SCAN APLIKASI ANDROID

SCAN APLIKASI ANDROID

EDISI SEPTEMBER 2018

Susunan Redaksi

Pemimpin Umum/Redaksi
Ir. Bambang Suharno
Wakil Pemimpin Umum/Usaha
Drh. Rakhmat Nuriyanto MBA
Redaktur Pelaksana
Ir. Darmanung Siswantoro
Koordinator Peliputan
Ridwan Bayu Seto
Nunung Dwi Verawati

Redaksi
Wawan Kurniawan, SPt, (Jabodetabek)
Drh Untung Satriyo (Jogja & Jateng)
Drh. Yonathan Rahardjo (Jatim)
Drh. Masdjoko Rudyanto (Bali)
Drh Heru Rachmadi (NTB)
Sadarman SPt (Riau)
Drh. Sry Deniati (Sulsel)
Drh. Joko Susilo (Lampung)
Drh Putut Pantoyo (Sumatera Selatan)

Kontributor
Prof Dr Drh Charles Rangga Tabbu,
Drh Dedy Kusmanagandi, MM,
Gani Haryanto,
Drh Ketut T. Sukata, MBA,
Drs Tony Unandar MS
Prof Dr Drh CA Nidom MS

Kabag Produksi & Sirkulasi
M. Farur Rozi

Staf Produksi & Sirkulasi
M. Sofyan, Achmad Febriyanto, Rizky Yunandi

Administrasi:
Nur Aidah,

Keuangan:
Eka Safitri
Achmad Kohar

Alamat Redaksi:
Ruko Grand Pasar Minggu
Jl. Raya Rawa Bambu No. 88A
Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520
Telp: (021) 7829689, 78841279, Fax: 7820408
e-mail:
Redaksi : majalah.infovet@gmail.com
Pemasaran : marketing.infovet@gmail.com

Rekening
Bank MANDIRI Cab Ragunan,
No 126.0002074119

Bank BCA KCP Cilandak KKO I
No 733-0301681
a/n PT Gallus Indonesia Utama

Redaksi menerima artikel yang berkaitan dengan kesehatan hewan dan atau peternakan. Redaksi berhak menyunting artikel sepanjang tidak merubah isinya.
Semua artikel yang dimuat menjadi milik redaksi.
Email artikel Anda ke: majalah.infovet@gmail.com

Jumlah Pengunjung

PT. GITA Group

Followers

Info Agribisnis Klik Di Sini

alterntif text

TRANSLATE

Tangani Problem Gangguan Produksi dan Pencernaan pada Layer

On 11:21:00 AM

Kasus penurunan produksi telur disebabkan beberapa faktor penting,
diantaranya pakan dan penerapan biosekuriti. (Foto: Aktual.com)
Problem/kasus gangguan produksi dengan pola 90/40, menyebabkan terjadinya penurunan produksi secara drastis, bahkan diawal produksi yang lebih dari 90% bisa turun dalam hitungan waktu yang sangat singkat menjadi sekitar 30%. Fenomena ini belakangan terjadi pada ayam petelur yang mendasarkan pada pengamatan dan analisa di beberapa peternakan/lokasi peternakan yang bermasalah dengan problem tersebut.

Penulis menyimpulkan ada beberapa faktor utama yang disinyalir menjadi akar masalah dan faktor pemicu kasus itu bisa terjadi, yakni 1) Berkenaan dengan kualitas pakan (dugaan mikotoksikosis yang menyebabkan terjadinya immunosupresi). 2) Lemahnya praktek biosekuriti yang diterapkan di lapangan sebelum terjadinya kasus. 3) Problem wet droping (kotoran cenderung basah) berkepanjangan dialami kelompok ayam yang bermasalah tersebut sebelum terjadinya kasus infeksi virus ditambah infeksi sekunder oleh bakteri.

Berkaitan dengan kualitas pakan yang disinyalir sebagai salah satu pemicu problem tersebut, dari analisa dan pemeriksaan laboratorium yang dilakukan, ditemukan adanya cemaran beberapa jenis mikotoksin (aflatoksin, fumonisin, zearalenon, ochratoksin dan T-2 toksin) yang ada dalam sediaan pakan yang dibuat/diberikan pada ayam yang bermasalah dengan problem kasus 90/40. Adanya polikontaminasi mikotoksin dalam level rendah dari masing-masing jenis mikotoksin yang mencemari pakan tersebut dan diberikan dalam jangka waktu cukup panjang pada ayam, menyebabkan terjadinya gangguan stuktur dinding saluran pencernaan, gizzard erotion (lesi pada gizzard), gangguan fungsi hati dan juga gangguan fungsi organ penghasil zat kebal tubuh (limpa, timus dan sumsum tulang), sehingga menyebabkan terjadinya immunosupresi. Terjadinya immunosupresi karena mikotoksikosis menyebabkan ayam menjadi peka terhadap infeksi berbagai agen penyakit.

Faktor pemicu lainnya terjadi karena ayam mengalami gangguan pencernaan berkepanjangan, di mana ayam mengalami wet droping (kotoran basah), amoniak tinggi dalam lingkungan kandang dan populasi lalat yang tidak terkontrol sebagai vektor penyebaran agen penyakit, termasuk juga vektor dari cacing pita.

Lemahnya praktek biosekuriti yang semestinya secara konsisten harus dilakukan menyebabkan tingginya tingkat tantangan (challenge) agen penyakit yang ada di lingkungan peternakan, menyebabkan tingkat patogenitas dan virulensi virus penyebab infeksi penyakit menjadi meningkat, sehingga menyebabkan infeksi dan gangguan produksi pada ayam.

Dari adanya faktor pemicu tersebut di atas, membuat terjadinya penurunan status kekebalan tubuh ayam (immunosupresi), sehingga ayam menjadi sangat peka terhadap infeksi agen penyakit, baik yang disebabkan oleh infeksi virus maupun bakteri dan atau infeksi campuran oleh virus dan bakteri.

Penyebab sendiri dari agen infeksius yang menyebabkan gangguan produksi di mana produksinya turun secara signifikan mulai dari 90% menjadi 40% persen bahkan sampai turun menjadi 30%, diantaranya ada yang disebabkan oleh infeksi virus AI (H9N2 maupun H5N1), atau oleh infeksi virus IB, ND, EDS dan juga IBH, serta infeksi kuman Salmonella dan E. colli (Kolibasilosis) dan Coryza.

Penanganan dan Pencegahan
Solusi penanganan sekaligus mencegah problem tersebut di atas agar tak terulang bisa dilakukan dengan beberapa tindakan yang disarankan, diantaranya:

1. Jalankan praktek biosekuriti, yakni lakukan secara konsisten sanitasi agar terjaganya kebersihan lingkungan peternakan, membatasi pihak luar (manusia) untuk keluar masuk lokasi peternakan dan lakukan juga program disinfeksi secara rutin pada lingkungan sekitar peternakan untuk tujuan mengurangi cemaran kuman/virus yang ada di dalam kandang atau lingkungan peternakan, baik pada saat periode istirahat kandang maupun fase pemeliharaan.

2. Gunakan bahan baku pakan yang berkualitas baik untuk membuat ransum/pakan lengkap untuk ayam, seperti memilih dedak, MBM, Jagung dan bungkil kedelai yang berkualitas baik, agar meminimalisir cemaran toksinnya (seperti mikotoksin).

3. Tambahkan anti-mikotoksin/toxin absorbent yang punya kemampuan mengikat secara optimal semua jenis mikotoksin/toksin dalam campuran pakan untuk mencegah ayam dari efek mikotoksin/toksin yang menyebabkan immunosupresi (melemahnya sistem kekebalan tubuh ayam).

4. Untuk mengatasi dan mencegah wet droping (kotoran ayam yang keluar dari kloaka seperti diare/fesesnya pecah dan basah), melalui pakan (dicampurkan dalam sediaan pakan) disarankan pemakaian obat anti diare dan yang mampu menyerap racun dibarengi dengan pemberian zat yang mengandung sodium butyrate double buffer yang didesain khusus untuk pemakaian unggas dan hewan kecil, yang berfungsi  memperbaiki kondisi vili-vili usus yang rusak akibat keracunan atau pemberian antibiotik (AGP) secara terus menerus sebelumnya, serta dikombinasi dengan pemberian zat yang mengandung minyak esensial dan asam organik yang berfungsi sebagai pengganti AGP untuk menekan populasi kuman entero-patogen pada saluran pencernaan bagian bawah (illium dan colon).

5. Bila terjadi kasus 90/40 tersebut kuat dugaan-nya karena infeksi virus, maka untuk mempercepat proses kesembuhan ayam dari serangan virus IB tersebut, melalui air minum dapat diberikan produk minyak esensial sebagai antivirus dan sediaan antimikrobial untuk mencegah pembentukan eksudat pada saluran pernafasan, sehingga ayam mudah bernafas (untuk menghirup sebanyak mungkin oksigen).

6. Lakukan vaksinasi dengan menggunakan vaksin apapun yang berkualitas baik dan waktu vaksinasi yang sesuai anjuran.

7. Pastikan selalu memberikan air minum yang telah disterilisasi dengan cara klorinasi untuk mencegah penularan agen penyakit yang mencemari sumber air minum. Pastikan kadar aktif klorin tetap tersedia dalam air minum pada level minimum 0.5 ppm dan maksimum 1 ppm.

8. Bila penyebab gangguan produksi 90/40 karena infeksi bakteri, akan sangat dianjurkan melakukan pengobatan secara tuntas menggunakan antibiotik dengan kualitas terbaik dan disertai pemberian minyak esensial, yang membantu mencegah infeksi virus dan juga bakteri lain yang dapat memperparah problem pencernaan maupun pernafasan.

Demikian solusi komprehensif yang dapat penulis sampaikan, semoga dapat membantu mengatasi, sekaligus mencegah problem kesehatan dan gangguan produksi yang dihadapi pengusaha peternakan ayam petelur di lapangan. ***

Drh Wayan Wiryawan
PT Farma Sevaka Nusantara,
Pengurus/anggota ADHPI
(Asosiasi Dokter Hewan
Perunggasan Indonesia)

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Artikel Populer