-->

TIENYEN INTERNATIONAL

TIENYEN INTERNATIONAL

Boehringer Ingelheim

Boehringer Ingelheim

Farmsco

Farmsco

SCAN APLIKASI ANDROID

SCAN APLIKASI ANDROID

INFOVET EDISI OKTOBER 2021

INFOVET EDISI OKTOBER 2021

Susunan Redaksi

Pemimpin Umum/Redaksi
Ir. Bambang Suharno


Wakil Pemimpin Umum

Drh. Rakhmat Nurijanto, MM


Wakil Pemimpin Redaksi/Pemimpin Usaha
Ir. Darmanung Siswantoro


Redaktur Pelaksana
Ridwan Bayu Seto


Koordinator Peliputan
Nunung Dwi Verawati


Redaksi:
Wawan Kurniawan, SPt, (Jabodetabek)
Drh Untung Satriyo (Jogja & Jateng)
Drh. Yonathan Rahardjo (Jatim)
Drh. Masdjoko Rudyanto (Bali)
Drh Heru Rachmadi (NTB)
Sadarman S.Pt (Riau)
Drh. Sry Deniati (Sulsel)
Drh. Joko Susilo (Lampung)
Drh. Putut Pantoyo (Sumatera Selatan)

Kontributor:
Prof. Dr. Drh. Charles Rangga Tabbu,
Drh. Deddy Kusmanagandi, MM,
Gani Haryanto,
Drh. Ketut T. Sukata, MBA,
Drs. Tony Unandar MS.
Prof. Dr. Drh. CA Nidom MS.


Kabag Produksi & Sirkulasi
M. Fachrur Rozi

Staf Produksi & Sirkulasi:
M. Sofyan, Achmad Febriyanto, Rizky Yunandi

Administrasi
Nur Aidah


Keuangan:
Eka Safitri
Achmad Kohar


Pemasaran

Septiyan NE


Alamat Redaksi
Ruko Grand Pasar Minggu
Jl. Raya Rawa Bambu No. 88A
Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520
Telp: (021) 7829689, 78841279, Fax: 7820408
e-mail:
Redaksi: majalah.infovet@gmail.com
Pemasaran: marketing.infovet@gmail.com

Rekening:
Bank MANDIRI Cab Ragunan,
No 126.0002074119

Bank BCA KCP Cilandak KKO I. No 733-0301681
a/n PT Gallus Indonesia Utama

Redaksi menerima artikel yang berkaitan dengan kesehatan hewan dan atau peternakan. Redaksi berhak menyunting artikel sepanjang tidak merubah isinya.
Semua artikel yang dimuat menjadi milik redaksi.
Email artikel Anda ke:infovet02@gmail.com

Jumlah Pengunjung

PT. GITA Group

Pengikut

Info Agribisnis Klik Di Sini

alterntif text

TRANSLATE

MENELISIK TEMBANG LAWAS “SLOW GROWTH”

On Januari 21, 2021

Gangguan pertumbuhan alias slow growth pada ayam modern merupakan suatu problem yang multi faktor dengan masa perjalanan kasus yang tidak singkat. Oleh sebab itu, dalam menegakkan diagnosa lapangan harus mencermati data kandang alias anamnese terlebih dahulu. (Foto: Istimewa)

Oleh: Tony Unandar (Private Poultry Farm Consultant - Jakarta)

Kasus gangguan pertumbuhan alias "Slow Growth" (SG) pada ayam modern seolah tak lekang oleh waktu, ibarat lagu lawas yang terus diputar.  Kemunculannya tidak saja terjadi secara berulang dan acak, tapi juga tak mudah diterawang dengan baik. Alhasil setiap ada kasus, di situ pula selalu muncul kambing hitam baru. Mengapa? Tulisan ini mencoba menelisik dimensi lain yang mungkin menjadi faktor adekuat dalam kasus Slow Growth yang terjadi di lapangan, terutama jika diteropong dari kausa non-infeksius.

Sejak kemunculannya pada tahun 1994 dalam industri perunggasan universal, para peneliti genetika dan imunofisiologi unggas terus mencari akar penyebab kasus SG. Karena banyaknya faktor penyebab, baik eksternal maupun internal dan kombinasi antar faktor penyebab itulah, maka eradikasi kasus SG pada ayam modern menjadi sulit.

Hasil survei yang dilakukan para peneliti Universitas Leuven Belgia menemukan suatu hal menarik. Ternyata pada tataran praktis tata laksana pemeliharaan ayam komersil di lapangan, rata-rata ayam baru mendapatkan pakan berkisar antara 36-72 jam pasca menetas (post-hatching) (Decuypere et al., 2001).

Lamanya waktu mendapatkan pakan pasca menetas disebabkan oleh beberapa faktor:
1. Adanya “hatching window” yang terlalu lebar, artinya perbedaan “hatching time” (saat tetas) antar telur tetas yang ada sangat signifikan, sehingga umumnya waktu panen DOC (pulled chick) ditunda oleh para penanggung jawab hatchery.
2. Waktu untuk seleksi, sexing dan potong paruh alias debeaking (khusus untuk ayam petelur).
3. Waktu untuk vaksinasi awal di hatchery.
4. Waktu untuk istirahat pasca vaksinasi Mareks (berkisar > 6 jam pasca vaksinasi).
5. Waktu untuk tranportasi dari hatchery sampai ke lokasi farm komersil (variatif).

Dilain pihak, para peneliti fisiologi unggas menemukan fakta bahwa jika lebih dari 36 jam pasca menetas DOC tidak mendapatkan pakan dan air minum, maka anak ayam tersebut secara fisiologis akan mengalami cacat (efek negatif) yang sifatnya tidak bisa dikompensasi (Noy dan Sklan, 2001; Batal dan Parsons, 2002; Juul-Madsen et al., 2004).

Anak ayam tersebut akan lebih peka terhadap patogen dan mengalami gangguan pertambahan bobot badan (Geyra et al., 2001; Bigot et al., 2003; Dibner dan Richards, 2004; Dibner et al., 2008), serta mengalami gangguan pertumbuhan jaringan usus dan otot kerangka (Halevy et al., 2003; de Oliveira et al., 2008).

Perlu juga diketahui, pada proses menetas (hatching process) embrio ayam banyak menggunakan cadangan glikogen sebagai sumber energi untuk memecah kerabang telur sampai keluar dari telur (Lu et al., 2007) dan cadangan glikogen tersebut terus dikuras selama DOC belum mendapatkan akses pakan secara penuh. Jika cadangan glikogen tidak mencukupi, maka DOC akan memobilisasi protein otot untuk memenuhi kebutuhan energi tubuhnya via reaksi glukoneogenesis. Kondisi ini tentu saja akan mereduksi kecepatan pertumbuhan awal, terutama pertumbuhan hiperplasia yang jelas sangat progresif terjadi dalam minggu pertama (Vieira dan Moran,1999). Jadi tegasnya, proses-proses metabolisme dan fisiologi sebelum, saat menetas dan beberapa saat sesudah menetas sangat menentukan kualitas DOC dan juga titik awal pertumbuhan selanjutnya (Halevy et al., 2014), baik itu pada DOC broiler maupun layer.

Itulah sebabnya ketika terjadi stres yang signifikan pada titik-titik poros “proses menetas-panen DOC di hatchery-transportasi/saat tebar DOC ke dalam brooding” (hatching process-pulled chick-chick placement) ditanggapi oleh anak ayam dengan pelbagai derajat keparahan. Yang nyata tampak di lapangan adalah gangguan keseragaman (uniformity) dan gangguan pertumbuhan bobot badan yang tidak bisa dikompensasi dengan baik saat panen atau masa laying (Surai P, 2018; Halevy O, 2020).

Pertumbuhan Otot Kerangka (Fleshing)
Berbeda dengan fetus pada hewan menyusui (mamalia), embrio ayam secara mandiri bertumbuh dan berkembang di luar tubuh induknya (hewan ovipar). Oleh sebab itu, secara potensial embrio ayam jauh lebih rentan… Selengkapnya baca di Majalah Infovet edisi Januari 2021. (toe)

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Artikel Populer