Alltech

Alltech

Boehringer Ingelheim

Boehringer Ingelheim

Amlan

Amlan

SCAN APLIKASI ANDROID

SCAN APLIKASI ANDROID

EDISI NOPEMBER 2019

EDISI  NOPEMBER 2019

Susunan Redaksi

Pemimpin Umum/Redaksi
Ir. Bambang Suharno
Wakil Pemimpin Umum/Usaha
Drh. Rakhmat Nuriyanto MBA
Redaktur Pelaksana
Ir. Darmanung Siswantoro
Koordinator Peliputan
Ridwan Bayu Seto
Nunung Dwi Verawati

Redaksi
Wawan Kurniawan, SPt, (Jabodetabek)
Drh Untung Satriyo (Jogja & Jateng)
Drh. Yonathan Rahardjo (Jatim)
Drh. Masdjoko Rudyanto (Bali)
Drh Heru Rachmadi (NTB)
Sadarman S.Pt (Riau)
Drh. Sry Deniati (Sulsel)
Drh. Joko Susilo (Lampung)
Drh. Putut Pantoyo (Sumatera Selatan)

Kontributor
Prof. Dr. Drh. Charles Rangga Tabbu,
Drh. Dedy Kusmanagandi, MM,
Gani Haryanto,
Drh. Ketut T. Sukata, MBA,
Drs. Tony Unandar MS.
Prof. Dr. Drh. CA Nidom MS.

Kabag Produksi & Sirkulasi
M. Farur Rozi

Staf Produksi & Sirkulasi
M. Sofyan, Achmad Febriyanto, Rizky Yunandi

Administrasi:
Nur Aidah,

Keuangan:
Eka Safitri
Achmad Kohar

Pemasaran

Anang Sam, CHt.


Alamat Redaksi:
Ruko Grand Pasar Minggu
Jl. Raya Rawa Bambu No. 88A
Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520
Telp: (021) 7829689, 78841279, Fax: 7820408
e-mail:
Redaksi : majalah.infovet@gmail.com
Pemasaran : marketing.infovet@gmail.com

Rekening
Bank MANDIRI Cab Ragunan,
No 126.0002074119

Bank BCA KCP Cilandak KKO I
No 733-0301681
a/n PT Gallus Indonesia Utama

Redaksi menerima artikel yang berkaitan dengan kesehatan hewan dan atau peternakan. Redaksi berhak menyunting artikel sepanjang tidak merubah isinya.
Semua artikel yang dimuat menjadi milik redaksi.
Email artikel Anda ke: majalah.infovet@gmail.com

Jumlah Pengunjung

PT. GITA Group

Followers

Info Agribisnis Klik Di Sini

alterntif text

TRANSLATE

Pemanfaatan Kotoran Sapi untuk Pakan Ayam Kampung

On February 08, 2019

Kotoran sapi yang diolah dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak ayam kampung dengan hasil yang cukup baik. (Sumber: Istimewa)

Ayam kampung atau ayam buras (bukan ras), merupakan salah satu ternak unggas yang umum dibudidayakan oleh masyarakat pedesaan. Namun, populasi ayam kampung di Indonesia pada 2015 sudah mencapai 285 juta ekor.

Permintaan daging dan telur ayam kampung juga semakin meningkat, walau harganya lebih tinggi dibandingkan ayam ras. Namun disayangkan, sebagian besar masyarakat  masih memelihara ayam kampung secara tradisional. Bahkan masih banyak masyarakat yang memelihara tanpa menyediakan kandang.

Salah satu alasan sebagian masyarakat memelihara ayam kampung dengan cara diumbar adalah mahalnya harga pakan, jika harus membudidayakan secara intensif. Padahal memelihara ayam kampung memiliki prospek yang menjanjikan dan menguntungkan, asalkan memenuhi persyaratan, yakni menggunakan bibit, vaksinasi secara intensif dan teratur, serta menggunakan pakan yang murah dan berkualitas.

Agar memperoleh formula pakan yang murah diperlukan kejelian untuk mencari bahan pakan alternatif, yaitu kotoran sapi dan domba/kambing yang bisa diolah. Fase layer (bertelur) merupakan masa produktif ayam petelur, termasuk ayam kampung, yaitu umur sekitar 20 minggu hingga afkir (90-100 minggu), di mana pada fase ini tidak 100% menggunakan pakan pabrikan, tetapi menggunakan konsentrat yang dicampur dengan jagung, dedak dan bungkil kelapa.

Sebagai contoh ramuan pakan ayam kampung petelur dengan komposisi sebagai berikut. Pakan A (25% konsentrat pabrikan, 40% jagung kuning giling, 35% dedak padi). Kemudian Pakan B (25% konsentrat pabrikan, 40% jagung kuning giling, 20% tepung kotoran sapi, 15% dedak padi). Sebaiknya pemberian dikombinasikan dengan probiotik 1 cc per liter air minum untuk meningkatkan produktivitas telur hingga 5-6% dibandingkan dengan pemberian pakan konvensional dan menghilangkan kemungkinan penurunan produksi.

Perbandingan Nutrisi
Komposisi nutrisi pakan A (konvensional) dan pakan B (dicampur tepung kotoran sapi), dapat dilihat pada Tabel 1 berikut:

Tabel 1: Perbandingan Komposisi Nutrisi Pakan A dan Pakan B, untuk Ayam Kampung Petelur
Jenis pakan
Komposisi (%)
Protein kasar
Serat kasar
Lemak
Kalsium
Fosfor
Energi (Kkal/Kg)
Pakan A
16,30
7,73
8,39
1,60
0,65
3.760
Pakan B
17,64
8,61
5,10
2,89
0,62
3.623

Sumber: Ir Suprio Guntoro (2018).

Dari Tabel 1 tersebut tampak bahwa kandungan protein kasar dan serat kasar Pakan B lebih tinggi dari pada Pakan A, ini disebabkan kandungan protein dan serat kasar pada tepung olahan kotoran sapi lebih tinggi dari pada dedak padi. Sedangkan kandungan energi Pakan B sedikit lebih rendah dari Pakan A, tetapi kandungan nutrisi lainnya (lemak, kalsium dan fosfor) secara umum tidak begitu signifikan.

Teknik Pengolahan Kotoran Sapi
Kotoran sapi perlu diolah dahulu melalui beberapa tahapan agar bisa menjadi bahan pakan bernutrisi, antara lain:

a. Persiapan bahan, pilih kotoran sapi/kerbau/domba/kambing yang masih segar atau sudah berumur tiga hari dan bebas dari campuran tanah. Kemudian jemur kotoran tersebut selama satu hari untuk mengurangi kadar airnya.

b. Persiapan inokulan, persiapkan peralatan (corong, wadah penampung) dan bahan inokulan (gula putih/merah atau mollase, bibit inokulan). Masukkan air bersih (bebas dari lumpur atau kaporit) ke dalam wadah, lalu campurkan irisan gula/mollase dengan perbandingan 1:100 dari bobot air, jadi untuk 100 liter air digunakan 1 kg gula/mollase, lalu aduk gula/mollase sampai larut. Masukkan bibit inokulan sebanyak 1 liter atau 1% dari volume air dan aduk kembali. Kemudian tutup wadah rapat-rapat, lalu diamkan 30-60 menit di tempat teduh.

c. Proses inokulasi, hamparkan kotoran sapi dalam kondisi setengah kering hingga setebal 3-4 cm di atas terpal. Siramkan cairan inokulan dengan menggunakan sprayer ke permukaan kotoran sapi sampai merata. Tebarkan lagi kotoran sapi setebal 3-4 cm di atas kotoran yang telah terinokulasi, lalu siram lagi dengan larutan inokulan. Ulangi hingga semua kotoran sapi terinokulasi.

d. Fermentasi, bungkus dan ikat rapat-rapat semua kotoran sapi yang terinokulasi dengan karung/plastik/terpal, lalu simpan dan tutup dalam bak khusus fermentasi selama 5-6 hari.

e. Pengeringan, setelah lima hari proses fermentasi, lalu kotoran sapi di bongkar dan dijemur di bawah sinar matahari selama 3-4 hari (bila di dataran rendah) atau 5-6 hari (bila di dataran tinggi).

f. Penepungan, setelah kotoran cukup kering, lakukan penepungan dengan menggunakan mixer. Tujuan penepungan agar bahan kotoran sapi lebih lembut, sehingga mudah dicampur dengan bahan pakan secara merata, lebih mudah dikonsumsi dan meningkatkan daya cerna.

Teknik Pencampuran
1. Untuk skala kecil, dapat dilakukan secara manual menggunakan tangan atau sekop, dengan tahapan sebagai berikut:

a. Siapkan wadah bersih pencampur pakan seperti terpal, lembaran plastik yang dihamparkan di lantai.

b. Taburkan bahan yang jumlah persen komposisinya terkecil di atas hamparan tersebut, dalam hal ini dedak padi. Kemudian taburkan bahan yang komposisinya lebih besar (tepung kotoran sapi) di atas bahan pertama, lalu aduk secara merata. Di atas campuran kedua bahan tadi, taburkan bahan yang lebih besar komposisinya yaitu konsentrat pabrikan dan jagung secara merata.

c. Bagi bahan pakan tersebut menjadi empat bagian, aduk setiap bagian secara merata, lalu satukan kembali. Aduk kembali bahan pakan agar lebih merata menggunakan sekop/tangan.

2. Untuk skala besar, dilakukan dengan menggunakan mixer, sehingga lebih homogen dan efisien. Bahan pakan bisa langsung dimasukkan ke tabung mixer, diawali dengan bahan yang komposisinya terbesar. Pencampuran dilakukan dalam waktu 10-15 menit. Jangan lebih dari 15 menit karena bahan bisa terpisah lagi.

Keuntungan Penggunaan Tepung Kotoran Sapi

Berdasarkan hasil pengamatan Ir Suprio Guntoro (2018), ternyata terdapat beberapa keuntungan dari penggunaan tepung kotoran sapi, seperti disajikan pada Tabel 2 berikut:

Tabel 2: Manfaat Penggunaan Tepung Kotoran sapi Terhadap Produksi Telur, Pendapatan dan Keuntungan Ayam Kampung
Jenis pakan
Konsumsi pakan (gr/ekor/hari)
Feed Convertion Ratio
Produksi telur (butir)
Pendapatan (Rp)
Keuntungan (Rp)
A
77.52
2,98
1.763
2.291.900
1.110.581
B
78,46
2,98
1.761
2.289.300
1.222.316
C
74,25
2,67
1.894
2.462.700
1.426.298
Sumber: Ir Suprio Guntoro (2018).
Keterangan:
Pakan A = Pakan campuran 25% konsentrat pabrikan + 40% jagung giling + 35% dedak padi.
Pakan B = Pakan campuran 25% konsentrat pabrikan + 40% jagung giling + 20% tepung kotoran sapi
Pakan C = Pakan campuran 25% konsentrat pabrikan + 40% jagung giling + 20% tepung kotoran sapi + 0,125 cc Probiotik/ekor/hari (dalam minuman).
Per ekor ayam kampung diberikan 125 cc probiotik per liter air dan per liter air minum untuk delapan ekor ayam.

Dari Tabel 2 tersebut tampak bahwa pakan C yang diberi probiotik dalam air minum mendapat banyak manfaat dan keuntungan, yaitu konsumsi pakan lebih sedikit, FCR lebih rendah, produksi telur meningkat, pendapatan naik dan bertambah. Jadi penggunaan tepung kotoran sapi untuk campuran pakan ayam kampung petelur tidak perlu diragukan lagi.

Demikianlah sekilas tentang penggunaan tepung kotoran sapi untuk menekan biaya produksi ayam kampung petelur yang selalu dibayangi naiknya harga bahan pakan, baik konsentrat pabrikan, jagung maupun dedak padi. Selamat mencoba. (SA)

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

1 komentar:

Perlu dilakukan penelitian tambahan agar dapat dibandingkan secara apple to apple pada peningkatan produksi telurnya. sehingga perbandingannya adalah pakan A + probiotik vs pakan C (pakan B+probiotik).
Perlu ditambahkan juga perbandingan biaya dengan atau tanpa tepung kotoran sapi.

Artikel Populer