-->

MENEKUNI USAHA KALKUN YANG SEMAKIN MENINGKAT

Ternak kalkun. (Sumber: Google)

Memulai bisnis unggas ini peternak bisa memilih, usaha kalkun hias atau kalkun pedaging. Namun demikian, keduanya sama-sama memiliki prospek yang cerah dan pasar mulai menanti.

Melintas di area Perkampungan Gondosuli, Kecamatan Muntilan, Magelang, Jawa Tengah, di pagi hari terasa nyaman, udaranya masih terasa segar. Suasana tenteram di kampung ini makin terasa dengan kicauan ayam hias yang saling besautan. Suara kokok ayam kate yang melengking dan kokok puluhan ayam kalkun menjadi keunikan suasana Desa Gondosuli.

Sejak sepuluh tahun lalu, desa ini dikenal sebagai salah satu sentra peternakan ayam hias, termasuk ayam kalkun. Di sini terdapat dua jenis ayam kalkun yang diternakkan, yakni kalkun pedaging dan kalkun hias dari berbagai ras.

“Sebagian besar peternakan kalkun di sini bukan untuk pedaging, tapi lebih kepada ternak hias,” ujar Mugiyanto, salah satu peternak ayam kalkun hias desa ini kepada Infovet. Bukan tanpa alasan warga di kampung ini lebih memilih kalkun hias sebagai sumber penghasilan. Selain peminatnya lebih banyak, juga tak terlalu repot dalam pengelolaan usahanya.

Pria yang akrab disapa Yanto ini menceritakan, sebelumnya ia pernah mencoba usaha kalkun untuk konsumsi. Namun karena agak sulit, ia kembali fokus pada kalkun hias. Konsumen kalkun pedaging umumnya hanya mau menerima dalam bentuk daging bersih atau bentuk daging kalkun siap olah. “Artinya saya harus memiliki rumah potong ayam dan mesin pendingin yang memadai, butuh pekerja juga yang khusus mengurusi itu. Jadi lumayan ribet dan pekerjaaanya jadi dobel,” kata dia.

Kendati demikian, Yanto tak menyangkal jika pasar daging ayam kalkun saat ini sudah cukup besar. Makin banyaknya restoran penyedia olahan daging kalkun di kota-kota besar bisa menjadi indikator. Harganya pun cukup mahal, sehingga jika ditekuni dengan baik bisa jadi sumber penghasilan yang cukup menggiurkan.

“Tapi ya itu, karena ribet peternak di sini kebanyakan lebih memilih fokus pada kalkun hias. Hanya ada beberapa peternak saja yang fokus pada kalkun untuk konsumsi,” jelas pria yang mulai mengenal bisnis kalkun sejak SD ini.

Selain Desa Gondosuli, para peternak kalkun hias juga ada di desa lain Kecamatan Muntilan. Menurut Yanto, meski jumlah peternak cukup banyak, namun hasil penjualan ayam hias di sini cukup lumayan karena peminatnya kian bertambah. Model usahanya bervariasi, ada yang khusus sebagai usaha ada juga yang hanya sebagai usaha sampingan.

Terbukanya peluang pasar kalkun membuat warga Muntilan banyak yang menjadikan ternak unggas ini sebagai sumber penghasilan tambahan. Bagi Yanto, banyaknya jumlah peternak kalkun di daerahnya bukan berarti mengurangi pendapatan. Justru saling membantu antar peternak. “Kalau pas di kandang saya lagi kosong dan ada konsumen yang mau beli, saya bisa ambil dari teman-teman peternak lain. Jadi, kami saling membantu,” ungkapnya.

Usaha Turun-temurun
Usaha yang kini ditekuni Yanto merupakan usaha turun-temurun. Ia melanjutkan usaha sang ayah yang sudah dirintis sejak 20 tahun lalu. Di lahan seluas 600 meter persegi, Yanto membuat beberapa kandang berderet, termasuk kandang khusus untuk anakan kalkun. 

Di peternaknnya, 40 ekor indukan kalkun miliknya menghasilkan ratusan butir telur per periode bertelur. Dalam setahun kalkun memiliki 5-6 masa bertelur. Satu masa bertelur perindukan menghasilkan hingga 15 butir. Satu jantan kalkun mampu mengawini 5-6 kalkun betina. Telur-telur tersebut dierami langsung oleh induknya, dengan tingkat mortalitas (kegagalan menetas) sekitar 5%. Dalam sebulan, rata-rata tingkat produksinya mencapai 50 ekor anakan.

Ia mengaku menjual semua kelompok umur kalkun, tergatung permintaan konsumen. “Kadang ada yang minta anakan umur sehari, ada yang umur sebulan, ada juga yang beli indukan. Semua saya layani,” ujar Mugiyanto yang mempromosikan usahanya itu melalui portal Hobiternak.com.

Per ekor anakan kalkun umur sehari ia jual Rp 30 ribu. Sedangkan untuk kalkun umur satu bulan dibanderol Rp 60-75 ribu per ekor. Sementara untuk kalkun dewasa harganya bervariasi, tergantung jenis dan keindahan bulunya. Rata-rata harga di atas Rp 1 juta per ekor.

Pembeli kalkun hias milik Yanto tak hanya dari sekitar Magelang, namun juga dari luar kota  bahkan luar Pulau Jawa. Para pembeli ada yang datang langsung ke peternakan, ada juga yang pesan melalui online dan dikirim melalui jasa pengiriman. 

Kuliner Kalkun Makin Banyak
Selain di Muntilan, di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), juga ada peternak ayam kalkun. Salah satu peternaknya adalah Erzani. Dia membangun peternakan kalkun berawal dari pemanfaatan lahan kosong di belakang rumahnya. Bahan baku untuk pakan kalkun cukup melimpah, seperti pohon pisang, lumbu, ketela pohon, dedak, eceng gondok dan lain sebagainya.

Dalam bisnis kalkun, Erzani boleh dibilang sukses. Keberhasilan itu dia bangun dari bawah. Ketika membuka peternakan kalkun, pria yang juga berprofesi sebagai apartur sipil negara (ASN) ini hanya punya lahan seluas 10 meter persegi, diisi empat ekor kalkun yang dibeli di bawah harga Rp 2 juta. Kini dia sukses membangun kandang kalkunnya di areal yang lebih luas dan telah memiliki 20 kandang dengan luas total 1.000 meter persegi.

Sebelum sukses seperti sekarang, Erzani mengaku tak tahu persis cara beternak kalkun yang baik dan benar. Dengan semangat untuk mengubah nasib yang lebih baik, dia pun melakukan prinsip learning by doing sebagai cara ampuh yang dipilih Erzani dalam beternak.

Melihat peluang usaha, Erzani memulai usahanya pada akhir 2010. Saat itu kalkun masih dikenal oleh masyarakat sebagai ayam hias. Berawal dari empat ekor indukan betina dan satu ekor indukan jantan, setelah dipelihara selama tiga bulan, dua ekor kalkun ternyata mati. Namun Erzani tidak menyerah.

Kemudian dalam waktu enam bulan ia sudah bisa balik modal hingga mendapat keuntungan Rp 7 juta per bulan. Karena tidak punya latar belakang pendidikan peternakan, dia belajar secara otodidak dengan cara mempelajari teorinya melalui internet.

Referensi di Indonesia dari pengalaman peternak tidak begitu banyak, sehingga ia terpaksa belajar dari referensi luar negeri. Namun pada akhirnya ia harus mencoba sendiri di lapangan. “Saya harus mencoba sendiri karena dari luar negeri agak berbeda,” jelasnya.

Memulai usaha ternak kalkun dianggap cukup menantang bagi Erzani. Oleh karenanya, Erzani terus mencari referensi dengan berbagai macam bacaan, serta mempraktikkan di kandang. Semisal mengenai jumlah kalkun dalam kandang. Perbandi¬ngan yang ia ketahui adalah lima ekor betina dan satu jantan.

Namun setelah dicoba, ternyata tidak proporsional. Terdapat kalkun yang bersifat dominan. Akibatnya, ada telur-telur yang kosong dan tidak bisa ditetaskan. Kemudian juga me¬ngenai tinggi kandang. Telur kalkun juga dipengaruhi oleh tata letak kandang, karena hal itu berkaitan dengan cuaca. “Hingga akhirnya saya menemukan cara terbaik dalam breeding kalkun,” tuturnya.

Awalnya Erzani menganggap, kalkun sekadar ayam hias. Namun setelah sukses breeding kalkun, permintaan kalkun sebagai konsumsi terus meningkat dan ia memandang bisnis kalkun memiliki prospek besar. Kini, ia dibanjiri pesananan kalkun untuk konsumsi khususnya dari usaha rumah makan serta hotel di berbagai wilayah di Indonesia. “Dari segi usaha untuk ke depannya, ada kecenderungan arahnya bukan ke hias, tapi ke potong (daging),” katanya.

Ia memperkirakan, ada kecenderungan konsumsi kalkun terus meningkat. Jika dahulu kalkun di Eropa hanya dikonsumsi para raja, sekarang kalkun bisa dikonsumsi siapa saja. Di Yogyakarta sudah mulai banyak hotel, restoran, kafe, warung, bahkan lesehan menawarkan bermacam menu olahan berbahan daging kalkun. (AK)

Related Posts

0 Comments:

Posting Komentar

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

ARTIKEL POPULER BULAN INI

ARTIKEL POPULER TAHUN INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer