-->

SEPERTI INI PROYEKSI PERTUMBUHAN INDUSTRI PAKAN DI 2026

Seminar Perunggasan: Overview 2025 dan Outlook 2026 diselenggarakan GPMT (Foto: Infovet)

Pertumbuhan produksi pakan Tanah Air diperkirakan tetap tumbuh positif pada 2026, sejalan dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan tren harga jagung domestik.

"Meredanya perang dagang antara AS dan Tiongkok turut membawa dampak  positif terhadap harga jagung global," tutur Direktur Pakan Ditjen PKH Kementerian Pertanian (Kementan), Ir Tri Melasari SPt MSi di Seminar Perunggasan: Overview 2025 dan Outlook 2026 yang digelar oleh Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Jumat (7/11) di ICE BSD.  

Lebih lanjut Tri Melasari memaparkan arah kebijakan dan dukungan regulasi terkait industri pakan yang pertama adalah mengoptimalisasi pemanfaatan bahan pakan lokal dengan pengajuan usulan Domestic Market Obligation (DMO) untuk bungkil inti sawit.

Kementan juga menekankan penambahan jenis bahan pakan bebas PPN, pemberlakuan SNI Wajib Pakan, serta Sertifikasi Pakan oleh LSPro Pakan Ternak.

Manfaat sertifikasi ini meliputi pakan ternak yang beredar memenuhi SNI, adanya perlindungan konsumen terhadap pakan ternak dan perlindungan menuju pasar global. 

Ketua Umum GPMT, Desianto Budi Utomo PhD dalam presentasinya menyebutkan bahwa industri pakan tahun 2025 diprediksi mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan yakni mencapai 6,7%. Hal ini disebabkan mulai berefeknya Program MBG), terutama di sektor penyerapan produksi telur disusul peningkatan masa pemeliharaan broiler dan juga dengan asumsi peningkatan populasi layer hingga 7%.

Desianto Budi Utomo

Industri pakan menargetkan pertumbuhan produksi pakan tahun 2026 sebesar 6%, dengan pertimbangan kondisi DOC tidak jauh berbeda dengan tahun 2025, serta tetap mempertimbangkan harga jagung sebagai bahan pakan utama juga pemulihan ekonomi dan daya beli masyarakat.

“Harga jagung dan harga bahan pakan lainnya sangat mempengaruhi HPP pakan. GPMT berharap pemerintah dapat menjaga kestabilan produksi jagung serta bahan pakan lokal lainnya agar industri pakan dan industri perunggasan tetap tumbuh,” terang Desi. 

Dukungan pemerintah juga diperlukan terutama terkait risiko masuknya importasi CLQ dari US karena dinilai dapat melumpuhkan industri perunggasan Tanah Air yang telah swasembada bahkan menyerap sekitar 10% dari tenaga kerja nasional. 

DDGS Jagung

Ibnu Edy Wiyono selaku Indonesia Country Director, US Soybean Export Council dalam acara yang sama menyampaikan materi “Produksi Bahan Pakan Impor Tahun 2025 dan Proyeksi Tahun 2026”.

Ibnu Edy Wiyono

Edy menjelaskan terkait pasokan Distillers Dried Grains with Solubles (DDGS) Amerika Serikat yang diproyeksikan tetap kuat, didorong peningkatan produksi etanol dan permintaan global untuk pakan ternak.

Selain itu dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti harga jagung, kebijakan pemerintah (misalnya, Bagian 45Z) serta fluktuasi pasar ekspor.

“Selama produksi etanol terus meningkat, pasokan DDGS akan meningkat sebagai produk sampingan,” ujar Edy. 

Dia menambahkan, harga jagung yang tinggi dapat menurunkan produksi DDGS karena biaya produksi etanol menjadi lebih mahal. Kekeringan juga dapat memengaruhi pasokan jagung, yang pada akhirnya memengaruhi produksi DDGS. 

Kita ketahui DDGS merupakan hasil samping industri penyulingan etanol yang berbahan dasar jagung. Terdapat peluang besar untuk menggunakan DDGS sebagai sumber energi, protein, dan fosfor yang dapat dicerna guna mengurangi biaya pakan. (NDV) 

Related Posts

0 Comments:

Posting Komentar

ARTIKEL POPULER MINGGU INI


Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer