-->

BRIN–FAO PERKUAT KOLABORASI GLOBAL, INDONESIA PENGGERAK TRANSFORMASI PETERNAKAN BERBASIS SAINS

Forum internasional Kerjasama BRIN – FAO diikuti lebih dari 470 peserta dari 33 negara.

Indonesia menegaskan posisinya sebagai salah satu motor penggerak transformasi peternakan global berbasis sains. Melalui kolaborasi antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Food and Agriculture Organization (FAO), arah baru pembangunan sektor peternakan didorong tidak lagi sekadar berorientasi produksi, melainkan berlandaskan keberlanjutan, efisiensi, dan kolaborasi lintas negara.

Momentum ini mengemuka dalam forum International Strategic Meeting on Scientific Pathways for Sustainable Livestock Industry Transformation yang digelar pada 27–28 Maret 2026 di Auditorium BJ Habibie, Jakarta. Pertemuan tersebut tidak hanya menjadi ajang diskusi, tetapi juga panggung strategis untuk merumuskan ulang masa depan industri peternakan dunia.

“Acara ini merupakan kerjasama antara FAO dengan BRIN dalam rangka untuk meningkatkan partnership secara global dalam bidang riset, dalam bidang inovasi serta mendukung food security khususnya dalam persediaan susu,” ungkap Prof Arif Satria SPi, MSi, MPhil, PhD selaku Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Arif menuturkan, tahap pertama telah dilakukan riset untuk menghasilkan sapi-sapi unggul, guna menghasilkan produk susu seiring dengan peningkatan permintaan. Kedua, bagaimana menciptakan inovasi untuk bisa lebih beradaptasi pada perubahan iklim. 

“Upaya yang tercipta adalah sustainable livestock, jadi bagaimana kita menciptakan peternakan yang berkelanjutan,” tandas Arif.

(Kiri ke kanan) Thanawat Tiensin, Rachmat Pambudy, Arif Satria
\

Kolaborasi Global sebagai Fondasi

Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor-Leste, Rajendra Aryal menekankan bahwa kolaborasi yang terbangun dalam forum ini diharapkan memperkuat sistem peternakan yang lebih efisien, inklusif, dan berkelanjutan. Kemitraan lintas sektor dinilai penting untuk memastikan inovasi yang dihasilkan tidak berhenti di level riset, tetapi benar terimplementasi di lapangan.

Asisten Direktur Jenderal FAO, Thanawat Tiensin menggarisbawahi pentingnya pendekatan One Health yang mengintegrasikan kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan sebagai kerangka besar transformasi peternakan global.

Pendekatan ini menjadi semakin relevan di tengah meningkatnya risiko Zoonosis, degradasi lingkungan, dan tekanan terhadap sistem pangan dunia.

“FAO menekankan pentingnya pendekatan kolaboratif global dalam menghadapi tantangan sektor peternakan. Riset dan inovasi menjadi kunci dalam memastikan ketahanan pangan, gizi, serta keberlanjutan mata pencaharian masyarakat. Ketika kita berbicara tentang nutrisi, kita berbicara tentang susu, daging, telur,” terang Thanawat. 

Menurut Thanawat, Indonesia telah meningkatkan sektor perunggasan dari segi produksi ayam dan telur. “Kita menggunakan inovasi, sains, dan teknologi dengan kepemimpinan BRIN untuk lebih memacu produksi susu dalam negeri Indonesia,” imbuh Thanawat. 

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas RI, Prof Dr Ir Rachmat Pambudy MS menilai penguatan sektor peternakan berkelanjutan membutuhkan dukungan dari BRIN, karena semua kemajuan pertanian peternakan pasti dimulai dari riset yang intensif dan terkini. 

Jadi kalau di bidang persapian, sapi perah, pertama kita harus mempunyai bibit yang bagus. Selain itu juga tersedia bahan baku pakan ternak yang luar biasa dari limbah perkebunan. Dan yang paling penting, kita punya demand besar untuk mengisi peningkatan produksi dan produktivitas dalam negeri,” kata Rachmat. 

Bappenas mendukung BRIN, karena sumber daripada kemajuan peternakan adalah research and development. “Seperti arahan Bapak Presiden, kita harus bekerja berbasis ilmu pengetahuan terkini,” lanjutnya. 

Melalui forum ini, BRIN dan FAO menegaskan komitmen untuk memperkuat sinergi global dalam membangun sistem peternakan yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.

Transformasi berbasis sains diharapkan menjadi fondasi penting bagi masa depan sistem agripangan dunia yang lebih resilient. (NDV)

Related Posts

0 Comments:

Posting Komentar

ARTIKEL POPULER MINGGU INI

Translate


Copyright © Majalah Infovet I Majalah Peternakan dan Kesehatan Hewan. All rights reserved.
About | Kontak | Disclaimer