-->

WEO MEMBERIKAN PENGHARGAAN KEPADA PARA PEMIMPIN INDUSTRI TELUR DALAM AJANG GLOBAL LEADERSHIP CONFERENCE

World Egg Organisation (WEO) telah mengumumkan para pemenang penghargaan industri tahun 2026, sebagai bentuk pengakuan atas pencapaian luar biasa dalam bidang kepemimpinan, pemasaran, dan inovasi produk telur.

Penghargaan tersebut diserahkan dalam acara WEO Global Leadership Conference di Singapura pada tanggal 10 September.

Penghargaan tahun ini menyoroti individu dan perusahaan yang telah memberikan kontribusi signifikan bagi sektor telur global melalui inovasi, pengembangan bisnis, dan keterlibatan dalam industri.

Penghargaan bergengsi Denis Wellstead Award untuk kategori Tokoh Telur Internasional Tahun Ini diberikan kepada Franz Hofer, CEO Ovotherm, perusahaan spesialis kemasan telur yang berbasis di Austria. Hofer mendapatkan pengakuan atas pengabdiannya selama lebih dari 20 tahun bagi industri telur internasional serta keterlibatannya yang telah berlangsung lama dengan WEO.

Saat penyerahan penghargaan, perwakilan WEO memuji komitmen Hofer terhadap kolaborasi, pertukaran pengetahuan, dan dukungannya bagi komunitas telur global.

Sundaily Farm dari Tiongkok menerima Golden Egg Award untuk kategori Keunggulan Pemasaran (Marketing Excellence) tahun 2026, berkat kampanye yang memukau para juri melalui kreativitas, keterlibatan konsumen, serta dampak bisnis yang terukur. Karya pemenang tersebut ditampilkan dalam sesi Egg Marketing Showcase selama konferensi berlangsung.

Menurut dewan juri, kampanye tersebut menunjukkan pendekatan pemasaran yang inovatif, strategi jangka panjang yang jelas, serta pengukuran kinerja yang efektif.

Ovobel Foods Limited dari India dinobatkan sebagai pemenang Clive Frampton Egg Products Company of the Year Award (Perusahaan Produk Telur Tahun Ini). Penghargaan tersebut diterima oleh Satish Babu dan Sharad Satish, yang mewakili perusahaan keluarga tersebut.

Para juri menyebutkan bahwa kombinasi antara inovasi, ketangguhan, dan komitmen jangka panjang perusahaan terhadap industri menjadi alasan utama terpilihnya mereka. Ovobel Foods merupakan perusahaan India pertama yang menerima penghargaan Clive Frampton Award, yang menandai tonggak pencapaian penting bagi sektor pengolahan telur di negara tersebut.

AVEC MENDESAK UNI EROPA UNTUK MENGHENTIKAN IMPOR UNGGAS DARI THAILAND YANG TIDAK MEMENUHI KETENTUAN

Menyusul audit yang menemukan “kekurangan yang signifikan dan sistemik” dalam sistem pengendalian ekspor dan sertifikasi Thailand, AVEC meminta Komisi Eropa untuk menangguhkan impor unggas dari fasilitas di Thailand yang tidak dapat membuktikan kepatuhannya terhadap aturan Uni Eropa.

Asosiasi Pengolah dan Perdagangan Unggas di Uni Eropa (AVEC) mendesak Komisi Eropa untuk mengambil tindakan tegas terhadap eksportir unggas Thailand yang gagal memenuhi persyaratan Uni Eropa. Hal ini menyusul audit terbaru oleh Komisi Eropa yang mengungkap kelemahan serius dalam aspek ketertelusuran, pengendalian veteriner, prosedur sertifikasi, serta pemisahan antara produk yang memenuhi syarat untuk pasar Uni Eropa dan yang tidak.

Dalam siaran pers baru-baru ini, AVEC menyatakan bahwa impor unggas dari fasilitas atau rantai produksi yang bermasalah harus ditangguhkan sampai langkah-langkah perbaikan diterapkan dan diverifikasi secara independen. Organisasi tersebut juga berpendapat bahwa pemberian kuota tarif tambahan untuk unggas kepada Thailand, di tengah negosiasi Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA) antara Uni Eropa dan Thailand yang sedang berlangsung, adalah langkah yang tidak tepat selama masalah kepatuhan ini belum terselesaikan.

Audit Komisi Eropa menemukan sejumlah kekurangan yang memengaruhi sistem ekspor unggas Thailand. Auditor melaporkan adanya kelemahan dalam verifikasi HACCP, sistem ketertelusuran, pemisahan antara produk yang memenuhi syarat untuk pasar Uni Eropa dan yang tidak, pengendalian veteriner, serta prosedur sertifikasi ekspor.

Salah satu temuan paling serius adalah ditemukannya produk unggas yang ditujukan untuk Uni Eropa yang diproduksi menggunakan daging cincang dari fasilitas yang tidak memiliki izin untuk mengekspor produk tersebut ke Uni Eropa. Auditor juga menemukan bahwa dua pabrik pengolahan tidak dapat membuktikan bahwa produk yang ditujukan untuk pasar Eropa hanya menggunakan bahan baku yang memenuhi syarat.

AVEC menyambut baik rencana untuk melakukan audit lebih lanjut dan memperketat pengendalian impor, namun menekankan bahwa audit harus menghasilkan tindakan penegakan hukum yang nyata jika ditemukan ketidakpatuhan yang serius.

GELOMBANG PANAS EKSTREM SEBABKAN KERUGIAN PADA INDUSTRI UNGGAS TUNISIA

Industri unggas Tunisia mengalami kerugian signifikan akibat gelombang panas yang memecahkan rekor pada bulan Juli dan Agustus. Menurut Kementerian Pertanian, pemadaman listrik dan air yang terjadi berulang kali semakin memperparah kerusakan di berbagai peternakan.

Saat ini, pihak berwenang tengah menilai skala permasalahan tersebut dan menyiapkan langkah-langkah untuk mendukung industri yang sedang terpuruk ini.

Beberapa peternakan unggas, khususnya usaha skala kecil dan menengah, mengalami gangguan selama periode cuaca sangat panas pada bulan Juli dan Agustus. Pemadaman listrik dan air menyebabkan sistem ventilasi serta pendingin tidak berfungsi, yang mengakibatkan unggas mengalami stres akibat panas, sesak napas, hingga kematian.

Kementerian Pertanian Tunisia menambahkan bahwa dampaknya tidak hanya berupa kematian unggas, tetapi juga pertumbuhan yang lebih lambat dan penurunan produktivitas, terutama pada produksi ayam broiler. Sejumlah rumah potong hewan pun turut terdampak.

Tunisia mengalami suhu yang sangat menyengat pada musim panas ini, dengan suhu mencapai 49,7°C. Bulan Juli tercatat sebagai bulan terpanas kedua dalam sejarah negara tersebut. Cuaca ekstrem ini membebani infrastruktur dan mendorong permintaan listrik hingga ke tingkat rekor, yang kemudian memicu pemadaman listrik secara luas.

Dalam sebuah pernyataan pada akhir Agustus, Ibrahim Nefzaoui, kepala Kamar Nasional Pedagang Unggas dan Daging Putih Tunisia, menyatakan bahwa produksi daging unggas bulanan telah turun dari sekitar 16.000 ton menjadi 13.600 ton. Ia menyebutkan bahwa penurunan ini sebagian disebabkan oleh kematian unggas akibat gelombang panas.

Pada tanggal 2 September, dalam sebuah wawancara dengan Radio Nasional Tunisia, Nefzaoui merevisi perkiraannya dengan menyatakan bahwa produksi industri bulanan telah turun menjadi 11.000 ton.

Kementerian Pertanian juga menyatakan bahwa perubahan iklim mendorong transformasi industri unggas di Tunisia. Cuaca panas ekstrem memaksa para peternak untuk meningkatkan kualitas peralatan mereka dan memperkuat kemampuan dalam menghadapi kondisi cuaca yang tidak biasa, terutama saat terjadi pemadaman listrik mendadak.

Menyikapi situasi ini, Kementerian mendorong peningkatan investasi pada energi terbarukan serta penerapan sistem energi terbarukan yang lebih luas, mengingat peralatan ventilasi dan pendingin merupakan komponen krusial bagi unit produksi unggas.

CAHAYA FAR-UV MENAWARKAN HARAPAN BARU DALAM UPAYA MELAWAN FLU BURUNG

Tim peneliti di Texas A&M University, Amerika Serikat, tengah bersiap untuk menguji teknologi inovatif yang dapat membantu para peternak unggas dalam menangani salah satu ancaman penyakit paling persisten di industri ini: flu burung yang sangat patogen (HPAI).

Proyek ini akan meneliti apakah cahaya ultraviolet jauh (far-ultraviolet), yang dikenal sebagai far-UVC, dapat mengurangi patogen yang terbawa udara di dalam kandang unggas tanpa membahayakan unggas, pekerja, maupun operasional peternakan.

Morgan Farnell, profesor mikrobiologi dan imunologi unggas sekaligus wakil kepala departemen di Departemen Ilmu Unggas Texas A&M, menyatakan bahwa wabah HPAI yang terjadi saat ini terus menghadirkan tantangan bagi sektor perunggasan. Meskipun flu burung tidak dianggap endemik di Amerika Serikat, virus tersebut tetap ada dalam populasi satwa liar dan terus mengancam produksi unggas komersial.

Farnell bersama rekannya, Ziteng Xu, akan memimpin fase ketiga sekaligus fase terakhir dari program penelitian jangka panjang yang akan dimulai pada musim semi. Penelitian ini akan berfokus untuk menentukan apakah cahaya far-UVC mampu mengurangi jumlah patogen yang terbawa udara di dalam kandang unggas komersial dalam kondisi produksi yang sesungguhnya.

Teknologi far-UVC berbeda dari sistem ultraviolet pembunuh kuman konvensional karena mampu menonaktifkan virus dan bakteri tanpa menembus terlalu dalam hingga merusak kulit serta mata manusia maupun hewan. Karakteristik ini menarik perhatian besar dari para peneliti, yang melihat potensi penerapannya di lingkungan yang dihuni makhluk hidup, seperti rumah sakit, sekolah, restoran, dan fasilitas peternakan.

Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh para peneliti dari Columbia University dan St. Jude Children’s Research Hospital telah mengkaji teknologi far-UVC dalam ruang isolasi khusus. Temuan tersebut menjadi landasan bagi pengujian di lingkungan yang lebih luas, menyerupai skala komersial. Kini, para peneliti dari Texas A&M berupaya menentukan apakah teknologi ini dapat memberikan hasil serupa di kandang unggas dengan kepadatan populasi burung seperti pada skala komersial.

Uji coba akan dilaksanakan di kompleks peternakan unggas universitas tersebut. Para peneliti akan menggunakan peralatan pengambilan sampel udara untuk mengukur organisme indikator (seperti bakteri aerob, koliform, dan Staphylococcus aureus) sebelum dan sesudah paparan far-UVC. Pengukuran ini akan membantu para ilmuwan menilai apakah teknologi tersebut mampu mengurangi patogen yang berkaitan dengan ancaman penyakit, termasuk flu burung.

Tim Xu juga akan meneliti aspek penerapan praktisnya. Debu di dalam kandang unggas dapat menyerap atau menyebarkan cahaya ultraviolet, yang berpotensi memengaruhi kinerja teknologi tersebut. Oleh karena itu, para peneliti akan memantau seberapa besar radiasi yang mencapai area yang dihuni oleh unggas. Sistem kamera berbasis kecerdasan buatan akan melacak pergerakan dan perilaku unggas, sehingga para ilmuwan dapat mengevaluasi dampaknya terhadap kesejahteraan, ritme sirkadian, serta performa pertumbuhan unggas.

Proyek ini merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk mengembangkan teknologi keamanan hayati terintegrasi. Xu sedang merancang sistem yang menggabungkan pengolahan udara menggunakan far-UVC dengan ventilasi bertekanan positif serta perangkat robotik untuk disinfeksi lantai. Para peneliti akan mengevaluasi komponen mana yang memberikan pengendalian patogen secara efektif.

NOBLE FOODS MENGUJI TEKNOLOGI AKUSTIK UNTUK MEMANTAU KESEJAHTERAAN AYAM PETELUR

Noble Foods telah meluncurkan proyek perintis di tingkat peternakan untuk mengeksplorasi bagaimana teknologi akustik dapat digunakan guna memahami, memantau, dan meningkatkan kesejahteraan ayam petelur dengan lebih baik. Langkah ini menandai kemajuan signifikan dalam upaya mewujudkan kesejahteraan hewan berbasis bukti nyata dalam industri produksi telur di Inggris.

Proyek ini terlaksana berkat keberhasilan pengajuan pendanaan kepada Innovate UK (lembaga inovasi nasional Inggris) yang dipimpin oleh Emily Marshall, manajer keberlanjutan pertanian di Noble Foods. Pendanaan tersebut mendukung uji coba berbasis riset selama dua tahun, yang dirancang untuk menguji bagaimana teknologi pertanian (agri-tech) terkini dapat diterapkan secara praktis, kredibel, dan dalam skala luas di lingkungan peternakan ayam petelur komersial.

Dikembangkan melalui kemitraan dengan spesialis teknologi pertanian, AgriSound dan Aviasenze, serta dilaksanakan di sebuah peternakan ayam sistem lepas (free-range) yang beroperasi di East Yorkshire, proyek ini akan menguji sistem pemantauan kesejahteraan berbasis akustik yang dirancang khusus untuk ayam petelur. Ini merupakan penerapan pertama dari jenisnya di sektor produksi telur Inggris.

Selain uji coba pada sistem lepas (free-range), Noble Foods juga menguji teknologi ini di salah satu fasilitas peternakan ayam sistem kandang tertutup (barn). Evaluasi sistem di kedua lingkungan pemeliharaan ini akan membantu menentukan bagaimana pemantauan akustik dapat digunakan untuk memahami kesejahteraan unggas dengan lebih baik di berbagai kondisi, sekaligus memberikan wawasan berharga mengenai perilaku kawanan ayam, pengaruh lingkungan, dan indikator kesejahteraan. Tujuannya adalah memastikan bahwa temuan dari proyek ini relevan bagi berbagai model produksi telur di Inggris.

Teknologi ini menganalisis lanskap suara di dalam kandang unggas dengan menggunakan pembelajaran mesin (machine learning) untuk mengidentifikasi pola dalam vokalisasi dan aktivitas kawanan ayam. Pola-pola tersebut dapat menjadi indikator adanya perubahan dalam perilaku, kesehatan, atau kondisi lingkungan. Tujuannya adalah memberikan wawasan berbasis data yang lebih dini kepada tim peternakan, sehingga mereka dapat melakukan pengelolaan kesejahteraan secara proaktif, melengkapi praktik pemeliharaan ternak konvensional.

Proyek ini berupaya mengeksplorasi bagaimana pemantauan kesejahteraan dapat dikembangkan lebih lanjut dengan menghadirkan wawasan berkelanjutan yang bersifat non-invasif, yang diperoleh langsung dari unggas itu sendiri. Dengan mengamati perilaku kawanan unggas secara waktu nyata (real-time), para mitra berharap dapat lebih memahami bagaimana perubahan dalam lingkungan, manajemen, atau kesehatan dapat terdeteksi sebelum masalah berkembang menjadi lebih serius.

Di dalam tim proyek, teknologi ini dijuluki sebagai ‘Happy-o-Meter’ (alat pengukur kebahagiaan) karena fokusnya dalam membantu para peternak agar lebih memahami indikator kesejahteraan unggas. Meskipun uji coba ini berlandaskan pada sains dan pengumpulan bukti yang kuat, penamaan informal tersebut mencerminkan ambisi untuk lebih memerhatikan ayam dan mempelajari apa yang dapat diungkapkan oleh perilaku mereka mengenai kesejahteraan mereka.

Noble Foods menegaskan bahwa proyek ini bukanlah solusi final atau jawaban tunggal untuk tantangan kesejahteraan, melainkan sebuah uji coba berbasis pembelajaran yang dirancang untuk menghasilkan bukti, menguji asumsi, dan menjadi landasan bagi pemikiran di masa depan.

Melalui kerja sama dengan mitra teknologi, para peternak, dan Innovate UK, perusahaan tersebut berharap hasil dari proyek ini dapat membantu membentuk diskusi yang lebih luas mengenai pemantauan kesejahteraan, penerapan teknologi pertanian (agri-tech), serta transparansi di seluruh industri telur di Inggris. Temuan dari uji coba tersebut akan ditinjau selama periode dua tahun dan dibagikan kepada para produsen serta pemangku kepentingan industri, guna membantu mengidentifikasi aspek-aspek di mana pemantauan akustik dapat memberikan nilai tambah dan aspek-aspek yang memerlukan pengembangan lebih lanjut.

SEKTOR UNGGAS JERMAN MERANGKUL GEN Z

Berlawanan dengan anggapan umum, di Jerman Gen Z sering memasak makanannya sendiri dan sebagian besar dari mereka mengonsumsi daging. Bagi lebih dari separuh kelompok ini, daging unggas menjadi pilihan utama.

Tren nutrisi utama di kalangan generasi muda Jerman adalah protein. Di antara berbagai sumber protein, telur dan daging unggas menempati posisi teratas, diikuti oleh produk susu, bubuk protein, daging sapi, dan ikan.

Temuan ini merupakan bagian dari survei yang dilakukan oleh Civey atas nama Zentralverband der Deutschen Geflügelwirtschaft e.V. (ZDG), organisasi industri perunggasan Jerman.

Di rentang usia 16 hingga 29 tahun, 1 dari 2 orang memasak untuk diri mereka sendiri setiap hari, 71% mengonsumsi makanan secara sadar, 83% responden rutin menyantap daging, dan bagi sebagian besar dari mereka, protein adalah komponen yang wajib ada.

Daging dan makanan nabati sering kali disajikan bersama dalam satu hidangan. Hanya sekitar 1 dari 9 orang yang menjalani pola makan vegetarian atau vegan (11%).

Terkait pemilihan jenis daging, para responden memiliki preferensi yang jelas: 52% memilih daging unggas, 23% daging sapi, dan 15% daging babi. Preferensi terhadap daging unggas terlihat sangat menonjol di kalangan perempuan, dengan 57% memilih daging unggas dibandingkan 19% yang memilih daging sapi. Sementara itu, di kalangan laki-laki, 46% menyukai daging unggas dan 28% lebih memilih daging sapi.

Sekitar 3 dari 5 responden menganggap daging unggas sebagai elemen penting untuk mendapatkan makanan yang lezat sekaligus sehat. Bahkan, 7 dari 10 responden meyakini bahwa daging unggas dapat berperan penting dalam pola makan yang kaya protein.

Direktur pelaksana ZDG, Wolfgang Schleicher, menyatakan, “Survei ini meluruskan berbagai prasangka mengenai Gen Z. Survei ini juga mematahkan mitos bahwa Gen Z sebagian besar adalah vegan atau vegetarian. Anggapan yang sering terdengar ini keliru. Mengonsumsi daging tetap menjadi hal yang lazim di kalangan Gen Z. Mereka memasak sendiri makanan mereka. Mereka membuat keputusan secara sadar dan tahu persis apa yang penting bagi mereka: cita rasa yang enak, pengalaman bersantap bersama, asupan protein yang cukup, harga yang terjangkau, serta cara penyajian yang praktis dimana semua aspek ini harus terpenuhi. Daging unggas memenuhi semua kriteria tersebut: rasanya lezat, kaya akan protein berkualitas tinggi, serta mudah dipadukan dengan sayuran, salad, maupun hidangan dalam mangkuk (bowl).”

Bagi Gen Z, makanan bukan sekadar tersaji di piring, tetapi juga hadir di internet: 1 dari 5 responden mengaku membagikan foto atau konten lain terkait makanan yang mereka konsumsi melalui media sosial setiap harinya. Hampir 2 dari 5 responden mengunggah konten bertema makanan setidaknya seminggu sekali.

Mereka juga mencari inspirasi melalui internet. Saat ditanya dari mana mereka memperoleh ide dan inspirasi untuk hidangan serta informasi mengenai pola makan, 39% responden menyatakan aktif melakukan riset di internet, 26% mengikuti tren media sosial dan menggunakan aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI), 25% mengikuti kreator konten atau influencer, 21% mengandalkan aplikasi atau perangkat pelacak nutrisi, dan 14% membaca artikel atau blog daring.

PERANG MEMBUAT SEKTOR UNGGAS DI GAZA HANCUR LEBUR

Industri unggas di Gaza hampir musnah akibat perang/pendudukan. Kini, upaya berskala kecil mulai dilakukan untuk membangun kembali sektor yang telah kehilangan sebagian besar kapasitas produksinya tersebut.

Sektor unggas di Jalur Gaza mengalami kehancuran luas selama perang. Menurut laporan dari Kementerian Pertanian setempat, sebagian besar peternakan mengalami kerusakan parah bahkan mencapai 100% pada kategori tertentu. Kehancuran ini mengakibatkan kerugian langsung yang diperkirakan mencapai sekitar US$30,7 juta.

Kementerian tersebut menyatakan bahwa terdapat sekitar 2.400 peternakan unggas, dengan peternakan ayam broiler mengalami kerusakan paling parah. Peternakan ayam broiler tertutup hancur total, dengan tingkat kerusakan mencapai 100% dan kerugian diperkirakan sebesar US$10,8 juta. Kerusakan pada peternakan ayam broiler terbuka mencapai 95%, yang mengakibatkan kerugian sekitar US$11,6 juta.

Peternakan ayam petelur dan kalkun juga mengalami kerusakan lebih dari 86%, sementara peternakan pembibitan hancur sepenuhnya, yang menyebabkan kerugian besar bagi produksi unggas di seluruh Jalur Gaza.

Sektor unggas sebenarnya menjadi pilar utama industri peternakan di Gaza. Menurut estimasi Kementerian Pertanian, pada tahun 2022 sektor ini memproduksi sekitar 50.000 ton daging putih dan 15.000 ton telur konsumsi, yang membantu memenuhi permintaan pasar lokal serta memperkuat ketahanan pangan.

Kementerian tersebut menyatakan bahwa sektor ini mencakup sekitar 1.982 peternakan dengan total luas wilayah kurang lebih 297.000 meter persegi, serta kapasitas produksi yang diperkirakan mencapai sekitar 2,79 miliar ekor unggas. Sebagian besar peternakan terkonsentrasi di kegubernuran Khan Younis dan Gaza, diikuti oleh Deir al-Balah, Gaza bagian utara, dan Rafah. Masing-masing wilayah tersebut telah mengalami kerusakan parah selama perang berlangsung.

Menurut laporan Al Jazeera, warga Palestina di Gaza berupaya secara mandiri untuk menghidupkan kembali peternakan unggas setelah perang menghancurkan berbagai peternakan dan fasilitas produksi. Namun, kelangkaan pakan serta kebutuhan dasar peternakan membuat proses pemulihan menjadi sangat sulit.

Upaya berskala kecil ini tidak hanya bertujuan untuk memulihkan industri unggas lokal, tetapi juga untuk menyediakan sumber pangan dalam negeri, di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai ketergantungan wilayah tersebut terhadap daging ayam beku yang dijual di pasar-pasar setempat.

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer