-->

STUDI MENGKAJI DAMPAK LINGKUNGAN DARI PERUBAHAN POLA PRODUKSI TELUR DI INGGRIS

Para akademisi mengemukakan bahwa beralih sepenuhnya ke metode produksi telur organik dan sistem free-range akan meningkatkan emisi sebesar 60% sekaligus melipatgandakan penggunaan lahan.

Studi tersebut, yang membandingkan beberapa skenario bagi industri telur, termasuk peralihan ke sistem kandang tertutup, free-range, dan organik dengan tetap mempertahankan tingkat produksi saat ini, menunjukkan perlunya sektor ini mempertimbangkan aspek lingkungan saat mengarahkan transisi di masa depan untuk meninggalkan sistem produksi telur dengan kandang baterai.

Para akademisi menemukan bahwa meskipun sistem cage-free mungkin lebih sejalan dengan kepedulian masyarakat terhadap kesejahteraan ayam, sistem ini mungkin memerlukan populasi ayam yang lebih besar secara keseluruhan, yang berpotensi meningkatkan tekanan terhadap lingkungan.

Mereka memperkirakan total dampak lingkungan mencapai 2,3 juta ton setara CO2 untuk model organik penuh, dibandingkan dengan 1,4 juta ton untuk komposisi produksi saat ini dan 1,1 juta ton jika seluruh ayam dipelihara dalam kandang baterai. Angka-angka ini didasarkan pada data dasar dari tahun 2009/2010.

Ayam yang dipelihara dalam kandang baterai mengubah pakan menjadi telur dengan lebih efisien dibandingkan ayam dalam sistem bebas kandang. Akibatnya, jumlah ayam dan pakan yang lebih sedikit dapat menghasilkan volume telur yang sama, sebuah faktor krusial mengingat pakan merupakan komponen terbesar dari jejak lingkungan industri ini.

Penulis laporan, Dr. Harriet Bartlett, peneliti senior di Smith School of Enterprise and Environment, Universitas Oxford, mengatakan, "Penelitian kami menyoroti pentingnya mempertimbangkan kesejahteraan hewan, dampak lingkungan, dan produksi pangan secara bersamaan saat merancang masa depan peternakan telur. Memahami adanya pertimbangan yang saling bertolak belakang ini akan membantu kita mengambil keputusan yang lebih baik bagi lingkungan maupun kesejahteraan hewan di masa depan."

FOKUS PADA "GLOCAL": BAGAIMANA RAKSASA BARU DI INDUSTRI DAGING BERUPAYA MENJANGKAU PASARNYA

Tahun 2025 menjadi saksi merger besar antara dua perusahaan daging terbesar asal Brasil. Marfrig dan Brasil Foods (BRF) bergabung membentuk MBRF, sebuah perusahaan raksasa dengan produk yang menjangkau 117 pasar di seluruh dunia. Bagaimana perusahaan sebesar ini berhasil menjangkau setiap pelanggan di berbagai penjuru dunia?

Selama bertahun-tahun, baik Marfrig maupun BRF telah melakukan akuisisi dan menjalin kemitraan strategis di negara-negara dengan potensi pertumbuhan pasar yang menjanjikan. Contohnya termasuk Amerika Serikat (untuk produk daging sapi), serta Tiongkok, Turki, dan Arab Saudi. Secara keseluruhan, produk MBRF kini hadir di 117 negara di seluruh dunia. Seiring dengan semakin besarnya perusahaan, memahami preferensi lokal menjadi hal yang semakin krusial. Bagaimanapun, strategi yang berhasil di satu pasar belum tentu sukses di pasar lainnya.

Hal inilah yang menjadi alasan utama di balik pendirian pusat inovasi mereka: memanfaatkan wawasan mendalam untuk mengembangkan produk yang akan sukses di pasar sasaran. Seperti yang diungkapkan oleh Patricia Niizu, manajer sains konsumen di MBRF, "Kami bertujuan menjadi perusahaan yang 'glocal'." Perusahaan yang cukup besar untuk tetap kompetitif di dunia yang semakin terglobalisasi, namun juga sangat peka dalam menangkap tren lokal demi meraih kesuksesan di mana pun.

Arab Saudi menjadi contoh bagaimana MBRF melakukan pendekatan terhadap pasarnya. Ia menjelaskan bahwa negara tersebut telah mengalami tren "snackifikasi" (pergeseran pola makan ke arah camilan) selama satu dekade terakhir. Hal ini mendorong MBRF untuk meluncurkan lini produk Sadia Bites, yakni camilan yang dapat disiapkan hanya dalam hitungan menit.

Selain itu, tim inovasi memetakan tren preferensi restoran terkini di Arab Saudi; tidak mengherankan jika cita rasa seperti "Italia" (yang dominan) dan "Meksiko" (yang sedang naik daun) muncul dalam daftar tersebut. Berbekal wawasan itu, tim meluncurkan rangkaian produk untuk air fryer dengan cita rasa global di bawah merek Sadia Broasted Chicken Chunks. Lini produk ini menghadirkan varian rasa seperti "bawang putih dan parmesan" serta "jalapeño".

Namun, menjalankan bisnis dengan pendekatan "glocal" (global sekaligus lokal) tidak cukup hanya dengan memahami pasar secara mendalam. CEO MBRF, Miguel Gularte, membahas topik mengenai kunci sukses di pasar global dalam sebuah diskusi panel di pameran dagang SIAVS di São Paulo yang berlangsung pada 4-6 Agustus. Ia menyoroti pentingnya kehadiran fisik di negara lain, bahkan hingga memanfaatkan rantai produksi lokal yang terintegrasi.

Untuk memperkuat argumennya, ia merujuk pada masalah geopolitik terkini di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz, seraya menyatakan, "Pasokan pangan di sana tidak terganggu. Perusahaan-perusahaan dari sini (Brasil) tetap melanjutkan pasokan ke wilayah-wilayah yang sedang dilanda konflik tersebut."

MERCOSUR MENGINCAR PASAR BARU MELALUI PERJANJIAN DENGAN SINGAPURA DAN JEPANG

Mercosur telah mempercepat strategi ekspansi komersialnya di Asia melalui dua perkembangan penting bagi sektor agribisnis.

Yang pertama adalah ratifikasi Perjanjian Perdagangan Bebas Mercosur-Singapura yang mulai berlaku segera. Selain itu, blok tersebut secara resmi memulai negosiasi untuk Perjanjian Kemitraan Ekonomi dengan Jepang.

Potensi bagi sektor protein hewani sangat besar, khususnya bagi Brasil, mengingat kedua negara tersebut termasuk di antara importir terbesar daging unggas dan daging babi.

Perkembangan ini terjadi di saat Mercosur berupaya memperluas kehadirannya di pasar-pasar strategis, mengurangi ketergantungan pada mitra dagang tradisional, dan memperkuat integrasinya ke dalam rantai perdagangan global.

Agenda ini memperoleh momentum setelah berlakunya perjanjian dengan Uni Eropa secara sementara dan terus berjalan beriringan dengan negosiasi bersama Kanada, Uni Emirat Arab, India, Vietnam, dan Inggris.

PETERNAK AYAM PEDAGING MENGUJI BIOCHAR UNTUK MENGATASI EMISI AMONIA

Ilustrasi.

Sekelompok peternak ayam pedaging di wilayah West Midlands, Inggris, mengambil langkah praktis untuk mengatasi salah satu tantangan lingkungan dan manajemen terbesar di sektor unggas dengan menguji apakah biochar hasil rekayasa dapat mengurangi emisi amonia dan meningkatkan kualitas litter di kandang komersial.

Proyek yang didanai melalui program ADOPT ini mempertemukan para produsen di Shropshire, Herefordshire, dan Worcestershire dengan para peneliti serta spesialis biochar untuk mengevaluasi teknologi tersebut dalam kondisi peternakan yang sesungguhnya.

Meskipun biochar semakin mendapat perhatian di dunia pertanian, penggunaannya di kandang unggas masih relatif belum banyak dieksplorasi, sehingga uji coba ini sangat relevan bagi produsen yang mencari solusi praktis untuk memperbaiki kondisi kandang.

Tokoh sentral dalam proyek ini adalah Rob Collins, seorang peternak sekaligus pemimpin proyek, yang meyakini bahwa nilai penting dari upaya ini terletak pada dihasilkannya bukti kuat yang dapat dipercaya oleh produsen unggas lainnya.

"Peternak menghadapi tekanan yang semakin besar untuk mengelola emisi amonia sembari tetap menjaga kesejahteraan dan performa unggas," ujarnya. "Kami ingin menguji apakah biochar hasil rekayasa dapat memberikan solusi praktis yang mudah diterapkan dalam manajemen peternakan sehari-hari, tanpa menambah kerumitan operasional."

Uji coba ini berfokus pada penerapan langsung biochar hasil rekayasa ke litter unggas. Material tersebut diproduksi dari kayu spruce melalui proses pirolisis yang menghasilkan produk stabil dan sangat berpori, yang mampu menyerap serta menyimpan nutrisi.

Di empat lokasi peternakan ayam pedaging komersial, para peneliti telah memasang sensor amonia untuk merekam data secara real-time di sepanjang siklus pemeliharaan. Para peternak juga akan menilai kondisi litter, karakteristik penanganan material, serta perubahan apa pun yang dapat diamati terkait kesejahteraan unggas.

Collins menyebut pendekatan yang melibatkan banyak peternakan ini sebagai salah satu kekuatan proyek, "Setiap unit peternakan unggas memiliki karakteristik yang sedikit berbeda. Dengan melakukan uji coba di beberapa lokasi, kami dapat melihat bagaimana kinerja biochar dalam berbagai sistem manajemen dan kondisi lingkungan kandang."

RUSIA MELARANG TRANSIT UNGGAS DARI UE

Mulai 5 Agustus, layanan veteriner negara Rusia, Rosselkhoznadzor, melarang transit daging unggas dan beberapa produk lainnya dari Uni Eropa (UE) melalui wilayah Rusia.

Langkah ini akan menghambat transit produk unggas yang diproduksi di Uni Eropa melalui Rusia, dengan pembatasan yang akan tetap berlaku hingga pembicaraan dengan Komisi Eropa mengenai dugaan pelanggaran dilakukan.

Rosselkhoznadzor menyatakan bahwa keputusan tersebut bertujuan untuk mencegah penyebaran penyakit hewan dan melindungi konsumen di Rusia.

Badan pengawas veteriner Rusia tersebut merujuk pada sebuah kasus yang melibatkan dugaan transit ilegal produk sampingan unggas asal Jerman melalui Polandia. Pengiriman tersebut melintasi perbatasan menggunakan dokumen veteriner palsu sebelum dikirim ke Uzbekistan melalui Rusia.

"Analisis lanjutan dan tanggapan dari otoritas veteriner Jerman dilaporkan gagal mengungkap identitas pengirim maupun asal-usul sebenarnya dari produk-produk tersebut," ujar Rosselkhoznadzor.

Dampak utama dari larangan transit ini akan ditanggung oleh pemasok Eropa dan pembeli di Asia Tengah, demikian disampaikan Ilya Grashchenkov, seorang analis politik dan presiden Center for Regional Policy Development, kepada kantor berita negara setempat, TASS.

HARGA AYAM DI SURIAH MELONJAK TAJAM DI TENGAH DESAKAN UNTUK MELAKUKAN IMPOR

Harga ayam di Suriah telah melonjak ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam beberapa minggu terakhir. Hal ini memicu desakan agar pemerintah kembali membuka keran impor unggas setelah kesepakatan yang bertujuan menjaga harga di tingkat peternak agar tetap terkendali tampaknya gagal.

Harga dada ayam telah mencapai sekitar 1.000 lira Suriah baru (US$8,20) per kg, sementara ayam hidup dijual seharga sekitar 400 lira baru (US$3,28) per kg. Menurut Al-Watan, sebuah media lokal, angka-angka ini dianggap "tidak masuk akal" bagi negara dengan standar hidup yang relatif rendah.

Lonjakan harga terbaru ini terjadi meskipun telah ada kesepakatan antara Kementerian Pertanian dan Komite Pembibitan Unggas yang bertujuan menciptakan stabilitas pasar. Berdasarkan kesepakatan tersebut, pihak berwenang seharusnya menerbitkan buletin harga acuan mingguan, dan para produsen unggas berkomitmen untuk menjual satu ton ayam hidup dengan harga tidak lebih dari US$2.000. Saat ini, harga aktualnya berada 30-40% di atas tingkat tersebut.

Abdul Razzaq Habza, sekretaris Asosiasi Perlindungan Konsumen, menyatakan bahwa kesepakatan tersebut pada kenyataannya telah gagal, "Kesepakatan yang dicapai antara Kementerian Pertanian dan Komite Pembibitan Unggas hanyalah sekadar tulisan di atas kertas, mengingat para peternak unggas tidak mematuhinya."

Kesepakatan itu muncul setelah adanya tuntutan dari produsen unggas untuk menghentikan impor ayam demi melindungi peternakan lokal. Menurut Habza, para produsen berargumen bahwa pembatasan impor akan menurunkan harga di tingkat lokal, dan pihak berwenang sempat memperkirakan pasar akan stabil dalam hitungan hari.

"Sayangnya, alih-alih melihat penurunan atau bahkan stabilitas harga ayam dan bagian-bagiannya, kita justru menyaksikan lonjakan besar yang belum pernah terjadi sebelumnya," ujarnya.

Di sisi lain, organisasi perlindungan konsumen berpendapat bahwa peternak unggas bukanlah pihak yang harus disalahkan atas kenaikan harga baru-baru ini.

Habza mengatakan bahwa rumah potong hewan dan perantara lainnya adalah pihak yang paling diuntungkan dari kenaikan harga yang sedang berlangsung, sementara peternak sebenarnya memiliki pengaruh terbatas terhadap harga akhir yang dibayarkan oleh konsumen.

Sebaliknya, para peternak menjelaskan bahwa harga unggas melonjak akibat kematian massal unggas selama gelombang panas ekstrem, yang sangat berdampak pada tingkat produksi.

Dalam situasi ini, Habza menyatakan bahwa mengizinkan impor unggas merupakan kebutuhan mendesak untuk mengendalikan kembali harga.

Namun, ia menegaskan bahwa impor tersebut tidak boleh dilakukan tanpa batasan. "Melanjutkan kembali impor ayam telah menjadi kebutuhan mendesak, namun hal itu harus dilakukan dengan pengendalian khusus dan tidak secara sembarangan," ujar Habza.

Tujuannya, tambah dia, adalah menciptakan keseimbangan antara melindungi produsen unggas dalam negeri dan memastikan konsumen dapat membeli ayam dengan harga wajar yang sesuai dengan daya beli mereka.

PENERAPAN LANGKAH-LANGKAH BIOSEKURITI DI PETERNAKAN AYAM PEDAGING KAMERUN MASIH BELUM MERATA

Peternakan ayam pedaging komersial di wilayah barat laut Kamerun memiliki skor biosekuriti keseluruhan yang relatif baik, namun sebuah studi menemukan adanya celah penting dalam beberapa langkah dasar pencegahan penyakit.

Para peneliti dari Universitas Ngaoundéré mengevaluasi 65 peternakan ayam pedaging komersial di Divisi Mezam, wilayah barat laut Kamerun, antara bulan April dan September 2025. Mereka menemukan skor biosekuriti rata-rata sebesar 76,1%. Namun, beberapa praktik dasar hanya diterapkan di kurang dari separuh jumlah peternakan tersebut. Hanya 35,4% yang memiliki fasilitas bak wheel dip untuk disinfeksi, dan persentase yang sama menerapkan sistem produksi all-in, all-out. Selain itu, hanya 47,7% peternakan yang menyingkirkan ayam mati setidaknya dua kali sehari.

Para peneliti mencatat tingkat kematian rata-rata sebesar 1,9% per siklus produksi. Mereka menemukan bahwa tingkat kematian menurun seiring dengan membaiknya biosekuriti, yang menunjukkan adanya korelasi negatif yang signifikan secara statistik antara kedua faktor tersebut.

Studi ini juga meneliti pengetahuan dan sikap peternak terhadap kesejahteraan hewan. Meskipun skor praktik kesejahteraan hewan tergolong cukup baik, tingkat pengetahuan peternak jauh lebih rendah.

Nilai tengah skor pengetahuan adalah 38%, dibandingkan dengan 60% untuk sikap dan 70% untuk praktik. Para peneliti juga menemukan hubungan positif antara penerapan biosekuriti dengan pengetahuan peternak maupun praktik kesejahteraan hewan.

Temuan ini mengindikasikan bahwa pelatihan dapat berperan penting dalam membantu peternak mengidentifikasi dan mengatasi kelemahan dalam praktik peternakan sehari-hari mereka. Langkah-langkah praktis dapat memberikan dampak nyata

Para peneliti menyatakan bahwa temuan ini sangat relevan bagi produksi unggas di wilayah dengan keterbatasan sumber daya, di mana para peternak mungkin menghadapi kendala finansial dan praktis dalam menerapkan sistem biosekuriti yang lebih canggih.

Studi ini menyoroti bahwa biosekuriti dan kesejahteraan hewan tidak boleh dipandang sebagai hal yang terpisah. Para peneliti menyimpulkan bahwa pelatihan terpadu yang mencakup kedua aspek tersebut dapat membantu meningkatkan kesehatan kawanan unggas, mengurangi kerugian, serta mendukung produksi ayam pedaging yang lebih berkelanjutan di Kamerun dan wilayah penghasil unggas lainnya yang memiliki keterbatasan sumber daya.

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer