirugikan dan/atau potensial dirugikan hak-hak konstitusionalnya akibat pemberlakuan zona base di Indonesia berdasarkan ketentuan dalam Pasal 36C ayat (1), Pasal 36C ayat (3), Pasal 36D ayat (1), dan Pasal 36E ayat (1) UU Peternakan dan Kesehatan Hewan.
Kerugian tersebut lantaran adanya prinsip minimum security dengan pemberlakuan zona. Hal tersebut dinilai Pemohon mengancam kesehatan ternak dan menjadikan sangat bebasnya importasi daging segar yang akan mendesak usaha peternakan sapi lokal, serta tidak tersedianya daging dan susu segar sehat yang selama ini telah dinikmati. UU Peternakan dan Kesehatan Hewan dinilai semakin memperluas kebijakan importasi ternak di tengah ketergantungan yang tinggi pada impor ternak dan produk ternak. (wan)


Sumber : mahkamahkonstitusi.go.id

Manajemen Reproduksi Kunci Dongkrak Produktivitas Sapi

Dalam rangka peningkatan produktifitas ternak sapi di tahun 2016, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) bertanggung jawab untuk melaksanakan program optimalisasi dan penanganan gangguan reproduksi. Hal itu terangkum dalam pelaksanaan Workshop Manajemen Reproduksi yang diselenggarakan di Bandung 25-26 April 2016.
Foto bersama peserta Workshop Manajemen Reproduksi
di Balai Inseminasi Buatan Lembang, Senin 25 April 2016.    
Direktur Jenderal PKH, Dr. Ir. Muladno, MSA dalam sambutannya pada acara Workshop ini berharap agar dapat diperoleh persamaan persepsi dan pemahaman terhadap kegiatan oleh tim-tim pelaksana kegiatan baik Unit Pelaksana Teknis (UPT) lingkup Ditjen PKH, Dinas Provinsi dan Kabupaten. 
"Diharapkan peserta setelah mengikuti kegiatan workshop manajemen reproduksi ini mempunyai bekal untuk menyusun rancangan pelaksanaan kegiatan di lapangan sebagai tindaklanjutnya, serta mempunyai bahan untuk pembinaan ke peternak kedepannya," ungkap Dirjen PKH.
Para pakar dari Universitas Padjajaran dan Institut Pertanian Bogor sengaja dihadirkan pada acara wokshop ini untuk menyampaikan materi mengenai manajemen pemeliharaan ternak ruminansia besar dan manajemen kesehatan hewan. Hadir pada acara dimaksud perwakilan dari Dinas yang membidangi fungsi peternakan, kelompok ternak binaan, koperasi peternakan dan Sentra Peternakan Rakyat (SPR) di wilayah kerja Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang.
Dirjen PKH menjelaskan bahwa percepatan peningkatan populasi melalui gertak birahi dan optimalisasi Inseminasi Buatan (IB) serta penanganan gangguan reproduksi (Gangrep) pada ternak sapi dan kerbau tahun 2015 telah dilaksanakan di 30 provinsi yang pelaksanaannya didelegasikan kepada 10 Unit Pelaksana Teknis (UPT) lingkup Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan yang menangani benih, bibit dan pakan ternak serta 8 UPT Balai Besar Veteriner/Balai Veteriner untuk koordinator penanganan gangguan reproduksi.
"Berdasarkan hasil evaluasi kegiatan Gertak Birahi Inseminasi Buatan (GBIB) dan Gangrep akhir tahun 2015, pencapaian yang diperoleh dari kegiatan sinkronisasi pada ternak sapi dan kerbau sebanyak 422.860 ekor atau 68,43% dari target yang ditetapkan sejumlah 691.000 ekor" ungkap Dirjen PKH.
"Sedangkan IB reguler dari target 2.485.812 ekor terealisasi 1.771.510 ekor (71,26%) yang di IB", tambahnya. Beliau juga menjelaskan bahwa kegiatan penanganan Gangrep realisasinya sebanyak 250.000 ekor atau 83,54% dari target yang ditetapkan sebanyak 300.000 ekor. Dari jumlah ternak yang sembuh, diperoleh jumlah ternak yang di IB atau kawin alam sebanyak 107.180 ekor (62,76%).
Workshop diikuti oleh perwakilan Unit Pelaksana Teknis (UPT)
lingkup Ditjen PKH, Dinas Provinsi dan Kabupaten.
Muladno menambahkan, kegiatan GBIB dan Gangrep tahu 2015 sangat dirasakan manfaatnya oleh berbagai pihak, serta memberikan dampak yang luar biasa bagi kegiatan reproduksi ternak sapi dan kerbau. "Oleh karena itu, pada tahun 2016 kegiatan GBIB dan gangrep dilanjutkan dengan kegiatan optimalisasi reproduksi dan penanganan gangguan reproduksi yang pada prinsipnya merupakan kegiatan pengawalan pencapaian output dan outcome GBIB dan Gangrep 2015," ungkapnya.
Kepala BIB Lembang Oloan Parlindungan menyampaikan bahwa tahun 2016 merupakan tahun keempat BIB Lembang melaksanakan kegiatan singkronisasi birahi. "Pada tahun 2013 BIB Lembang telah melaksanakan singkronisasi terhadap 6.122 ekor dengan tingkat kebuntingan sebesar 49,70%, tahun 2014 realisasi sebanyak 4.041 ekor dengan tingkat kebuntingan sebesar 60,23% dan tahun 2015 realisasi sebanyak 7.507 ekor dengan tingkat kebuntingan sebesar 68,95%" ungkapnya.  "Angka tersebut menunjukkan adanya persentasi peningkatan angka kebuntingan dari kegiatan singkronisasi birahi yang dilakukan dari tahun ke tahunnya," ungkap Oloan.
Oloan Parlindungan juga menyampaikan bahwa harapan akan kemandirian pangan dapat segera terwujud dengan semakin banyak sapi yang diinseminasi dan menjadi bunting. “Kemandirian pangan yang kita inginkan selama ini, diharapkan dapat segera terwujud dengan banyaknya sapi yang diinseminasi dan bunting,” tutupnya.


(Sumber : Humas Ditjen PKH, Kementan - Ismatullah Salim, S.Pt., Asih Sasomo, S.AP., Yuliana Susanti, S.Pt., M.Si)

Wednesday, April 27, 2016

Kementerian Pertanian Jamin Ketersediaan Daging Sapi

Masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan (pasokan) dan stabilitas harga daging sapi, terutama menjelang momen-momen besar seperti bulan ramadhan dan lebaran yang sebentar lagi akan tiba. Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian menjamin bahwa ketersediaan daging sapi yang berkualitas akan cukup dan terjangkau bagi masyarakat. Selain tetap konsisten memprioritaskan keberadaan ternak lokal untuk pemenuhan daging sapi dalam negeri, Pemerintah akan memperluas akses dari negara maupun zona tertentu yang memenuhi syarat kesehatan hewan “yang ditetapkan Badan Kesehatan Hewan Dunia (OIE)” untuk menambah alternatif sumber penyediaan hewan dan produk hewan.
Dirjen PKH Muladno saat meninjau langsung
ketersediaan sapi potong di sentra produksi sapi nasional.
“Kebijakan ini merupakan implementasi dari paket kebijakan ekonomi jilid IX untuk stabilisasi harga daging sapi,” ungkap Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Dr. Ir. Muladno, MSA. Sebagaimana diketahui bahwa memasuki kuartal pertama tahun 2016, sub sektor peternakan mengalami turbulensi yang cukup menekan, kenaikan harga daging sapi di beberapa wilayah menjadi permasalahan di masyarakat.
Mengenai stabilisasi harga daging, diasumsikan bahwa untuk pemenuhan kebutuhan daging sapi dalam negeri masih kekurangan pasokan, dan untuk menutup kekurangannya masih harus dipasok dari impor. Selama ini negara asal impor daging sapi ke Indonesia adalah Australia, USA, New Zealand, Canada dan Jepang.
Salah satu implikasi yang dilakukan pemerintah untuk mewujudkan ketersediaan dan stabilitas harga daging sapi yaitu pemerintah akan memperluas negara asal pemasok dengan prinsip yang awalnya country based menjadi zona based sesuai yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, dimana pada pasal 36 E berbunyi:
1.       Dalam hal tertentu, dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional dapat dilakukan pemasukan ternak dan/atau produk hewan dari suatu negara atau zona dalam suatu negara yang telah memenuhi persyaratan dan tata cara pemasukan ternak dan/atau produk hewan.
2.       Ketentuan lebih lanjut mengenai dalam hal tertentu dan tata cara pemasukannya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah

Kebijakan tersebut juga merupakan salah satu upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap negara asal pemasok daging sapi yang masih terbatas sebagaimana tersebut di atas. Regulasi yang ada di Indonesia sebelumnya hanya memperbolehkan impor sapi dari suatu negara yang bebas penyakit hewan menular strategis seperti Penyakit Mulut dan Kuku. Melalui penerbitan beleid tersebut, maka izin impor sapi akan dilihat per zona/wilayah. Dengan adanya kebijakan ini diharapkan harga daging di tingkat konsumen akan stabil, sehingga masyarakat akan memperoleh harga daging yang terjangkau.
Beberapa alternatif negara pemasok daging ke Indonesia yaitu Brazil, India dan Meksiko karena memiliki populasi ternak terbesar di Dunia. Sebagai tindaklanjutnya, maka pada tanggal 10 Maret 2016 pemerintah telah menetapkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2016 tentang Pemasukan Ternak dan/atau Produk Hewan dalam Hal Tertentu yang Berasal dari Negara atau Zona dalam Suatu Negara Asal Pemasukan yang ditandatangani oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo. Kebijakan pemerintah ini ditujukan untuk mewujudkan ketersediaan dan stabilitas harga yaitu dengan menetapkan negara atau zona dalam suatu negara, unit usaha atau farm untuk pemasukan ternak dan/atau produk hewan berdasarkan analisis resiko dan sejalan dengan perdagangan hewan dan produk hewan sebagaimana yang diatur oleh Badan Kesehatan Hewan dunia (OIE).
Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner, Drh. Sri Mukartini, MApp.Sc menyampaikan bahwa untuk mengevaluasi dan verifikasi sistem kesehatan hewan, sistem surveillans dan zoning, serta Rumah Potong Hewan (RPH) di negara asal pemasok, maka Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan akan membentuk  suatu Tim Audit untuk melakukan on site review ke negara tersebut. “Pembentukan Tim Audit Negara Dan Unit Usaha Pemasukan Daging Ruminansia Besar Dari Negara Asal Pemasok Ke Dalam Wilayah NKRI ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian,” ungkapnya.
“Selanjutnya berdasarkan analisa resiko impor kualitatif yang dilakukan oleh Tim Audit yang beranggotakan Komisi Ahli Kesehatan Hewan, Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Karantina Hewan akan disimpulkan estimasi resiko (Risk Estimation) masuknya daging dari negara asal pemasok ke wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia” tambah Sri Mukartini.
Sebagai tindak lanjut dari PP tersebut, Kementerian Pertanian saat ini sedang menyusun Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) untuk operasional PP tersebut. Pemerintah akan terus berupaya mencari jalan untuk memenuhi kebutuhan daging di Indonesia dengan tidak mengabaikan aspek-aspek keamanan pangannya. Food security tetap menjadi prioritas dalam setiap kebijakan yang diambil oleh Pemerintah disamping juga memperhatikan dampak sosial ekonomi yang mungkin akan terjadi.
Oleh karena itu, seperti diungkapkan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan bahwa Pemerintah akan melakukan importasi dari  negara berdasarkan zona untuk memenuhi kekurangan pasokan dari dalam negeri dan Pemerintah akan tetap konsisten memprioritaskan keberadaan ternak lokal untuk pemenuhan daging sapi dalam negeri, sehingga hasil peternakan rakyat dapat terserap oleh pasar. Hal ini mengingat produksi daging sapi dalam negeri saat ini ditunjang oleh dukungan usaha peternakan domestik yang sebagian besar adalah usaha peternakan rakyat.
Sementara itu, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan, Ir. Fini Murfiani, MSi menyatakan bahwa daging sapi lokal mempunyai beberapa kelebihan yaitu: (1) strukturnya yang kenyal dan “firm” sangat cocok dengan masakan kuliner nusantara dengan metode pengolahan basah atau perebusan (seperti rendang, sop, soto, gulai dan lain-lain), serta produk giling seperti bakso. Bila dianalogikan seperti daging ayam kampung; (2) khusus untuk sapi Bali yang termasuk dalam Bos Javanicus merupakan Sumber Daya Genetik (SDG) sapi asli Indonesia dengan kerangka tubuh relatif kecil dan masak dini (early mature) dagingnya memiliki karakter yang khas, teksturnya halus dan pembentukan perlemakan di dalam daging (marbling) yang potensial sehingga daging sapi Bali lebih “juicy”.
Bila sejak usia lepas sapih, pedet jantan sapi Bali diberi pakan yang baik dan digemukkan secara khusus seperti sapi wagyu, sapi Bali cocok untuk berbagai masakan kuliner nusantara maupun untuk dibuat streak yang proses memasaknya disebut “dry cooking”; (3) dengan pola pemeliharaan sapi yang dilakukan secara ekstensif atau di padang rumput (terutama di daerah produsen sapi di Indonesia Timur) yang sepenuhnya mengandalkan pakan sapi dari hijauan tanpa ada treatmen hormonal yang diberikan, sapi lokal menghasilkan daging sapi yang dapat disetarakan dengan daging organik.
“Agar daging sapi lokal dapat lebih dinikmati oleh masyarakat, Pemerintah akan terus memperbaiki tata niaga sapi lokal dari daerah produsen ke daerah konsumen, sehingga diharapkan dapat memperbaiki harga sapi di tingkat peternak dan harga daging sapi juga bisa lebih terjangkau di tingkat konsumen,” ungkap Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan.
Menurut Muladno, Ditjen PKH akan mengkoordinir semua institusi pemerintah maupun non-pemerintah untuk mengkonsolidasikan kekuatan peternak berskala kecil tersebut dalam kegiatan pra produksi, produksi, dan pasca produksi, serta kegiatan penunjang yang saling bersinergi dan berkelanjutan. Model pengembangan peternakan melalui pendekatan Sentra Peternakan Rakyat (SPR) merupakan bentuk konkrit dari implementasi visi pemerintah, yaitu “terwujudnya Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian berlandaskan semangat gotong royong”.
SPR merupakan suatu model pemberdayaan masyarakat dalam hal ini para peternak, dalam mengelola usaha peternakannya yang berorientasi bisnis kolektif sehingga dapat berperan sebagai media pembangunan peternakan secara terintegrasi bagi pembangunan peternakan, sedangkan Sekolah Peternakan Rakyat merupakan media transfer ilmu pengetahuan dan teknologi untuk membangun kesadaran masyarakat dan mendorong tindakan kolektif. 
“Oleh karena itu, kehadiran SPR diharapkan akan dapat melahirkan peternak-peternak yang mampu memproduksi dan mensuplai daging ke daerah lain tanpa harus impor” jelas Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.  “Pada tahun 2016 telah ditetapkan 50 SPR sebagai pilot project (atau SPR Perintis), dan diharapkan pada tahun berikutnya SPR akan terus bertambah keberadaannya,” kata Muladno.
Lebih lanjut Muladno menjelaskan, sebagai upaya untuk menangani permasalahan yang terjadi pada harga daging sapi, pemerintah juga terus berusaha untuk memperbaiki sistem distribusi dan tata niaga yang belum efisien, salah satunya dengan fasilitasi kapal khusus ternak. Selain perbaikan aspek tata niaga, pemerintah juga berusaha untuk meningkatkan populasi dan produktivitas ternak dengan beberapa kegiatan diantaranya yaitu: Gertak Birahi Inseminasi Buatan (GBIB) dan Pengadaan Sapi Indukan, dimana pada tahun 2016 ini pemerintah berencana akan mengimpor 50.000 sapi indukan, serta penyelamatan sapi betina produktif.

Sedangkan peran pemerintah daerah adalah menjaga keseimbangan struktur populasi ternaknya dan menginisiasi pembentukan wilayah sumber bibit pada daerah padat ternak. Diharapkan dengan adanya peningkatan populasi dan produktivitas ternak, secara signifikan dapat memberikan dampak positif untuk peningkatan ketersediaan daging sapi di Indonesia dan tercapainya harga daging sapi yang terjangkau di tingkat konsumen. (wan, Sumber: Humas Ditjen PKH)

Deklarasi SPR di Kabupaten Lombok Timur

Lombok Timur - Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dr. Ir. Muladno, MSA menghadiri acara Deklarasi Sentra Peternakan Rakyat (SPR) Ridho Ilahi di Tanak Mira Daya Desa Wanasaba Lauq Kecamatan Wanasaba Lombok Timur pada Sabtu, 23 April 2016. SPR tersebut merupakan salah satu dari 50 SPR yang ditetapkan sebagai pilot project (atau SPR Perintis) pada tahun 2016.
Dirjen PKH Muladno berfoto bersama 9 SPR yang ditunjuk sebagai
SPR Perintis Rodho Illahi di Kabupaten Lombok Timur 
Dirjen PKH menyambut baik deklarasi SPR Ridho Ilahi di Kabupaten Lombok Timur. Dirjen PKH juga berharap Gugus Perwakilan Pemilik Ternak (GPPT) yang terdiri dari 9 orang yang telah ditunjuk dalam SPR ini dapat memanfaatkan kerjasama dengan Perguruan Tinggi untuk menimba ilmu dalam meningkatkan populasi dan pertambahan bobot badan ternaknya. GPPT juga harus membuat rencana aksi/program kerja kedepannya sebagai syarat mendapatkan bantuan pendanaan dari pemerintah.
“Puji Syukur saya bisa hadir disini membentuk keluarga baru, peternak baru dalam wadah SPR. Syarat SPR harus berjamaah. Semangat kebersamaan mari kita bangun, dan saya berharap jika ada kesempatan datang kembali kesini, untuk mengetahui apakah ada peningkatan jumlah populasi dan peningkatan kesejahteraan,” ungkap Muladno disambut tepuk tangan meriah para peternak yang hadir.
Nusa Tenggara Barat secara umum menjadi harapan keberhasilan pendekatan program SPR secara nasional. Pada tahun 2016, NTB memperoleh 3 SPR sebagai pilot project dengan 2 komoditi ternak sapi potong dan 1 komoditi ternak kerbau. Adapun lokasi SPR tersebut 1 di Kabupaten Dompu dengan Komiditi ternak kerbau, dan untuk komoditi ternak sapi potong di Kabupaten Lombok Timur serta Kabupaten Sumbawa.
Pemerintah saat ini terus berupaya  untuk meningkatkan populasi dan produktivitas ternak dengan beberapa kegiatan diantaranya yaitu : Gertak Birahi Inseminasi Buatan (GBIB), Pengadaan Sapi Indukan, serta penyelamatan sapi betina produktif. Peran pemerintah daerah adalah menjaga keseimbangan struktur populasi ternaknya dan menginisiasi pembentukan wilayah sumber bibit pada daerah padat ternak.
Wakil Bupati Lombok Timur, H. Haerul Warisin pada sambutannya menyampaikan bahwa populasi ternak sapi di Kabupaten Lombok Timur dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan, akan tetapi permasalahan yang dihadapi adalah dalam pertambahan bobot badan dan  perbaikan manajemen. Untuk itu, perlu adanya kandang kolektif sehingga pemberian pakan mudah terkontrol dan dapat dilakukan secara seragam.
“Sapi berkembang terus, permasalahan yang dihadapi adalah bagaimana cara meningkatkan berat badan sapi, tentunya hal ini perlu perbaikan manajemen, sehingga diharapkan sapi eksotik setidaknya dapat meningkat 1,4 kg/hari,” ungkap Haerul Warisin.
Pembangunan  Peternakan dan Kesehatan Hewan di Kabupaten Lombok Timur memiliki populasi sapi potong sebanyak 123.000 ekor pada tahun 2015 dengan tingkat konsumsi daging 7,23 kg/kapita/tahun.
Foto bersama peternak dan keluarganya penerima bimbingan teknis SPR.
Pada tahun 2013, Direktur Kesehatan Hewan telah me-launching program iSIKHNAS yaitu sistem informasi kesehatan hewan yang mutakhir ada saat ini. Pada Mei 2016, juga telah di terapkan inovasi teknologi Embrio Transfer oleh Balai Embrio Transfer Cipelang yang merupakan Unit Pelaksana Teknis dibawah lingkup Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan.
SPR Ridho Ilahi terdiri dari 7 desa dan 22 kelompok peternak. Jumlah keanggotaan SPR Ridho Ilahi sebanyak 752 orang dengan jumlah ternak sebanyak 1830 ekor. Jumlah tersebut melebihi dari syarat berdirinya SPR yaitu 1000 indukan dengan 500 orang peternak.
Diharapkan dengan terbentuknya SPR ini dapat mendukung peningkatan populasi dan produktivitas ternak, dimana usaha peternakan dilakukan secara berjamaah atau bisnis kolektif, serta perbaikan manajemen pemeliharaan. Peningkatan populasi dan produksi tersebut diharapkan secara signifikan dapat memberikan dampak positif dalam peningkatan ketersediaan daging sapi di Indonesia dan tercapainya harga daging sapi yang terjangkau di tingkat konsumen.

(Sumber : Humas Ditjen PKH, Kementan - Ismatullah Salim, S.Pt., Asih Sasomo, S.AP., Yuliana Susanti, S.Pt., M.Si)

Monday, April 18, 2016

Gita Organizer Akan Selenggarakan Workshop Creative Thinking Technique

Di era persaingan global sekarang ini, kreativitas adalah kunci utama keberhasilan. Gagasan kreatiflah yang membuat perusahaan memiliki daya saing dan dapat berkembang begitu cepat. Sebaliknya bisnis yang tidak kreatif akan tertinggal jauh terlindas di era persaingan bebas.

Lahirnya gojek, Grabcar, OLX, Tokopedia, kaskus, berbagai social media adalah buah keberhasilan dari berpikir kreatif.

Para ahli mengatakan, keahlian berfikir adalah dasar dari semua fungsi pekerjaan.  Dan kreativitas adalah soal cara berpikir. Kabar baiknya adalah, semua orang sejatinya bisa kreatif, asal tahu caranya. Begitu Anda bisa berpikir kreatif, akan terbukalah berbagai macam peluang untuk berkembang lebih cepat.


Jadi tidak ada gunanya lagi mengeluh! Jika Anda kreatif, semua masalah ada solusinya.
Petuah pijak mengatakan “ubahlah cara berpikir Anda, maka nasib Anda akan berubah”.
Jadi , mengapa ada orang yang begitu mudah menemukan gagasan untuk memecahkan masalah, sementara orang lain sulit sekali menemukan gagasan? Jawabnya adalah karena tahu cara berpikir kreatif.
Saatnya Sekarang Anda mendaftar workshop Creative Thinking Technique (Cara Mudah Menggali dan Menelurkan Gagasan Brilian ) yang diselenggarakan oleh Gita Organizer, event organizer dari Group Infovet yang telah berpengalaman menyelenggarakan berbagai macam seminar, training tingkat nasional dan internasional, di bidang peternakan maupun lainnya.
Melalui workshop ini Anda bisa memperoleh gagasan lebih cepat, lebih banyak, lebih mudah, tidak peduli umur, tidak peduli skill, dan tidak peduli pekerjaan anda. Diperuntukan untuk semua tingkatan pimpinan juga karyawan.
Garis Besar Program
Teori Befikir
• Konsep berfikir kreatif
• Teknik-teknik berfikir kreatif
• Implementasi berfikir kreatif dalam pekerjaan
• Menciptakan budaya kreatif di kantor
Benefit  untuk Peserta:
• Menguasai prinsip-prinsip kreativitas  untuk meningkatkan produktivitas dan efektivitas kerja.
• Menguasai langkah demi langkah proses kreativitas dan  menggunakannya.
• Mampu menemukan gagasan  baru dengan lebih cepat, lebih mudah, dan lebih banyak.
• Peserta mampu mampu menjadi lokomotif perubahan dengan gagasan-gagasan segar dan  orisinal
• Mampu menjadi bagian dari budaya kreatif di perusahaan.
Waktu dan Tempat
Hari, tanggal     : Rabu, 18 Mei 2016
Pukul                : 08.00-17.00 wib
Tempat             : Menara 165 Jl. TB Simatupang Kav. 1 Cilandak Timur, Jakarta Selatan 12560
Investasi            : Rp. 1.200.000/orang (termasuk lunch, break, dan sertifikat).

Special Price untuk Anda:
Hanya Rp 2.000.000/2 orang ( dari 1 perusahaan yang sama)
Hanya Rp 2.400.000/3 orang (dari 1 perusahaan yang sama)
Workshop Facilitator :
Agus PurwantoIr. Agus E. Purwanto, MM.
Certified Associate  Emergenetics International – Asia, NLP Practicioners bersertifikat.
Facilitator program pelatihan dan praktisi di bidang Sales, Marketing, Product Development, Bisnis Development, UMKM, dan staf pengajar disebuah Perguruan Tinggi di Bogor. Mengikuti banyak program pelatihan di dalam negeri maupun di luar negeri terutama dalam bidang penjualan, kreativitas, dan psikometri.

Informasi dan Pendaftaran

Gita Organizer/ASOHI
Telp (021) 782  9689, 08777 829 6375 (Mariyam)
Fax (021) 782 0408
Email: gallus.marketingeo@gmail.com, gallusindonesiautama@gmail.com
www.gita-asohi.com

Friday, April 15, 2016

Satu Dekade CIVAS di Dunia Veteriner

Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies (CIVAS), kembali menyelenggarakan seminar nasional tahunan dan sekaligus merayakan hari jadi CIVAS yang ke-10, pada 27 Februari 2016, Infovet yang berkesempatan menjadi media partner turut hadir di Gedung Kusnoto, Bogor, Jawa Barat. Kali ini tema yang diangkat adalah “Penguatan Peran Masyarakat dan Swasta Sebagai Mitra Menuju Indonesia Bebas Rabies”.
Drh. Tri Satya Naipospos (tengah) dan pengurus CIVAS lainnya
bersama dua pembicara seminar Drh. I Ketut Diarmita (ketiga kiri)
dan Dr. Luuk Schoonman (kedua kanan).
Mengawali acara seminar, selaku Ketua Badan Pengurus CIVAS, Drh. Tri Satya Naipospos, mengatakan, selama satu dekade CIVAS berdiri, merupakan momentum yang baik karena tidak mudah mencapainya. Menurutnya, CIVAS yang merupakan sebuah organisasi mitra di bidang pengembangan kajian dan studi kesehatan hewan, selalu berkontibusi dalam mengembangkan dan melakukan kajian dan studi di bidang kesehatan hewan, kesehatan masyarakat veteriner, kesejahteraan hewan dan lingkungan.
Selama berdiri dari tahun 2005, dijelaskan olehnya, CIVAS selalu memberikan dukungan dan mendorong tindakan dan pelaksanaan ‘good veterinary govermance’ melalui kemitraan pemerintah dan swasta (KPS), dengan kajian lapang, publikasi, seminar lokakarya, public awareness dan pelatihan. “Kita bangun jaringan dan kemitraan dengan pemerintah lewat jejaring apa saja yang bisa kami dekati. Dan kita banyak menemukan permasalahan-permasalahan yang sangat kompleks baik teknis maupun non-teknis,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, banyak program yang sudah dilakukan CIVAS, diantaranya studi-studi kasus penyakit Avian Influenza (2006-2010) bersama FAO, Colorado State Uni, USDA APHIS dan Wageningen UR, yang dilanjutkan dengan studi mengenai Ecohealth Rabies di Bali (2011-2014) bersama IDRC/ILRI, kemudian studi Resistensi Antimikrobial (2013-2016) bersama IDRC.
Terkait penyakit rabies yang masih marak, ia menyatakan, perlu adanya upaya khusus yang ekstraordinari untuk menanganinya. “Tidak selalu hanya dengan vaksin, perlu ada perhatian khusus seperti sumber daya manusianya, dan bagaimana menggalang banyak dokter hewan untuk ikut serta mengatasi rabies. Harus kita rubah polanya, dengan strategi yang tepat untuk mencapai bebas rabies,” pungkasnya.
Sebagai informasi, pada acara seminar nasional CIVAS turut hadir sebagai pembicara Direktur Kesehtan Hewan Kementerian Pertanian Drh. I Ketut Diarmita, FAO-ECTAD Chief Technical Adviser Dr. Luuk Schoonman, dan Ketua Yayasan Yudistira Swarga Drh. Ni Made Restiati, serta Ketua Badan Pengurus CIVAS Drh. Tri Satya Naipospos. (rbs)

Peternak dan Feedloter Tolak Kebijakan Impor Daging

Populasi sapi di Lampung memang relatif besar. Provinsi paling selatan dari Sumatera ini adalah sentra sapi potong Indonesia di samping Jawa Barat, Jawa Timur dan NTT. Di Lampung, selain peternak lokal juga banyak perusahaan besar sapi potong yang melakukan penggemukan sapi dengan metode feedlot (karena itu perusahaannya biasa disebut feedloter).
Didiek Purwanto, Direktur Feedloter PT KASA
PT Great Giant Livestock Co (GGLC), salah satu feedlot besar di Lampung bisa memelihara sampai 30.000 ekor sapi potong dalam satu periode. Perusahaan lainnya –ada belasan feedloters di Lampung—berkisar antara 2.500  sampai belasan ribu ekor. Antara lain Santori (10.000), Juang Jaya (20.000), Elders Indonesia (8.000), Andini (4.000) Indo Prima Beef (2.500), dan PT KASA (3.000).
Diperkirakan populasi sapi di Lampung tidak kurang dari 400 ribu ekor. Jika dikonversi menjadi daging, bisa menghasilkan sekitar 150 ribu ton daging. Sekitar 25 persen dari kebutuhan daging nasional yang mencapai 675 ribu ton daging sapi per tahun.
Lampung potensial menjadi sentra sapi potong karena berbagai kelebihan. Mulai dari keberadaan lahan yang masih luas, ketersediaan pakan (limbah industri kelapa sawit dan singkong yang banyak di Lampung), hingga lokasi strategis yang relatif dekat dengan Jabodetabek. Seperti diketahui 60 persen konsumsi daging nasional ada di Jabodetabek.
Itulah alasan mengapa banyak feedlot di Lampung. Itu juga alasannya, mengapa banyak warga setempat beternak sapi potong pula. Di pihak lain, para pengusaha di bidang ternak sapi juga tetap memiliki semangat untuk mengembangkan usahanya. Meski para feedloter itu sempat disorot karena dianggap melakukan “penimbunan” sapi serta dibingungkan dengan kebijakan pemerintah soal sapi potong dan juga daging sapi, mereka siap maju terus, dengan segala kendala yang ada. 
“Kalau mau enak ya memang main impor daging. Risiko lebih kecil dan margin bisa lebih besar. Tapi, bagi saya pribadi berat rasanya. Tidak ada nilai tambah. Dengan  feedlot, meski sapinya juga impor tapi kita bisa ikut memberi nilai tambah,” kata Didiek Purwanto, Direktur PT KASA saat ditemui Infovet pertengahan Februari lalu.
Nilai tambah yang dimaksud adalah bisa membuka lapangan pekerjaan di feedlot. Juga menggerakkan usaha lain mulai dari sektor angkutan sapi hidup, usaha penyediaan pakan, hingga ke rumah pemotongan hewan. “Lagi pula, dengan ketersediaan lahan dan pakan berlimpah seperti ini masak kita milih cuma impor daging,” kata Didiek lagi.
Ditempat terpisah Haji Mat Aji perwakilan peternak sapi potong lokal juga ikut gagal paham dengan pilihan kebijakan impor daging yang terus diutamakan. Kebijakan yang malah membuat peternak lokal “menangis” karena daging produksi mereka dikalahkan daging impor.
Kebijakan itu juga memunculkan pertanyaan: daripada impor daging dari Australia, India dan rencananya Meksiko, mengapa negara tidak hadir untuk mendukung para peternak lokal? Daripada mencurigai para feedloter, mengapa negara malah tidak memberi insentif agar mereka meningkatkan kapasitas produksinya?
Semoga, impor daging jadi pilihan yang terakhir. Benar-benar terakhir untuk segera diakhiri. Sehingga tidak lagi menimbulkan kekecewaan dari para pengusaha sapi nasional maupun peternak lokal. (wan)  

Monday, April 11, 2016

Medi Eggducation Tingkatkan Konsumsi Telur Generasi Muda

Medion sangat peduli terhadap pendidikan dan juga kesehatan masyarakat Indonesia. Selain secara rutin mengedukasi peternak, ternyata Medion juga memiliki program edukasi yang bertujuan untuk meningkatkan konsumsi telur di Indonesia. Program tersebut adalah Medi Eggducation atau Kampanye Makan Telur, yang merupakan salah satu bentuk Corporate Social Responsibility (CSR).
Antusias anak-anak SD saat mengikuti Medi Eggducation di SDN Bira 2 Makassar belum lama ini.
Kegiatan yang telah dimulai sejak tahun 2012 lalu ini rutin dilaksanakan setiap minggu di berbagai sekolah dasar (SD) hingga sekarang. “Awalnya Medi Eggducation hanya dilaksanakan di beberapa SD sekitar kantor pusat Medion Bandung, namun sejak tahun 2014 kegiatan ini terus meluas, yakni ke SD yang berada satu kelurahan dengan titik distribusi Medion di berbagai wilayah di Indonesia,” ujar Corporate Communication Associate Director PT Medion, Henry Jahja.
Kegiatan tersebut diawali dengan pembagian telur ayam siap makan kepada seluruh siswa SD, yang dilanjutkan dengan seminar edukasi tentang gizi dan manfaat mengkonsumsi telur kepada siswa kelas 5 SD. Pihak sekolah pun memberikan respon positif dan sangat mendukung program ini, karena memberikan manfaat yang baik untuk para siswa-siswinya.
Oleh karena itu, Medion akan terus melaksanakan program tersebut secara rutin, dengan harapan memberikan gizi dan edukasi yang baik untuk generasi penerus bangsa Indonesia. (med)

Butuh Kekompakan Benahi Perunggasan

Industri perunggasan masih berkelit dengan polemiknya yang tak kunjung habis. Yang saat ini tengah santer terdengar adalah tudingan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), terkait dugaan kartelisasi yang dilakukan oleh beberapa perusahaan unggas besar terintegrasi. Namun, hal itu pun juga masih mengambang dan perlu investigasi mendalam, sehingga dibutuhkan kerjasama yang kompak baik dari pemerintah maupun pihak terkait.
Diskusi menelisik kartel ayam di acara Economic Challenges Metro TVNews, Selasa (15/3). 
Dalam diskusi yang digelar disalah satu stasiun tv swasta, Direktur Direktorat Penindakan KPPU, Gopprera Panggabean, menyebut, dampak dari pemusnahan Parents Stock (PS) menjadi buntut adanya tindakan kartel.
“Setelah pemotongan harga DOC naik menjadi Rp 6.000, peternak sulit mendapatkan DOC, karena DOC dimasukkan ke kandang kemitraan mereka (integrator). Selain itu, integrator mengusulkan aturan setiap peternak yang akan membeli DOC harus membeli pakan,” katanya.
Ia menambahkan, terkait dugaan kartel yang dituduhkan, bahwa setiap pelaku usaha dilarang membuat perjanjian mengatur produksi atau mengatur harga. “Perusahaan tidak boleh menyepakati pengaturan produksi dan harga,” tambahnya.
Ia pun mengusulkan perlu adanya audit pasokan unggas dan penetapan harga acuan tertinggi dan terendah untuk ayam hidup, agar peternak bisa menikmati harga di atas harga pokok produksi. Selain itu, pengembangan e-commerce yang dianggapnya penting agar jalur distribusi menjadi pendek, sehingga harga antara peternak dan pedagang tidak terlalu jauh
Namun menurut Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Prof. Muladno Basar, karut-marutnya industri perunggasan ini bukan disebabkan oleh adanya kartel. Melainkan, ketidaksempurnaan undang-undang dan pengelolaannya yang amburadul.
“Perunggasan ini ibaratnya kayak jalan tol, semuanya lewat situ, ada mobil, pesawat, sampai sepeda ontel. Karena semuanya banyak yang menjual hasil produksinya ke pasar becek (tradisional),” ucap Dirjen PKH.
Untuk itu, ia menyebut, kondisi ini bisa diperbaiki secara bahu-membahu. Salah satunya dengan mengamandemen UU No. 18 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. “Undang-undang bisa dievaluasi, untuk kekompakan bersama, seperti segmentasi budidaya untuk pasar tradisional dan ekspor,” imbuhnya.
Hal itu juga dibenarkan oleh Sekretaris Perhimpunan Peternak Unggas Indonesia (PPUI), Aswin Pulungan, yang menyatakan akar permasalah yang terjadi adalah berawal dari undang-undangnya sendiri. “UU No. 18 tahun 2009 inilah biang keroknya. Karena disitu pada pasal dua disebut kata integrasi dan penghapusan segmentasi pasar seperti yang diatur di pasal sebelumnya. Sehingga pelaku usaha banyak yang tabrak-tabrakan,” jelas Aswin.
Sementara, senada pula dengan Dirjen PKH, Ketua Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU), Krissantono, kisruh yang terjadi bukanlah merupakan kartel. Sebab ia mengatakan, para perusaaahan yang melakukan pemotongan bukan untuk mencari keuntungan. “Ini kan pemotongan ayam bibit kita rugi sekitar 300 miliar. Cutting itu baik karena ingin menyelamatkan peternak rakyat. Ini kita nggak kompak aja disebut kartel, apalagi kompak,” katanya.
Ia pun bertanya-tanya akan dibawa kemana industri perunggasan ini ke depannya. “Ke depan mau seperti apa, apakah masih perlu adanya integrasi atau hanya peternak mandiri saja, atau bagaimana,” tanyanya. “Saya rasa ini bisa diatasi, asal kita semua mau duduk bareng seperti Kementan, Kemendag, Kemenperin, peternak sendiri, Polri sampai KPPU, untuk ikut menyelesaikan permasalahan yang terjadi,” (rbs)

Tuesday, April 5, 2016

Kyrgyztan Siap Impor 10.000 Dosis Semen Beku dari Indonesia

Tindak lanjut dari Pertemuan Pejabat Tinggi (High Level Meeting) antara Pemerintah Republik Kyrgyztan dengan Pemerintah Indonesia yang berlangsung pada hari Senin, 28 Maret 2016, selanjutnya diselenggarakan Wrapping Up Meeting di Malang pada hari Kamis, 1 April 2016. 
Penandatangan kesepakatan antara Pemerintah Indonesia dan Kyrgyztan
dalam pengadaan semen beku dari Indonesia sebanyak 10.000 dosis.
Delegasi dari Indonesia dipimpin oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dr. Ir. Muladno, MSA, sedangkan Delegasi  Kyrgyztan dipimpin oleh Wakil Menteri Pertanian Republik Kyrgyztan, Mr. Janybek Kerimaliev, DVM. Delegasi Kyrgyztan lain yang hadir pada pertemuan tersebut yaitu Mr. Chorthonbaev Vice Rector Kyrgyz National Agrarial Universitydan dan Mr. Marsbek Uulu Agriculture Expert at Prime Minister Office.
Wrapping Up Meeting merupakan kesepakatan bersama antara kedua belah pihak berdasarkan hasil kunjungan perwakilan Kyrgyztan selama sepekan di Indonesia. Pertemuan ini sebagai salah satu rangkaian kegiatan Islamic Development Bank (IDB) Reverse Linkage Project between Republic of Indonesia and Republic of Kyrgyz on the Strenghthening of Artificial Insemination. 
Pada pertemuan ini telah ditandatangani Record of Discussion (RoD) oleh kedua belah pihak. Kyrgyztan ditargetkan melakukan pengadaan semen beku dari Indonesia sebanyak 10.000 dosis. RoD dimaksud juga menegaskan kembali komitmen antara Pemerintah Kyrgyztan dan Pemerintah Indonesia di bidang penguatan Inseminasi Buatan dan mengintensifkan upaya agar kerjasama tersebut berjalan sukses. Delegasi Kyrgyztan akan mendorong Pemerintah Kyrgyztan mewujudkan komitmen mereka dalam menyediakan pembagian biaya untuk Reverse Linkage Project. Diharapkan komitmen Kyrgyztan untuk pembiayaan sebesar 132.000 USD akan terwujud pada bulan Juli 2016. 
Sebelumnya telah dilaksanakan pelatihan di Bidang Inseminasi Buatan dengan peserta dari Kyrgyztan pada tanggal 5 – 18 Oktober 2015 dan 17 Januari – 6 Februari 2016” sebagai tindak lanjut dari penandatanganan MoU antara Kementerian Pertanian Kyrgyztan dengan Balai Inseminasi Buatan Sigosari (BBIB) yang merupakan turunan dari MoU antara Kementerian PPN/Bappenas dan Presiden IDB. Reverse Linkage sendiri merupakan konsep yang diperkenalkan IDB dimana bertujuan memaksimalkan manfaat bersama dalam melakukan Kerjasama Selatan-Selatan dan Triangular (KSST).
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Muladno menyambut baik kerjasama dimaksud dan mengapresiasi keinginan Kyrgyztan melakukan pengadaan importasi semen beku. Untuk mensupport kegiatan ini, Indonesia akan mengirimkan dua orang tenaga ahlinya dari BBIB Singosari untuk melakukan pendampingan selama dua bulan di Kyrgyztan. “Kita akan kirimkan tenaga ahli terbaik kita untuk melakukan pendampingan di bidang inseminasi buatan langsung di Kyrgyztan nya,” ungkap Muladno.
Sementara itu, Wakil Menteri Pertanian Kyrgyztan, Janybek Kerimaliev mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas pendampingan yang dilakukan oleh pihak Indonesia. Hal ini makin mempererat hubungan kerjasama antara Indonesia dengan Kyrgyztan. “Saya berterimakasih, kerjasama ini bisa makin merekatkan persaudaraan antara Kyrgyztan dan Indonesia,” ungkapnya.
Hadir pada Wrapping Up Meeting BBIB Singosari, Direktur Kerjasama Universitas Brawijaya, perwakilan dari Kemenlu dan Biro Kerjasama Luar Negeri Kementan. (wan, sumber: Humas Ditjennak) 

Pencarian Penerima Indo Livestock Award 2016 Dimulai

Setiap penyelenggaraan pameran industri peternakan terbesar di Indonesia yang bertajuk Indo Livestock Expo and Forum yang sudah belangsung sejak 2002, penganugerahan Indo Livestock Award selalu diselenggarakan dalam pameran tersebut. Secara langsung maupun tidak langsung, acara tersebut memberikan nilai tambah bagi kesuksesan pameran tersebut.
Foto bersama Panitia Indo Livestock Award dengan perwakilan PT Napindo Media Ashatama. 
Setiap dua tahun sekali pada pameran tersebut diberikan penganugerahan Indolivestock Award. Pemberian Award tersebut diberikan kepada perorangan/tokoh, pelaku usaha/organisasi yang telah nyata ikut mengembangkan dunia peternakan Indonesia. Award tersebut diberikan sebagai apresiasi terhadap pelaku usaha di bidang peternakan. 
Kali ini Yayasan Pengembangan Peternakan Indonesia (YAPPI) yang dahulu bernama Komunitas Pengembang Usaha Peternakan Indonesia (KPUPI) sebagai penyelengaara  Award dan PT. Napindo Media Ashatama sebagai fasilitator meminta kepada masyarakat untuk memberikan dan mengajukan siapa orang atau organisasi yang pantas menjadi bakal calon penerima Indolivestock Award X 2016 yang akan diberikan pada acara Indolivestock Expo & Forum IX, tanggal 27 Juli 2016 di Jakarta Convention Center.
Menurut Dr. drh. Desianto B. Utomo, M.Sc, Ketua Tim Penilai Indolivestock Award 2016 tema Award kali ini adalah Peningkatan Daya Saing di Era MEA dan batas penyerahan nama bakal penerima award untuk umum atau perorangan paling lambat akhir bulan April 2016, sedangkan untuk kategori khusus atau organisasi paling lambat tanggal 27 Mei 2016.
Empat kategori award yang diberikan yaitu Kategori Budidaya dan Inovasi Produk, Kategori Kelembagaan dan Pengembangan SDM, Kategori Rekayasa Input, dan Kategori Khusus. Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Muladno, dalam sambutannya yang dibacakan Desianto B. Utomo mengatakan menyambut baik pemberian award tersebut.
Pada acara seminar saat Indolivestok 2015 di Surabaya tentang revitalisasi asosiasi peternakan, Muladno mengatakan asosiasi yang diakui pemerintah adalah yang sudah berbadan hukum dan terdaftar di Kemenhumkam.
Seperti YAPPI yang sudah legal dan berbadan hukum, Muladno berharap organisasi ini dapat lebih berperan dalam pengembangan peternakan, tentang penilaian dan standarisasi, apalagi pengurus YAPPI sudah mendapatkan sertifikasi ISO 9001-2008 dan sudah mengikuti team internal editor.

Jika pembaca berminat mendaftar atau mempunyai kandidat sebagai bakal calon penerima Award salah satu kategori, silahkan menghubungi Panitia Sdr. Winarno 081310369438 atau email ke teamyappi@gmail.com untuk mendapatkan formulir pendaftaran. (wan) 

The 10th Agrinex Expo: Menyongsong Agribisnis Berkeadilan, Berdaulat dan Berkelanjutan

Sepuluh tahun sudah pameran industri agribisnis atau yang akrab disebut Agrinex Expo diselenggarakan pada 1-3 April 2016, di Jakarta Convention Center (JCC). Kali ini acara yang sukses berjalan dari tahun ke tahun ini mengambil tema “Agribisnis, Berkeadilan, Berdaulat dan Berkelanjutan.
Pembukaan resmi pameran Agrinex Expo ke- 10 dengan penekanan sirene bersama.
Seperti diungkapkan oleh Ketua Panitia Penyelenggara, Rifda Ammarina, tema acara kali ini bertujuan mewujudkan agribisnis yang berkeadilan dalam arti petani bebas memilih tanaman apa yang mereka inginkan, karena informasi potensi keuntungan dan pasar yang lebih baik, kemudian adanya kemudahan akses kepada benih, pupuk, air, pembiayaan, infrastruktur dan pasar.
Lalu berdaulat pangan, menurutnya, sebagai bangsa seyogianya tidak bergantung pada impor pangan, terutama di saat iklim ekstrim bahkan peperangan sekalipun. Sedangkan berkelanjutan, lanjut dia, merupakan harapan implementasi program yang tuntas walaupun terjadi pergantian kepemimpinan, sehingga pelaku usaha terutama petani tidak di rugikan dan hasil yang diharapkan bisa terwujudkan.
Kendati begitu, sejauh ini kebutuhan produksi pangan dalam negeri masih menemui kendala, salah satunya adalah minimnya ketersediaan lahan, seperti yang dikatakan oleh Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR), Ferry Mursyidan Baldan.”Saat ini masalah utama dalam industri agribisnis adalah lahan. Kalau agribisnis tidak memiliki lahan bagaimana mereka bisa hidup,” kata Ferry saat memberi pembukaan acara 10th Agrinex Expo, Jumat (1/4).
Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR), Ferry Mursyidan Baldan (tengah)
saat mengunjungi stand pameran buah-buahan, di Agrinex Expo ke-10.
Ia menyebut, pihaknya sendiri terus berupaya meningkatkan akses sektor pertanian terhadap lahan. “Tanah ini kita berikan sertifikat untuk memastikan kepemilikannya. Sertifikat ini bisa diagunkan ke bank untuk tambahan modal. Sehingga petani punya modal yang cukup,” ujarnya.
Untuk itulah lahan agribisnis masih perlu diperhatikan, karena saat ini masih banyak lahan yang belum dimanfaatkan dengan baik. Sebab lahan merupakan jantung penopang hidup agribisnis. “Saya ingin membuka akses terhadap kebutuhan lahan, karena kan dalam pengembangan produk itu pertanian, lahan menjadi tempat kesejahteraan. Banyak negara bisa menggunakan tanah negara,” tukasnya.
Dengan begitu, diharapakan dari suksesnya pameran ini bisa menjadi rekomendasi pemerintah dalam membuat kebijakan guna meningkatkan produksi pangan dalam negeri, sehingga tercapai kedaulatan pangan nasional.
Sebagai informasi, Agrinex Expo yang diselenggarakan selama tiga hari ini banyak menampilkan beragam produk agribisnis mulai dari yang kecil hingga yang besar, turut pula diselenggarakan kegiatan cooking class (demo memasak), yang memberi pemahaman mengenai makanan yang mudah diolah serta menyehatkan untuk dikonsumsi, kemudian juga menggelar seminar-seminar seputar agribisnis terkini di Indonesia. (rbs)

Saturday, April 2, 2016

Terampil Mengoperasikan “Broiler Closed House”

Menghadapi era globalisasi dan MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) 2016, bisnis ayam pedaging (broiler) dituntut untuk mampu bersaing dalam kualitas produk dan efesiensi biaya operasional. Ayam pedaging adalah hasil rekayasa genetik yang memerlukan pakan, obat-obatan, vaksinasi dan lingkungan yang mendukung untuk mencapai produksi daging ayam maksimal. Salah satu untuk mencapai lingkungan yang nyaman, udara yang sehat dan kondisi minim stress, antara lain dengan menggunakan kandang tertutup (Closed House).
Awal mulanya sistem Closed House diterapkan di daerah sub-tropis yang memiliki empat musim, namun dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa, di daerah tropis yang memiliki dua musim seperti Indonesia juga memberi pengaruh yang efektif dalam mengatur kondisi lingkungan yang dibutuhkan ayam. Adapun tipe ventilasi yang pas untuk iklim tropis adalah ‘Sistem Tunnel’.
Pada Sistem Tunnel dibuat dengan tujuan agar keadaan lingkungan luar seperti udara panas, hujan, angin dan intensitas cahaya matahari tidak berpengaruh banyak terhadap keadaan di dalam kandang. Sebagian besar kandang dibuat tertutup dengan tembok, seng atau layar, kecuali bagian ujung kandang untuk udara masuk (inlet) dan bagian ujung kandang lainnya untuk tempat kipas/exhaust fan (outlet), sehingga kondisi udara dalam kandang tergantung pada kondisi udara lingkungan.
Sistem Tunnel lebih cocok untuk kandang di dataran tinggi (pegunungan) karena udaranya relatif bersih dan sejuk, sedangkan untuk kandang di dataran rendah (pantai) sebaiknya dipakai ‘Sistem Colling Pad’, di mana udara yang masuk dalam kandang disedot oleh kipas melalui bantalan (pad) khusus yang dialiri air hingga suhu dan kelembaban udara yang masuk disesuaikan dengan kebutuhan ayam.
Beberapa keuntungan menggunakan kandang Closed House antara lain, 1) Meningkatkan kepadatan ayam tanpa mendirikan bangunan baru. 2) Ayam lebih tenang, segar dan nyaman. 3) Udara yang tersedia lebih baik. 4) Meningkatkan produktivitas dan pertumbuhan ayam. 5) Mengurangi jumlah tenaga kerja (man power). 6) Suhu lebih dingin. 7) Ayam tidak terpengaruh oleh perubahan cuaca lingkungan.
Meskipun Closed House identik dengan “Rumah Idaman Ayam”, namun tidak ada jaminan bagi ayam yang dipelihara memiliki tingkat kematian (mortalitas) yang rendah. Bahkan, pernah muncul di farm tertentu fenomena “mati massal” pada DOC (anak ayam) di dalam Closed House. Selain disebabkan penyakit, fenomena mati massal tersebut dipicu oleh, sistem bangunan kandang yang tidak ideal,  pengoperasian kandang tertutup yang salah, dan manajemen yang menyimpang.
Untuk mengatasi mati massal, dibutuhkan manajemen penanganan (handling) DOC secara ketat yang berbeda dengan manajemen kandang terbuka (Open House). Manajemen DOC pada Closed House yang perlu diperhatikan, antara lain pertama, untuk hari awal pada brooder (indukan pemanas) paling depan sebaiknya dipasang tirai untuk menahan (blocking) angin langsung yang mengenai DOC yang berfungsi juga sebagai pengefektifan indukan. Kedua, pemasangan brooder dimodifikasi sehingga membentuk brooder memanjang kiri dan kanan, bagian tengah untuk jalan operasional di samping bahan brooder juga harus dapat dialiri angin. Ketiga, Posisi indukan/brooder harus tepat dipasang searah yaitu mengarah ke Exhaust Fan belakang (posisi ini terbalik dari pada kandang terbuka). Dan keempat, jangan menggunakan box DOC sebagai tempat pakan karena akan menstimulasi pertumbuhan jamur.
Luas kandang dan bobot badan broiler sangat berpengaruh pada sirkulasi/peredaran udara di dalam kandang. Jika bobot badan terlalu besar, maka akan timbul panas berlebih yang bersumber dari tubuh ayam broiler sendiri. Berdasarkan teori, Closed House yang masih memakai tempat pakan (feeder) dan tempat minum (drinker) manual, memiliki kepadatan 20 ekor/m2, sedangkan bila menggunakan tempat pakan dan minum otomatik kepadatannya mampu mencapai 24 ekor/m2.
Walaupun masih menggunakan tempat pakan dan minum manual, tingkat kepadatan (density) populasi Closed House sudah hampir dua kali lipat bila dibandingkan Open House yang hanya 12 ekor/m2. Oleh karena itu, penggunaan lahan Closed House lebih hemat 30% dibanding lahan Open House, dan keunggulan lainnya yaitu Closed House dapat dibuat dua tingkat atau berdempetan.
Untuk mencegah terjadinya kelebihan panas (Over Heating) di dalam Closed House Tipe Tunnel, maka perlu memperhatikan standar kebutuhan kipas. Misalkan, Closed House memiliki panjang 52 m, lebar 8 m dan tinggi 2,2 m, kepadatan 12 ekor/m2 dan standar 1 kg bobot badan = 4 CFM. Maka volume udara Closed House = 52 x 8 x 2,2 x 12 x 4 CFM = 43.929,6 CFM. Kipas 36 inch yang dibutuhkan = 43.929,6 : 9.000 (untuk 36 inch) = 4,881 dibulatkan 5 kipas (36 inch).
Kebutuhan kipas akan berubah sejalan dengan volume Closed House dan tatalaksana program kipas. Bila Closed House memiliki enam buah kipas berukuran 48 inch berdaya 1-1,5 PK, tatalaksana penggunaan kipas diatur tujuh hari pertama dinyalakan satu kipas saja, hari ke 7-14 kipas kedua dan ketiga mulai dinyalakan, hari ke 15-21 kipas keempat dan kelima dinyalakan dan selanjutnya semua kipas dihidupkan. Keenam kipas itu, tiga buah adalah kipas otomatis dan tiga buah yang lain kipas direct. Kipas otomatis baru diaktifkan ketika suhu dalam kandang naik, sedang kipas direct diprogram selalu menyala. Untuk mengatur semua mekanik dan elektronik disentralisasikan di ‘Control Panel’ yang merupakan “otak” karena mengatur pemrograman aktivitas kipas, colling pad, batas suhu mulai ayam kepanasan dan batas maksimal penyimpangan suhu. Oleh karena itu, supervisi/anak kandang perlu memiliki keterampilan mengoperasilan Control Panel dengan cara Learning by Doing (Belajar sambil bekerja). Personil kandang perlu memiliki disiplin yang tinggi dan mampu menghadapi teknologi tinggi perunggasan, oleh karena recruitmet harus selektif dan ketat dengan training/pelatihan secara berlanjut.
Kecepatan aliran udara perlu diukur, di mana makin tinggi kecepatan aliran udara, maka semakin besar efek penurunan suhu yang dirasakan tubuh ayam. Batas maksimal kecepatan angin adalah 2,5 m/detik. Dampak kecepatan angin yang tinggi adalah menerbangkan debu-debu litter (alas kandang) yang memicu gangguan pernafasan karena udara kotor yang berasal dari debu-debu itu.
Hal lain yang perlu diperhatikan pada Closed House ialah sebaran ayam (bird migration). Bila ayam merata menempati segala penjuru kandang, berarti bahwa setiap tempat dalam kandang adalah tempat yang nyaman bagi ayam. Selain itu, pada kandang Closed House dibutukan penerangan yang memadai, misalnya kandang Closed House memiliki luas 1.150 m2 (115 x 10 m), maka perlu dipasang lampu pijar lima watt berjarak tiga meter antar lampu. Kesediaan listrik yang baik sangat vital pada Closed House, karena bila aliran listrik mati bisa mengancam kelangsungan hidup ayam yang dipelihara.
Sebagai contoh untuk kandang Closed House berkapasitas 43.000 ekor, minimal perlu tersedia listrik 41 KW dengan saluran tiga phase. Untuk mendukung aliran listrik tersebut tetap lancar, harus tersedia cadangan genset berdaya 50 KW. Berarti untuk tiap 10.000 ayam pedaging yang dipelihara dibutuhkan 10.000 watt, yang dibantu genset berdaya 15 KW.
Penggunaan Closed House dalam bisnis ayam pedaging memang tampaknya mahal pada awal pembangunan kandang dan pembelian peralatan, tetapi bila telah beroperasi dengan kapasitas populasi yang berpuluh ribu atau berjuta ekor ayam, maka jatuhnya biaya produksi menjadi lebih murah dan kualitas ayam lebih unggul, apalagi bila usaha bersifat terpadu (Integrated Company), di mana bibit, pakan, obat-obatan dan vaksin diproduksi sendiri serta pemotongan dan pemasaran dilakukan sendiri.
Selamat menggunakan kandang Closed House untuk bersaing dengan negara tetangga dalam bisnis ayam pedaging !!
                                               Oleh : Sjamsirul Alam 
Praktisi perunggasan alumni Fapet Univ. Padjajaran 

NUTRIGENOMIK, Jembatan Antara Ilmu Nutrisi dan Genetik

Beberapa penelitian di bidang nutrisi ternak banyak mengeksplorasi terkait defisiensi ataupun kelebihan dari beberapa komponen nutrisi yang dapat menyebabkan penyakit pada ternak, yang selanjutnya berpengaruh terhadap menurunnya produktivitas ternak. Akan tetapi terobosan di bidang genomik mendorong perkembangan beberapa teknologi yang dapat diaplikasikan di bidang nutrisi.
Beberapa teknik baru itu seperti genomik, proteomik, metabolik dan bioinformatik menjadi solusi untuk menjembatani gap antara nutrisi dan genetik. Telah banyak diketahui bahwa kekurangan pakan, ketidakseimbangan nutrisi dan atau kelebihan pakan memiliki efek yang mendalam, yang dapat menyebabkan memburuknya kesehatan dan performa. Hal ini menunjukkan bahwa, komponen nutrisi dalam pakan mempunyai efek langsung pada proses molekuler yang pada akhirnya dapat merubah ekspresi gen.
Kemajuan dalam ilmu nutrisi menemukan bahwa nutrisi atau metabolitnya dapat mengatur berbagai fungsi tubuh secara langsung atau dengan merangsang atau menonaktifkan regulator tertentu. Oleh karena itu, untuk mempelajari hubungan gen nutrisi atau interaksi antara genomik dan nutrisi, nutrigenomik telah diperkenalkan dalam penelitian bidang nutrisi.

Konsep Nutrigenomik
Nutrigenomik merupakan suatu studi ilmiah yang mempelajari mengenai dinamika, regulasi dan cara dari suatu gen spesifik berinteraksi dengan suatu senyawa atau bioaktif pada suatu makanan tertentu. Menurut Hippocrates, makanan  akan diubah menjadi informasi genetik yang di ekpresikan sehingga memberikan profil metabolisme yang berbeda yang akan berdampak pada pola makan dan kesehatan.
Nutrigenomik adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara faktor genetik dengan nutrisi yang memiliki komposisi spesifik dan yang mampu menginduksi ekspresi gen dalam tubuh. Nutrigenomik merupakan aplikasi genomik dalam pengembangan teknologi baru, seperti transkriptomik, proteomik, metabolomik, dan epigenomik berbasis pada analisis fungsi gen dan ekspresinya.
Nutrigenomik adalah ilmu yang mempelajari hubungan molekuler antara stimulasi nutrisi dan respon dari gen, sehingga akan dapat dipahami tentang bagaimana nutrisi mempengaruhi jalur metabolisme/metabolic pathways dan kontrol homeostasis, bagaimana regulasi ini terganggu pada fase awal dari penyakit yang berhubungan dengan pakan, dan sejauhmana kepekaan genotipe berkontribusi terhadap penyakit tersebut pada individu.
Dilihat dari perspektif nutrigenomik, nutrien merupakan sinyal dari pakan, yang terdekteksi oleh sistem sensor sel, yang mempengaruhi ekspresi gen dan protein, serta produksi metabolit. Meskipun hanya sedikit, penelitian pada interaksi molekuler dari bahan pakan mengindikasikan bahwa ekspresi gen dimodifikasi dari komponen pakan, termasuk di dalamnya makrokomponen (karbohidrat, protein, lemak dan kolesterol), vitamin (diantaranya A, B, E, D), mineral (diantaranya Fe, Se, Ca) dan phytocompounds termasuk flavonoids, isothiocyanates dan indoles.
Ilmu yang mempelajari bagaimana gen dan produk gen berinteraksi dengan komponen kimiawi pakan untuk mengubah fenotip, dan sebaliknya, bagaimana gen dan produk metabolisme nutrisi disebut nutritional genomics atau nutrigenomics. Dilihat dari perspektif nutrigenomik, nutrien merupakan sinyal dari pakan, yang terdekteksi oleh sistem sensor sel, yang mempengaruhi ekspresi gen dan protein, serta produksi metabolit. Tahapan yang krusial dari nutrigenomik adalah transcriptomics, proteomics dan metabolomics.

Interaksi antara Nutrisi dan Gen
Pakan telah lama dianggap sebagai suatu campuran komplek dari substansi alami yang menyediakan energi dan building block untuk perkembangan dan penopang suatu organisme. Disamping hal itu, nutrisi memiliki berbagai aktivitas biologis. Beberapa nutrien ditemukan bertindak sebagai penangkal radikal yang dikenal sebagai antioksidan dan beberapa lainnya terlibat dalam perlindungan terhadap penyakit.
Beberapa nutrien lainnya telah terbukti menjadi molekul pemberi isyarat yang kuat dan bertindak sebagai hormon nutrisi. Beberapa metabolit sekunder dari tanaman yang dikenal sebagai phytochemical bertindak sebagai modulator kesehatan dan produksi pada hewan. Banyak penyakit dan gangguan terkait dengan nutrisi suboptimal dari nutrisi yang esensial, ketidakseimbangan macronutrients, atau konsentrasi toksik senyawa makanan tertentu.
Ada penyakit multietiological yang disebabkan interaksi nutrisi yang berbeda terhadap beberapa gen (Mariman, 2006). Hal ini berdasarkan keragaman luar biasa pada makhluk hidup dalam pencernaan makanan, penyerapan nutrisi, metabolisme, dan ekskresi telah diamati dan penyakit genetik dalam proses ini telah dilaporkan. Integritas fungsional dari gen terutama tergantung pada sinyal metabolik yang diterima nukleus dari faktor internal, misalnya hormon, dan faktor-faktor eksternal, misalnya nutrisi, dimana nutrisi merupakan salah satu yang paling berpengaruh dari rangsangan lingkungan.
Genom berevolusi dalam menanggapi berbagai jenis rangsangan lingkungan, termasuk gizi. Oleh karena itu, ekspresi informasi genetik dapat diatur lebih tinggi oleh, nutrisi, mikronutrien, dan phytochemical yang ditemukan dalam makanan. Nutrigenomic yang mempelajari pengaruh nutrien pada kesehatan melalui perubahan di tingkat genom (gen), transkriptom (mRNA), proteom (protein), metabolom (metabolit) serta perubahannya di tingkat fisiologis.

Aplikasi Nutrigenomik pada Kesehatan dan Nutrisi Ternak
Efek dari variasi genetik ini dipengaruhi oleh lokasi gen tersebut dan ekspresi protein dari gen tersebut dan berefek terhadap proses matobolisme gen-gen terkait (genes cascade). Perubahan dalam gen juga memberikan dampak yang berbeda terhadap populasi (ras) yang berbeda. Susunan DNA tertentu juga memiliki ketahanan terhadap penyakit tertentu.
Oleh karena itu, perkembangan ilmu nutrigenomik merupakan momen yang krusial untuk merevolusi pemahaman manusia terhadap apa yang dimakannya. Beberapa komponen nutrisi essensial juga dapat mempengaruhi perubahan aktivitas gen dan kesehatan, seperti karbohidrat, asam amino, asam lemak, kalsium, zinc, selenium, folate dan Vitamin A, C & E, dan juga komponen bioaktif non-essesial mempengaruhi secara signifikan terhadap kesehatan.
Sampai saat ini, hampir 1000 gen penyakit manusia sudah teridentifikasi, 97% diantaranya diketahui sebagai penyebab penyakit monogenik (artinya mutasi di satu gen saja sudah cukup untuk menjelaskan penyebab penyakit). Pada beberapa penyakit monogenik, modifikasi asupan makanan dapat mencegah munculnya gejala klinis. Nutritional genomic menjanjikan terciptanya sejumlah rekomendasi diet sebagai hasil penelitian yang mendalam tentang interaksi nutrien-gen. Rekomendasi diet yang diharapkan adalah yang sesuai dengan pola variasi genetik individual (nutrisi individual= personalized nutrition) sehingga dapat diterapkan sebagai nutrisi pencegahan terhadap timbulnya penyakit kronik.
Penemuan mutakhir menyatakan bahwa efek sehat dari komponen makanan sebagian besar berhubungan dengan interaksi spesifik pada tingkat molekular yaitu partisipasi komponen diet dalam pengaturan ekspresi gen dengan mengubah aktifitas faktor transkripsi, atau melalui sekresi hormon yang mengganggu faktor transkripsi (Gambar 1).

Gambar 1: Skema interaksi nutrien-gen. (Dikutip dari Gillies PJ, J Am Diet Assoc 2003;103:S52)
Nutrisi tidak hanya bertindak sebagai substrat untuk metabolisme tetapi dapat juga mempengaruhi proses yang berlangsung secara bersinambungan dari (Dikutip dari Go et al J. Nutr. 135: 3016S–3020S, 2005)6 genom ke transkriptom ke proteom (genotip) ke fenotip (Dikutip dari Go dkk J. Nutr. 135: 3016S–3020S, 2005)6
Nutrigenomics adalah analisis prospektif untuk mengetahui peranan berbagai zat gizi dalam mengatur ekspresi gen. Berbagai teknologi genomik canggih antara lain DNA microarray, RT- PCR (Real Time-Polymerase Chain Reaction), dan lain-lain diterapkan untuk menelitii efek zat gizi pada tingkat genom, transkriptom, proteom dan metabolom (Gambar 2).
Gambar 2: Teknologi yang digunakan pada genomik, transkriptomik, proteomik dan metabolomik
untuk mempelajari respons selular terhadap perubahan lingkungan nutrisional.
Nutrigenomics sebagai ilmu pengetahuan temuan, bertujuan memahami pengaruh nutrisi terhadap jaras metabolisme, pengendalian homeostasis serta bagaimana pengaturan ini terganggu pada penyakit yang berkaitan dengan diet.
Studi ekspresi gen dapat digunakan untuk identifikasi jalur/pathway dan kandidat gen yang berpengaruh terhadap sifat ekonomis. Nutrisi dan genetik sangat mempengaruhi performa reproduksi hewan perah. Hal ini sangat penting selama masa transisi dan menyusui dini, ketika hewan tersebut sangat sensitif terhadap ketidakseimbangan gizi.
Nutrigenomik dapat digunakan untuk memahami bagaimana managemen nutrisi dapat diterapkan untuk mengatasi penyakit, performa dan produktivitas pada ternak. Dalam perjalannya pada penelitian nutrigenomik pada ternak ruminansia, tujuan nutrigenomik adalah untuk mempelajari pengaruh pakan pada perubahan ekspresi gen atau proses regulasi yang mungkin terkait dengan berbagai proses biologi yang berkaitan dengan kesehatan hewan dan produksi.
Dalam studi pada sapi pejantan yang mendapat nutrisi terbatas karena asupan pakan yang buruk, hal ini berefek pada ekspresi gen tertentu yang berhubungan dengan turnover protein, cytoskeletal remodeling dan metabolic homeostasis (Byrne, et.al., 2005).
Ada beragam informasi tentang pengaruh pakan pada ekspresi gen yang terkait dengan sifat produktif atau reproduksi ternak. Sebuah penelitian menyatakan bahwa kekurangan selenium dalam ransum pakan akan mengubah sintesis protein pada level transcriptional (Rao, et.al, 2001). Hal ini menyebabkan efek samping seperti efek peningkatan dari stres melalui peningkatan regulasi ekspresi gen spesifik dan signal pathway.
Di sisi lain, gen yang bertanggung jawab untuk mekanisme detoksifikasi dan perlindungan dari kerusakan oksidatif terhambat, konsekuensi ini akhirnya mengarah pada perubahan ekspresi fenotipik gejala terkait defisiensi selenium.

Dari contoh di atas terlihat bahwa, mungkin nutrigenomik dapat digunakan untuk mengidentifikasi penanda khusus untuk memanipulasi ekspresi gen melalui penggunaan nutrisi atau kombinasi keduanya, sehingga dapat meningkatkan kinerja hewan produktif serta keseluruhan. Penemuan penanda gen yang berkaitan dengan sifat-sifat ekonomis penting pada ternak seperti susu, daging, produksi wol dll. Ekspresinya dapat ditingkatkan dengan pengaturan pakan merupakan kajian penelitian nutrigenomik yang akan membantu untuk meningkatkan produksi ternak yang berkelanjutan.

Oleh: Ayu Septi Anggraeni
Penulis adalah Kandidat Peneliti Bidang Bioteknologi Peternakan dan Ilmu Ternak, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template