-->

HARGA AYAM DI SURIAH MELONJAK TAJAM DI TENGAH DESAKAN UNTUK MELAKUKAN IMPOR

Harga ayam di Suriah telah melonjak ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam beberapa minggu terakhir. Hal ini memicu desakan agar pemerintah kembali membuka keran impor unggas setelah kesepakatan yang bertujuan menjaga harga di tingkat peternak agar tetap terkendali tampaknya gagal.

Harga dada ayam telah mencapai sekitar 1.000 lira Suriah baru (US$8,20) per kg, sementara ayam hidup dijual seharga sekitar 400 lira baru (US$3,28) per kg. Menurut Al-Watan, sebuah media lokal, angka-angka ini dianggap "tidak masuk akal" bagi negara dengan standar hidup yang relatif rendah.

Lonjakan harga terbaru ini terjadi meskipun telah ada kesepakatan antara Kementerian Pertanian dan Komite Pembibitan Unggas yang bertujuan menciptakan stabilitas pasar. Berdasarkan kesepakatan tersebut, pihak berwenang seharusnya menerbitkan buletin harga acuan mingguan, dan para produsen unggas berkomitmen untuk menjual satu ton ayam hidup dengan harga tidak lebih dari US$2.000. Saat ini, harga aktualnya berada 30-40% di atas tingkat tersebut.

Abdul Razzaq Habza, sekretaris Asosiasi Perlindungan Konsumen, menyatakan bahwa kesepakatan tersebut pada kenyataannya telah gagal, "Kesepakatan yang dicapai antara Kementerian Pertanian dan Komite Pembibitan Unggas hanyalah sekadar tulisan di atas kertas, mengingat para peternak unggas tidak mematuhinya."

Kesepakatan itu muncul setelah adanya tuntutan dari produsen unggas untuk menghentikan impor ayam demi melindungi peternakan lokal. Menurut Habza, para produsen berargumen bahwa pembatasan impor akan menurunkan harga di tingkat lokal, dan pihak berwenang sempat memperkirakan pasar akan stabil dalam hitungan hari.

"Sayangnya, alih-alih melihat penurunan atau bahkan stabilitas harga ayam dan bagian-bagiannya, kita justru menyaksikan lonjakan besar yang belum pernah terjadi sebelumnya," ujarnya.

Di sisi lain, organisasi perlindungan konsumen berpendapat bahwa peternak unggas bukanlah pihak yang harus disalahkan atas kenaikan harga baru-baru ini.

Habza mengatakan bahwa rumah potong hewan dan perantara lainnya adalah pihak yang paling diuntungkan dari kenaikan harga yang sedang berlangsung, sementara peternak sebenarnya memiliki pengaruh terbatas terhadap harga akhir yang dibayarkan oleh konsumen.

Sebaliknya, para peternak menjelaskan bahwa harga unggas melonjak akibat kematian massal unggas selama gelombang panas ekstrem, yang sangat berdampak pada tingkat produksi.

Dalam situasi ini, Habza menyatakan bahwa mengizinkan impor unggas merupakan kebutuhan mendesak untuk mengendalikan kembali harga.

Namun, ia menegaskan bahwa impor tersebut tidak boleh dilakukan tanpa batasan. "Melanjutkan kembali impor ayam telah menjadi kebutuhan mendesak, namun hal itu harus dilakukan dengan pengendalian khusus dan tidak secara sembarangan," ujar Habza.

Tujuannya, tambah dia, adalah menciptakan keseimbangan antara melindungi produsen unggas dalam negeri dan memastikan konsumen dapat membeli ayam dengan harga wajar yang sesuai dengan daya beli mereka.

Related Posts

0 Comments:

Posting Komentar

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer