![]() |
| Seremoni launching GLEAM yang dirancang untuk mengubah data menjadi dasar kebijakan yang konkret dan terukur. |
Salah satu agenda penting dalam konferensi International Strategic Meeting on Scientific Pathways for Sustainable Livestock Industry Transformation yang digelar pada 27–28 Maret 2026 di Auditorium BJ Habibie, Jakarta adalah peluncuran Global Livestock Environmental Assessment Model (GLEAM) dari FAO.
Model ini merupakan kerangka analisis komprehensif yang dirancang untuk mengukur dampak lingkungan dari sistem peternakan, sekaligus memberikan rekomendasi strategi untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan.
GLEAM diharapkan menjadi alat penting bagi pembuat kebijakan, peneliti, dan pelaku industri dalam merancang kebijakan berbasis data, mengurangi dampak lingkungan, serta menjaga keseimbangan antara keberlanjutan ekonomi, sosial, dan lingkungan dalam jangka panjang.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Dr drh Agung Suganda MSi yang hadir mewakili Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa transformasi peternakan berkelanjutan menjadi prioritas nasional.
“Subsektor peternakan saat ini menghadapi tantangan ganda yaitu memastikan ketersediaan pangan yang terjangkau sekaligus menekan dampak lingkungan tanpa mengorbankan produktivitas, kesehatan hewan, dan kesejahteraan peternak,” ujarnya.
Lebih lanjut Agung mengatakan, penguatan produksi dalam negeri berjalan seiring dengan peningkatan keberlanjutan dan efisiensi. Transformasi peternakan berkelanjutan adalah prioritas nasional untuk memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan daya saing, dan memenuhi komitmen iklim. “Pendekatan hulu hingga hilir harus dilakukan secara terintegrasi,” kata Agung.
Livestock Policy Officer FAO, Dominik Wisser, menjelaskan bahwa GLEAM dirancang untuk mengubah data menjadi dasar kebijakan yang konkret dan terukur.
“GLEAM membantu menerjemahkan data yang kompleks menjadi indikator yang dapat ditindaklanjuti untuk mendukung transformasi berkelanjutan sistem peternakan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti bahwa tanpa intervensi yang tepat, peningkatan produksi peternakan ke depan akan berdampak pada peningkatan emisi.
“Pada tahun 2050, produksi peternakan diproyeksikan meningkat sekitar 20 persen. Hal ini berpotensi meningkatkan emisi gas rumah kaca secara signifikan jika tidak diimbangi dengan langkah mitigasi,” tambahnya.
Bagi pelaku usaha, pemanfaatan model seperti GLEAM memberikan arah yang lebih jelas dalam investasi dan pengembangan usaha. Baik itu dari segi efisiensi produksi, pengelolaan pakan, serta penguatan rantai pasok yang berkelanjutan.
Sebelum konferensi berlangsung, FAO juga menggelar pelatihan teknis bagi 100 pakar dan spesialis terkait penggunaan model GLEAM dan pedoman teknis terbaru yang dikembangkan melalui kemitraan Livestock Environmental Assessment and Performance (LEAP). Inisiatif ini mendukung negara-negara dalam menilai dan mengoptimalkan nilai jasa ekosistem dalam sistem peternakan.
Konferensi kerjasama BRIN dan FAO ini juga menghadirkan berbagai sesi diskusi mulai dari pleno, panel pakar, hingga forum ilmiah paralel yang membahas temuan terkini di bidang peternakan. Selain itu, kompetisi riset pemuda juga digelar untuk mendorong lahirnya inovasi dari generasi muda dalam mendukung transformasi sektor ini.
Diikuti lebih dari 470 peserta dari 33 negara, kegiatan ini menjadi bukti bahwa transformasi industri peternakan telah menjadi agenda global. Kolaborasi lintas negara, dukungan sains, serta keterlibatan generasi muda diharapkan mampu mempercepat terwujudnya sistem peternakan yang lebih efisien, inklusif, dan berkelanjutan di masa depan. (NDV)


0 Comments:
Posting Komentar