Tuesday, November 12, 2013

GEBYAR HARI AYAM DAN TELUR NASIONAL DI BALI


“Tingkatkan gizi dan prestasi anak bangsa melalui konsumsi ayam dan telur.”

Bali memang hebat. Tahun 2013 merupakan tahun keberuntungan. Pasalnya, banyak kegiatan skala internasional diadakan di pulau sejuta pura ini, misalnya Juni ada kiprah Indolivestock, September ada Miss Word dan disusul Oktober sidang APEC. Bahkan, Bali punya Bandara Internasional Ngurah Rai dengan wajah baru dan jalan tol sepanjang 10 kilometer berjalan di atas permukaan laut yang termegah dan terindah se Asia Tenggara dan menjadi kebanggaan orang Bali.  
 
Kini, Bali mendapatkan kepercayaan untuk menyelenggarakan Peringatan Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN) ke-3 dan Hari Telur Sedunia yang dilaksanakan di Lapangan Barat Museum Perjuangan Rakyat Bali, Renon, Denpasar. Dipilihnya Bali sebagai tuan rumah penyelenggara karena Bali dianggap sebagai pintu gerbangnya Indonesia bagian Timur.

Penyelenggaraan HATN kali ini diajukan pada tanggal 12 Oktober 2013 dikarenakan 15 Oktober bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha. Masyarakat perunggasan diharapkan dapat mengingat kembali dan ikut berpartisipasi perlunya upaya meningkatkan konsumsi ayam dan telur sebagai pangan sumber protein yang murah dan berkualitas.

Menengok ke belakang. Dua tahun yang lalu, tepatnya 15 Oktober 2011, di lapangan Parkir Timur Senayan, Jakarta, Menteri Pertanian Dr. Ir. Suswono, MA, bersama 14 organisasi perunggasan mencanangkan Hari Ayam dan Telur Nasional dalam acara Festival Ayam dan Telur yang berlangsung pada hari itu. 

Fakta berbicara, bahwa konsumsi ayam dan telur masyarakat Indonesia masih rendah, hanya 87 butir per orang per tahun atau 1,6 butir per minggu. Konsumsi daging ayam sekitar 7 kg per orang per tahun. Banyak pihak berspekulasi, rendahnya tingkat konsumsi tersebut akibat rendahnya daya beli masyarakat. 

Hal ini tidak sepenuhnya benar, karena fakta berbicara kalau masyarakat Indonesia masih mampu membeli rokok 1.108 batang rokok per orang per tahun atau 3 batang rokok per orang per hari. Padahal harga sebutir telur sama dengan sebatang rokok dan ironisnya mayoritas konsumen rokok adalah masyarakat berpenghasilan rendah. 

Oleh karenanya, kesadaran betapa pentingnya untuk meningkatkan konsumsi daging dan telur perlu dipromosikan mulai anak-anak usia dini. Dan, pada peringatan kali ini, panitia yang dikomandani oleh  I Ketut Yahya Kurniadi, SKH, menggerakkan 5.000-an murid Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar dari 34 lokasi di Denpasar.  Yahya, demikian ia akrab disapa, juga menjabat sebagai Ketua Gabungan Peternak Unggas Bali (GPUB), Wakil Sekjen PINSAR, Koordinator Indonesia Timur GOPAN.

Acara dibuka oleh Ayu Pastika istri Gubernur Bali I Made Mangku Pastika, didampingi oleh Jegeg dan Bagus Bali dengan diawali makan bareng telur dan daging ayam. Kehadiran Ayu Pastika boleh dikatakan sangat langka dan merupakan kejutan bagi usahawan dunia peternakan.  

Dikatakan olehnya, kalau isu daging ayam mengandung hormon dan kolesterol, itu tidak benar dan sudah saatnya kebiasaan merokok supaya diubah menjadi kebiasaan membeli dan mengkonsumsi daging ayam dan telur. Masa depan anak harus diperhatikan dan sebagai orangtua supaya menghilangkan kebiasaan merokok untuk diganti makan telur dan daging ayam.

Acara HATN di Bali diselenggarakan oleh GPUB, bekerjasama dengan PINSAR, ASOHI serta didukung oleh organisasi peternakan lainnya. Berbagai acara digelar, antara lain senam jantung sehat, hiburan musik, lawak tradisional Bali Bondres, aneka doorprize, bazar murah telur dan daging ayam, paket telur, nuget, sozis dan susu real good sebanyak 5 ribu kotak serta paket untuk masyarakat miskin. 

Beberapa hari sebelumnya panitia juga menyelenggarakan kampanye edukasi melalui talkshow di radio dan televisi setempat. Mari tingkatkan konsumsi ayam dan telur untuk meningkatkan gizi dan prestasi anak bangsa. Selamat Hari Ayam dan Telur Nasional! (Mas Djoko R)

LP2IL Serang Selenggarakan Apresiasi Pengujian Obat Ikan, Kimia, dan Biologi

Loka Pemeriksaan Penyakit Ikan dan Lingkungan (LP2IL) Serang, pada 21-23 Oktober 2013 menyelenggarakan Apresiasi Pe­ngujian Obat Ikan, Kimia, dan Biologi (OIKB). Menurut Kepala LP2IL, drh Toha Tusihadi, acara ini merupakan salah satu ajang sinkronisasi dan koordinasi antar pemangku kepentingan dan perusahaan yang bergerak di bidang obat ikan, terutama dalam pelaksanaan pengujian lapang, pengujian mutu, Cara Pembuatan Obat Ikan yang Baik (CPOIB) dan monitoring obat.  Ketua panitia pelaksana kegiatan, Ellis Mursitorini, S.Pi, mengemukakan bahwa dalam pertemuan kali ini dibahas 5 materi pokok yaitu penilaian teknis obat ikan, Pengenalan Cara Pembuatan Obat Ikan yang Baik (CPOIB), metoda uji mutu obat ikan, pelaksanaan uji lapang obat ikan serta perencanaan monitoring konsistensi mutu obat ikan oleh LP2IL Serang untuk tahun anggaran 2014. 

Kegiatan apresiasi diikuti oleh instansi peme­rintah dan swasta. Peserta dari unsur pemerintah meliputi Balai/Balai Besar lingkup Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Banten serta Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota di wilayah Propinsi Banten, sedangkan untuk instansi swasta diikuti oleh produsen dan importir obat ikan. Sementara itu pemateri pada acara tersebut terdiri dari  Direktur Ke­sehatan Ikan dan Lingkungan, Kepala LP2IL Serang, Dr. Harmitha, Apt selaku konseptor CPOIB serta staf laboratorium dari LP2IL Serang. Dalam sambutannya Direktur Kesehatan Ikan dan Lingkungan, Ir. Maskur, M.Si, menyo­roti maraknya peredaran obat illegal di Indonesia. Berkenaan dengan hal tersebut, Ir Maskur, M.Si menghimbau kepada pengusaha obat illegal untuk menyadari bahwa apa yang dilakukannya akan berdampak luas bagi keberlanjutan usaha budidaya dan keamanan produk perikanan budidaya yang dihasilkan. “Registrasi obat bukanlah sekedar prosedur administrasi semata, namun untuk mendapatkan nomor registrasi, obat yang didaftarkan harus melalui serangkaian penilaian teknis, diantaranya adalah pengujian mutu dan pengujian lapang”, Kepala LP2Il menambahkan. 

Selain itu, Ir. Maskur, M.Si mengemukakan bahwa Kementerian Kelautan dan Perikanan berkomitmen untuk dapat segera melakukan pengujian obat ikan secara mandiri. “Kami dimandatkan untuk segera dapat mandiri dalam pengujian obat ikan dengan pelayanan yang cepat, tepat, akurat dan professional. Untuk itu saya akan terus mendukung kompetensi laboratorium yang ada di UPT kami”, ungkap Maskur. Terkait dengan pendirian LP2IL Serang, UPT ini selain melaksanakan tugas pela­yanan di bidang  diagnosa penyakit ikan dan pemeriksaan lingkungan  budidaya tetapi juga bertanggung jawab  terhadap pengendalian residu berbahaya serta pengendalian obat ikan. 

Tugas LP2IL dalam pengendalian obat ikan antara lain meliputi pe­ngujian mutu, pengujian lapang serta pemantauan peredaran dan penggunaannya. Untuk pelaksanaan pe­ngujian mutu dan pengujian lapang dalam rangka registrasi, Ir. Maskur mengapresiasi kesiapan LP2IL dalam pengujian tersebut. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya senantiasa mendorong akse­lerasi LP2IL di bidang pengujian obat ikan. Dukungan peralatan laboratorium yang canggih selalu diprioritaskan untuk mendukung kesiapan laboratorium ini. Beberapa contoh peralatan tersebut antara lain Atomic Absorbsion Spectrometri (AAS) Flame, AAS Grafit Furnace,  Li­quid Chromatography Tandem Mass Spectrometri (LC-MS/MS), Gas Chromatography Tandem Mass Spectrometri (GC-MS/MS), High Performan Liquid Chromatography (HPLC), Realtime PCR dan Microbial Automatic Identification System.  Sementara itu, dukungan sumber daya manusia yang telah dilakukan adalah melalui pengadaan pegawai dengan berbagai latar belakang pendidikan, antara lain meliputi Sarjana Perikanan, Dokter Hewan, Sarjana Biologi, Mikrobiologi, Kimia, Teknik Kimia, Teknik Lingkungan, Kimia Analisis dan Farmasi.  

 Di sela-sela acara apre­siasi, Kepala LP2IL Serang menyatakan kesiapannya untuk mendukung program-program Kementerian Kelautan dan Perikanan, khususnya di bidang Perikanan Budidaya. “Instansi kami didukung oleh sumber daya manusia dari berbagai latar belakang ilmu, dan sebagian besar diantara mereka adalah anak-anak muda yang mempunyai potensi dan semangat yang begitu luar biasa besar,” katanya. “Instansi kami telah menginplementasikan ISO-17025, sehingga hasil pengujian dapat dipertanggungjawabkan secara teknis dan hukum”, Toha menambahkan LP2IL Serang saat ini mempunyai 7 laboratorium, yaitu Laboratorium Biologi Molekuler, Laboratorium Histopathologi, Laboratorium Mikrobiologi, Laboratorium Residu, Laboratorium Kualitas Air, Laboratorium Farmakologi dan Laboratorium Bioassay.

Untuk menjamin hasil  pengujian, LP2IL Serang mempunyai program peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pelatihan eksteral dan internal dengan tenaga pelatih yang kompeten di bidangnya. Laboratorium ini juga telah mengikuti program uji profisiensi bersama-sama laboratorium uji se Asia-Pasifik di bawah koordinasi ANQAP. Diharapkan melalui berbagai usaha yang dilakukan, LP2IL lebih mampu berperan baik di kancah nasional maupun internasional.
(adv/nung)

Infovet edisi Nopember 2013

SALAH PAHAM PEMAKAIAN OBAT HEWAN OLEH PRAKTISI KESEHATAN MANUSIA

Menarik sekali penjelasan oleh Drh Abadi Sutisna M.Si bahwa kesalahan terbesar tentang asumsi dan paradigma peranan Dokter Hewan pada aspek kesehatan dan kesejahteraan manusia. Sehingga akhirnya melahirkan mainstream atau pengarusutamaan pembangunan pertanian dalam hal ini kesehatan hewan di Indonesia.

Hal itu diungkapkan oleh Dewan Pakar ASOHI ini saat tampil dalam sebuah Workshop Nasional ”Relevansi Pembelajaran dan Kompetensi Dokter Hewan di Bidang Farmakoepidemiologi dalam Dunia Obat dan Pengobatan Hewan di Indonesia”. 

Acara yang diselenggarakan oleh Bagian Farmakologi FKH UGM Yogyakarta ini, menurut Ketua Panitia drh R Gagak D Satria MP MPd sebagai upaya untuk memberikan pemahaman bersama akan arti penting pengobatan pada hewan yang efektif dan efisien dengan konsep risk benefit ratio. Konsep ini sangat berbeda sekali dengan pengobatan pada manusia yang sama sekali tak mempertimbangkan aspek benefitnya.

Sedangkan Abadi dalam paparannya menjelaskan tentang asumsi dan paradigma masayarakat awam dan bahkan dari kalangan elit ilmiah bahwa peranan dan eksistensi  kedokteran hewan (Dokter Hewan) sebagai penunjang kesehatan dan kesejahteraan manusia. Padahal seharusnya dan memang pada kenyataannya bahwa kesehatan manusia sangat ditentukan oleh kecerdasan Dokter Hewan. 

Sebab jelas, Abadi, bahwa sebanyak 60% makanan manusia berasal dari hewan. Oleh karena itu menurutnya farmakologi veteriner sangat dan harus di dominasi oleh Dokter Hewan yang mengerti obat hewan. 

Jika selama ini ada suara miring tentang “Makan di gerai siap saji ayam goreng, adalah makan obat tetapi mendapat bonus daging atau telur ayam,” adalah tidak benar dan sangat menyesatkan. Menjadi lebih memprihatinkan sekali menurut Abadi, oleh karena  hal itu terlalu sering diungkapkan oleh para praktisi kesehatan manusia. 

Meski mereka yang bicara miring itu adalah para pakar kesehatan manusia, namun sesungguhnya mereka BUKAN pakar kesehatan hewan. Mereka sama sekali tidak mengerti ada aturan baku yang harus ditaati dan dijunjung tinggi oleh para Dokter Hewan, yaitu withdrawal time. Sangat berbeda sekali dengan dunia pengobatan pada manusia yang tak dikenal aturan itu, sehingga akhrinya mereka melemparkan pernyataan yang sungguh menyesatkan. 

Seperti yang diungkapkan oleh ahli peracik obat manusia yang juga Ketua Dewan Pakar Ikatan Farmakologi Indonesia (IKAFI) Prof dr Iwan Dwi Prahasto, M Med Sc PhD saat tampil sesi pertama.
Beruntung peserta seminar mendapatkan pencerahan dan koreksi yang begitu apik dan menarik dari Dewan Pakar ASOHI Drh Abadi Sutisna MSi. Dalam kesempatan itu dukungan dan penjelasan dari ketua Panitia Gagak D. Satria serta Drh Suhardi dari Kalbe Farma, sehingga setidaknya mengurangi rasa was-was dari peserta workshop yang hadir. 

Selanjutnya Abadi menguraikan bahwa Obat Hewan adalah obat yang digunakan pada hewan. Jika berpengaruh baik terhadap sel dalam tubuh hewan, maka itu artinya memang sebagai obat hewan. Akan tetapi jika zat itu diberikan memberikan efek buruk terhadap tubuh hewan, maka itu bernama Racun. Oleh karena itu dalam prinsip obat hewan, haruslah dikenal kaidah aman terhadap hewan itu sendiri dan juga aman untuk manusia. Selain itu, haruslah aman juga bagi lingkungan. 

“Itu kaidah baku dan harus ditaati oleh para produsen obat hewan. Sehingga dari kaidah itu, sudah jelas sekali bahwa obat hewan itu tak hanya aman untuk hewan saat posisinya sebagai zat penyembuh. Namun mutlak harus aman juga bagi manusia, bahkan lebih jauh lagi harus tidak mencemari dan merusak lingkungan. Dari hal ini, aspek mana lagi yang membuka ruang adanya pernyataan miring akan kandungan residu obat dalam daging dan telur ayam?” jelas Abadi sekaligus bertanya kepada hadirin.

Dalam tataran ideal, sudah dibuat aturan level yang tertinggi berupa UU No. 18/2009 juga Peraturan Menteri dan bahkan aturan teknis Pelaksanaan dari Organisasi yang berupa CPOHB. Menjadi lain masalahnya, jika dalam tataran implementasinya di lapangan ada pelanggaran dan penyelewengan. Maka sudah pasti pelanggaran itu akan berhadapan dengan sanksi dan hukum yang jelas.

Abadi juga menceritakan adanya tuduhan “ngawur” bahwa resistensi bakteri terhadap antibiotika pada manusia itu berasal dari dunia kedokteran hewan. Padahal, menurut Abadi, antibiotika yang digunakan pada hewan sangat berbeda dengan yang digunakan pada manusia. Juga tentang informasi keliru  penggunaan hormon pemacu pertumbuhan pada ternak, padahal harga hormon itu amatlah mahal dan secara ekonomis jelas akan merugikan peternak. Sehingga informasi itu jela salah dan pantas untuk diluruskan kembali.

Akhirnya Abadi mengaharapkan adanya saling tukar informasi dalam sebuah forum Workshop seperti ini akan membawa banyak manfaat dan tidak saling merugikan. (iyo)

* Infovet edisi November 2013

HEAT STRESS SAPI PERAH DAN CARA MENGATASINYA

Oleh: Drh. Joko Susilo

Heat stress pada sapi terjadi ketika  beban panas tubuh melebihi kemampuan sapi untuk mengeliminasi panas tersebut. Indikasi pertama terjadinya heat stress, meningkatnya frekuensi nafas secara signifikan melebihi 80 kali/ menit. Akibat dari heat stress adalah meningkatnya frekuensi nafas, naiknya suhu tubuh,  keluar air keringat,  dan nafsu untuk air minum meningkat. Heat stress menyebabkan penurunan aliran darah ke seluruh tubuh, turunnya nafsu makan (feed intake), produksi susu turun, aktivitas sapi berkurang, dan perfoma reproduksi menurun. Parameter yang bisa digunakan untuk melihat kejadian heat stress; frekuensi nafas melebihi 80 kali/ menit, suhu tubuh meningkat diatas 39,2 °C, menurunnya produksi susu sampai dengan 10%, dan menurunya asupan bahan kering (dry matter intake). 

Heat loss merupakan  mekanisme keluarnya panas dari dalam tubuh , dipengaruhi oleh suhu lingkungan dan suhu tubuh sapi yang disebabkan aktifitas semua organ dalam tubuh.  Ada 3 cara pelepasan panas  yaitu produksi panas karena metabolisme tubuh, keluarnya panas secara wajar (sensible) dan keluarnya panas secara latent. Produksi panas akan meningkat jika kapasitas produksi/metabolisme meningkat. Pada kondisi lingkungan panas, sapi akan mengurangi  produksi panas dari metabolisme dengan pakan rendah serat. Sensible heat loss terjadi jika panas tubuh lebih tinggi dari suhu lingkungan, panas tubuh akan keluar dengan cara radiasi, konveksi dan konduksi. Hal ini tergantung pada suhu lingkungan, luas permukaan tubuh sapi, jaringan tubuh dan resistensi terhadap udara. Latent heat loss, terjadi keluarnya keringat dari kulit atau menguapnya (evaporasi) panas dari hidung. 

Beberapa prinsip untuk mengurangi  heat stress, secara genetik sapi Friesen Holstein lebih cocok di daerah dingin, dan kurang bisa optimal produksi susu di daerah panas. Ketersediaan air  cukup ditempat yang sesuai, dingin dan bersih. Jarak kandang ke tempat pemerahan yang tidak terlalu jauh (mengurangi  jarak tempuh). Memberikan atap atau naungan pada kandang atau ditengah kandang seperti  (housing area dan holding pen). Di tempat pemerahan  (Milking center), diharapkan sapi tidak mengantri untuk diperah terlalu lama, tersedia ventilasi yang cukup, tersedia pendingin di holding pen dan pada jalan keluarnya sapi. Untuk kandang freestall harus disediakan ventilasi cukup dan pendingin. 

Ada beberapa metode untuk meng­hindari heat stress dan lingkungan kandangnya:
1.    Menyiasati pakan, feed additif, dan obat
2.    Mengusahakan atap agar tetap dingin
3.    Pembuatan saluran ventilasi
4.    Melalui pipa bawah tanah (under ground pipe)
5.    Menyediakan kolam untuk berendam
6.    Exit lane sprinklers
7.    Kandang dengan ventilasi yang baik
8.    Cooling fan
9.    Sprinkler kombinasi dengan fan cooling

Selengkapnya mengenai pembahasan diatas, silahkan baca majalah Infovet edisi 232 - November 2013

  

Ir. Hery Santoso, MP. NIAT BAIK SEBELUM BEKERJA

Bekerja dan menghabiskan waktu lebih banyak di lapa-ngan tidak dipungkiri Ir Hery Santoso MP, bahwa ia banyak bertemu dengan kawan baru dan customer dengan karakteristik yang berbeda-beda. Business Development Manager PT Alltech Biotechnology Indonesia ini menuturkan ada masa dimana sebelumnya ia tidak mengenal sama sekali seluk-beluk bidang peternakan.

Mengenyam pendidikan di Fakultas Peternakan Unsoed, bagi Hery memang sebuah jalan yang sudah ditetapkan dan kemudian ia terjun di dalamnya secara totalitas. Selepas memperoleh gelar S1, pria asal Boyolali ini kemudian melanjutkan S2 di UGM.


Kesungguhannya dalam menekuni profesinya, Hery senantiasa mencetuskan niat baik di pagi hari sebelum bekerja. “Diniati dulu setiap hari, karena memang keseharian saya harus bertemu orang yang berbeda bekalnya positif thinking saja,” katanya ketika dijumpai Infovet di sela pagelaran ILDEX 2013 belum lama ini. 


Menurut Hery, karakter customer Indonesia sangat unik. “Tentu saja jika melihat secara global, kita tidak berkiblat ke barat karena jika diterapkan di sini belum bisa,” ujarnya. “Sebagaimana motto Alltech yaitu think globally act locally. Bahwa di sini kita menggunakan kearifan lokal dalam bertindak, namun dalam menyusun strategi atau mencetuskan ide-ide kita berpikir secara luas dan mendunia. 


Hery menyebutkan, terdapat cus­tomer yang perlu testimoni orang lain dalam arti ketika orang lain sudah menggunakan, ia pun akan ikut memakai. Kemudian ada karakter customer yang mengandalkan kedekatan, lalu ada pula yang suka berorientasi langsung pada hasil dari sebuah produk. 


Pandangan Hery akan dunia perunggasan Tanah Air, menurutnya Indonesia mempunyai peluang besar untuk ekspor. “Sebenarnya kita mampu, dengan melihat fluktuasi harga dan masalah daya serap di pasar selama dapat diakomodir kemungkinan tidak akan bergejolak seperti sekarang,” terang ayah dari 1 putri dan 1 putra ini.


Imbuh Hery, kembali lagi pada titik persoalan di mana memang sampai saat ini negara luar belum bisa menerima Indonesia. Baik itu masalah pelabelan brand Indonesia yang diliputi dengan penggunaan antibiotik. Hal ini bukan  saja menyerang bisnis nasional kita, namun juga menyangkut pada kebijakan pemerintah.


Banyaknya investor datang ke Indonesia, artinya potensi perusahaan lokal sedang berkembang. Semestinya begitu ada investor masuk, peluang baik kita manfaatkan. Apalagi dunia feed additive saat ini berada dalam kompetisi yang ketat, di mana banyak perusahaan baru muncul. (nunung)

TINGKAT PENERIMAAN

oleh : Ir. Bambang Suharno

Hal terpenting bukanlah apa yang kita harapkan, melainkan apa yang bisa kita terima.                  (Adam Khoo dan Stuart Tan)


JIKA anda ingin meraih kesukseskan, buatkan impian yang jelas dan sampaikanlah impian itu ke orang lain. Jangan takut untuk bermimpi dan jangan takut dicemooh orang. Silakan anda bercita-cita berpenghasilan setinggi mungkin, bercita-cita keliling dunia bersama keluarga, bercita-cita membangun tempat ibadah dan sekolah gratis. Apapun. Kata Bung Karno, “Gantungkan cita-citamu setinggi bintang di langit”.

Yang perlu diingat, dalam pencapaian atas cita-cita tersebut, ada satu faktor yang sangat penting, yaitu tingkat penerimaan anda.

Dalam buku Master Your Mind Design Your Destiny, Adam Khoo, seorang motivator asal Singapura, menegaskan , hal terpenting adalah bukan yang kita harapkan melainkan apa yang kita bisa terima dalam hidup. Itulah yang disebut “tingkat penerimaan”.

Begini kira-kira penjelasan singkatnya.  Umpamanya Anda memimpikan penghasilan bersih 100  juta per bulan, rumah bagus di tengah kota, mobil mewah dan sejumlah simbol kekayaan lainnya. Akan tetapi dengan latar belakang keluarga dan pengalaman anda selama ini, anda masih bisa menerima pendapatan 3 juta/bulan.  Pendapatan sebesar 3 juta itulah yang disebut tingkat penerimaan anda.

Tingkat penerimaan ini menjadi begitu penting karena faktanya, pada umumnya pendapatan kita berada di sekitar tingkat penerimaan itu. Misalkan suatu saat penghasilan anda kurang dari 2juta, maka pikiran bawah sadar anda akan menyentuh “tombol panik” dan anda akan melakukan berbagai kreativitas agar memperoleh pendapatan di atas “tingkat penerimaan” tadi.

Dari banyak kasus, ternyata kondisi panik ini akan membuat orang lebih kreatif dan berhasil menaikkan pendapatan minimal sesuai tingkat penerimaan.

Bukan hanya soal pendapatan, tingkat penerimaan berlaku dalam banyak hal di kehidupan kita sehari-hari. Anda ingin  mengunjungi 100 negara dalam 10 tahun? Jika keinginan ini hanya sebatas keinginan dan anda merasa tidak apa-apa jika hanya bisa pergi ke kawasan ASEAN, maka tingkat penerimaan ini cenderung akan membuat impian 100 negara hanya tercapai sampai wilayah ASEAN saja.

Nah, di sinilah kita perlu mengkaji ulang, antara cita-cita besar dan tingkat penerimaan. Cita-cita besar dan kerja keras belumlah cukup untuk menghasilkan keberhasilan yang nyata, kalau anda memiliki tingkat penerimaan yang rendah.

Itu sebabnya, tatkala kita memiliki cita-cita yang tinggi, kita perlu menaikan tingkat penerimaan secara bertahap, sehingga secara bertahap target kita akan tercapai. Naikkanlah tingkat penerimaan anda, maka anda akan lebih dekat dengan impian anda.

Proses menaikkan tingkat penerimaan adalah proses yang membutuhkan kemampuan menangani stress. Bukan hanya kerja keras yang anda perlukan. Dibutuhkan langkah inovasi. Jangan lupa anda perlu berdoa meminta jalan terbaik dari-Nya.

Brad Sugar, pebisnis  asal Australia menambahkan saran  yang sangat baik, dan menurut saya bisa mendukung pandangan Adam Khoo. Ia mengatakan, nasib ada 5 tahun lagi tergantung pada apa yang anda pelajari, dengan siapa saja anda berteman/bekonsultasi, dan aksi apa yang anda lakukan sehari-hari. Dapat  dikatakan, jika kita sudah menaikkan tingkat penerimaan, selanjutnya lakukan 3 hal sebagaimana saran  Brad Sugar.

Misalkan anda ingin berkunjung ke 100 negara, anda perlu mempelajari soal travelling, tempat wisata, jasa wisata, harga tiket, harga sewa hotel dan sebagainya. Anda perlu sering bersilaturahmi dengan rekan-rekan yang pernah keliling dunia untuk memotivasi dan mendapat pengetahuan tentang “kiat meraih impian keliling dunia”. Dan anda perlu melakukan aksi mengumpulkan dana untuk meraih impian anda.
 
 Tingkat penerimaan, adalah pertanda sebuah keharusan, bukan anjuran. Adam Khoo mengatakan, sebagian besar manusia ingin meraih impian tapi jarang yang menganggap sebagai keharusan. Cita-cita itu hanya sebatas sebagai anjuran saja. Jikalau cita-cita hanya berupa anjuran saja, maka anda akan mudah berhenti ketika hambatan menghadang.

Bagaimana dengan Anda?

Masih Tersedia buku kumpulan Artikel Refleksi
“Jangan Pulang Sebelum Menang” karya Bambang Suharno.
Pesan ke Gita Pustaka, telp: 021.7884  1279 (Aidah)

Monday, March 4, 2013

KETIKA ND GENOTIPE 7 MENJADI SOROTAN UTAMA

Penyakit ayam yang sangat terkenal di kalangan peternak ayam, ND (New Castle Disease), yang juga menyerang pernapasan, tetap menjadi sorotan utama dari berbagai penyakit yang lain. Demikianlah kesimpulan Infovet dalam mengamati perkembangan peta penyakit ternak unggas 2012-2013.
 
Belum lama ini pada 2012, dua seminar bertema ”Perkembangan Virus ND di Indonesia: ND G7B” diangkat oleh PT Medion Bandung dengan pembicara Drh Witarso dan Drh Budi Purwanto dari PT Medion. Sedangkan seminar bertema ”Pengendalian Genotipe 7 Newcastle Disease di Indonesia” diangkat oleh PT Romindo Primavetcom dengan pembicara Dr Michael Lee.
 
Belum lama ini juga, Seminar bertema ”Penanganan ND yang masih mendominasi penyakit unggas di Indonesia” diangkat oleh PT Caprifarmindo Laboratories Bandung dengan me­ngetengahkan pembicara Prof DR Drh Fedik Abdul Rantam MPhil dari Universitas Airlangga Surabaya. Seminar bertema ”Newcastle Disease” diang­kat oleh  PT Japfa Comfeed Indonesia dengan mengetengahkan pembicara DR Teguh Prajitno. Adapun Seminar tentang ND bertema ”Reaksi ringan, perlindungan Tinggi, Pendekatan baru dalam ND” diangkat oleh PT Intervet Indonesia dengan menampilkan pembicara Dr Jay F Peria.
 
Dari berbagai liputan terhadap seminar tentang Perkembangan Virus ND di Indonesia tersebut, Infovet melengkapi dengan wawancara khusus dengan pakar penyakit unggas di Indonesia Prof Drh Charles Rangga Tabbu MSc PhD yang Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gajah Mada Yogyakarta dan dengan studi literatur dari berbagai sumber. Dari hasil semua sumber ini Infovet melaporkan kepada pembaca bahwa secara garis besar virus ND dapat diklasifikasikan berdasarkan serotipe, patotipe, dan genotipe (yang muncul sebagai hasil perkembangan teknologi terkini).
 
Klasifikasi virus ND berdasar serotipe adalah mengacu pada protein HN dengan melakukan HA/HI test, di mana ND hanya punya 1 serotipe. Sedangkan klasifikasi virus ND berdasar patotipe adalah mengacu pada virulensi atau tingkat keganasan. Sementara klasifikasi virus ND berdasarkan genotipe adalah mengacu pada tingkat susunan asam amino penyusun gen.
 
Berdasarkan patotipe/tingkat keganasannya, terdapat 3 jenis virus ND. Ketiga patotipe virus tersebut yaitu Velogenik, Mesogenik dan Lentogenik. Karakteristik serangan virus Velogenik ditandai terutama dengan infeksi saluran pencernaan (viserotropik) dan organ syaraf (nerotropik) yang parah, sehingga sering disebut dengan serangan VVND (velogenic viscerotropic Newcastle disease). Sementara karakteristik serangan virus Mesogenik memiliki keganasan menengah dan terutama menyebabkan gangguan pernapasan, bahkan terkadang menunjukkan gangguan syaraf. Sedangkan karakteris­tik virus Lentogenik merupakan penyebab dari penyakit ND tipe ringan, kadang-kadang tidak menampakkan gejala yang spesifik.
 
Perkembangan teknologi terkini memunculkan klasifikasi virus secara genotipe. Identifikasinya dengan melihat materi inti virus. Klasifikasi virus ND secara genotipe sesungguhnya berawal dari analisis secara filogenetik (kekerabatan), di mana virus ND dikelompokkan menjadi 2 divisi; yaitu Klas I (yang menyerang unggas air dan terdiri dari golongan virus bervirulensi rendah) yang minimal terdiri dari 9 genotipe, dan Klas II (yang menyerang unggas darat dan terdiri dari virus bervirulensi rendah tapi mayoritas virulen/ ganas) yang terdiri 10 genotipe.
 
Dengan penggolongan klas ini tentu saja masyarakat peternakan (bakal) lebih familiar dengan 10 genotipe pada virus ND Klas II ini. Baik untuk diketahui bahwasanya dari 10 genotipe (1-10), genotipe “awal” yang ditemukan pada tahun 1930-1960 adalah genotipe 1, 2, 3, 4 dan 9. Sementara genotipe “belakangan” yang ditemukan setelah tahun 1960 adalah genotipe 5, 6, 7, 8, dan 10. Dan, setelah pada tahun 2011 ditemukan isolat NDV dari Madagaskar, diusulkanlah adanya  genotipe 11 yang merujuk pada isolat ini
 
Virus ND Klas II genotipe 2 termasuk virus ND virulensi rendah yang digunakan sebagai galur vaksin, yaitu virus LaSota, B1 dan VG/GA. Kemudian, muncul pendapat bahwa vaksin yang banyak beredar di Indonesia umumnya dibuat dengan isolat virus La Sota dan Hitchner B1 asal Amerika yang tergolong ke dalam genotipe 2 tersebut.
 
Sementara itu, isu yang berkembang menyebutkan bahwa dari kasus ND sepanjang 2009-2011 yang dominan terjadi di Indonesia saat ini disebabkan oleh virus ND genotipe 7. Keyakinan itu didasarkan pula pada hasil isolasi virus dari kejadian ND terkini di lapangan. Di sinilah kemudian ND Genotip 7 menjadi perhatian utama masyarakat peternakan di Indonesia. Tak mengherankan, berbagai seminar diselenggarakan menyoal hal tersebut.

TIGA PANZOOTIK ND
Untuk membahas ND Genotipe 7 yang sedang menjadi sorotan masyarakat, dapat dimulai dari kenyataan bahwa Virus ND mempunyai patogenisitas dan virulensi yang sangat bervariasi, meliputi virus ND apatogenik sampai virus ND sangat patogen, dan Virus ND ini dapat menginfeksi berbagai jenis  unggas dan burung liar.
Infovet mengajak pembaca menelusuri masa lalu tentang penyebaran ND yang padanya dikenal ada 3 panzootik ND (kejadian infeksi ND dari berbagai spesies unggas meliputi area yang luas). Panzootik ND pertama terjadi sebagai akibat serangan virus ND genotipe 2, 3, 4 pada tahun 1926 di Asia Tenggara dan menyebar ke berbagai belahan dunia.
 
Panzootik ND kedua terjadi sebagai akibat serangan virus ND genotipe 5 dan 6 pada tahun 1960-an di Timur Tengah, lalu menyebar ke berbagai negara pada tahun 1973.
 
Panzootik ND ketiga terjadi terjadi akibat serangan ND genotipe 7, 8 pada tahun 1970-an yang berawal dari Timur Tengah, kemudian menyebar ke Eropa pada tahun 1981, dan selanjutnya menyebar secara cepat ke berbagai negara di dunia. Panzootik ND ketiga tersebut disebabkan oleh bentuk velogenik neurotropik, yang dikenal sebagai virus pigeon Paramyxovirus type 1.
 
Akibat Panzootik ketiga tersebut, virus ND genotipe 7, 8 ditemukan di Asia, Afrika Selatan dan beberapa negara Eropa. Genotipe 7 ini terutama bertanggung jawab untuk wabah ND di negara yang bertetangga dengan Taiwan dan China (sekitar 1985); setelah pada 1984 virus ND genotipe 7 ini diisolasi pertama kali di Taiwan. Pada 1995 pun terjadi wabah ND di Taiwan yang disebabkan oleh genotipe 7 ini.
 
Bagaimana dengan Indonesia? Wabah ND akibat virus ND Genotipe 7 telah terjadi di Indonesia pada akhir 1980. Berdasar laporan Lomniczi dan kawan-kawan pada 1998 dalam Arch Virol halaman 143, virus ND genotipe 7 ini telah diisolasi di Indonesia pada tahun 1980.
 
Selanjutnya, sejak 1990-an virus ND genotipe 7 merupakan isolat yang paling dominan di dunia, meliputi Asia Timur dan Eropa barat. Dan, jika wabah virus ND terus berlanjut, maka dapat timbul Panzootik ND keempat.
 
Klasifikasi virus ND Genotipe 7 ini masih dibagi lagi menjadi 2 subgenotipe, yaitu Genotipe 7A mewakili virus ND yang muncul tahun 1990-an di Timur jauh, lalu menyebar ke Eropa, dan Asia. Adapun Genotipe 7B mewakili virus ND yang muncul di Timur jauh dan menyebar ke Afrika Selatan. Kedua subgenotipe tersebut dibagi lagi menjadi genotipe 7C, 7D, 7E yang mewakili isolat dari China, Kazakhstan, dan Afrika Selatan; genotipe 7F, 7G, dan 7H mewakili isolat virus ND Afrika. Dari kesemua sifatnya, virus ND genotipe 7 tersebut merupakan virus Velogenic viscerotropic (VVND).  (Yonathan)

Grand Launching Buku Hari Lahir dan Bulan Bhakti PKH

SELAKU penulis Buku Hari Lahir dan Bulan Bhakti Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dr drh Sofyan Sudardjat MS hadir dalam grand launching bukunya didampingi Dirjen PKH Ir Syukur Iwantoro MS MBA. Acara berlangsung di Gedung C, Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jumat (17/1).
 
Terlihat antusiasme para tamu undangan yang berkesempatan datang dalam acara launching ini. Diantaranya Ketua Umum ASOHI Drh Rakhmat Nuriyanto, Ketua Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) Tri Hardiyanto, Kepala Pusvetma Drh Endang Pudjiastuti MKes, Ketua ISPI Ir Yudi Guntara Noor, dan masih ba­nyak lagi lainnya.
 
Dalam paparannya, Drh Sofyan Sudardjat MS me­nyampaikan tujuan ditulisnya buku tersebut yaitu sebagai upaya mengingat kembali akan makna hari lahir dan bulan bhakti peternakan dan kesehatan hewan, kepada pemerintah maupun masyarakat. Selain itu, diharapkan dapat memberi ins­pirasi serta motivasi pemerintah di pusat maupun daerah sekaligus pemangku kepentingan untuk turut berpartisipasi dalam peringatan hari lahir dan bulan bhakti peternakan dan kesehatan hewan di tahun-tahun mendatang.
 
Dalam proses penyusunan buku ini, Drh Sofyan dibantu oleh tim penyusun seperti Ir Baroto Suranto, Ir Bambang Suharno, Dr Ir Riwantoro MM, dan Supriyatno SIP MM. Isi buku merupakan hasil penelusuran sejarah peternakan dan kesehatan hewan dari masa ke masa.
 
“Kami kagum dengan kegigihan Bapak Sofyan bersama rekan tim penyusun. Terlebih pada usaha mengumpulkan perca demi perca data yang sudah sangat lama dan mung­kin sulit untuk ditemukan, serta dirangkai hingga terbitnya buku Hari Lahir dan Bulan Bhakti Peternakan dan Kesehatan Hewan ini,” ungkap Drh Rakhmat Nuriyanto.
(nunung)

Diskusi AI pada Itik di ASOHI

INDONESIA beberapa waktu lalu digemparkan dengan merebaknya kasus flu burung pada itik yang penyebabnya diketahui sebagai virus HPAI, H5N1 clade 2.3 subclade 2.3.2. Kasus pada itik ini pertama kalinya ditemukan di Indonesia. Dalam upaya meluruskan ramainya pemberitaan di beberapa media yang sebagian besar menyesatkan masyarakat, ASOHI mengundang seluruh stakeholder perunggasan dalam Seminar “Avian Influenza Pada Itik” pada Jumat 11 Januari 2013.                                  
 
Prof Drh Charles Rangga Tabbu MSc PhD selaku Ketua Dewan Pakar ASOHI hadir sebagai pembicara kali ini. Menurut Prof Charles, laporan awal kematian pada itik diperoleh dari Jawa Tengah sekitar September 2012. “Pemerintah baru mengeluarkan berita resmi Oktober 2012,” kata Prof Charles.
 
“Salah satu kemungkinan penyebab munculnya virus HPAI subclade 2.3.2 yaitu akibat mutasi pada virus AI, setelah itik kontak berulang kali dengan virus tersebut saat mencari makan di lingkungan peternakan ayam yang terserang AI,” terang Prof Charles.
 
Kita ketahui sistem pemeliharaan itik di Indonesia adalah digembalakan secara lepas atau bebas. Sederhana saja penanggulangan dalam menghadapi kasus flu burung pada itik ini. “Biosekuriti yang baik dapat menekan dosis penyebaran virus HPAI,” tegas Prof Charles. Lanjutnya, itik dipelihara dalam kandang yang bersih dan terpisah dari unggas lain, khususnya ayam. Kemudian itik diberi pakan dengan kualitas baik serta air minum bersih.
 
Terkait dengan kegiatan produksi vaksin yang dilakukan pemerintah bersama produsen vaksin swasta, Drh Hasbullah MSc PhD Direktur PT Biotek Indonesia yang turut hadir dalam seminar menyampaikan pendapat. Menurutnya, vaksin AI dengan menggunakan teknologi reverse genetic (RE) lebih bagus hasilnya ketimbang vaksin yang diproduksi secara konvensional.
 
Diketahui China telah mengembangkan vaksin RE dan telah dicoba pada kasus AI pada itik di Vietnam dan hasilnya lumayan bagus. “Negara China dan Vietnam yang menjalankan vaksin dengan master seed virus HPAI subclade 2.3.2, dilaporkan belum memperoleh hasil memuaskan,” ungkap Prof Charles.
Vaksin rekombinan menurut Prof Charles juga pernah digunakan, namun hasilnya belum memuaskan. Sejauh ini vaksin yang direkomendasikan untuk penanggulangan AI pada itik adalah vaksin killed H5N1, subclade 2.1.3.
 
Koordinasi antara kementerian pertanian dan kesehatan sangat diperlukan dalam upaya pengendalian AI untuk mencegah kemungkinan penyebaran virus AI clade baru tersebut pada manusia. Sementara dari pihak industri perunggasan, perlu melakukan monitoring dan kajian epidemiologi molekuler secara terpadu bersama pemerintah dan peneliti untuk mengetahui dinamika virus AI clade baru dan sebaran geografisnya. (nunung)

Medion Apresiasi Prestasi dan Dedikasi

PERUSAHAAN yang besar tentu tidak lepas dari peran sumber daya manusianya yang berkualitas. Medion yang merupakan salah satu pemain utama di industri peternakan Indonesia sangat menyadari hal ini. Karena itulah, pada tanggal 30 Januari 2013 lalu, digelar sebuah acara bertajuk Employees Appreciation Day di lokasi industri Medion Cimareme, Bandung. Acara yang khusus diadakan untuk mengapresiasi para karyawan itu dihadiri oleh 200-an orang karyawan Medion, termasuk seluruh jajaran Tim Manajemen, ditambah lagi keluarga karyawan yang semakin memeriahkan suasana.
 
Malam itu, beberapa agenda telah dipersiapkan oleh panitia, antara lain Penghargaan Anak Berprestasi yang diberikan untuk anak-anak karyawan Medion yang berprestasi dalam pendidikannya. Sebanyak 15 anak mendapatkan penghargaan dan juga tabungan pendidikan untuk memasuki Perguruan Tinggi kelak. Acara pun dilanjutkan dengan pemberian penghargaan yang disebut PI2R (Productivity Improvement Reward and Recognition). Penghargaan ini diberikan untuk karyawan yang menyumbangkan ide terbaik dalam meningkatkan atau memperbaiki produktivitas kerja. Malam itu, 3 karyawan diberikan penghargaan atas ide yang telah disumbangkannya. Medion juga mengapresiasi dedikasi karyawan yang telah mengabdi melalui pemberian Anugerah Bakti. Penghargaan ini diberikan untuk karyawan yang telah bekerja selama 5, 10, 15, 20, 25, dan 30 tahun.
 
Acara semakin meriah dengan adanya pelantikan promosi jabatan untuk Tim Manajemen yang baru. Dua orang yang telah menunjukkan prestasi luar biasa dalam pekerjaannya, diangkat ke posisi yang lebih tinggi. Suasana haru meliputi seluruh peserta yang hadir ketika Tim Manajemen yang baru dilantik menyampaikan rasa syukur dan terima kasihnya. Seluruh rangkaian acara malam itu ditutup dengan perayaan ulang tahun Jonas Jahja, pendiri Medion dan juga karyawan yang berulang tahun di bulan Januari.  Sebelum meniup lilin, Jonas mengucapkan keinginannya untuk terus bekerja bersama dengan para karyawannya. Sukses terus, Medion! (Inf)

ANNUAL MEETING PT GALLUS INDONESIA UTAMA


GROWING AND DEVELOPING TO BE THE BEST

Mengawali agenda kerja tahun 2013, PT. Gallus Indonesia Utama menggelar acara Annual Meeting untuk tahun 2013 di negeri yang terkenal dengan lambang Merlion-nya, Singapura. Annual Meeting berlang­sung di Quality Hotel Marlow, Balestier Rd. Singapura ini diselenggarakan dari tanggal 19-20 Januari 2013 yang diikuti sebanyak 20 orang, terdiri dari jajaran Komisaris, Direktur, Manajer, staf, kar­yawan, kantor perwakilan Infovet Daerah, dan beberapa Pengurus ASOHI Pusat.
 
Mungkin Annual Meeting yang mengusung tema “GROWING AND DEVELOPING, TO BE THE BEST” ini menjadi satu-satunya kegiatan tahunan perusahaan yang mengikutsertakan seluruh karyawan sebuah perusahaan mulai dari level paling atas hingga office boy ke luar negeri.
 
Acara Annual Meeting ini dibuka oleh Direktur PT. Gallus Indonesia Utama Drh Tjiptardjo P, SE. dan dilanjutkan paparan ASSA (Asumsi, Sasaran, Strategi dan Aksi) dari Direktur Marketing Ir Bambang Suharno. Setelah laporan ASSA tiap divisi, acara dilan­jutkan dengan paparan dari Komisaris PT GITA, Gani Haryanto dan Ketua Umum ASOHI Drh Rakhmat Nuriyanto. Pada kesempatan ini juga dilakukan penandatangan peresmian pendirian Koperasi Syariah Karyawan PT GITA yang diberi nama ”Amanah Gallus Sehati” dengan Ketua Ir Darmanung dan Sekretaris Neneng Nur Aidah.
 
Usai makan siang di Quality Hotel Marlow, rombongan bergegas untuk check in hotel dan selanjutnya menikmati perjalanan keliling kota Singapura dengan konsep City Adventure. Tujuan pertama tentu saja ikon kota Singapura, dan seluruh karyawan Gallus tak menyia-nyiakan kesempatan untuk berfoto dengan Merlion. Seluruh karyawan Gallus sangat terkesan dengan keindahan pemandangan kota yang megah saat berjalan-jalan di Merlion Park dan sepanjang Singapore River, meskipun sore itu diselingi hujan gerimis.
 
Kemudian rombongan kami melanjutkan perjalanan ke Resort World Sentosa dengan naik public bus SBS Transit yang cepat dan nyaman. Disini kami juga berfoto di depan ikon Universal Studios Singapore untuk selan­jutnya bebas berkeliling theme park yang bertema unik-unik.
 
Menjelang malam hari rombongan menyempatkan waktu untuk menonton atraksi Song of the Sea. Sebuah pertunjukan bernilai 30 juta dolar menggabungkan berbagai special efect air mancur, laser, kembang api, dan fire ball menjadi satu. Pulang dari Sentosa Island kami mencoba naik kereta bawah tanah atau subway menuju ke Little India atau yang terkenal dengan pusat perbelanjaan Mustafa Center dan setelahnya kembali ke hotel di Balestier Road.
 
Keesokan paginya kami kembali menyusuri kota Singapura menggunakan public bus. Kali ini tujuannya wisata belanja berburu pernik oleh-oleh di sepanjang Orchard Road yang terkenal. Kami mampir cukup lama dan menhabiskan waktu makan siang di Lucky Plaza. Setelah usai makan siang kami menikmati cemilan Uncle es krim potong seharga 1 Sin dollar. Kemudian bagi rombongan muslim menyempatkan sholat di Mesjid Al Fallah yang terletak di Cairnhill Place tepat di ujung jalan Orchard Road. 
 
Destinasi selanjutnya adalah Bugis Street yang juga merupakan pasar beragam pernak-pernik oleh-oleh seperti kaos, gantungan kunci, hiasan berlambang Merlion, dan semacamnya. Puas berbelanja kami kembali ke hotel untuk mengambil tas yang sebelumnya kami titipkan waktu sekalian check out pagi tadi. Dari sini kami kembali dijemput untuk diantar ke Changi Airport.
 
Meskipun lelah berkeliling kota selama 2 hari, tetapi ada senyum tersimpul dari setiap wajah-wajah karyawan Gallus yang seakan berharap momen-momen ini akan selalu terkenang sepanjang hidup dan bahkan bisa berulang ditahun-tahun berikutnya. Sampai bertemu di Annual Meeting tahun depan. (wan)

Seminar Kesehatan Unggas Ke-3, ASOHI Bahas AI Pada Itik

Mengawali tahun 2013, masyarakat Indonesia kembali dikejutkan de­ngan wabah AI pada itik yang menyebar dengan cepat ke berbagai daerah di Indonesia. Data dari Unit Penanggulangan dan Pengendalian AI (UPPAI) Ditjen PKH Kementan me­nyebut AI pada itik telah menyebar ke-11 Propinsi di Indonesia dengan angka kematian itik mencapai lebih dari 510 ribu ekor. Dalam waktu yang sama dikabarkan kasus AI pada ayam ras juga mengalami peningkatan.
 
Menurut beberapa peneliti dari Badan Litbang Pertanian Kementerian Pertanian RI, sebagaimana diberitakan Infovet edisi Januari lalu, virus penyebab AI pada itik ini berbeda dengan AI yang selama ini dikenal di unggas, dan dipastikan virus ini merupakan introduksi dari luar bukan merupakan hasil mutasi virus yang telah ada sebelum­nya. 
 
Bagaimana sebenarnya perkemba­ngan penyakit AI di Indonesia? Bagaimana sebaiknya mengatasi wabah AI versi baru ini? Bagaimana kaitan AI pada itik dan unggas lainnya? Untuk menjawab hal itu semua Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) menggelar seminar dengan menghadirkan pembicara yang kompeten dan berpengalaman. Diantaranya adalah Drh Muhammad Azhar, Koordinator UPPAI Pusat Kementerian Pertanian RI, Prof Drh Widya Asmara SU PhD, pakar penyakit AI dari FKH Universitas Gadjah Mada dan Prof Dr I Gusti Ngurah Mahardika, Kepala Lab. Biomedik dan Biologi Molekuler Hewan FKH Universitas Udayana. 
 
Menurut Ketua Panitia Drh Andi Wijanarko, Seminar Nasional Kesehatan Unggas ke-3 ASOHI ini dihadiri lebih dari 100 peserta stake holder perunggasan baik dari kalangan pelaku budidaya, breeding, perusahaan obat hewan dan juga pemerintah. Selain itu hasil rujukan seminar yang diselenggarakan di Hotel Santika Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta pada Kamis, 31 Januari 2013 diharapkan dapat menjadi rujukan penting oleh pemerintah maupun dunia usaha dalam mengendalikan penyakit AI.
 
Prof Widya Asmara dalam paparannya menjelaskan bahwa wabah AI yang dimulai tahun 2003 oleh virus AI H5N1 clade 2.1.3. Korban utamanya adalah peternakan ayam komersial baik layer maupun broiler, dan unggas lain  seperti burung puyuh dan itik. Di awal wabah VAI juga dapat diisolasi dari itik dengan gejala tortikolis dan diikuti kematian. Termasuk dalam HPAIV H5N1 clade 2.1.3 dan s/d 2002 jarang ada kematian pada itik, tetapi periode 2003-2005 mulai ada kematian itik di Asia oleh virus HPAI. Kemudian periode berikutnya kembali jarang ditemui kematian itik akibat VAI H5N1 clade2.1.3. Namun bagaimana perilaku virus ini pada unggas liar belum teramati.
 
Prof Widya melanjutkan, pada wabah AI 2012/2013 kali ini banyak kematian pada ternak itik. “Dimulai dari Jawa Tengah yang kemudian menyebar kesepuluh propinsi di Indonesia. Sebagian besar itik mati terkonfirmasi akibat VAI H5N1. Dan dari hasil analisis molekuler termasuk HPAIV clade 2.3.2. Artinya virus ini bukan hasil mutasi dari VAI penyebab wabah 2003,” jelas Prof Widya
 
Hal ini juga ditegaskan oleh Drh M Azhar yang berdasarkan hasil investigasi lapangan dan uji laboratoris dari Tim Balai Besar Veteriner Wates Yogyakarta sejak Oktober-November 2012 bahwa telah ditemukan meningkatnya kasus kematian itik yang disebabkan oleh virus AI subtype H5N1.
 
“Selain itu hasil karakterisasi genetik oleh BBPMSOH, PUSVETMA, BPPV Bukittinggi, BBALITVET, BBV Wates, 3 Desember 2012 ditemukan virus AI subtype H5N1 yang memiliki kelompok gen (clade) baru yakni 2.3.2 pada itik yang berbeda dengan clade lama 2.1.3 yang selama ini menyerang unggas di Indonesia,” kata Drh Azhar.
 
Yang jadi pertanyaan apakah virus ini hanya menyerang itik? Karena diketahui, virus baru ini juga dapat diisolasi dari ternak ayam. Bahkan data dari FoBI (Forum Biodiversitas Indonesia), lanjut Prof Widya Asmara, melaporkan banyak kematian pada unggas liar di daerah pesisir Selatan Jawa, sehingga perlu analisis lebih detil apakah disebabkan oleh VAI H5N1 atau bukan. Namun terlepas dari itu semua kita semua mengharapkan kasus AI ini segera mereda dengan mulai terjadinya kekebalan populasi pada ternak itik.

Kebijakan Vaksinasi
Penggunaan vaksin yang tidak 100% homolog sangat dimungkinkan karena adanya kemampuan proteksi silang (cross protection) dari vaksin AI yang digunakan sebagaimana diung­kapkan Swayne et al., Vaccine (18): 1088-1095, 2000. Nguyen HH. Dept. Microbiology & Immunology Vaccine Centre. Univ. Alabama : “Heterosub­type Immunity to Influenza A, mediated by B cell” dan Fazekas et al., Clinical & Vaccine Immunology (16): 437-443, 2009. 
 
Namun hal ini juga sangat tergantung kepada derajat homologi dengan virus lapang dan dosis infeksi virus atau banyaknya virus tantang. Sementara untuk pengembangan vaksin baru yang homolog membutuhkan pendekatan pencegahan seperti misalnya strain seed vaksin yang bagus, kemurnian yang tinggi (contoh, cloned strain), sifat genotip dan fenotipnya stabil, aman, potensi dan efikasi yang tinggi serta ekonomis.
 
Lebih lanjut Prof Widya juga me­ngungkap hasil Rapat KOH Khusus tanggal 10 Januari  2013 yang diantaranya memutuskan bahwa vaksin AI H5N1 clade 2.3.2 diizinkan diproduk­si. Hal diperlukan dalam rangka me­ngantisipasi kemungkinan kegagalan vaksin H5N1 clade 2.1.3 dalam menahan infeksi virus H5N1 clade 2.3.2.
 
Sementara ini vaksin AI H5N1 clade 2.3.2 hanya direkomendasikan penggunaannya pada unggas air dengan cara aplikasi vaksinasi yang baik dan benar meliputi cakupan melebihi 80% dan dilakukan vaksinasi minimum 2 kali (priming dan booster).
 
Apabila hasil kajian vaksin AI H5N1 clade 2.1.3 dinyatakan masih protektif terhadap virus AI H5N1 clade 2.1.3 dan clade 2.3.2 maka vaksin AI H5N1 clade 2.3.2 tidak perlu diproduksi lebih lanjut. Sementara apabila hasil kajian vaksin AI H5N1 clade 2.1.3 dinyatakan tidak protektif terhadap virus AI H5N1 clade 2.3.2 maka vaksin H5N1 clade 2.3.2 diizinkan diproduksi lebih lanjut setelah lulus uji tantang dan vak­sin AI H5N1 clade 2.1.3 masih tetap dapat digunakan untuk vaksinasi.

Tak Harus Satu Jenis Vaksin
Prof Widya Asmara yang saat ini juga menjabat sebagai Ketua Komisi Obat Hewan, Kementerian Pertanian juga menegaskan bahwa saat ini, berkaitan dengan jabatannya di KOH, ia menjamin tidak akan ada masalah yang tidak ada ujung pangkalnya. Seperti­nya misalnya untuk pendaftaran vaksin yang termasuk kedalam golongan PRG (produk rekayasa genetik) yang selama ini dikeluhkan sangat sulit.
 
Menurut Prof Widya vaksin PRG tidak harus dilakukan pengujian terhadap produk PRG di dalam negeri sejauh data yang dibutuhkan sudah lengkap dan mampu memuaskan Tim Penguji. Karena kalau harus diuji lagi di dalam negeri akan muncul masalah baru me­ngenai laboratorium mana yang berkompeten untuk melakukan pengujian dan siapa pengujinya.
 
Hal ini sesuai dengan penjelasan pasal 19 ayat 1 PP No 21 Tahun 2005 tentang Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetik yang berbunyi “Pe­ngujian di laboratorium, fasilitas uji terbatas dan/atau lapangan uji terbatas dilakukan apabila informasi dalam dokumen yang disertakan oleh pemohon belum dapat meyakinkan KKH untuk mengambil kesimpulan bagi pemberian rekomendasi keamanan lingkungan, keamanan pangan dan/atau keamanan pakan PRG.”
 
Sementara itu terkait kebijakan Pemerintah yang saat ini mengharus­kan upaya vaksinasi dilapangan hanya menggunakan strain vaksin AI dari isolat lokal. Prof Widya menilai kebijakan tersebut kurang tepat. Karena untuk Indonesia yang upaya stamping out jika terjadi wabah tidak bisa dilakukan dengan cepat, ditambah lagi tingkat mutasi virus yang cukup tinggi. Ia menyarankan Indonesia tidak harus menggunakan hanya satu jenis vaksin AI saja yang digunakan.
 
“Karena tidak ada negara di dunia yang hanya menggunakan satu jenis vaksin saja untuk AI di perunggasannya. Apalagi di Indonesia ini semuanya ada. Ya mutasinya, ya strainnya, ya subtipenya, ya tingkat biosekuritinya yang sangat beragam. Semakin banyak jenis vaksin yang beredar akan semakin baik karena dari sisi proteksi akan tetap memberikan perlindungan,” ujar prof Widya.
 
Namun ia juga menegaskan bahwa vaksin produksi lokal dari masterseed lokal yang saat ini beredar juga mempunyai kualitas hasil yang berbeda. “Dengan satu masterseed saja bila diproduksi di pabrik yang berbeda hasil­nya akan berbeda karena berkaitan de­ngan preparasi dan pemilihan adjuvant yang digunakan,” jelas Prof Widya.
 
Prof Widya melanjutkan, upaya vaksinasi AI dengan vaksin konvensional ini masih dinilai sebagai langkah terbaik karena mampu menginduksi kekebalan seluler. Namun kedepan juga perlu dipertimbangkan untuk penggunaan vaksin baru yang jauh lebih aman dalam proses produksinya, misalnya vaksin reverse genetik (PRG) dengan mengedepankan kehati-hatian.
 
Sementara itu Prof Mahardika dari paparannya yang merupakan hasil kerjasama riset antara Universitas Udayana dan PT Medion menyimpulkan bahwa saat ini  telah terjadi pemasukan baru virus AI clade 2.3.2. Sementara clade 2.1.3 masih bersirkulasi dan dominan pada peternakan ayam di Indonesia.
 
Prof Mahardika menjelaskan bahwa clade 2.3.2 mempunyai ciri molekuler virus unggas. Oleh karenanya AI pada ayam dan itik bisa disebabkan oleh clade 2.1.3 dan/atau clade 2.3.2. Dimana clade 2.3.2 mempunyai struktur antigenik yang agak berbeda dengan clade 2.1.3. Sementara vaksin clade 2.3.2 belum tersedia peternak disarankan menggunakan vaksin clade 2.1.3.
 
Prof Widya Asmara juga menambahkan untuk bisa memberikan perlindungan terhadap 2 clade virus yang ada ini, ada baiknya dibuat vaksin cocktail yang terdiri dari campuran vaksin clade 2.1.3 dan 2.3.2. “Karena secara protektifitas bisa dibilang cukup baik dan tidak ada masalah,” ujar Prof Widya.
 
Diakhir presentasinya Prof Widya menyimpulkan bahwa vaksinasi yang baik seyogianya memakai vaksin dengan seed virus prevalens di lapangan, atau yang imunogenik protektif terhadap strain prevalens.
 
“Selain itu, sebelum tersedianya vaksin baru, vaksin yang lama masih bisa dipakai, meskipun perlindungan tidak 100%, (lihat prinsip-prinsip vaksinologi). Upaya vaksinasi harus diperkuat dengan langkah Biosekuritas, Surveilens dan perbaikan sistem peternakan,” jelas Prof Widya Asmara.

Upaya Pemerintah
Menurut Drh Azhar upaya Pemerintah yang terus dilakukan saat ini adalah segera mengendalikan penyakit AI yang menyerang itik/unggas air, yakni menurunkan kasusnya mencegah penyebarannya, memulihkan populasi dan produksinya. Selanjutnya mencegah agar tidak menyerang ke peternakan ayam komersial, guna meminimalisir risiko timbulnya dampak kerugian ekonomis yang sangat tinggi bagi industri perunggasan nasional.
 
Drh Azhar melanjutkan gejala klinis pada itik tertular AI yang dilaporkan antara lain tortikolis (leher terputar), kejang-kejang, inkoordinasi, kesulitan berdiri, nafsu makan turun, mata keputihan. Pada itik dewasa terjadi penurunan produksi telur. Sementara pada itik anakan/muda terjadi kematian cukup tinggi : rata-rata 39,3% dari populasi farm atau sekitar 0,5 % dari populasi wilayah. Virus ini diketahui juga me­nyerang Itik manila (entog) dan ayam kampung, yang dipelihara sekandang dengan itik tertular di lokasi kasus AI.
 
Sebelumnya diketahui virus AI clade 2.3.2 ini telah beredar di Butan, Nepal, India, Bangladesh, Myanmar, Laos, Jepang, Hongkong, Mongolia, Korea, Cina, Vietnam dan baru pada tahun 2012 kemarin mulai diketahui muncul di Indonesia, sehingga bisa dipastikan virus ini muncul akibat introduksi dari luar bukan merupakan hasil mutasi seperti yang selama ini diduga.
 
Ia juga melanjutkan bahwa prioritas strategi pengendalian AI pada itik/unggas yang kasusnya tinggi saat ini untuk Jangka Pendek (Januari-April 2013) adalah Depopulasi dan Kompensasi, Pengawasan lalu-lintas, Biosekuriti, dan Vaksinasi. Untuk upaya vaksinasi sesuai dengan SE. Dirkeswan Tgl. 8 Januari 2013 tentang distribusi vaksin AI menggunakan stock APBN sebanyak 360.000 dosis. Sementara untuk jangka menengah (April-Desember 2013) adalah Restrukturisasi Perunggasan, Public Awareness dan regulasi Peraturan Perundangan. 
 
Seminar ini disponsori oleh PT Charoen Pokphand Indonesia, PT Biotek Indonesia, PT Pfizer Animal Health Indonesia, PT Trouw Nutrition Indonesia, PT Sanbe Farma, PT IPB Shigeta, PT Medion, dll. (wan)

Gangguan Metabolik Dominasi Masalah Kesehatan pada Sapi

Semakin bersemangatnya para peternak sapi skala rakyat de­ngan menambah populasi, tidak terlepas dari membaiknya kondisi harga jual sapi potong di pasar pada awal tahun 2013 ini. Hal itu secara langsung telah semakin menggairahkan dunia peternakan Indonesia. Dinamika pembanguan peternakan  rakyat, memang begitu terasa sekali tergambar di masyarakat akar rumput.

Ketika pasokan daging impor berlebih dan masuknya sapi bakalan dari luar negeri, maka secara langsung telah membuat peternak skala rakyat frustasi. Begitu keluar kebijakan untuk menutup atau mengurangi kran impor daging serta sapi bakalan, maka bagi peternak skala rakyat, seolah dunia semakin ceria dan cerah.  Seperti yang terjadi saat ini

Kali ini, seolah angin, memang sedang bertiup me­ngarah ke rakyat. Gairah dan animo peternak untuk memelihara dalam jumlah yang lebih dari biasanya. Meskipun sebenarnya, pada saat ini harga bibit sapi bakalan sudah termasuk sangat tinggi, namun justru pasar ternak sapi begitu bergairah dan ramai. Semoga saja, dalam waktu dekat atau setidaknya kurun waktu 5 tahun ke depan, pemerintah tetap konsisten untuk mengontrol de­ngan ketat volume impor daging sapi  dan sapi bakalan. Sebab jika ada perubahana kebijakan dan kemudian impor daging dibuka secara berlebih maka tentu saja akan membuat peternak sapi skala rakyat akan kembali terlukai dan mungkin patah arang untuk beternak lagi.
 
Konsekuensi dari semangat besar para peternak skala rakyat, maka nampak jelas dengan kebutuhan akan konsentrat dan bekatul di warung sapronak. Permintaan yang meningkat dari pakan jenis itu erat terkait dengan asumsi para peternak, bahwa untuk menggenjot pertumbuhan sapi  dan cepat panen, konsentrat dan bekatul adalah kuncinya.
 
Itulah hasil pengamatan Drh Yusuf Arrofik seorang praktisi Kesehatan Hewan Ternak dan Suradi seorang peternak sapi.
 
Meskipun asumsi itu tidak benar secara keseluruhan, namun juga tidak salah. Hanya kurang tepat memaknai­nya. Menurut Yusuf, akibat dari asumsi itu telah membawa dampak yang kurang baik di dalam aplikasi di lapangan. Orientasi peternak yang menggebu untuk menghasilkan sapi cepat gede dan kurang mendapatkan informasi yang benar secara keilmuan, akhirnya kemudian banyak dijumpai muncul gangguan kesehatan yang justru bukan dengan penyebab agen infeksius (virus, bakteri, jamur dan parasit) akan tetapi justru karena malnutrisi.
 
Malnutrisi alias salah ransum sehingga berakibat buruk terhadap ternaknya, bukan saja oleh karena aspek kekurangan pakan saja, namun  kini justru pengertian malnutris bergeser kearah salah memberikan ransum yang benar. Dalam konteks ini volume pakan justru tersedia berlebih hanya salah dalam memberikan proporsinya.
 
Suradi pun mengakui, bahwa akibat salah menerima informasi, para peternak kemudian lebih mengutamakan pemberian konsentrat dan menihilkan pemberian jerami apalagi hijauan. Namun dirinya sudah melalui fase itu, dan sudah tidak lagi bernafsu dengan jalan yang keliru. Beberapa tahun yang lalu, memang ia juga melakukan hal yang sama yaitu memberikan secara berlebih konsentrat ataupun bekatul. Namun terbukti justru telah membuatnya menanggung kerugian besar. Sapinya bukan menjadi cepat gede, namun sapi ambruk oleh karena susah defekasi bahkan ada sapinya yang kolik sehingga berujung dengan kematian.
 
Aplikasi informasi yang salah itu, kini kembali terjadi ketika para peternak begitu bergairah sekali untuk segera secara cepat mendapatkan keuntungan. Terutama dari selisih harga beli dan harga jual dalam tempo yang semakin singkat.
 
Menurut Yusuf pola pikir itu sudah benar. Bahwa sebaiknya waktu memelihara sesingkat mungkin, dengan hasil sapi cepat gede. Dan menurut  pemahaman  peternak cara tempuh agar sapi cepat gede adalah diberikan ransum konsentrat saja. Sebab metoda itu dianggap  yang dapat dilakukan dengan cepat dan mudah.
 
Pola pikir peternak yang sudah benar itu dan hanya caranya yang keliru, akhrinya justru berbuah sapinya mengalami gangguan kesehatan yang berupa gangguan metabolis yang bersifat akut. Untuk mengatasi masalah itu bukanlah perkara yang mudah, oleh karena wajar jika kemudian selalu berakhir dengan kematian yang didahului dengan sapi ambruk.
 
Suradi juga mengakui kasus kematian pada sapi miliknya saat mengaplikasikan pemberian pakan yang keliru, kala itu. umumnya selalu didahului dengan kesulitan defekasi, sapi gelisah yang sangat tanpa mau makan, hanya minum terus menerus, sampai akhirnya perutnya membuncit, kembung dan ambruk . Dan akhirnya mati secara cepat.
 
Setelah mendapatkan informasi akan penyebab kematian dari seorang Dokter Hewan akhirnya Suradi tidak lagi melakukan langkah keliru ransum. Menurutnya, sapi itu menu dasarnya rumput, maka tidak bisa dihilangkan begitu saja, menu rumputnya. Sedang­kan menurut Yusuf, bisa saja sapi tidak diberikan menu rumput, namun harus dengan latihan yang lama dan pakan penggantinya haruslah juga berupa daun daunan. “Hijauan rumput atau jerami dapat ditiadakan namun harus ada pakan substitusi, dan selain itu sebaiknya memang konsentrat untuk penguat dan pemacu pertumbuhan.”
 
Problema gangguan metabolis pada sapi, ternyata menurut Yusuf juga mendominasi gangguan kesehatan pada sapi perah. Hal ini terkait dengan menu pakan sapi perah yang mana peternak juga cenderung memberikan porsi berlebih pada konsentrat dan mengurangi hijauan rumputnya.
 
Selanjutnya menurut Yusuf, dalam mengatasi masalah gangguan metabolis yang selalu bersifat  akut itu, ada beberapa upaya dan langkah. Pertama yang paling utama adalah merombak ransum menu yang keliru. Kedua, mengatur jadwal pemberian konsentrat secara benar dengan pemberian hijauan rumput atau jeraminya. Terutama proporsi antar hijauan rumput dan jerami dengan konsentrat. Ketiga, adalah melakukan tindakan injeksi preparat yang membantu memacu secara cepat proses metabolis di dalam lambung/rumen sapi. Keempat, membantu proses defekasi melalui pemberian suppositoria di dalam rectum dan anus. Kelima, oleh karena gangguannya bersifat akut, maak injeksi preparat penguat tubuh menajdi suatu keharusan agar sapi tidak lemas dan berakhir dengan kematian. (iyo)

Potensi Sapi di Kebun Sawit Mempawah Provinsi Kalimantan Barat

Gebrakan Dahlan Iskan Menteri Negara Urusan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tentang perlunya memanfaatkan potensi kawasaan perkebunan milik Negara (PTP) Sawit, Tehh, Kopi Karet dan Coklat untuk budidaya ternak Sapi, memang diacungi jempol oleh banyak fihak. Terkait dengan ide yang begitu cemerlang itu, bukan saja kemudian telah terjadi effek domino yaitu berbagai fihak baik itu instansi pemerintah maupun swasta seolah saling bersahut merespon dengan langkah nyata.
 
Bukan lagi wacana atau hanya sekedar gagasan mulia, namun  kini nyaris banyak yang langsung mengimplementasikan ide itu. Sebut saja PTP di Beng­kulu yang menjadi pionir awal dan kemudian bahkan pada awal Desember 2012 sudah melakukan panen hasil budidaya sapi di dalam kawasan Perusahaan Perkebunan milik Negara itu. tidak tanggung-tanggung, tidak tanggung-tanggung Meneg BUMN , Dahlan Iskan kala itu justru memilih mengikuti panen dan proses penjualan sapi hasil PTP itu, dari pada memenuhi Undangan dari Komisi VII DPR untuk Acara Rapat De­ngar Pendapat (RDP).
 
Akhirnya beberapa PTP Provinsi di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Kalimantan Barat pun langsung tancap gas mengikuti langkah yang telah diambil oleh PTP di Bengkulu itu. Bahkan beberapa perusahaan perkebunan sawit milik swasta juga tergiur dengan kegiatan usaha sampingan itu.
 
Efek domino nyata dari gagasan itu adalah terjadinya permintaan pasar akan ternak sapi dari sentra sentra ternak sapi di Jawa, NTB dan NTT. Jika saja Provinsi Bali juga merupakan sentra ternak sapi itu, memberikan izin untuk dapat dikeluarkan ternak sapi dari pula Bali, maka sudah pasti juga akan terjadi lonjakan harga yang tinggi di pulau dewata itu. Sehingga wajar, jika pada periode pertengahan tahun 2012 sampai memasuki awal tahun 2013 ini harga ternak sapi di 3(tiga) sentra pemasok ternak sapi, masih saja cukup tinggi.
 
Di satu sisi membuat para peternak sapi mendapatkan keuntungan, oleh karena adanya kenaikan harga yang fantatstis. Namun di lain fihak banyak pemerintah daerah di 3 (tiga) provinsi itu khawatir sekali dengan laju pengiriman ternak yang begitu banyak dari waktu ke waktu. Kecemasan aparat teknis di daerah sentra ternak sapi potong itu, oleh karena akan semakin menggerus populasi, terutama jika tidak dapat lagi dikendalikan laju pengiriman keluar daerah.
 
Salah satu pejabat teknis bidang peternakan di Kabupaten Mempawah Provinsi Kalimantan Barat, Drh Buntaran kepada Infovet mengungkapkan bahwa proses berdatangannya ternak sapi dari jawa , NTT dan NTB, telah membuat populasi ternak sapi melonjak drastiss. Di satu sisi telah membuat gairah para pedagang sapi antar pulau, namun disi yang lain juga menyebabkan membuat kecemasan baru para peternak yang lebih dahulu berbudidaya, jika akhirnya berujung harga ternak sapi potong akan melorot jatuh.
 
Untuk mengantisipasi hal itu, maka sebagai salah satu daerah yang sedang giat mendorong pemanfaatan lahan perkebunan untuk dioptimalkan menjadi kawasan usaha budidaya peternakan, maka pemerintah kabupaten Mempawah memberikan dukungan dan support penuh kepada fihak fihak yang berniat menginvestasikan dalam bidang peternakan pada umumnya. Dukungan itu antara lain berupa kemudahan perizinan, dan bahkan bantuan teknis dari aparatnya untuk memberikan  bimbi­ngan teknis.
 
Dengan dukungan itu, maka akan semakin mendorong para pemilik modal untuk terstimuli membenamkan modalnya di daerah ini. Selain itu juga dalam rangka mencegah keresahan social dan kemungkinan potensi friksi antara peternak lama dengan para pelaku usaha budidaya ternak sapi yang baru, direkomendasikan pola kemitraan yang setara. Ini penting agar jaminan harga jual dan potensi memburuknya harga akibat kelebihan pasokan dapat dicegah atau ditekan sekecil mungkin.
 
Potensi yang demikian besar dari adanya perkebunan Sawit di Kabupaten Mempawah dan juga luas wilayah lahan bekas kawasan hutan industry yang terbengkelai, merupakan jaminan prospek usaha budidaya ternak sapi. Tersedianya lahan yang luas, dengan hijauan tanaman rumput liar, merupakan asset yang sangat besar namun belum termanfaatkan.
 
“Luas satu Kecamatan Di Mempawah mungkin dapat jauh lebih luas daripada sebuah kabupaten di Pulau Jawa. Maka dapat dibayangkan jika begitu masih luasnya lahan bekas  kawasan hutan industri itu, dimana saat ini tidak ada yang memanfatkannya. Karena tingkat kesuburan tanah yang rendah, maka jika dilepas sapi, akan melahirkan simbiose mutualisme” ujar Buntaran, yang juga Kepala Bidang Urusan Kesehatan Hewan .
 
Sedangkan potensi di kawasan perkebunan sawit milik perusahaan swasta maupun perseorangan, selama ini juga tidak dan belum dimanfatkan untuk menghasilkan yang produktif. Dengan hasil nyata dari PTP di Bengkulu, tutur Buntaran, maka seolah semakin menguatkan niat para pemilik perkebunan Sawit untuk juga beternak sapi potong di dalam kawasan lahan miliknya.
 
Menurut Buntaran, sampai saat ini data tentang jumlah ternak sapi yang masuk ke dalam wilayah kabupaten Mempawah masih dalam proses verifikasi ulang. Sebab begitu bersemangatnya para pelaku usaha perkebunan sawit untuk melakukan budidaya ternak sapi potong, sehingga agar validitas data akurat, terus dilakukan verifikasi dan update secara terus menerus tiap hari. Namun yang jelas nyata, kini di daerah itu kawasan perkebunan sawit sudah banyak ditemukan sapi. Sangat berbeda jika dibandingkan tahun tahun yang lalu, sama sekali tidak dijumpai ternak sapi berada di dalam kawasan perkebunan.
 
Bahkan Buntaran, memperkirakan Kabupaten Mempawah dalam waktu tidak terlalu lama akan menjadi salah satu lumbung atau sentra penghasil sapi potong untuk Propinsi Kalimantan Barfat, bahkan mampu memenuhi untuk pulau Kalimantan.
 
“Jika saja dukungan banyak fihak, lintas sektoral  dalam cakupan Kabupaten ataupun Provinsi dan juga dipermudah urusan pengangkutan ternak sapi antar pulau, maka Kabupaten Mempawah akan mampu menjadi Gudang Ternak Sapi bagi provinsi Kalimantan Barat, bahkan untuk seluruh Pulau Kalimantan” ujar Buntaran yang pernah mengenyam pendidikan bidang peternakan di Philiphina ini.
 
Keyakinan Buntaran itu, memang tidak berlebihan mengingat begitu besar potensi sumber daya alam dan manusia untuk menunjang peternakan sapi potong. Sebagaimana dia ungkapkan bahwa luas lahan di daerahnya yang sama sekali belum termanfaatkan, dan aspek kultural yang berupa adanya jiwa dan semangat bekerja keras para petani di kabupaten ini. Jika saja ternak sapi dilepas begitu saja, lanjut Buntaran, bahkan tanpa diberi makan tambahan lagi, maka sapi akan tumbuh jauh lebih cepat dan jauh lebih besar daripada sapi yang saat ini berada di Jawa.
 
Oleh karena itu optimisme untuk mendukung lahirnya sentra ternak sapi potong, memang sudah layak mendapatkan dukungan dari manapun. Namun yang jauh lebih penting nampaknya adalah tetap harus memperhatikan aspek kesejahteraan rakyat yang sesungguhnya.
 (iyo)

Bisnis Kelinci Amat Menjanjikan

RABBIT CORNER - Meroketnya harga daging sapi di penghujung akhir 2012, pemerintah memberikan alternatif kepada masyarakat untuk mengonsumsi daging kelinci. Harga daging kelinci segar saat ini dijual berkisar Rp 55.000 - Rp. 75.000/kg. Apa yang sesungguhnya mampu mengalihkan perhatian masyarakat untuk melirik daging kelinci?
 
Rasanya sayang sekali jika melewatkan daging kelinci meng­ingat dagingnya lebih sehat, rendah lemak serta kolesterol, protein yang tinggi dan teksturnya yang lembut. Bulunya pun bermanfaat untuk bahan pembuatan pakaian, tas, sendal maupun aksesoris lainnya. Feses dan urine kelincipun sangat baik sebagai pupuk organik.
 
Kita mengenal dua jenis kelinci yaitu kelinci hias dan kelinci pedaging. Masing-masing mempunyai karakteristik berbeda dalam pena­nganan peternakan dan bisnis­nya. Menurut Ketua Himpunan Ma­syarakat Perkelincian Indonesia (Himakindo), Yono C Rahardjo permintaan akan daging kelinci dari tahun ke tahun semakin tinggi namun minim pasokan. “Peluang bisnis kelinci seungguhnya masih terbuka lebar dan menjanjikan,” tutur Yono.
 
“Seperti hotel-hotel di Bali, saat ini sudah menghidang­kan sajian daging kelinci, cuma supply terbatas. bahkan banyak rumah sakit mulai menyediakan menu daging kelinci karena lebih menyehatkan dibanding daging lainnya.” ungkap Yono yang juga seorang ahli kelinci di Balai Penelitian Ternak (Balitnak), Bogor.
 
Saat ini China merupakan penghasil daging kelinci terbesar di dunia dengan populasi potong 700 juta ekor/tahun dan diestimasi tahun 2020 akan mencapai 24 milyar/tahun. Sementara di Vietnam sekitar 5-7 juta ekor/tahun dan di estimasikan pada 2016 mencapai 16 juta ekor/tahun.
 
Pemeliharaan kelinci pedaging tidak jauh berbeda de­ngan kelinci pada umumnya. Bisa dengan dilepas pada area tertentu atau dikandang­kan. Jika bertujuan untuk usaha ternak sebaik­nya menggunakan sistem kandang. Kandang yang digunakan ada beberapa macam. Kandang baterai untuk indukan dan kandang koloni untuk anakan yang lepas sapih.
 
Yono menjelaskan pengembang­biakan dan pertumbuhan kelinci sangat cepat. “Dalam setahun misalnya, seekor induk kelinci mampu menghasilkan 12 - 88 ekor anakan setara dengan 40 kg bobot hidup pada pola tradisional dan 120 kg dengan pola intensif,” terang Yono.
 
Sedikit berbeda dengan kelinci hias yang pemberian pakannya bertujuan untuk kualitas pertumbuhan bulu yang bagus, maka pakan untuk kelinci pedaging bertujuan untuk menghasilkan daging yang berkualitas bagus. Pakan utama kelinci adalah rerumputan, bisa ditambah dengan pakan buatan pabrik atau pellet kelinci,  ampas tahu, dan sayur-sayuran.
 
Daging kelinci bisa diolah menjadi berbagai jenis produk olahan, sama seperti produk yang terbuat dari daging ayam maupun sapi yang dijual di supermarket. “Sosis, bakso, nugget, abon, dendeng juga bisa dibuat dari daging kelinci,” kata Yono.
 
Sekitar pertengahan 2012 lalu, pemerintah telah mengembang­kan konsep peternakan kelinci di 5 lokasi Indonesia yakni Kerinci (Jambi), Tondano (Manado), Bedugul (Bali), Batu (Malang) dan Malino (Sulsel). 

Disampaikan Yono, kampung industri kelinci usaha berbasis kelompok ini memang berorientasi komersial. Ia berharap, masyakarat pedesaan yang bersedia beternak kelinci bisa memper­oleh asupan gizi yang baik dan pendapatan tambahan.
 
Drh Syahroni Djaidi GM Pet Food Business CP Prima berharap de­ngan digalakkannya promosi mengenai potensi kelinci sebagai sumber protein hewani dan pet, dapat meningkatkan pe­ngetahuan masyarakat tentang kelinci. “Untuk rencana ke depan, kami me­ngajak Prof Yono untuk berkolaborasi lebih jauh guna menghasilkan produk pakan kelinci dengan formulasi yang sesuai dan harga yang terjangkau,” tutur Roni. (*)

Untuk konsultasi dan informasi lebih lanjut dapat menghubungi :
Drh Syahroni Djaidi, Pet Food Business CP Prima
Hp: +62 816 835 849 atau email : Syahroni.Djaidi@cpp.co.id

Kualitas Dokter Hewan Indonesia Bagus

Profil Prof Dr Drh Retno D Soejoedono MS

Prof Dr Drh Retno Damajanti Soejoedono Ms yang pada 22 Desember 2012 lalu dikukuhkan sebagai guru besar tetap Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) IPB, siap dengan program pelayanan pada masyarakat. Kepada Infovet, istri dari drh R Roso Seojoedono S MPH ini mengaku dulunya seusai lulus SMA, dirinya berminat untuk menjadi dokter gigi.
 
“Pilihan pertama saya adalah fakultas kedokteran gigi. Karena saya tumbuh dan besar di Bogor, pilihan kedua adalah kuliah di IPB dan saya memilih FKH,” ungkapnya. Apabila diminta memilih, Prof Retno lebih senang menimba ilmu di Bogor dibandingkan dengan bersekolah di Kota Jakarta yang super sibuk dan macet. “Walaupun pada kenyataannya sekarang, perjalanan menuju kawasan Dramaga saja juga macet,” ujarnya diselingi tawa.
 
Pada orasi pengukuhan guru besar yang lalu, Prof Retno menitikberatkan pada pemanfaatan telur sebagai pabrik biologis yang dapat digunakan untuk memproduksi imunoglobulin Y (Ig-Y) di dalam kuning telur. Penelitian yang dilakukan oleh Prof Retno bersama rekan sesama tim peneliti FKH IPB membuahkan hasil berupa telur ayam anti AI subtipe H5N1. “Telur anti flu burung ini sedang dalam proses pendaftaran hak patennya,” tutur Prof Retno.
 
Terkait dengan ramainya kasus flu burung yang menyerang itik di kawasan Brebes, pada tahun 2007 Prof Retno pernah mengeluarkan jurnal berjudul “Potensi Unggas Air Sebagai Reservoir Virus HPAI Subtipe H5N1. “Waktu itu kami tim peneliti menemukan adanya virus H5N1 pada unggas air , yang tidak semua itik terserang flu burung,” katanya. “Virus tersebut hanya bersifat reservoir yang artinya ada dalam tubuh unggas air, namun tidak memperlihatkan gejala klinis, sehingga saat itu tim peneliti lebih mencurahkan keberadaan virus H5N1 pada ayam baik komersial maupun ayam kampung,” jelas Prof Retno.
 
Dalam perjalanannya sebagai dosen pengajar sekaligus peneliti, Prof Retno pun aktif menjadi narasumber dalam berbagai seminar maupun pelatihan. Salah satunya pernah diundang sebagai narasumber dalam pelatihan pengurus ASOHI di Palembang pada 2007 silam.
 
Prestasi yang Prof Retno pernah raih diantaranya penghargaan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yaitu Satya Lencana Karya Satya 10,20 th., di tahun 2005. Lalu prestasi yang dicapai Prof Retno baru-baru ini adalah “104 Inovasi Indonesia 2012 Prospek Inovasi” dengan penemuan antigen AI H5N1 standar sebagai rujukan untuk monitoring titer antibodi hasil vaksinasi AI di industri peternakan ayam. Penghargaan tersebut diraih Prof Retno bersama rekannya seperti Murtini, K Zarkasie, dan I Wayan T Wibawan.
 
“Saya tidak menemui kendala apapun selama menjalankan tugas di FKH-IPB. Semua sarana dan prasarana baik untuk proses pengajar maupun penelitian sudah tersedia dan tinggal melaksanakan serta mengatur jadwal yang berhubungan dengan waktu,” terang Prof Retno.
 
Kini sebagai seorang guru besar maupun sebagai dosen dan peneliti, Pof Retno akan terus melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi yaitu mengajar pada tingkat S1, S2 dan S3. Kemudian melakukan penelitian-penelitian yang tidak hanya terpaku pada virus AI saja, tetapi juga pada penyakit virus yang menyerang pada unggas, unggas air, serta burung liar (wild bird, migratory birds). Selain itu, melaksanakan pelayanan pada masyarakat terutama pada para peternak berupa konsultasi di bidang kesehatan unggas yang berhubungan dengan hasil vaksinasi unggas.
 
Kesibukannya yang luar biasa padat, tidak menghalangi Prof Retno untuk berkumpul bersama keluarga tercinta. “Keluarga mendukung aktivitas saya baik sebagai dosen maupun peneliti ataupun melaksanakan kegiatan pelayanan pada masyarakat. Karena suami juga sebagai dosen di Bagian Kesmavet di FKH IPB dan anak saya juga sudah berkeluarga dan dia juga bekerja sebagai  salah satu staf di Bank Indonesia di Jakarta,” urai Prof Retno yang telah menjadi nenek dari dua cucu ini.
 
Ketika senggang, Prof Retno gemar sekali membaca novel dan berenang. “Saya juga suka mengisi teka-teki silang serta memelihara ikan dan tanaman di rumah,” katanya.
 
Menurut Prof Retno, kualitas lulusan dokter hewan di Indonesia sudah sangat bagus dan tidak kalah dengan lulusan luar Indonesia. “Saat ini di negara kita juga sudah ada ujian kesetaraan di antara FKH,” tukasnya. 

“Harapan saya lebih banyak mahasiswa FKH agar di Indonesia lebih sejahtera, karena sektor peternakan semakin meningkat,” imbuhnya.
 
Keberhasilan yang telah Prof Retno capai hingga sekarang, semua  dapat dilaksanakan dengan baik, ditekuni secara maksimal, dan dilakukan di jalan yang diridhohi Allah SWT. “Pekerjaan harus dilakukan secara seimbang, antara keluarga dan sebagai tenaga pendidik PNS,” tegasnya mengakhiri perbincangan dengan Infovet. (nunung)
 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template