![]() |
| Kegiatan webinar dihadiri oleh perwakilan dari balai-balai veteriner dan dinas peternakan provinsi/kabupaten. (Foto: Dok BBVF Pusvetma) |
Pelaksanaan monitoring pascavaksinasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) tahun 2025 oleh Balai Besar Veteriner Farma (BBVF) Pusvetma secara nasional, mengonfirmasi efektivitas program vaksinasi di lapangan. Pengujian terhadap 3.845 sampel serum ternak di 8 provinsi menunjukkan, proporsi antibodi protektif (SP-O positif) pascavaksinasi dasar dan booster mampu bertahan optimal hingga kisaran 73%–100% pada H+56.
Capaian ini secara langsung berhasil menekan proporsi Non-Structural Protein (NSP) positif hingga tersisa 26%, membuktikan kekuatan proteksi imun dalam melindungi populasi ternak.
Dalam webinar bertajuk "Monitoring Pascavaksinasi PMK Tahun 2025" pada Jumat (17/7/2026), Kepala BBVF Pusvetma, Drh Edy Budi Susila MSi menegaskan bahwa pemantauan pascavaksinasi adalah instrumen wajib untuk mengawal Roadmap Pengendalian dan Pembebasan PMK 2035 yang ditetapkan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian.
"Program vaksinasi harus didukung dengan penerapan biosecurity, biosafety, surveilans serta pengendalian lalu lintas ternak," tandas Edy. Melalui webinar ini, Pusvetma sebagai laboratorium referensi nasional PMK sekaligus produsen vaksin Aphthovet ingin memberikan pemahaman mengenai efektivitas vaksin di lapangan, serta pentingnya monitoring pascavaksinasi sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari program pengendalian PMK.
Wabah PMK yang kembali muncul pada tahun 2022, Pusvetma bersama balai veteriner di berbagai daerah secara konsisten melakukan pemantauan terhadap sirkulasi virus PMK. Hasil sequencing yang dilakukan hingga 2026, menunjukkan bahwa virus yang beredar di lapangan adalah Serotype O/ME-SA/Ind-2001.
Webinar ini dipandu moderator Drh Indah Purnama Sari MSi selaku Medik Veteriner Ahli Madya, serta host oleh Drh Ribby Ansharieta MSi. Dihadiri oleh perwakilan dari balai-balai veteriner dan dinas peternakan provinsi/kabupaten.
Perkuat Sistem Vaksinasi
Membuka presentasinya, Dr drh Dewi Noor Hidayati MSi, Medik Veteriner Ahli Madya Pusvetma sebagai pembicara webinar menuturkan Pusvetma sebagai satu-satunya produsen vaksin PMK lokal, memiliki tanggung jawab untuk memastikan mutu vaksin tetap terjaga hingga diaplikasikan di lapangan.
"Kami ingin mengetahui bagaimana kualitas vaksin Aphthovet PMK setelah digunakan di lapangan, sekaligus mengevaluasi efektivitasnya dalam mendukung program vaksinasi yang dilaksanakan oleh otoritas veteriner di daerah. Data tersebut menjadi dasar untuk memperkuat sistem vaksinasi dan memberikan masukan bagi pengambilan kebijakan pengendalian PMK ke depan," jelas Dewi.
PMK masih menjadi ancaman aktif, karena merupakan penyakit hewan yang sangat mudah menular (contagious) sekaligus termasuk penyakit lintas batas (transboundary animal disease).
Posisi geografis Indonesia yang berdekatan dengan sejumlah negara endemis PMK membuat kewaspadaan terhadap masuknya virus maupun munculnya serotipe baru. Oleh sebab itu, perlunya ditingkatkan melalui deteksi dini dan pemantauan berkesinambungan.
Dinamika Respons Imun dan Hasil Monitoring
Lebih lanjut, Dewi memaparkan monitoring dilakukan terhadap 3.845 sampel serum yang berasal dari 62 kabupaten/kota di delapan provinsi, yakni Jawa Timur, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat, Lampung, Bali, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat. Pengambilan sampel dilakukan pada hari ke-28, ke-42, dan ke-56 setelah vaksinasi dasar untuk melihat dinamika pembentukan antibodi.
Pemeriksaan serologis dilakukan menggunakan metode ELISA dengan dua parameter utama, yaitu SP-O (Structural Protein O) dan NSP (Non-Structural Protein).
Uji ELISA SP-O digunakan untuk mengetahui respons antibodi terhadap hasil vaksinasi maupun infeksi alami, sedangkan antibodi NSP menjadi indikator adanya paparan virus lapang, bukan akibat vaksinasi.
Interpretasi kedua parameter tersebut menjadi dasar evaluasi efektivitas vaksin. Kombinasi hasil SP-O positif dan NSP negatif menunjukkan kondisi ideal, yaitu kekebalan terbentuk melalui vaksinasi tanpa adanya indikasi paparan virus lapang.
Pada periode kedua pelaksanaan vaksinasi, proporsi ternak dengan antibodi SP-O positif meningkat dan semakin stabil, berkisar 73-100%, sementara proporsi antibodi NSP cenderung menurun. Temuan ini membuktikan vaksinasi membentuk respons kekebalan yang baik.
Dokumentasi riwayat vaksinasi menjadi bagian penting dalam sistem pengendalian PMK. Data mencakup waktu vaksinasi, jenis vaksin yang digunakan, hingga identitas ternak akan menjadi dasar dalam menilai efektivitas program vaksinasi dan mendukung pengambilan keputusan apabila diperlukan vaksinasi booster.
Monitoring juga memperlihatkan keberhasilan vaksinasi sangat dipengaruhi berbagai faktor di lapangan. Antara lain penyimpanan dan distribusi vaksin (cold chain), ketepatan waktu pemberian booster, teknik vaksinasi, kondisi kesehatan ternak saat divaksin, hingga biosekuriti kandang dan pengendalian lalu lintas ternak menjadi faktor yang menentukan terbentuknya kekebalan optimal.
Pusvetma menegaskan monitoring pascavaksinasi bukan sekadar kegiatan evaluasi internal, melainkan bagian dari kepentingan nasional sekaligus mendukung tahapan Progressive Control Pathway (PCP) menuju status bebas PMK. (ADV)



0 Comments:
Posting Komentar