-->

AFGHANISTAN MENGINCAR SWASEMBADA PRODUKSI UNGGAS DAN TELUR

Afghanistan meningkatkan produksi untuk memenuhi permintaan domestik akan daging ayam broiler dan telur dengan lebih baik, lapor Shafaqna, sebuah media berita lokal, mengutip Kementerian Pertanian, Peternakan, dan Irigasi Taliban.

Sebagai contoh, Kementerian mencatat pertumbuhan substansial dalam industri unggas di Herat, sebuah wilayah di barat laut negara itu, di mana US$120 juta baru-baru ini diinvestasikan dalam produksi telur. Akibatnya, tambah Kementerian, produksi segmen tersebut telah mencapai 2,5 juta per hari, dan angka tersebut diproyeksikan akan tumbuh menjadi 4 juta per hari selama beberapa bulan ke depan.

Herat telah menjadi pusat industri unggas Afghanistan, karena wilayah tersebut mengekspor sekitar 75% produk unggas olahan ke provinsi lain. Saat ini, 800 peternakan unggas aktif di provinsi tersebut, 65 di antaranya khusus memproduksi telur, kata Kementerian.

“Industri unggas Afghanistan secara bertahap menjadi swasembada,” kata Shafaqna, mengutip Kementerian Pertanian. Pengumuman tersebut dibuat sebagai respons terhadap fluktuasi harga yang tajam di pasar makanan Afghanistan selama beberapa bulan terakhir.

Menurut Shafaqna, penutupan perbatasan dengan Pakistan pada Oktober 2025 telah memicu lonjakan harga unggas dan telur di seluruh negeri.

Pada awal tahun 2025, produsen unggas Pakistan memperkirakan bahwa Afghanistan mengimpor 30% daging ayam dan telur untuk memenuhi konsumsi domestik. Hal ini menawarkan peluang signifikan bagi eksportir unggas Pakistan.

Pakistan menutup semua perbatasan dengan Afghanistan pada Oktober 2025 setelah bentrokan mematikan semalam di mana kedua pihak mengklaim telah menewaskan puluhan tentara.

Dampak ketegangan politik telah dirasakan di kedua sisi perbatasan. Harga ayam di Karachi, ibu kota Pakistan, telah turun secara signifikan dalam beberapa minggu terakhir tahun 2025, dengan para pedagang menghubungkan penurunan tersebut dengan penutupan perbatasan dengan Afghanistan, yang secara efektif telah menangguhkan ekspor unggas, menurut Ariana News, sebuah media berita lokal.

Penurunan harga unggas secara tiba-tiba di Pakistan bahkan memicu spekulasi di media sosial bahwa wabah penyakit hewan mungkin menjadi penyebabnya.

Namun, para pejabat industri unggas membantah rumor tersebut. Kamal Akhtar Siddiqui, sekretaris jenderal Asosiasi Pedagang Grosir Unggas Sindh, misalnya, mengatakan kepada Ariana News bahwa tidak ada wabah yang memengaruhi industri unggas Pakistan baru-baru ini. Penghentian ekspor unggas, telur, dan pakan ke Afghanistan telah mengakibatkan surplus produk di pasar dan menurunkan harga, tambahnya.

Related Posts

0 Comments:

Posting Komentar

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer