-->

SEKTOR UNGGAS BOTSWANA TUMBUH, NAMUN TANTANGAN PERSAINGAN MASIH ADA

Industri unggas Botswana telah menunjukkan kemajuan pesat menuju swasembada dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini didukung oleh investasi pemerintah dan peningkatan produksi lokal. Namun, studi pasar regional yang dilakukan oleh Botswana Competition and Consumer Authority (CCA) menunjukkan bahwa tingginya biaya produksi, terbatasnya persaingan, dan mahalnya harga pakan terus memengaruhi daya saing jangka panjang sektor ini.

Awal tahun ini, Botswana mengumumkan pencapaian swasembada daging ayam dan telur konsumsi. Nilai subsektor unggas meningkat dari P1,7 miliar (US$124 juta) pada tahun 2022 menjadi P3,5 miliar (US$256 juta) pada tahun 2025. Pemerintah telah menetapkan industri unggas sebagai sektor strategis untuk meningkatkan ketahanan pangan, menciptakan lapangan kerja, dan mengurangi ketergantungan pada impor.

Untuk melanjutkan kemajuan ini, Citizen Entrepreneurial Development Agency (CEDA) meluncurkan program Poultry Financial Suite yang telah diperbarui pada bulan Mei. Program ini diharapkan dapat mendukung 269 peternak unggas, mendirikan 3 tempat penetasan yang mampu memproduksi lebih dari 18 juta anak DOC per tahun, memperkuat produksi pakan lokal, serta menginvestasikan dana mendekati P1 miliar (US$73 juta) di sektor unggas.

Investasi ini mencerminkan ambisi Botswana untuk terus memperluas produksi lokal dan membangun industri unggas yang lebih tangguh.

Terlepas dari kemajuan tersebut, studi pasar unggas regional CCA; yang meneliti industri unggas di Botswana, Namibia, Afrika Selatan, dan Zambia; menemukan bahwa pasar masih sangat terkonsentrasi. Sejumlah kecil perusahaan mendominasi beberapa bagian rantai nilai unggas, mulai dari pembibitan hingga pengolahan, sehingga menyulitkan produsen berskala lebih kecil untuk bersaing.

Laporan tersebut juga menemukan bahwa Botswana tetap menjadi produsen unggas dengan biaya relatif tinggi, di mana pakan merupakan komponen terbesar dari biaya produksi. Ketergantungan pada input impor dan tingginya biaya transportasi terus menekan margin keuntungan produsen, yang pada akhirnya berkontribusi pada harga unggas yang lebih tinggi.

Menurut studi tersebut, banyak perusahaan unggas terbesar di Botswana memiliki hubungan komersial yang erat dengan perusahaan-perusahaan besar asal Afrika Selatan, khususnya di bidang pembibitan dan pengolahan. Kondisi ini, ditambah dengan pembatasan impor yang dirancang untuk melindungi produksi lokal, telah menciptakan pasar dengan tingkat persaingan yang terbatas.

Industri unggas Botswana telah mencatat kemajuan signifikan dalam memperluas produksi lokal dan mengurangi ketergantungan pada impor. Laporan tersebut menyimpulkan bahwa tantangan berikutnya adalah mengembangkan capaian ini dengan menciptakan pasar yang kompetitif, efisien, dan mampu menyediakan produk unggas yang terjangkau bagi konsumen.

SISTEM AI ASAL BRASIL HADIRKAN AKURASI 99% DALAM PENENTUAN JENIS KELAMIN ANAK AYAM

Sistem berbasis kecerdasan buatan (AI) pertama yang sepenuhnya berasal dari Brasil untuk menentukan jenis kelamin anak ayam pedaging (broiler) di tempat penetasan kini telah beroperasi di Pluma Agroavícola, salah satu perusahaan genetika unggas terkemuka di negara tersebut.

Sistem yang diberi nama HatchFlex ini dikembangkan oleh perusahaan Brasil, SmartPixel, dan memadukan kecerdasan buatan, visi komputer, otomatisasi industri, serta sistem optik berpresisi tinggi untuk mengidentifikasi jenis kelamin anak ayam secara cepat, konsisten, dan andal.

Menurut Lauri Paludo, presiden Grupo Pluma, penerapan sistem ini merupakan langkah maju yang besar bagi perusahaan. "Kami terus berinvestasi dalam teknologi, modernisasi, dan peningkatan proses karena kami yakin inilah jalan untuk mempertahankan keunggulan produk serta daya saing operasional kami," ujarnya.

Menurut Décio Luiz Goldoni, manajer tempat penetasan di Pluma Agroavícola, sistem HatchFlex membawa transformasi signifikan bagi operasional perusahaan. "Ini adalah teknologi mutakhir yang menghadirkan akurasi lebih tinggi dalam proses penentuan jenis kelamin anak ayam. Selain meningkatkan produktivitas, otomatisasi juga membantu memperbaiki kondisi kerja bagi tim kami serta memperkuat komitmen kami terhadap kualitas di setiap tahapan produksi."

Fitur unggulan lainnya dari sistem ini adalah fokusnya pada kesejahteraan hewan. Proyek ini dikembangkan untuk memenuhi standar kesejahteraan internasional yang ketat, guna memastikan unggas ditangani dengan aman dan hati-hati di sepanjang prosesnya.

PETERNAK UNGGAS DI ZIMBABWE KEDAPATAN MENGGUNAKAN OBAT HIV DALAM PAKAN TERNAK

Industri unggas Zimbabwe tengah menghadapi skandal kesehatan yang kian membesar, menyusul terungkapnya praktik ilegal di mana peternak ayam pedaging mencampurkan obat antiretroviral (ARV) ke dalam pakan ayam, dengan tujuan menekan angka kematian dan mempercepat pertumbuhan ternak.

Southern Africa Accountability Journalism Project (SA AJP), sebuah inisiatif jurnalisme investigasi yang berfokus pada akuntabilitas publik, mewawancarai dua sumber di industri unggas yang membenarkan adanya praktik penambahan obat HIV ke dalam pakan ternak.

Sebagai contoh, seorang peternak yang beroperasi di kawasan Waterfalls, Harare, mengakui bahwa ia secara diam-diam mencampurkan obat ARV, yang dibelinya secara ilegal dari seorang petugas kesehatan di rumah sakit setempat, ke dalam pakan ayamnya.

Peternak tersebut menyatakan bahwa motivasi awalnya bukanlah untuk mempercepat pertumbuhan ayam, melainkan untuk mengurangi kerugian akibat penyakit unggas yang umum terjadi. Baru belakangan ia meyakini bahwa obat-obatan tersebut juga dapat membantu ayam tumbuh lebih cepat.

Yang menarik, para peternak yang diwawancarai mengungkapkan bahwa obat HIV memberikan dampak luar biasa bagi usaha mereka.

Peternak tersebut, yang sebelumnya berada di ambang kehancuran akibat wabah penyakit Newcastle, mendapati penurunan nyata pada angka kematian ayam serta peningkatan keuntungan.

Terlepas dari potensi efektivitasnya, penggunaan obat HIV dilarang keras di Zimbabwe.

Sejumlah pejabat kesehatan setempat telah menyuarakan kekhawatiran bahwa praktik ini dapat menimbulkan risiko bagi kesehatan manusia, khususnya bagi orang yang hidup dengan HIV. Para analis memperingatkan bahwa konsumen yang secara rutin mengonsumsi unggas yang terpapar obat antiretroviral berisiko menelan residu obat tersebut, meskipun sejauh mana risiko kesehatan yang ditimbulkannya belum diteliti secara mendalam.

Terdapat pula kekhawatiran bahwa paparan berulang terhadap residu ARV berpotensi mengganggu pengobatan HIV pada pasien yang memang sedang mengonsumsi obat tersebut, kendati bukti langsung mengenai dampak semacam itu pada manusia masih terbatas.

KAMERA PINTAR MENGUNGKAP RESPONS AYAM BROILER TERHADAP STRES PANAS DAN PERTAMBAHAN USIA

Sebuah studi baru yang menggunakan teknologi computer vision canggih telah memberikan wawasan baru mengenai perubahan perilaku ayam broiler sepanjang siklus produksi. Hal ini menawarkan sarana baru bagi para peternak unggas untuk memantau kesejahteraan, mendeteksi masalah sejak dini, dan mengelola stres panas secara lebih efektif.

Para peneliti memantau 1.120 ekor ayam broiler jenis Ross 308 selama empat siklus produksi menggunakan sistem pelacakan multi-kamera yang mampu mengikuti pergerakan ayam sejak usia 8 hingga 40 hari. Teknologi ini secara otomatis mengukur tingkat aktivitas serta perilaku makan dan minum, sehingga memberikan gambaran yang belum pernah ada sebelumnya mengenai bagaimana perilaku broiler berkembang seiring pertumbuhan ayam.

Temuan ini mengonfirmasi banyak pengamatan yang sudah dikenal oleh para peternak unggas, sekaligus menunjukkan bagaimana pemantauan otomatis dapat mengubah cara penilaian kesejahteraan ayam di kandang komersial.

Salah satu kesimpulan yang paling jelas adalah bahwa usia memiliki dampak besar terhadap aktivitas. Seiring pertumbuhan ayam broiler, pergerakan secara keseluruhan menurun secara signifikan. Aktivitas intensitas tinggi, seperti berlari, mulai berkurang sejak usia 15 hari dan menurun lebih cepat dibandingkan pergerakan dengan intensitas lebih rendah. Pada usia sekitar 30 hari, tingkat aktivitas di semua kategori terlihat jauh lebih rendah.

Menurut para peneliti yang dipimpin oleh Profesor Patricia Soster dari Departemen Patobiologi, Farmakologi, dan Kedokteran Zoologi, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Ghent, Belgia, hal ini mencerminkan realitas biologis ayam broiler modern. Seiring bertambahnya berat badan, pergerakan menjadi lebih berat secara fisik dan ayam secara alami mencurahkan lebih banyak energi untuk pertumbuhan daripada untuk bergerak. Hasil ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang mengaitkan penurunan aktivitas pada ayam yang lebih tua dengan masalah mobilitas dan kesehatan kerangka yang lebih buruk.

Bagi para peternak, temuan ini penting karena aktivitas dapat menjadi sinyal peringatan dini. Penyimpangan yang signifikan dari pola aktivitas yang diharapkan dapat mengindikasikan munculnya masalah kesejahteraan, termasuk kepincangan, gangguan kaki, atau masalah manajemen pemeliharaan.

Perilaku minum yang disertai dengan berkurangnya kunjungan ke tempat pakan dapat menjadi peringatan dini bahwa ayam sedang kesulitan menghadapi kenaikan suhu.

LAYER ACADEMY MEMILIH KANDIDAT UNTUK PROGRAM PENGEMBANGAN

BFREPA Layer Academy angkatan pertama telah memilih 8 orang yang terdiri dari produsen, staf peternakan, dan profesional industri terkait untuk mengikuti program pengembangan selama 12 bulan di sektor telur ayam free-range, yang disponsori oleh ForFarmers UK.

Akademi ini diluncurkan di ajang Pig and Poultry Fair oleh direktur dewan British Free Range Egg Producers Association (BFREPA), Lucy Hinch, dan Greg Marsh, manajer penjualan unggas di ForFarmers UK. Program ini dijalankan untuk BFREPA oleh Hinch dan Bethany Irwin, dengan dukungan dari berbagai perusahaan di sektor tersebut.

Lamaran datang dari produsen, staf peternakan, dan profesional industri terkait dari seluruh penjuru negeri. Para kandidat yang terpilih mewakili beragam jenis usaha, sistem produksi, dan latar belakang profesional.

Selama 12 bulan ke depan, kelompok peserta ini akan mengunjungi hatchery, lokasi pemeliharaan pullet, unit kandang free-range dan barn (kandang tertutup dengan akses lantai), fasilitas pengolahan telur, pabrik pakan, serta pusat pengemasan. Sesi-sesi pelatihan akan mencakup berbagai topik seperti program vaksinasi, persyaratan supermarket, pengolahan ayam petelur afkir, dan peran British Egg Industry Council.

Para peserta akan bertemu dengan produsen, ahli nutrisi, pengecer, regulator, dan pengambil keputusan di industri ini. Selain materi teknis, program ini juga mencakup pengembangan kepemimpinan, diskusi, dan kesempatan untuk membangun jejaring.

KELEBIHAN PRODUKSI PICU KRISIS HARGA PADA SEKTOR AYAM PEDAGING MAROKO

Para produsen ayam pedaging di Maroko menghadapi tekanan finansial yang kian berat akibat gelombang kelebihan produksi, penurunan ekspor, dan tambahan pasokan ayam petelur afkir yang mendorong harga ayam ke tingkat yang, menurut banyak peternak, tidak lagi mampu menutup biaya produksi mereka.

Perwakilan industri menyatakan bahwa pasar terdampak oleh kelebihan pasokan yang berkepanjangan; harga eceran tetap berada di bawah MAD 20 (US$2,20) per kg di banyak pasar, sementara harga grosir di Casablanca, ibu kota negara tersebut, berkisar antara MAD 11,5 hingga MAD 12,5 per kg (US$1,24 hingga US$1,34). Para peternak unggas mengatakan bahwa tingkat harga ini tidak cukup untuk menutupi biaya produksi.

Mohammed Abboud, ketua Asosiasi Nasional Produsen Ayam Pedaging Maroko, mengatakan bahwa banyak peternak yang membawa ayam mereka ke pasar hanya berjuang untuk memulihkan biaya produksi dan menutupi pengeluaran, tanpa mengharapkan keuntungan sama sekali.

Permintaan saat ini berada di bawah tingkat yang biasanya diharapkan selama musim panas. Abboud menambahkan bahwa permintaan yang terkait dengan peristiwa musiman dan kelompok konsumen utama, seperti warga Maroko yang tinggal di luar negeri yang pulang kampung untuk liburan serta musim pernikahan, belum mencapai tingkat yang diantisipasi oleh para produsen.

Situasi saat ini mengancam keberlangsungan usaha peternakan unggas skala kecil di negara tersebut, yang keberadaannya diyakini sebagai faktor kunci dalam menjaga inflasi pangan tetap terkendali.

Jika produksi nantinya terkonsentrasi hanya pada segelintir perusahaan besar, kata Abboud, harga ayam bisa melonjak tajam di masa depan, sehingga memberikan beban tambahan baik bagi pasar maupun daya beli konsumen.

STUDI MENGKAJI DAMPAK LINGKUNGAN DARI PERUBAHAN POLA PRODUKSI TELUR DI INGGRIS

Para akademisi mengemukakan bahwa beralih sepenuhnya ke metode produksi telur organik dan sistem free-range akan meningkatkan emisi sebesar 60% sekaligus melipatgandakan penggunaan lahan.

Studi tersebut, yang membandingkan beberapa skenario bagi industri telur, termasuk peralihan ke sistem kandang tertutup, free-range, dan organik dengan tetap mempertahankan tingkat produksi saat ini, menunjukkan perlunya sektor ini mempertimbangkan aspek lingkungan saat mengarahkan transisi di masa depan untuk meninggalkan sistem produksi telur dengan kandang baterai.

Para akademisi menemukan bahwa meskipun sistem cage-free mungkin lebih sejalan dengan kepedulian masyarakat terhadap kesejahteraan ayam, sistem ini mungkin memerlukan populasi ayam yang lebih besar secara keseluruhan, yang berpotensi meningkatkan tekanan terhadap lingkungan.

Mereka memperkirakan total dampak lingkungan mencapai 2,3 juta ton setara CO2 untuk model organik penuh, dibandingkan dengan 1,4 juta ton untuk komposisi produksi saat ini dan 1,1 juta ton jika seluruh ayam dipelihara dalam kandang baterai. Angka-angka ini didasarkan pada data dasar dari tahun 2009/2010.

Ayam yang dipelihara dalam kandang baterai mengubah pakan menjadi telur dengan lebih efisien dibandingkan ayam dalam sistem bebas kandang. Akibatnya, jumlah ayam dan pakan yang lebih sedikit dapat menghasilkan volume telur yang sama, sebuah faktor krusial mengingat pakan merupakan komponen terbesar dari jejak lingkungan industri ini.

Penulis laporan, Dr. Harriet Bartlett, peneliti senior di Smith School of Enterprise and Environment, Universitas Oxford, mengatakan, "Penelitian kami menyoroti pentingnya mempertimbangkan kesejahteraan hewan, dampak lingkungan, dan produksi pangan secara bersamaan saat merancang masa depan peternakan telur. Memahami adanya pertimbangan yang saling bertolak belakang ini akan membantu kita mengambil keputusan yang lebih baik bagi lingkungan maupun kesejahteraan hewan di masa depan."

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer