Di tengah meningkatnya kebutuhan pangan asal hewan untuk pemenuhan gizi nasional (seperti program Makan Bergizi Gratis – MBG) dan tuntutan global terhadap praktik usaha yang ramah lingkungan, sektor peternakan dihadapkan pada tantangan besar. Selain produktivitas yang tinggi, peternakan juga dituntut berkelanjutan secara ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Dalam konteks ini, satu aspek
kunci yang sering luput dari perhatian adalah status kesehatan ternak. Padahal,
yang merupakan pilar utama untuk mewujudkan sustainable livestock farming
atau peternakan berkelanjutan.
Status kesehatan ternak
mencerminkan kondisi fisik, fisiologis, dan bebas penyakit pada hewan ternak.
Ternak yang sehat tidak hanya menghasilkan produk yang aman dan berkualitas,
tetapi juga lebih efisien dalam memanfaatkan pakan, memiliki fungsi reproduksi
yang baik, serta berkontribusi nyata pada kondisi ekonomi dan kesejahteraan
peternak. Sebaliknya, ternak yang sakit dapat menjadi sumber kerugian ekonomi
signifikan, ancaman kesehatan masyarakat, dan tekanan terhadap lingkungan.
Efisiensi Produksi sebagai
Kunci Keberlanjutan
Di dalam sistem peternakan
berkelanjutan, efisiensi menjadi kata kunci. Ternak yang sehat mampu
mengonversi pakan menjadi daging, susu, atau telur secara optimal. Hal ini
berarti penggunaan sumber daya/ biomassa seperti pakan, air, dan lahan menjadi
lebih hemat dan ekonomis. Dengan efisiensi yang tinggi, emisi gas rumah kaca
per satuan produk pun dapat ditekan, sejalan dengan upaya mitigasi perubahan
iklim. Sebagai contoh solusi, adalah dengan dimulainya penerapan Smart/Precision
Farming untuk peningkatan produksi dan efisiensi usaha peternakan.
Sebaliknya, ternak sakit sering
kali mengalami penurunkan nafsu makan, perlambatan pertumbuhan, pengurangan
produk hasil ternak dan peningkatkan risiko kematian. Kondisi ini mendorong
peternak untuk mengafkir ternak secara dini (early culling), mengganti (replacement/restocking)
ternak, menambah populasi atau memperpanjang masa pemeliharaan, yang pada
akhirnya meningkatkan jejak lingkungan atau jejak karbon (carbon footprint).
Dengan kata lain, menjaga ternak tetap sehat sama artinya dengan menjaga
keseimbangan antara produksi dan kelestarian lingkungan.
Pengelolaan Pencemaran dan
Limbah Peternakan
Peternakan berkelanjutan tidak
dapat dipisahkan dari upaya pengendalian pencemaran dan limbah. Aktivitas
peternakan menghasilkan limbah kotoran ternak, sisa pakan, air limbah, serta
emisi gas yang berpotensi mencemari tanah, air, dan udara di sekitarnya. Jika
tidak dikelola dengan baik, limbah tersebut dapat menurunkan kualitas
lingkungan, mengganggu kesehatan masyarakat, dan mempercepat penyebaran
penyakit di antara ternak itu sendiri. Oleh karenanya, pengelolaan limbah menjadi
bagian penting dari sistem kesehatan dan manajemen peternakan.
Pengelolaan limbah dapat dilakukan melalui penerapan kebersihan kandang, sistem drainase yang baik, serta pemanfaatan kotoran ternak sebagai pupuk organik atau sumber energi biogas. Ternak yang sehat cenderung menghasilkan limbah yang lebih mudah dikelola, sehingga membantu mengurangi pencemaran lingkungan dan jejak karbon peternakan. Dengan pengelolaan limbah yang tepat dan efektif, aktivitas peternakan tidak hanya menjaga kelestarian lingkungan sekitar, tetapi juga menciptakan hubungan yang harmonis dengan masyarakat sekitar dan mendukung keberlanjutan usaha dalam jangka panjang.
![]() |
| Pengecekan Status Kesehatan dan Dokumen di Check Point Dilakukan Untuk Mencegah Penyebaran Penyakit (Foto : Istimewa) |
Kesehatan Masyarakat, Kesejahteraan
Hewan dan Tanggung Jawab Sosial
Peran kesehatan ternak tidak
berhenti di kandang. Penyakit hewan, terutama yang bersifat zoonosis, dapat
menular ke manusia melalui produk ternak atau kontak langsung. Kasus flu
burung, antraks, hingga bruselosis menjadi pengingat bahwa kesehatan ternak
berkaitan erat dengan kesehatan manusia.
Pendekatan One Health yang
menekankan integrasi antara kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan menjadi semakin
relevan dalam pembangunan peternakan berkelanjutan. Ternak yang sehat
menghasilkan produk yang aman dikonsumsi, mengurangi risiko penularan penyakit
kepada masyarakat, serta meningkatkan kepercayaan dan rasa aman bagi konsumen.
Dalam jangka panjang, hal ini memperkuat posisi dan daya saing produk
peternakan baik di pasar domestik maupun global.
Peternakan berkelanjutan juga memposisikan
kesejahteraan hewan sebagai prinsip utama. Kesehatan ternak menjadi indikator
langsung dari tingkat kesejahteraan tersebut. Ternak yang dipelihara dengan
manajemen kesehatan yang baik, melalui pencegahan penyakit, sanitasi kandang,
dan praktik-praktik beternak yang baik (good farming practices), menunjukkan
bahwa aktivitas usaha peternakan dikelola dengan bertanggung jawab dengan
mengedepankan prinsip kesejahteraan hewan.
Dewasa ini, masyarakat pun semakin
kritis terhadap asal-usul produk pangan. Praktik peternakan yang memperhatikan
kesehatan dan kesejahteraan ternak dinilai lebih dapat diterima secara sosial.
Hal ini membuka peluang nilai tambah bagi peternak, terutama dalam menghadapi
pasar yang mengutamakan aspek keberlanjutan dan etika produksi.
Menatap Masa Depan Peternakan
melalui Manajemen Kesehatan dan Kebijakan
Menjaga status kesehatan ternak
tidak bisa dilakukan secara sporadis. Diperlukan manajemen kesehatan yang
terencana, mulai dari biosekuriti, vaksinasi, monitoring penyakit (deteksi
dini), hingga penggunaan obat hewan yang bijak. Peran tenaga kesehatan hewan
(dokter hewan dan paramedik veteriner), penyuluh pertanian, dan dukungan
kebijakan pemerintah menjadi sangat penting dalam sistem ini.
Pemerintah dan pemangku
kepentingan diharapkan terus mendorong program pengendalian penyakit, penguatan
sistem surveilans, serta edukasi peternak. Disamping itu, kolaborasi dengan
perguruan tinggi dan pusat penelitian menjadi penting dalam upaya kebaruan metode,
inovasi dan analisis program pengendalian. Investasi pada kesehatan ternak
sejatinya adalah investasi jangka panjang bagi keberlanjutan sektor peternakan
nasional.
Di era pembangunan berkelanjutan,
kesehatan ternak bukan lagi isu teknis semata, melainkan strategi utama. Dengan
ternak yang sehat, peternakan dapat berjalan lebih produktif, ramah lingkungan,
dan bertanggung jawab secara sosial. Status kesehatan ternak adalah jembatan
yang menghubungkan kepentingan peternak, konsumen, dan lingkungan.
Oleh: Dr. Drh. Ardilasunu Wicaksono, MSi
1. Dosen Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis, IPB University
2. Sekretaris Program Studi Doktor Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, IPB University

