Gratis Buku Motivasi "Menggali Berlian di Kebun Sendiri", Klik Disini Pelatihan Genetik Ternak | Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan -->

RANGKAIAN SESI 7-9 PELATIHAN DARING GENETIK TERNAK LOKAL

Pelatihan genetik ternak lokal sesi ke-8. (Foto: Istimewa)

Kegiatan Online Training on Indonesia Cattle Local Genetics memasuki sesi ke-7. Pada Jumat (27/8), pelatihan yang diselenggarakan atas kerja sama Direktorat Perbibitan dan Produksi Ternak bersama MLA (Meat & Livestock Australia) dan UNE (University of New England) Australia yang difasilitasi GITA Organizer dan Majalah Infovet ini, dimulai dengan sesi tanya-jawab dan diskusi oleh narasumber Prof Julius van der Werf dan Dr Samual Clark dengan para peserta yang berjumlah 72 orang.

Salah satu perwakilan dari grup 3, Chakra, langsung mempresentasikan home work sesi sebelumnya mengenai Pemuliaan Ternak Babi yang sudah dilakukan menyangkut data genetik aditif (heritabilitas), data lingkungan yang permanen (repeatability), data korelasi genetik, estimasi heritabilitas dan korelasinya, yang langsung ditanggapi Julius.

Sementara peserta lain dari grup 5, Rosi, melanjutkan presentasi sebelumnya menyoal Madura Cattle yang telah dilakukan. Beberapa aspek yang dibahas mengenai bagaimana cara mengidentifikasi silsilah ternak, pencatatan dan perekaman yang dibahas oleh Samuel Clark.

Kemudian pada Jum’at (3/9), pelatihan sesi ke-8 yang diikuti 78 peserta langsung dibuka oleh Prof Dr Ir VM Ani Nurgiartiningsih dari Fapet Unbraw. Dilanjutkan presentasi Julius yang memberikan gambaran bagaimana pemuliaan pada ternak berlangsung. Contohnya ayam ras pedaging yang kini berhasil menaikkan pertumbuhan bobot badannya dengan waktu yang singkat, serta perbaikan genetik sapi perah yang difokuskan pada peningkatan produksi susu dan masalah fertilitas.

Perubahan genetik, kata Julius, dapat dikerjakan sepenuhnya dan sangat menguntungkan. Namun dibutuhkan respon dan etika dalam pendekatannya, selain pengetahuan tentang perubahan biologis yang terjadi. 

Sedangkan pada Jumat (10/8), pelatihan sesi ke-9 yang dihadiri 68 peserta, Julius membahas mengenai design of breeding programs. Sebagai kesimpulan, Julius mengemukakan bahwa manfaat konsep ini untuk meminimalisir inbreeding disebabkan perkawinan relatif dan bisa memiliki konsekuensi yang tidak diharapkan, koefisien inbreeding relatif  untuk beberapa basis populasi dan hal itu sangat bermanfaat untuk mempertimbangkan percepatan F rather dari pada nilai absolutnya, serta teori selalu hidup untuk keseimbangan kecepatan F dan perkembangan genetik. (SA)

LANJUTAN PELATIHAN ONLINE GENETIK TERNAK

Lanjutan pelatihan daring genetik ternak lokal. (Foto: Istimewa)

Jumat (6/8/2021), lanjutan pelatihan genetik sapi lokal kembali dilaksanakan.

Pada sesi 4 ini, yang dihadiri 75 peserta, narasumber Samuel Clark mengupas Modul 2 tentang perkenalan dengan evaluasi genetika menyangkut introduksi evaluasi gen, tujuan program breeding, langkah awal evaluasi hewan ternak, recording performa dengan EBV dan lain sebagainya yang menyangkut genetik dan pemeliharaan ternak sapi.

Diakhir kegiatan seperti biasa peserta mendapat pekerjaan rumah untuk mengupas studi kasus animal in record, how are very managed dan traits to record.

Sementara pada pelatihan sesi 5, Jumat (13/8/2021), yang dihadiri 94 peserta, lebih banyak membahas mengenai swine breeding programme oleh perwakilan grup 3, cattle breeding programme dan pemuliaan kambing oleh BBTUHPPT, Baturaden dan pembahasan genetic evaluation dan genetic breeder oleh Samuel Clark.

Sedangkan di pelatihan sesi 6 yang dilaksanakan Jumat (20/8/2021), sebagai pembukaan training dihadapan 76 peserta, ditampilkan narasumber Catriona Millen dari Agriculture Business Research Institute (ABRI) mengenai “Practical Data Recording and Management” salah satunya menyangkut pengembangan rencana pembibitan (breed plan) sapi potong di Australia yang merupakan terbaik di dunia dengan penggunaan sistem evaluasi genetik, menggunakan 80 lebih asosiasi perbibitan lintas 14 negara, disamping itu dievaluasi tentang pertumbuhan, karkas dan fertilitas EBVs berbarengan dalam sebuah model multi-sifat, kasus kelahiran dan penjinakan yang menyangkut data base dari 40 juta ternak.

Dalam breed plan ini terjadi kalaborisasi antara MLA, ABRI, UNE, DPI dan para breeder lainnya. ABRI sebagai sentral breed plan peran pelaksana kerjanya sebagai pembuat program dan pengerjaan langsung dengan produsen daging sapi di Australia untuk membantu mereka mendapatkan pelayanan hasil evaluasi genetik terbaik. Kemudian penataan program breeding antara lain, individu tiap ternak menyangkut sistem identifikasi ternak yang memiliki ciri khas dan informasi bibit yang akurat.

Dari studi kasus di Australia terhadap 227 kasus kelahiran sapi hasil AI (Artificial Insemination) di back-up oleh tetuanya. Minimal 12 (5,3%) dari 227 kelahiran dikategorikan kurang baik sebagai induk. Dapat disimpulkan bahwa yang terpenting dalam penataan breeding program ialah sistem identifikasi ternak yang memiliki ciri khas, tanggal kelahiran dan informasi bibit yang akurat, silsilah ternak yang akurat, ukuran sifat tercatat dalam tiap unit dan patokan metodologi yang digunakan secara konsisten dilaksanakan secara utuh.

Catriona kemudian juga menyajikan analisis tentang genetik keturunan, genetik persilangan, recording terseleksi dan keturunan terkecil dari sapi potong.

Webinar yang sudah berjalan 6 sesi ini merupakan kerja sama antara Direktorat Perbibitan dan Produksi Ternak, Ditjen PKH, didukung MLA (Meat & Livestock Australia) dan UNE (University of New England) Australia, serta difasilitasi oleh GITA Organizer. (SA)

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

ARTIKEL POPULER BULAN INI

ARTIKEL POPULER TAHUN INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer