Thursday, November 25, 2010

Bisnis Unggas Pasca Lebaran SAMPAI KAPAN HARGA BERTAHAN DI ATAS LANGIT ?

oleh: Samhadi (Penulis adalah pengamat perunggasan)

Seorang pemilik warung makan ayam bakar mengeluh lantaran harga ayam di pasar terasa sangat mencekik leher kaum usaha warung makan. ”Baru kali ini saya mengalami situasi yang sangat sulit,” ujarnya.

Ya, dalam beberapa bulan terakhir para ibu rumah tangga dan juga pengusaha kuliner harus pandai-pandai menyiasati melambungnya harga ayam di pasaran. Di Jakarta dan sekitarnya harga ayam bisa lebih dari 23 ribu/ekor ayam ukuran 0,7 kg. Katakanlah harga Rp 20.000/ekor, dipotong menjadi 4 bagian, maka modal satu potong sudah Rp 5.000, padahal ia harus menjual paling mahal Rp

7.0

00/potong. Ada selisih 2 ribu untuk beli bumbu, minyak, gas, listrik, dan tenaga kerja, yan

g secara

hitung-hitungan kasar sudah pasti warung tersebut menanggung kerugian. Bagi warung makan, bahan baku utama wajarnya adalah 50% dari harga jual, jadi kalau harga jual Rp 7.000 berarti harga ayam maksimal Rp 3.500/potong.



Mungkin itulah resiko bisnis. Pergerakan harga ayam di tingkat peternak beberapa bulan terakhir memang mencengangkan. Sumber di Pusat Informasi Pasar (Pinsar Unggas) mencatat rekor harga tertinggi sepanjang sejarah.



Persisnya sejak bulan Juni 2010 lalu, harga broiler dan telur menunjukkan angka ”biru” yang berarti peternak bisa menikmati hasil usahanya berupa keuntungan yang fantastik. Di pasar Jabodetabek, pada minggu kedua bulan Agustus 2010 harga broiler hidup (> 1,6 kg) mencapai Rp 17.000/kg, di Medan Rp 18000/kg, dan Surabaya Rp 16.800/kg. Demikian juga harga telur, utamanya di Jabodetabek, rekor baru harga telur di tingkat peternak terpecahkan hingga Rp 14.000/kg, yang dicapai pada lima hari menjelang lebaran.



Catatan perkembangan harga jual komoditas unggas nasional tersebut bukan begitu saja tanpa tekanan. Tingginya harga di tingkat peternak tentu berimbas pada harga di tingkat konsumen. Harga daging broiler yang saat itu mencapai Rp 35.000/kg dari biasanya hanya Rp 23.000/kg, sempat menjadi bulan-bulanan pemberitaan media umum sebagai salah satu biang tingginya inflasi nasional. Situasi ini mengarahkan pemerintah untuk mempertanyakan hal ini kepada peternak sebagai produsen. Yang secara implisit, pemerintah menekan secara psikologis, agar peternak segera menurunkan harga broiler.



Efek tekanan dari pemerintah ini, sempat menjadi polemik di antara peternak. Ada yang menyetujui untuk menurunkan harga dengan alasan berisiko kran impor bisa dibuka. Sedang yang menentang cukup dengan logika : ”Bukankah enam bulan ini, kita rugi. Apa salahnya saat ini untuk mengembalikan modal?” seloroh salah satu peternak di Tangerang.



Mengungkap apa sesungguhnya penyebab meroketnya harga broiler dan telur beberapa bulan terakhir, cukup banyak variabel yang menyebabkannya. Hasil penelusuran penulis menunjukkan, menguatnya harga broiler dan telur mulai berlangsung pasca ajang Sarasehan Pelaku Bisnis Unggas Nasional di Bogor Mei 2010. Dimana salah satu isu panas yang dibahas adalah soal produksi DOC atau bibit yang dianggap jumlahnya sudah melebihi daya serap di pasar broiler dan telur. Pertemuan tersebut meski dominan diikuti peternak broiler merupakan puncak ”emosi” peternak terhadap situasi pasar yang terus mengurung mereka dalam kerugian.



Kembali ke masa pasca lebaran tahun 2009 lalu, tentu hampir semua peternak unggas di Tanah Air masih ingat betul betapa harga komoditas unggas baik broiler dan telur saat itu begitu terpuruk. Klimaksnya harga broiler pada Januari 2010 sempat terjungkal di level Rp 7.000/kg, sementara telur pernah beberapa kali meluncur di harga Rp 8.900/kg. Menjadi ironi yang menyesakkan, kondisi tersebut terjadi di tengah prestasi makroekonomi nasional tahun 2009 yang dinilai mengagumkan : lolos dari krisis keuangan, inflasi yang terkendali, pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen dan cadangan devisa yang terus melewati angka 70 milyar dolar US. Dan inilah yang menjebak kalangan industri perunggasan yang terus melakukan ekspansi di tahun 2010.



Didorong rekomendasi dari hasil sarasehan tersebut, agaknya kalangan pembibit merespon untuk mengurangi produksi bibit. Walaupun dari sisi mereka, harga bibit juga ikut terpuruk selama masa krisis harga ayam dan telur. Nampak jelas, di bulan Juni 2010 harga broiler dan telur mulai terangkat pada level yang menggembirakan peternak.



Uraian Performa Harga Broiler maupun Telur Pra-Lebaran dan Pasca Lebaran selengkapnya baca majalah Infovet edisi Oktober 2010, pemesanan dan berlanggananan klik disini

PROGRAM PSDS 2014 BELUM FOKUS,DUKUNGAN PEMDA KURANG

Pemerintah perlu lebih selektif menentukan prioritas kegiatan untuk mencapai swasembada daging sapi pada 2014. Dengan anggaran terbatas, seharusnya pemerintah fokus pada kegiatan yang paling berkontribusi pada peningkatan populasi sapi potong di dalam negeri.

Hal itu disampaikan Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen Daging dan Feedlot Indonesia (Apfindo) Joni Liano, Kamis (30/9) di Jakarta, pada seminar “Peluang dan Tantangan Investasi Peternakan Sapi dalam Rangka Swasembada Daging 2014”.

“Lima kegiatan operasional cukup, tidak perlu harus menjalankan 13 kegiatan yang dicanangkan, apalagi dengan anggaran terbatas,” kata dia.

Joni menjelaskan, untuk mencapai swasembada daging sapi dan kerbau pada 2014, dalam kurun waktu 2010-2014 dibutuhkan dana Rp 17,4 triliun atau rata-rata Rp 3,5 triliun per tahun. Padahal, tahun ini Kementerian Pertanian hanya mengalokasikan anggaran Rp 575,29 miliar.
Dana Rp 17,4 triliun itu dibutuhkan untuk meningkatkan populasi sapi, dari saat ini 12,6 juta ekor menjadi 14,23 juta ekor pada 2014. Produksi daging sapi diharapkan mencapai 420.000 ton pada 2014. Tahun 2009 produksi daging sapi hanya hanya 250.810 ton.

Joni Liano juga memberikan catatan khusus untuk pelaksanaan Program PSDS 2014 ini yaitu program swasembada daging sapi ini harus bertujuan jangka panjang dan oleh karenanya harus dilaksanakan dengan prinsip utama adanya keberlanjutan dan kesinambungan (sustainability)
“Fokus percepatan program swasembada daging sapi harus tertuju pada pertumbuhan populasi sapi lokal, khususnya betina produktif untuk indukan, dan bukan pada pembatasan impor sapi bakalan untuk penggemukan,” kata Joni menekankan.

Selain itu program swasembada daging sapi harus tetap mengedepankan dan memperhatikan keseimbangan supply-demand dan kecukupan daging sapi nasional. Serta adanya kesetaraan dan keadilan perlakuan pengenaan kebijakan Pemerintah atas usaha berbasis impor dengan proses pertambahan nilai seperti feedlot dan atas usaha berbasis impor tanpa proses pertambahan nilai seperti importir dan distributor daging ex impor. Sehingga pada akhirnya program swasembada daging sapi ini bisa meningkatkan kesejahteraan peternak.

Kendala Teknis Masih Mengintai
Dari 13 kegiatan yang tercantum dalam cetak biru peternakan sapi dalam rangka Program Swasembada Daging Sapi (PSDS) 2014, menurut Joni, ada lima kegiatan yang paling banyak memberi kontribusi pada peningkatan populasi sapi.

Lima kegiatan itu adalah optimalisasi inseminasi buatan dan kawin alam, pengembangan usaha pembiakan dan penggemukan sapi lokal, penyelamatan sapi betina produktif, pengembangan pembibitan sapi potong melalui village breeding center, serta kegiatan operasional lain yang menambah populasi.

Menurut mantan Dirjen Peternakan Soehadji, program PSDS 2014 tidak didukung data populasi sapi yang akurat. Dampaknya, program yang dijalankan menjadi bias serta konsistensi dan komitmen program sulit dipegang. Ketidakkonsistenan itu, kata Soehadji, antara lain tampak dari kebijakan impor sapi dan daging sapi ilegal. Ini akibat dari tidak paham dalam pengaturan dan penghitungan.

Soehadji mencontohkan beberapa langkah teknis operasional yang menghambat Program Swasembada Daging (2010) yang gagal sebelumnya. Diantaranya adalah optimalisasi Akseptor program Inseminasi Buatan (IB) dan Kawin Alam (KA) sulit dicapai. Misalnya keberhasilan IB di 15 Kabupaten Jawa Barat tahun 2003 (61,37%), 2004 (53,81%), 2005 (55,43%) dan 2006 (71,59%) dari target 70 %.

Selain itu masih sulitnya pencegahan pemotongan hewan betina produktif di Rumah Potong Hewan (RPH) karena pertimbangan ekonomi peternak. Hal ini perlu dicarikan solusi terobosan dengan menyediaan dana, pembelian sapi betina bunting atau melibatkan peranan perbankan.
Di sisi lain, menurut Dirjen Peternakan Kementerian Pertanian Tjeppy D Soedjana yang membuka seminar dan hadir mewakili Menteri Pertanian, banyak pemerintah daerah yang tidak mendukung program swasembada daging sapi. Hal ini imbas dari otonomi daerah, yang membuat peran pemerintah pusat relatif lemah. “Pemda bahkan terus meminta dana APBN, padahal dana dekonsentrasi yang masuk ke daerah mencapai 80 persen,” kata Tjeppy.

............selengkapnya baca majalah Infovet edisi Oktober 2010, pemesanan dan berlanggananan klik disini

Kongres X ISPI Swasembada Daging Menjadi Isu Utama

Bulan Oktober 2010 ini dua organisasi besar menyelenggarakan Kongres, yaitu ISPI (Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia) dan PDHI (Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia). ISPI menyelenggarakan kegiatan kongres di Hotel Singgasana, Makassar pada 4-7 Oktober, sedangkan PDHI di Hotel Gumaya Semarang pada. Saat tulisan ini disusun, kongress ISPI baru saja usai, sedangkan PDHI baru akan memulai Kongresnya. Mengingat kami diburu deadline, kami memutuskan liputan ISPI dimuat pada edisi Oktober ini, sedangkan liputan Kongress PDHI akan dimuat pada edisi Nopember mendatang. Selamat membaca.

Makasar diserbu Sarjana Peternakan, demikian judul sebuah artikel di kompasiana.com. Tanggal 4-7 Oktober ini kota Makasar Sulsel, memang dipenuhi dengan aktivitas para tokoh sarjana peternakan dari berbagai wilayah Indonesia. Mereka hadir memenuhi sebuah hajat besar yaitu kongres ke-10 Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI). Para istri sarjana peternakan pun ikut hadir dalam acara akbar ini, karena mereka juga memiliki organisasi bernama Ikatan Istri Sarjana Peternakan Indonesia (IISPI) yang melaksanakan Kongres yang ke-6..

Hampir semua pengurus cabang ISPI yang berjumlah 34 cabang hadir ke Makasar. Demikian pula para tokoh senior ISPI, baik pejabat, mantan pejabat, tokoh intelektual maupun pengusaha. Mereka antara lain Erwin Soetirto (mantan Dirjen Peternakan), Soepodo Budiman, Baroto Suranto, Don P Utoyo, Prof. Kusuma Diwyanto, Prof Muladno, Prof. Zaenal Bachrudin, Nurendro Trikesowo, Aprilani Purwanto dan lain-lain.

Rangkaian awal kegiatan dimulai dengan kampanye gizi, diselenggarakan ISPI dan IISPI bekerjasama dengan Ibu-ibu dari tim penggerak PKK Provinsi Sulsel. Dilaksanakan pada hari senin 4 Oktober 2010 bersama murid-murid SD Kera-Kera Tamalanrea.

Sore harinya jam 16-18 dilaksanakan acara Pra Kongres yang berisi paparan Ketua Umum Ispi 2006-2010 Yudhi Guntara Noor mengenai berbagai persiapan yang telah dilakukan dalam menyukseskan Kongres ke-10, mulai dari rancangan Tata Tertib Sidang, proses pemilihan pimpinan sidang, rekomendasi ISPI serta proses pemilihan Ketua Umum. Acara ini dipandu oleh Dr Rochadi Tawaf, salah satu Ketua PB ISPI.

Acara dilanjutkan dengan kunjungan ramah tamah ke rumah Dinas Ketua DPRD Sulsel M Roem yang diikuti oleh semua pengurus PB ISPI, IISPI, delegasi Pengurus Cabang serta para wartawan. Acara ini berlangsung hingga jam 10 waktu setempat. Pagi harinya tanggal 5 dilakukan seminar tentang perbibitan sapi potong dan kemudian acara pembukaan Kongres oleh Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo.

Dalam Kongres X ini, pelaksanaan kegiatan diserahkan kepada Pengurus Cabang ISPI Sulsel dimana Prof Jasmal A. Syamsu bertindak sebagai Ketua Panitia.Kegiatan Kongres yang dipusatkan di Hotel Singgasana Makassar ini mengusung tema “Menggalang Profesionalisme Sarjana Peternakan dalam Pembangunan Nasional”. Para peserta merupakan perwakilan dari Pengurus Besar dan Pengurus Cabang ISPI Seluruh Indonesia. Selain itu juga ada utusan dari dinas peternakan provinsi dan kabupaten/kota, beberapa organisasi peternakan dan kesehatan hewan, forum pimpinan perguruan tinggi peternakan Indonesia dan mahasiswa peternakan, serta para sponsor yang terdiri dari perusahan dan industri peternakan.

............selengkapnya baca majalah Infovet edisi Oktober 2010, pemesanan dan berlanggananan klik disini

DELAPAN WINDU FKH UGM YOGYAKARTA

Peran Dokter Hewan saat ini diperlukan untuk mewujudkan kesejahteraan Masyarakat yang berwawasan lingkungan. Berikut paparan Prof Dr Drh Bambang Sumiarto SU MSc, Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM) dalam rangka memperingati 8 windu FKH UGM Yogyakarta.

Usia Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada sudah menginjak delapan windu (64 tahun), yang berdiri berdasarkan SK Menteri Kemakmuran RI No. 1280/a/Per. tanggal 20 September 1946. Sedangkan Universitas Gadjah Mada sendiri diresmikan 19 Desember 1949 oleh Pemerintah RI yang kala itu bernama Universiteit Negeri Gadjah Mada. Dahulu, nama FKH disebut Pendidikan Kedokteran Hewan Tinggi (PKHT) berkedudukan di Klaten yang merupakan kelas paralel dengan PKHT di Bogor dan mahasiswanya masih tercatat 12 orang.

Dalam perjalanan waktu, kini orientasi FKH UGM menuju Fakultas berkelas internasional serta berperan serta dalam kegiatan riset dan pengabdian masyarakat menghadapi mewabahnya penyakit hewan lintas batas yang belum pernah terjadi sebelumnya, seperti AI. Kerjasama dengan luar negeri masih terkonsentrasi pada MoU yang telah terjalin dengan delapan Universitas di Queensland, Jepang, Australia, Malaysia, Korea, Jerman dan RRC.

Di tataran internasional disepakati bahwa hampir sebagian besar negara berkembang termasuk Indonesia, perlu memperbaiki sistem pendidikan Kedokteran Hewannya. Oleh karenanya, OIE menyarankan agar negara berkembang melakukan refokus kurikulum dan perbaikan standar kompetensi. Perguruan tinggi harus mengembangkan strategi reformasi untuk menyesuaikan dan mengemas kurikulumnya sedemikian rupa untuk mempertahankan kualitas pendidikan dan memperkuat praktek-praktek kesehatan hewan yang relevan dengan sistem budidaya ternak dan ekosistem hewan.

Dalam konteks tren baru dan masa depan industri peternakan, dibutuhkan kurikulum yang lebih terfokus pada kemampuan praktek dan mengembangkannya ke bidang-bidang surveilans, epidemiologi, kesehatan, produksi, manajemen ekonomi dan bisnis. Oleh sebab itu, paradigma pembelajaran SCL (Student Centered Learning) dengan PBL (Problem Based Learning) mulai dilaksanakan tahun 2007.

Saat ini, Tahun Akademik 2010/2011, FKH UGM mengelola 1085 mahasiswa, terbagi atas S-1 reguler 670 orang, PPDH 348 orang, S2 sebanyak 81 orang (2 orang dari Libya), S3 sebanyak 36 orang (1 orang dari Irak) dan S1 swadaya 43 orang. Tiap tahun peminat pendaftar mengalami peningkatan. Tahun ajaran 2010/2011, jumlah peminat 2031 orang dan diterima 214 orang, sedang yang mendaftar ulang 197 orang (92 %). Dari jumlah ini, sebanyak 172 orang memilih FKH UGM sebagai pilihan pertama. Yang sungguh membanggakan, Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) pada wisuda terakhir (Agustus 2010) rata-rata mencapai 3,02 (tertinggi 3,90) dan lulusan tercepat 4 tahun 1 bulan.

Pendidikan tidak akan berhasil jika kualitas dosen tidak berkualitas. Sampai akhir Juli 2010, FKH UGM memiliki 43 dosen (52,4 %) bergelar Doktor yang 11 orang di antaranya Guru Besar atau Profesor (13,4 %), bergelar S2 sebanyak 36 orang (43,9 %) yang 15 orang di antaranya mengikuti pendidikan S3 (18,3 %), bergelar profesi 3 orang (3,7 %) dan harus sudah menyelesaikan S2 pada tahun 2012 sesuai tuntutan UU Guru dan Dosen.

Tenaga kependidikan sebagai salah satu pilar pendukung berlangsungnya proses pembelajaran dan pelayanan administrasi yang baik dan bermutu, terus ditingkatkan kualitasnya. Tahun 2010, FKH UGM tercatat memiliki tenaga kependidikan berstatus PNS sebanyak 92 orang dan 17 orang honorer SK Dekan. Tuntutan terhadap penyediaan tenaga pendidik dan kependidikan terutama untuk mendukung operasional laboratorium yang akan didirikan dan pengembangan pelayanan Rumah Sakit Hewan Prof. Soeparwi, yang disikapi dengan proses rekrutmen tenaga baru yang akan diselenggarakan bulan November 2010.

Mengenai pengembangan dan pemberdayaan Senat Mahasiswa, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), sampai 31 Juli 2010 FKH UGM telah memfasilitasi terselenggaranya 97 program kerja yang mendapat dukungan dana dari fakultas dan iuran Persatuan Orang Tua Mahasiswa (POTMA) serta pihak lain yang tidak mengikat (sponsor).

Beasiswa sebagai salah satu instrumen peningkatan kesejahteraan untuk mahasiswa berprestasi, mahasiswa berprestasi dari keluarga kurang mampu terus diupayakan ketersediaannya melalui pendanaan UGM, fakultas dan sumber lain yang sesuai dengan misi pendidikan. Data mahasiswa FKH UGM yang mendapatkan beasiswa 267 orang (SPP/BOP), 149 orang (PPA), 14 orang (pegawai FKH UGM), 76 orang (BBM), 41 orang (Supersemar), 3 orang (Tanoto Foundation), 1 orang (PT BTN), 19 orang (Yayasan Karya Salemba Empat), 1 orang (Bank Mandiri), 1 orang (Dinas Pendidikan DIY) dan lain-lain. Di samping itu juga ada beasiswa Bantuan Khusus Mahasiswa bagi mahasiswa Sumatera Barat yang terkena musibah gempa pada tahun 2010, diberikan berupa pembebasan SPP dan BOP selama satu tahun untuk mahasiswa S1 dan keringanan biaya SPP 50 % untuk satu semester atau 25 % untuk satu semester berikutnya bagi mahasiswa pascasarjana.

Kerjasama nasional dengan Radio Republik Indonesia dalam bincang-bincang sore mewujudkan 53 episode mendapatkan tanggapan positif dari masyarakat. Begitu juga kerja bareng dengan koperasi, Pemda Kalimantan Selatan, Riau, dan perusahaan swasta dalam bentuk program penelitian, pendidikan dan pemagangan telah menghasilkan kinerja positip. Fasilitasi proses rekrutmen lulusan oleh pengguna lulusan merupakan komitmen FKH UGM untuk memberikan pelayanan kepada lulusan agar memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan minat dan keinginannya. Sampai saat ini, FKH UGM telah memfasilitasi 106 penawaran lowongan pekerjaan bagi lulusannya baik dari perusahaan swasta nasional, internasional, dinas pemerintah dan TNI/POLRI.

Alumnus FKH UGM tersebar hampir di seluruh propinsi yang ada di Indonesia dan luar negeri. Data dokter hewan praktisi alumnus di luar negeri yang bekerja di Malaysia 7 orang, Brunei Darusalam 4 orang, Vietnam 6 orang, AS 1 orang dan Afrika 1 orang. Peran alumnus untuk memberikan kontribusi terhadap kualitas lulusan dan pengembangan institusi serta dalam meningkatkan minat masyarakat untuk melanjutkan studi di FKH UGM sangatlah penting. Untuk itu FKH berupaya terus memperbaiki kualitas hubungan dan komunikasi dengan alumnus secara terus menerus lewat GAMAVET (Gadjah Mada Veterinarian) yang berdiri sejak Kongres PDHI di Lombok beberapa tahun yang lalu.

Keberadaan Rumah Sakit Hewan Prof. Soeparwi merupakan RSH Pendidikan, unit pelayanan masyarakat dan RSH rujukan, yang dibuka 5 Agustus 2009. Hingga Agustus 2010 telah melaksanakan pelayanan sebanyak 3976 pasien dan 450 pasien rawat inap. Pasien terdiri atas anjing 1645 ekor, kucing 1768 ekor, kelinci 279 ekor, burung 90 ekor, kambing 4 ekor, sapi 14 ekor dan hewan lain (hamster, kura-kura, ayam, musang, monyet, ular, tupai, tokek, iguana) sebanyak 176 ekor. Pemasukan keuangan sampai akhir Agustus 2010 mencapai 547, 460 juta rupiah. Untuk melengkapi bacaan mendapat sumbangan 45 judul buku serta membangun Theatre Elisa Nugroho mendapat suntikan dana 225 juta dari drh. Elisa Nugroho. Di samping itu drh Ali Usman dari PT Biotek Saranatama menyumbangkan 200 juta rupiah untuk membangun ruang periksa VIP.

Presiden RI pertama Ir. Sukarno pada saat meresmikan UGM, pernah berpesan: Kutitipkan Universitas ini sebagai pemersatu bangsa. Usia FKH UGM boleh saja tua, tetapi sikap dan watak para pendidik jangan terpecah-belah. Sangat disayangkan keberhasilan dan kebesaran FKH UGM tidak diikuti oleh kebesaran hati beberapa dosen. Terbukti dari pantauan Infovet pada acara Dies 64 tahun FKH UGM tidak diikuti oleh dosen senior termasuk beberapa Guru Besar yang menjadi kebanggaan bersama.

Kapan para pakar ini mau bersatu-padu. Apakah mereka tidak sadar, bisa menjadi Dokter Hewan hingga menjadi dosen karena jasa FKH UGM? Di samping itu informasi atau undangan yang disampaikan kepada para alumnus tidak dikirim via surat ke masing-masing instansi melainkan hanya lewat SMS sehingga pesta akbar temu kangen alumnus yang seharusnya dihadiri lebih banyak tamu undangan menjadi kurang semarak. Mungkinkah GAMAVET bisa menjembatani semua ini? Tugas mulia bagi para civitas akademika termasuk para alumninya yang tergabung dalam GAMAVET untuk mempersatukan penyimpangan sesuai keinginan Sukarno. (red)

BAGI-BAGI TELUR DI PERINGATAN HARI TELUR SEDUNIA

Asosiasi Perunggasan baik petelur maupun pedaging di bawah koordinasi Pusat Informasi dan Pasar (Pinsar) Unggas Nasional mengkampanyekan Hari Telur Sedunia yang jatuh pada 8 Oktober 2010 di Bundaran HI, Jakarta.

Koordinator kampanye Hari Telur Sedunia, Ricky Bangsaratu, yang dijumpai Infovet di lokasi kampanye, Jumat (8/10), mengatakan target acara tersebut lebih menekankan agar konsumsi telur meningkat dan mempersiapkan agenda bulanan yang direncanakan bekerjasama dengan Kementerian Pertanian.

Perkembangan perunggasan nasional telah jauh beranjak. Tantangan yang dihadapi juga kian beragam dan kompleks. Sampai kini, sekalipun berbagai perkembangan telah berlangsung, namun tingkat konsumsi telur per kapita nasional belum juga mencapai 5 kg. Jauh dibandingkan negara-negara di kawasan Asia Tenggara sekalipun.

Ini disebabkan masih banyak anggota masyarakat kita yang belum memiliki kesadaran penuh akan pentingnya kandungan gizi asal telur bagi kesehatan, pertumbuhan, kecerdasan anak-anak dan keluarga, serta produktifitas. Di sisi lain, dari kalangan terdidik juga masih banyak persepsi yang keliru tentang telur. Kenyataan menunjukkan sebaliknya, rokok yang mengandung racun berbahaya, tingkat konsumsinya jauh lebih tinggi dibanding dengan konsumsi telur. Hal inilah yang melatarbelakangi dilakukannya kampanye gizi ini.

Tanggal 8 Oktober, adalah hari Telur Se-Dunia (World Egg Day). Salah satu momen terbaik bagi masyarakat perunggasan, untuk mengingatkan kembali kepada sesama insan perunggasan bahwa ada tugas besar tentang peningkatan konsumsi telur nasional.

“Maka adalah penting bagi segenap anggota Pinsar Unggas Nasional dan seluruh stakeholder perunggasan nasional untuk terus menyatu dan melakukan aksi Kampanye Gizi. Aksi-aksi yang menciptakan simpati dan mengedukasi masyarakat agar masyarakat semakin tercerahkan akan pentingnya nilai gizi dalam produk unggas, khususnya telur. Tidak saja bagi kesehatan keluarga, tetapi juga bagi masa depan anak bangsa,” ujar Ricky Bangsaratu .

Kampanye gizi lewat aksi pembagian 12.000 butir telur rebus dilaksanakan di Bundaran Hotel Indonesia dan melibatkan publik figur yang identik dengan icon kesehatan, kekuatan dan prestasi. Diantaranya adalah Rikas (L-Men of the year 2010), Hadi Yulizar (Top 5 L-Men 2007), Kris T. Lalamentik (Runner Up L-Men 2006), Davi (Binaragawan Nasional) dan Nania (Indonesian Idol).

“Kampanye Hari Telur Sedunia ini merupakan yang pertama di Indonesia. Acara ini diperingati dunia pada tiap Jumat kedua bulan Oktober,” kata Vinca Lestari Dharmawan, Ketua Bid. Layer Pinsar yang juga panitia kampanye. Dalam kesempatan tersebut, mereka mensosialisasikan manfaat telur sebagai makanan yang aman untuk dikonsumsi. Telur adalah sumber protein terbaik dan termurah untuk anak-anak hingga orangtua dan sarapan telur bisa melangsingkan.
Selain itu, putih telur bisa meringankan demam berdarah dan telur kaya dengan kandungan protein, energy, folat, albumin, kolin, lecithin, iron, riboflavin, niacin, magnesium, potassium, natrium, lipid, vitamin A, lutein dan zeaxanthin.

“Kampanye yang dilakukan sebanyak 120 orang tersebut merupakan anggota asosiasi perunggasan dari Jawa, Sumatera dan Bali. Setelah acara ini akan diadakan rapat evaluasi dan jika acara ini dinilai berhasil maka kampanye akan dilakukan setiap tahun dan bisa merangkul daerah lain,” kata Ricky menambahkan.

Selain asosiasi peternak, kampanye ini juga mendapat dukungan dari perusahaan yang bergerak dibidang perunggasan diantaranya adalah perusahaan integrator perunggasan dan produsen/distributor obat hewan. Dengan semboyan “1 Telur Sehari Anda Pasti Sehat”, diharapkan di masa mendatang kegiatan kampanye yang berlangsung secara kontinyu dan terencana akan mampu meningkatkan konsumsi telur nasional. Tidak saja untuk meningkatkan konsumsi protein hewani yang mencerdaskan anak bangsa, namun juga untuk menggerakan ekonomi rakyat, kemandirian bangsa dan ketahanan pangan nasional.

Lima Manfaat Terbaik dari Telur
Terdapat 5 manfaat terbaik yang didapatkan dari mengkonsumsi telur yaitu sebagai nutrisi penting karena kaya akan vitamin, mencegah penyebaran Food-Borne Phatogen E Coli, Mencegah kadar kolesterol dalam darah, sangat baik untuk kesehatan mata dan memiliki protein yang tinggi.

Telur adalah sumber protein yang relatif murah. Selain itu juga telur mengandung choline, zat yang diperlukan oleh tubuh supaya tetap sehat terutama untuk perkembangan otak dan memori.

Nutrisi penting, telur mengandung berbagai nutrisi penting yaitu protein, vitamin A, D, E, dan B, fosfor dan zinc. Berkadar lemak dan kalori rendah. Satu butir telur hanya mengandung 80 kal. Inilah yang membuat telur sangat disarankan saat seseorang menjalani diet.

Mencegah penyebaran Food-Borne Pathogen, E Coli. Putih telur memiliki peran yang sangat penting mencegah penyebaran bakteri. Menurut penelitian oleh peneliti di Jepang, adalah zat peptide (yang ada ditelur) yang mengikat bakteri E.Coli dan mencegah untuk bisa menyebar.

Mencegah kadar kolesterol dalam darah. Tidaklah benar jika ada yang berpendapat bahwa telur meningkatkan kadar kolesterol darah. Tetapi sebaliknya menurut penelitian di Universitas Harvard, tidak ada hubungan antara penyakit kardiovaskular dan makan telur. Telur hanya mengandung 5 gram lemak dan hanya terdiri dari lemak jenuh. Tanpa mengandung lemak tak jenuh, yang memicu kenaikan kolesterol.

Baik bagi mata, pada telur terdapat Lutein dan Zeaxanthin. Dua zat ini membantu menjaga kesehatan mata dan melindungi mata dari efek ultraviolet sinar matahari. Selain itu juga 2 zat ini mengurangi risiko terkenanya penyakit Age-related Macular Degeneration, salah satu penyebab kebutaan bagi orang yang berusia diatas 65 tahun. Juga sudah dibuktikan bahwa dengan memakan telur, dapat mengurangi risiko penyakit katarak.

Sebagai sumber protein tinggi. Seperti yang sering dikatakan orang tua dulu, kalau telur sumber protein dan karena itu telur digunakan sebagai standarisasi dari sumber protein yang lain. Protein berfungsi untuk memperbaiki organ tubuh. Otot, kulit, dan organ-organ tubuh semua tersusun dari protein. Protein sendiri terdiri dari 20 zat asam amino yang berbeda-beda, dan 9 di antaranya tidak diproduksi oleh tubuh kita sendiri. Telur mengandung 9 zat penting dan asam amino, yang berfungsi meningkatkan kadar protein dalam tubuh.

Makan Telur Dapat Menurunkan Berat Badan
Makan telur sangat mengenyangkan terlebih lagi semua kandungan protein dan zat gizi di dalamnya terpenuhi. Makan telur 1-2 butir tiap hari membuat orang gampang merasa kenyang sehingga bisa menurunkan berat badan.

Itulah mengapa pada tahun 1979, mantan perdana menteri Inggris Margaret Thatcher bisa mengurangi berat badannya dalam jangka waktu singkat dengan mengonsumsi 28 butir telur dalam seminggu.

Makan sebutir telur tiap hari mencukupi kebutuhan 20 persen konsumsi harian manusia. Sehingga setelah makan telur orang tidak perlu lagi berlebihan mengonsumsi makanan lainnya.
Sebuah tim peneliti yang melakukan penelitian di Amerika Serikat menemukan bahwa orang yang makan telur memiliki hampir semua zat gizi yang lebih tinggi daripada orang yang tak mengonsumsi telur.

“Manfaat kesehatan dari telur tampak sangat besar. Sehingga mungkin tidak berlebihan jika menyebutnya makanan super. Telur merupakan makanan yang paling bergizi dari semua makanan yang ada,” kata Dr Carrie Ruxton, seorang ahli diet independen dan penulis laporan, seperti dilansir dari Dailymail, Rabu (10/3/2010).

Telur bisa dianggap ‘makanan super’ karena selain dapat meningkatkan kesehatan juga dapat melawan obesitas. Dan menurut ahli gizi, makan telur satu butir sehari dapat menurunkan berat badan.

Studi yang dirilis ini akan dipublikasikan pada bulan Juni dalam jurnal Nutrition and Food Science. Studi ini meneliti 71 penelitian dan bahan referensi yang memeriksa komposisi gizi telur dan perannya sebagai makanan.

Peneliti menemukan bahwa telur tidak hanya rendah kalori, tetapi juga merupakan sumber kaya protein dan dikemas dengan zat gizi yang penting bagi kesehatan, terutaman vitamin D, vitamin B12, selenium, dan kolin. Telur adalah makanan ideal pada setiap tahap kehidupan serta mudah dimasak dan menyenangkan untuk dimakan.

Sebuah laporan juga menegaskan bahwa diantara makanan protein, telur mengandung campuran asam amino esensial terkaya. Ini sangat penting untuk anak-anak, remaja, dewasa muda karena keseimbangan yang tepat diperlukan untuk pertumbuhan dan perbaikan. Dalam telur juga ditemukan antioksidan yang tinggi, yang dapat membantu mencegah penuaan terkait macular degeneration yang menyebabkan kebutaan.

Kelompok-kelompok tertentu yang mendapatkan manfaat dengan makan lebih banyak telur yaitu kaum muda, pecinta daging dan orang-orang yang menghindari susu.

Temuan kunci adalah bahwa telur merupakan makanan penting sumber vitamin D dan dapat memberikan kontribusi yang signifikan untuk meningkatkan asupan harian vitamin D. Rendahnya kadar vitamin D dikaitkan dengan sejumlah kondisi medis seperti kerusakan tulang, kanker, penyakit jantung, multiple sclerosis, gangguan kekebalan tubuh dan masalah-masalah kesehatan mental.

Temuan terbaru yang didanai oleh British Egg Industry Council, mengatakan bahwa satu atau dua telur sehari tidak berpengaruh pada kolesterol total bagi kebanyakan orang. Menurut Dr Ruxton, ada manfaat gizi yang nyata bila makan telur tiap hari. Bukti menunjukkan bahwa telur dapat berguna untuk mengenyangkan, mengendalikan berat badan dan juga untuk kesehatan mata. (Red)

TATA RUANG DAN KOMUNITAS PETERNAKAN DI LAMPUNG

Peristiwa penolakan penduduk pemukiman sekitar peternakan terjadi di mana-mana, dan dalam laporan peristiwa ini juga terjadi di propinsi yang terletak di bagian paling selatan Pulau Sumatera, yaitu Propinsi Lampung. Bagaimana aktivis peternakan di Lampung menghadapi peristiwa ini?

Tata ruang dan komunitas peternakan di Propinsi Lampung mendapati peristiwa berupa kendala munculnya pemukiman di sekitar peternakan. “Padahal, dulu wilayah peternakan terbebas dari pemukiman,” ungkap Drh Slamet Riyadi salah seorang praktisi peternakan di Propinsi Lampung langsung kepada Infovet belum lama ini di Jakarta.

Dengan banyaknya pemukiman penduduk di sekitar peternakan, kini peternakan mengalami banyak masalah sebagaimana terjadi di wilayah lain, yaitu, demontrasi penduduk menuntut supaya peternakan digusur,” ungkap Slamet Riyadi yang sudah sejak 1993 sudah bekerrja di Lampung sebagai manager peternakan di PT Wira Liki sampai 1995.

Tak ayal Pemerintah Daerah Propinsi pun mengkaji ulang tata ruang wilayah untuk komunitas peternakan. Lampung Barat selama ini merupakan daerah yang identik dengan komunitas peternakan ayam pedaging. Slamet Riyadi menjelaskan bahwa, “Pengembangan populasi ternak di Lampung terdiri atas berbagai jenis ternak, yaitu ternak besar sapi dan unggas.

Namun demikian Drh Slamet Riyadi yang pada 1995-2010 bekerja sebagai TS (Technical Service) hingga Kepala Cabang PT Agro Makmur Sentosa di Propinsi Lampung, berpendapat untuk penataan tata ruang wilayah ini tidak bisa mengandalkan hanya pemerintah sendiri. Masyarakat peternakan di situ pun dituntut untuk ikut aktif. Dengan demikian terdapatlah pengembangan khusus wilayah ini. Sebagai pengurus ASOHI (Asosiasi Obat Hewan Indonesia) Daerah Lampung, Drh Slamet Riyadi pun mengungkap, “ASOHI mendukung dengan ikut memberi masukan dan ikut serta dalam usaha pengaturan tata wilayah ini.”

Memang hal penataan wilayah itu belum terwujud, dan menurut Drh Slamet Riyadi yang di ASOHI Lampung bekerja bersama Drh Urip Sutayo dan Drh Zulpida, penataan wilayah ini membutuhkan jangka waktu lama. Intinya, pihaknya berjuang keras dan menghindari agar peternakan jangan sampai tergusur. Dan tim dari ASOHI pun memberi pengertian supaya peternak aktif memberi saran kepada para masyarakat di sekitar. Jangan sampai dianaktirikan, sebagai sesama warga negara peternak mempunyai hak untuk berkembang.

Peristiwa masalah menyangkut tata ruang dan komunitas peternakan tersebut terjadi kecuali di komunitas peternakan Mako Agung yang merupakan komunitas peternakan ayam pedaging di Lampung Utara. “Di sini peternakan tidak terlalu menjadi masalah,” kata Drh Slamet Riyadi yang selulus dari FKH Unair Surabaya pada 1992 bekerja di CV Biovet. Berbeda dengan di komunitas lain yang mana apapun masalah dapat terjadi yaitu masalah polusi, bau, lalat, dan belum diterima oleh penduduk sekitar.

Kalau dulu di Lampung hewan-hewan ternak dibiarkan bebas berkeliaran, dan setelah beberapa tahun kemudian, mereka ditangkap dan dimasukkan kedalam kandang, dihitung jumlahnya dan diberi tanda pemilik pada tubuhnya, Direktur PT Akraman Kemuliaan di Lampung ini pun mengungkap daerah komunitas-komunitas peternakan yang ada saat ini di Propinsi Lampung antara lain komunitas peternakan Margo Agung di Kecamatan Jati Agung Lampung Selatan, komunitas peternakan Pekalongan di Lampung Timur, komunitas Prokinal di Kotabumi Lampung Selatan dan komunitas peternakan Tanjung Bintang di Lampung Selatan.

Pengembangan terus dilakukan, peternak kelinci di Lampung Barat kini mengembangkan kelinci anggora lantaran nilai jual yang lebih tinggi. Salah satu kegiatan kontes ternak di kecamatan Jati Agung Kabupaten Lampung Selatan belum lama ini membuka pemetaan antara lain ternak yang dikembangkan di sini adalah sapi bali betina (bibit), sapi hasil inseminasi buatan/ IB (jantan) yaitu sapi sapi bali, sapi PO (peranakan ongole), sapi brangus, sapi brahman, sapi limousin dan sapi simental, serta sapi PO jantan.

Pada 1996 Infovet pernah menulis, dalam kasus pencemaran lingkungan oleh peternakan ayam, yang menjadi pemicu permasalahan sebenarnya akibat dari pemukiman yang terus berkembang. Pada awal pembangunan, peternakan (paling banyak terdengar bermasalah peternakan ayam) didirikan jauh dari pemukiman penduduk namun lama kelamaan di sekitar areal petemakan tersebut menjadi pemukiman. Hal tersebut menjadi-jadi karena perkembangan dan rencana tataruang yang tidak konsisten.

Departemen Pertanian telah menyadari hal tersebut dengan mengeluarkan peraturan menteri melalui SK Mentan No. 237/1991 dan SK Mentan No. 752/1994, yang menyatakan bahwa usaha peternakan dengan populasi tertentu perlu dilengkapi dengan upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan. Untuk usaha peternakan ayam ras pedaging, yaitu populasi lebih dari 15.000 ekor per siklus terletak dalam satu lokasi, sedangkan untuk ayam petelur, populasi lebih dari 10.000 ekor induk terletak dalam satu hamparan lokasi.

Rupanya gesekan soal tata ruang peternakan dengan pemukiman penduduk ini masih terus terjadi. Juga di Lampung. Mari semua berusaha agar masalah seperti ini dapat segera teratasi. (Red)

SMK FARMING TLOGOWUNGU,PENYEDIA SDM PETERNAKAN DINI SELAIN SNAKMA

Dalam sebuah peristiwa acara dokter hewan perunggasan di Jakarta, Infovet bertemu dengan kepala sekolah peternakan yang merupakan sekolah alternatif pencetak dini tenaga peternakan selain Snakma. Ia adalah Drh SS Ngestiningsih yang menjabat sebagai Kepala SMK Farming Tlogowungu.

Kalau Snakma (Sekolah Peternakan Menengah Atas) merupakan sekolah menengah peternakan di bawah Departemen Pertanian, maka SMK Farming Tlogowungu Pati Jawa Tengah merupakan bukti nyata kepedulian pengembangan peternakan sejak dini di bawah Departemen Pendidikan Nasional (dulu Depdikbud). Sebagaimana Snakma, dengan SMK Farming dicetak tenaga teknis peternakan siap pakai.

SMK Farming Tlogowungu merupakan penerima Indolivestock Award 2006 untuk kategori Pengembangan SDM. Prestasi lain adalah sebagai sekolah unggulan 2006 Jawa Tengah, Juara II Lomba Kompetensi Siswa Tingkat Jateng 2007 dan Juara III tahun 2008 serta 2009.
Drh SS Ngestiningsih mengatakan secara khusus kepada Infovet tentang adanya praktek kerja industri yang merupakan langkah pembiasaan siswa terhadap dunia kerja yang akan dihadapinya nanti. Umumnya praktek kerja industri dilakukan lebih cepat dan mudah dalam kerja di peternakan.

Sebagai contoh yang telah berlangsung pembiasaan kerja di industri peternakan itu telah dilakukan di beberapa peternakan seperti peternakan mitra PT PKP Unit Kudus, PT Sari Niaga Pasifik Subang Jawa Barat, Kelompok Ternak Sapi Perah Jagan Margorejo Pati, PT Cemerlang Unggas Lestari dan Jonggo Farm Wedar Jaksa Pati.

Drh Ngestiningsih yang alumnus FKH IPB tahun 1988 ini mengaku telah memelihara fasilitas yang dimiliki untuk dipakai belajar siswa di SMK ini sejak 1990. Dalam mengelola SMK yang berdiri sejak 1987 dibawah asuhan Yayasan Pendidikan Kekeluargaan Gotong Royong ini ia dibantu oleh suaminya. Fasilitas yang dimiliki kini pun berupa unit produksi dan pelatihan ayam pedaging berkapasitas 20 ribu ekor, unit produksi dan pelatihan sapi, kambing etawa, ruang multimedia dan asrama siswa.

Salah satu metode peningkatan kurikulum di SMK adalah ia dan suami rajin menghadiri acara-acara yang diselenggarakan kalangan peternakan dan kesehatan hewan yang dari situ dimasukkan kurikulum alternatif. Ngestiningsih mengaku kebutuhan tenaga peternakan lebih dari jumlah lulusan yang dihasilkan. Maka soal kualitas selalu diperhatikan sehingga untuk SMK ia selalu update informasi supaya para siswa dan lulusan SMK Farming bisa menjadi agen penyebar ilmu ke peternak.

Dalam rangka itulah praktek kerja industri seperti yang diselenggarakan di PKP Region Jawa Tengah dilakukan sebaik-baiknya. “Supaya sama-sama diuntungkan,” kata Drh Ngestingingsih. Makin nyata di sini, metode pendidikan yang diterapkan adalah “bersekolah sambil bekerja” atau “learning by doing”, ditunjang sarana belajar dan praktek yang memadai, “Sehingga lulusan SMK Farming siap memasuki dunia kerja,” akunya.

Alhasil, lulusan-lulusan SMK Farming ada yang diterima di PT Medion Bandung sebagai asisten teknisi peternakan, operator industri dan bidang kerja sejenisnya. Ada pula yang diterima di PKP Unit Kudus sebagai operator peternakan ayam pedaging, di PT Sierad Produce sebagai penyuluh dan berbagai operator peternakan ayam. Selain itu beberapa juga diterima diberbagai perusahaan peternakan lain baik sebagai operator penggemukan sapi potong, operator toko daging, operator peternakan maupun penanggungjawab logistik dan sejenisnya.
Drh Ngestiningsih pun menyampaikan setiap lulusan SLTP atau MTs dapat mendaftarkan di SMK Farming untuk mengikuti jalur keahlian dan ketrampilan bidang budidaya ternak di SMK Tlogo Wungu Pati Jawa Tengah yang punya kelas industri atau kelas wirausaha.

Masing-masing lulusan berkompetensi sebagai operator peternakan ayam pedaging dan ayam petelur dengan sertifikat PT PKP, vaksinator, pengelola toko daging, pemotong ayam pada rumah potong ayam (RPA) dengan sertifikat MUI, juru timbang panen ayam pedaging, penenggungjawab logistik peternakan, pembuat pupuk organik, operator pembibitan atau penggemukan sapi, kambing dan domba, mengolah hasil ternak, mengolah pakan hijauan, dll.
Kalangan peternakan dan kesehatan hewan pasti sadar betul tentang kebutuhan sangat penting terhadap tenaga teknis ini. (Red)

KEDAULATAN PANGAN

Oleh: Drh H. Tjiptardjo P, SE

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kebutuhan mendasar yang harus terjamin adalah ketersediaan bahan pangan, dalam tata ekonomi yang berdasarkan pasar bebas memang tidak tertutup adanya kebutuhan yang harus dipasok dari negara lain, namun demikian harus dapat dibatasi dan hal-hal yang bersifat strategis dapat dipenuhi sendiri dari sumber lokal.

Dari analisis kelembagaan yang terkait dengan kecukupan pangan, ditataran global akan terjadi kecenderungan ketidakseimbangan laju penambahan penawaran dan permintaan, untuk itu harus diwaspadai dan dipersiapkan. Terkait dengan bahan pangan asal hewan maka Program Swasembada Daging Sapi 2014 merupakan upaya yang perlu penyesuaian agar dapat lebih efektif.

Mengacu pada Seminar Nasional “Peluang dan Tantangan Investasi Peternakan Sapi dalam rangka Swasembada Daging Sapi 2014” yang diselenggarakan oleh ASOHI (Asoasiasi Obat Hewan Indonesia) paad akhir September 2010 di Jakarta, memang banyak hal yang perlu perbaikan untuk dapat mencapai sasaran terbaik.
Hal-hal yang harus dipertajam adalah efisiensi dari sumber dana dengan prioritas kegiatan yang terkait langsung dengan pencapaian program serta peran serta Pemerintah daerah yang perlu ditingkatkan. Tepat sekali ulasan dalam artikel harian Kompas tanggal 1 Oktober 2010 yangbertajuk “Program Belum Fokus, Pemda Tidak Mendukung Program Swasembada Daging Sapi”.
Dalam peningkatan populasi sapi yang tidak boleh diabaikan adalah optimalisasi stock yang ada dengan meningkatkan produktivitasnya, melalui berbagai upaya yang tidak sulit dilaksanakan dengan biaya yang relatif tidak tinggi.

Kegiatan yang perlu menjadi prioritas adalah penyelamatan sapi betina produktif yang sampai saat ini laju pemotongannya masih tinggi, untuk itu perlu dukungan Pemerintah Daerah melalui pengawasan pada RPH (Rumah Potong Hewan). Selain itu juga diperlukan optimalisasi kondisi kesehatan reproduksi sehingga angka kelahiran bisa ditingkatkan, disamping perbaikan kondisi umum melalui pencegahan penyakit parasit khususnya cacing yang menghambat pertumbuhan dan pertambahan berat badan.

Diharapkan melalui penajaman program secara tepat, efisiensi dapat dilakukan dan efektivitas dapat ditingkatkan sehingga sasaran program dapat dicapai.
(*)

Tuesday, October 5, 2010

5 STRATEGI DOKTER HEWAN HADAPI TUNTUTAN PERUNGGASAN

Tuntutan dunia perunggasan begitu banyak dan semakin bertambah, dimulai dari tuntutan keragaman sebagai tuntutan paling besar dari konsumen, tuntutan keamanan pangan, kekarantinaan, penanganan penyakit, disusul tuntutan-tuntutan yang lain. Diperlukan strategi menghadapi tuntutan itu. Apa saja 5 strategi yang ditawarkan Wakil Menteri Pertanian?

Kompak, komunikatif, membangun jaringan kerja, dan membagi ilmu pengetahuan, dan pemetaan secara cepat adalah 5 strategi bisnis perunggasan yang diharapkan dimiliki dokter hewan.

Harapan ini disampaikan oleh Wakil Menteri Pertanian Republik Indonesia Dr Bayu Khrisnamurti dalam acara Lokakarya Perencanaan Pengembangan Perunggasan Nasional di Jakarta belum lama ini. Bayu mengungkap kecenderungan tuntutan dunia perunggasan berdampak besar dan menimbulkan harapan sangat besar pada profesi dokter hewan, Harapan itu adalah agar dokter hewan bisa berperan dan memenuhi esensinya sebagai profesi yang layak dan dibutuhkan masyarakat.

Keragaman sebagai tuntutan paling besar dari konsumen itu adalah semakin banyak jenis produk, semakin banyak kualitas, konsumen semakin banyak menuntut penghantaran atau pengemasan dengan contoh pengemasan nugget ayam dan sayap ayam.

Di sini, “Keragaman adalah suatu yang tidak dapat dihindari,” kata Dr Bayu Khrisnamurti dalam acara yang diselenggarakan oleh USDA (United States Department of Agricultural), FAO (Food and Agricultural Organization), Kementerian Pertanian RI dan ADHPI (Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia) itu.

Menurut Dr Bayu Khrisnamurti, industri perunggasan tidak hanya menghasilkan produk secara utuh, namun juga memerlukan proses produksi dengan industri yang juga beragam.
Tuntutan selanjutnya adalah keamanan pangan, di mana kalau produk sedemikian beradab dengan jenis berbeda-beda bisa dibayangkan intervensi yang berbeda. Di sini dalam proses produksinya, “Banyak momen yang harus dilewati, dan dengan sendirinya banyak ancaman keamanan produk,” kata Bayu.

Ia mencontohkan ancaman itu adalah penyakit bakteri, penyakit virus dan lain-lain penyakit serta ancaman yang sangat banyak sekali, yang mempengaruhi kepastian produk yang disajikan konsumen apakah sudah benar-benar aman.

Adapun kondisi di Indonesia juga ada tuntutan tambahan, yaitu soal kehalalan. “Contohnya chicken nugget, apakah pengamanan menunjukkan proses dalam chicken nugget halal?” tanya Bayu Khrisnamurti.

Ia pun melontarkan pertanyaan selanjutnya tentang kepastian jaminan bukan hanya pada perusahaan-perusahaan tapi juga pada produk. Selama ini pertanyaan di negara maju yang banyak diajukan tentang suatu produk tertentu adalah, “Siapa yang membuat produk itu?” Menurut Bayu, pertanyaan ini sudah mulai berlaku di Indonesia. Misalnya pada bidang pertanian, karet yang dibeli berasal dari pohon yang mana? Lalu daging yang dibeli dari peternakan mana?

Berikutnya Dr Bayu mengungkap kebutuhan dan tuntutan fungsi-fungsi kekarantinaan juga semakin ketat dan semakin efisien. “Tidak membuat biaya yang tinggi, proses kekarantinaan harus tegas, bagus, baik, efisien dan berbiaya murah,” tegasnya.
Kecenderungan berikutnya adalah penanganan penyakit. “Kita harus dapat mendeteksi penyakit sedini dan seakurat mungkin, bahkan kalau perlu dengan pemeriksaan biomolekuler secepat mungkin dan diakhiri dengan mekanisme penjaminan seandal mungkin,” kata Dr Bayu Khrisnamurti.........(yonathan)

Selengkapnya baca majalah Infovet edisi September 2010

DEKAN TERMUDA FAPET UNSOED DILANTIK


Pada 9 Agustus 2010 Dr Ir Akhmad Sodiq MSc Agr dilantik sebagai Dekan Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto Jawa Tengah. Pada saat dilantik, ia baru menginjak usia 41 tahun dan menjadikannya sebagai dekan termuda sepanjang sejarah Fapet Unsoed.

Pelantikan dan Serah Terima Jabatan berlangsung di Gedung Soemardjito Universitas Jenderal Soedirman. Akhmad Sodiq dilantik untuk masa jabatan antar waktu tahun 2008-2012 menggantikan Dekan sebelumnya Prof Dr Ir Mas Yedi Sumaryadi MS yang di tengah masa jabatannya terpilih menjadi Pembantu Rektor I.

Suami dari Susiati SAg ini terpilih melalui paparan Program Kerja Calon Dekan Pengganti Antar Waktu Fakultas Peternakan Unsoed Masa Jabatan 2008-2012. Dalam paparannya, ia menjabarkan visi yang sangat sederhana namun tepat sasaran yaitu “Kebersamaan dan Silaturahim untuk Mewujudkan Kemajuan dan Kesejahteraan Fakultas Peternakan Unsoed”.

Sementara itu, dilantik juga sebagai Dekan Fakultas Pertanian Unsoed Dr Ir H Achmad Iqbal MSi periode 2010-2014, Prof Dr Hj Triani Hardiyati SU sebagai Direktur Program Pascasarjana periode 2010-2014. Drs Bambang Agus Pramuka MAcc Ak PhD sebagai Asisten Direktur I Program Pascasarjana, dan Dr Agus Suroso MS sebagai Asisten Direktur II Program Pascasarjana.

Acara pelantikan dihadiri oleh Anggota Senat Universitas, Jajaran Pejabat di Fakultas Pertanian dan Peternakan, Pejabat Struktural di lingkungan Unsoed, Dharma Wanita Persatuan Unsoed dan juga Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Pertanian. (sapt/red)

KETIKA ADA RANAH SPESIALIS DI KALANGAN DRH KITA

Dokter hewan memisahkan diri dari rumpun pertanian? Mau jadi dokter hewan spesialis? Milikilah kompetensi, dan ikutlah bergabung dalam organisasi non teritorial sesuai dengan bidang spesialis itu. Ini pergulatan seru kalangan dokter hewan untuk meningkatkan kualitasnya yang berarti pergulatan besar kalangan peternakan dan kesehatan hewan secara umum untuk kebaikan bersama?

Pakar nutrisi perusahaan besar pakan ternak di Indonesia Dr Drh Desianto Budi Utomo MSc selaku Bidang Ilmiah Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI) mengungkap perkembangan terbaru Kodefikasi Program Studi Kedokteran Hewan di Indonesia.

Kodefikasi itu adalah, “Program Studi Kedokteran Hewan sebagai rumpun pengembangan ilmu tersendiri sebagaimana kecenderungan perkembangan sains, teknologi dan pendidikan tinggi kedokteran hewan di dunia. Ilmu Kedokteran Hewan tidak berada di bawah rumpun Pertanian, tetapi dalam rumpun Medis,” kata Desianto di depan peserta Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) ADHPI (Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia) sebagai ONT (Organisasi Non Teritorial) di bawah PDHI (Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia), di Jakarta belum lama ini.

Dasar dari kodefikasi itu disampaikan Dr Desianto bahwa, “Dokter (dr, drg, Drh) merupakan suatu profesi yang disebut profesi penyembuh atau the healing profession. Profesi kedokteran atau profesi medis dikenal sebagai profesi luhur selanjutnya harus menggali dasar-dasar berdirinya profesi ini agar memiliki pondasi yang kokoh dan dapat mempertahankan arah dan tujuannya yang mulia. Kedokteran hewan merupakan suatu ilmu yang termasuk dalam rumpun ilmu kedokteran karena secara hukum/legal menggunakan nama kedokteran.”

Adapun, diuraikan Dr Desianto, Dokter Hewan mempunyai peran-peran khusus bagi masyarakat melalui dunia hewan (manusya mriga satwa sewaka) yang meliputi menjaga dan meningkatkan kesehatan hewan, produktifitas dan keadaan yang baik dari hewan-hewan yang dimanfaatkan manusia agar tidak membawa bahaya bagi manusia dan lingkungan. Lalu, menggunakan ilmu dan teknologi di bidang veteriner dalam layanan medik veteriner kepada masyarakat, bangsa dan negara secara kompeten dan profesional. Dan, mencegah terjadinya dan mengurangi terjadinya kesengsaraan atau teraniayanya hewan (kesejahteraan hewan) sebagai obyek profesi yang harus dilindungi dan dibela.

“Mengingat begitu besarnya tanggung jawab profesi dokter hewan, maka profesi dokter hewan haruslah memenuhi kompetensi dan standar yang diperlukan sesuai dengan sumpah dan kode etik dokter hewan dan juga mengacu kepada standar internasional,” sitir Dr Desianto Budi Utomo.
Diuraikan, kompetensi adalah seperangkat tindakan cerdas yang meliputi pengetahuan, keterampilan, dan etika, penuh tanggungjawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk diakui mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas pekerjaan.

Sementara, kompetensi medik veteriner adalah kecerdasan bertindak dan kemampuan mengambil keputusan di bidang medik veteriner dengan mengacu pada kaidah-kaidah dan perkembangan ilmu kedokteran hewan terkini; kepentingan tertinggi klien, pasien, masyarakat dan lingkungan, serta keluhuran sumpah/janji dan kode-etik profesi. “Begitulah, maka setiap tenaga kesehatan hewan harus memiliki standar kompetensi,” kata Dr Drh Desianto Budi Utomo MSc.
Tenaga kesehatan yang dimaksud meliputi dokter hewan, dokter hewan spesialis, diploma kesehatan hewan maupun lulusan pendidikan tinggi lainnya yang berbasis kesehatan hewan. Di sinilah menariknya, muncul istilah dokter hewan spesialis yang selama ini belum dikenal pada profesi kedokteran hewan. Selama ini lebih dikenal keahlian berdasar minat.

Selanjutnya Dr Desianto mengungkap, “Standar Kompetensi dokter hewan diperlukan untuk menentukan standar kemampuan minimal lulusan dokter hewan dalam rangka memberikan jaminan mutu pelayanan medis veteriner maupun memperkuat otoritas veteriner dokter hewan.”
Standar kompetensi dokter hewan Indonesia sebagai standar normatif dirumuskan bahwa, tutur Desianto, “Dokter hewan harus memiliki wawasan etika veteriner dan pemahaman terhadap hakekat sumpah dan kode etik profesi serta acuan dasar profesi kedokteran hewan; memiliki wawasan di bidang sistem kesehatan hewan nasional dan legislasi veteriner; memiliki keterampilan melakukan tindakan medis yang lege-artis.”

Lalu, lanjut Dr Desianto tentang standar kompetensi itu, “Dokter hewan memiliki keterampilan dalam menangani sejumlah penyakit pada hewan besar, hewan kecil, unggas, hewan eksotik, satwa liar, satwa aquatik dan hewan laboratorium; memiliki keterampilan dalam melakukan diagnosis klinik, laboratorik, dan epidemiologik penyakit hewan; penyusunan nutrisi untuk kesehatan dan gangguan medik; pemeriksaan antemortem dan postmortem; pemeriksaan kebuntingan, penanganan gangguan reproduksi dan aplikasi teknologi reproduksi; pengawasan keamanan dan mutu pangan asal hewan.”

Berikutnya masih tentang standar kompetensi itu, “Dokter hewan memiliki wawasan pengawasan dan pengendalian mutu obat hewan dan bahan-bahan biologis, termasuk pemakaian dan peredarannya; pengukuran dan penyeliaan kesejahteraan hewan; memiliki keterampilan dalam komunikasi profesional; memiliki kemampuan manajemen pengendalian dan penolakan penyakit strategis dan zoonosis, pengamanan hayati hewan, serta pengendalian lingkungan; memiliki kapasitas dalam transaksi therapeutik, melakukan anamnese, rekam medik, persetujuan tindakan medik, penulisan resep, surat keterangan dokter, edukasi klien; memiliki dasar-dasar pengetahuan analisis ekonomi veteriner dan jiwa kewirausahaan.”

Dr Desianto pun mengungkap dokumen penting dokter hewan Indonesia itu bahwa, “Dokter hewan spesialis-1 (Sp 1) adalah seseorang yang memiliki gelar dokter hewan (Drh), menjadi anggota dan mendapat pengakuan dari ONT terkait, telah mengikuti dan lulus pendidikan spesialis yang diselenggarakan oleh PTKHI (Perguruan Tinggi Kedokteran Hewan Indonesia) bersama-sama dengan ONT terkait, pendidikan spesialis (Sp 1), persyaratan pendidikan spesialis (Sp).

Terkait ONT, Dr Desianto menyampaikan bahwa ONT adalah organisasi yang hanya beraktivitas ilmiah yang bermanfaat dan meningkatkan kompetensi anggotanya serta membuat aturan-aturan etikal ilmiah keprofesian sesuai kelompoknya dan ONT tidak dibenarkan melakukan advokasi kedudukan dan peran profesi maupun pendekatan-pendekatan keorganisasian kemasyarakatan secara sendiri, melainkan sebagai bagian dan atau bersama dengan PDHI (Pengurus Besar ataupun Cabang).

Dalam persyaratan Drh spesialis tersebut, dipersyaratkan manajemen ONT sudah berjalan dengan baik. Dalam hal ini sudah ada kepengurusan, aktif, memiliki dewan pakar, memiliki tata aturan yang baku, ART dan lain-lain. Adapun, AD ONT adalah AD PDHI. Selanjutnya ONT dipersyaratkan sudah melakukan standarisasi kompetensi dalam bentuk pengakuan legal kompetensi bagi anggotanya. “Pelaksanaannya tergantung dari ONT masing-masing,” tambah Desianto.

Adapun dari konsep yang ada, Desianto mengungkap spesialisasi yang diusulkan untuk dikembangkan di Indonesia antara lain kedokteran hewan kecil, kedokteran hewan laboratorium, kedokteran hewan besar, patologi veteriner, bedah veteriner, medik reproduksi, medik konservasi, radiologi veteriner, anestesiologi veteriner, parasitologi klinis, epidemiologi klinis, patologi klinik, farmakologi dan farmasi veteriner.

Apa yang disampaikan Dr Drh Desianto Budi Utomo MSc diakui berdasar Anggaran Dasar (AD) PDHI, Anggaran Rumah Tangga (ART) PDHI dan Ketetapan Majelis Pendidikan Profesi Kedokteran Hewan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia Nomor 01/MP2KH/PDHI/V/2009 tentang ketentuan pendidikan profesi dokter hewan, persyaratan substantif, pendidikan berkelanjutan, spesialisasi profesi dan kodefikasi.

Lantaran dalam konsep ini ADHPI belum termasuk dalam ONT yang membawahi spesialiasi dokter hewan perunggasan, maka Munaslub ADHPI itu memutuskan untuk memasukkan agenda ini pada Kongres PDHI Oktober mendatang di Semarang Jawa Tengah.
Ini pergulatan seru kalangan dokter hewan untuk meningkatkan kualitasnya yang berarti pergulatan besar kalangan peternakan dan kesehatan hewan secara umum untuk kebaikan bersama? Semoga. (yonathan/red)

Toto Winata, Menjadi Guru Besar ITB

Sabtu, 7 Agustus 2010, menjadi hari yang membahagiakan bagi Prof. Toto Winata. Beliau menyampaikan pidato ilmiah berjudul “Dari Hamburan Atom hingga Material Semikonduktor” dalam sidang pleno terbuka di hadapan Majelis Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB).

Ini merupakan bentuk pertanggungjawaban akademik beliau sebagai seorang Profesor dalam bidang Fisika Atom dan Material Elektronik.

Sebuah kebanggaan bagi kita semua tentunya, mengingat gelar profesor ini merupakan gelar tertinggi di suatu akademisi. Terlebih lagi pria kelahiran Jakarta, 10 Desember 1963, turut berperan dalam mendukung gerak maju dunia perunggasan, yaitu sebagai Senior Manager Divisi Enginering di Medion.

Kiprah dan kontribusi Prof. Toto Winata memberikan sebuah bukti nyata bahwa Medion memiliki tenaga kerja yang handal dan profesional sehingga mampu menghasilkan produk-produk berkualitas.

Terakhir, kami menyampaikan selamat atas pengangkatan Prof. Toto Winata sebagai Guru Besar di ITB. Semoga karya-karya beliau dapat memajukan bangsa dan negara Indonesia. Selamat! (Red)

MENGGIATKAN BISNIS AYAM KAMPUNG

Bertempat di Club House Mahogany Residence, Cibubur, Citra Lestari Farm, peternakan dan pembibitan ayam kampung mengadakan pelatihan beternak dan bisnis ayam kampung. Pelatihan yang berlangsung selama dua hari (31 Juli dan 1 Agustus 2010) ini membeberkan berbagai materi terkait peternakan ayam kampung.

Kegiatan yang mengangkat tema Pelatihan Budi Daya dan Bisnis Ayam Kampung Unggulan ini diadakan sebagai tindak lanjut atas respon para pembaca buku yang ditulis oleh trainer sekaligus pemilik Citra Lestari Farm, yaitu Ir. Bambang Krista.

Materi yang diberikan mulai dari pengenalan jenis-jenis ayam kampung unggulan, baik ayam kampung murni maupun hasil persilangan, mengenal indukan dan pejantan unggul, serta syarat hidup ayam kampung. Dibahas juga mengenai berbagai perawatan ayam kampung seperti teknik pemberian pakan, pemeliharaan DOC, pemeliharaan ayam kampung petelur, dan pemeliharaan ayam kampung pedaging.

Selain itu, diberikan juga materi mengenai teknis penetasan telur ayam kampung. Materi ditutup dengan pembahasan mengenai panen dan teknik pemasaran telur maupun ayam kampung pedaging. Pada hari kedua, dilakukan kunjungan serta praktek lapang ke peternakan yang berlokasi di daerah Setu, Bekasi.

Pada pemaparannya, Bambang Krista mengatakan bahwa modal utama menjadi peternak ayam kampung yang sukses adalah menyenangi usaha peternakan yang akan atau sedang dijalankan. Sehingga, melakukannya dengan sungguh-sungguh dan tidak menyerah menghadapi kendala yang muncul.

“Peternak yang baik juga harus memberikan yang terbaik bagi ayam-ayamnya. Karena ayam tidak pernah berbohong. Jika diberikan yang terbaik, maka mereka juga akan memberikan hasil terbaik,” jelas Bambang yang juga aktif sebagai pengurus Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia (HIMPULI) ini. (all)

Hadirnya FORMAT - Forum Media Peternakan

Sebagaimana tahun-tahun yang lalu, di bulan puasa tahun ini kami meng-agendakan acara buka bersama seluruh karyawan. Namun kali ini acara buka puasa bersama terasa lebih istimewa, karena bukan hanya dihadiri oleh Infovet melainkan juga perwakilan media lingkup peternakan.

Acara buka puasa bersama berlangsung Jumat 27 Agustus 2010 di Restoran Omah Pincuk, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Sambil menunggu waktu berbuka, mulai jam 16 berkumpullah perwakilan Majalah Poultry Indonesia (Sutikno Wirawan Sigit dan Yetti Liza), Trobos (Rudy Alamsyah), Sinar Tani (Mubardjo RS), Agrina (Tri Mardi) dan tentu saja Infovet selaku tuan Rumah (Bambang Suharno, Wawan Kurniawan dan Aliyus Maika Putra).

Pertemuan yang berlangsung akrab ini merupakan kelanjutan pertemuan sebelumnya yang berlangsung hari Jumat 18 Juni 2010 dimana tuan rumahnya waktu itu adalah Sinar Tani. Apa gerangan yang membuat pertemuan ini layak kami tulis di ruang redaksi ini? Tentunya disamping karena yang bertemu adalah para pimpinan masing-masing media, juga karena pertemuan ini membidani sebuah organisasi yang bernama Forum Media Peternakan, disingkat FORMAT.

Pertemuan pada tanggal 18 Juni tersebut telah menyepakati terbentuknya organisasi Media Peternakan dengan Ketua Umum Bambang Suharno, wakil ketua Rudy Alamsyah, sekretaris Jenderal Ika Rahayu, Bendahara Yetti Liza, serta penasehat Sutikno Wirawan Sigit dan Mubardjo RS. Namun pada waktu itu belum menyepakati nama resmi beserta singkatannya.
Pada pertemuan 27 Agustus ini disepakati nama resmi Forum Media Peternakan, dengan singkatan FORMAT. Disepakati pula bahwa tanggal 27 Agustus adalah hari lahir FORMAT. Selain itu Rapat menyepakati tambahan pengurus, diantaranya Tjiptardjo sebagai penasehat dan Wawan Kurniawan sebagai wakil Sekjen.

Disebutkan bahwa tujuan berdirinya Format adalah meningkatkan profesionalisme manajemen jurnalistik dan bisnis bidang media, menjadikan media peternakan dapat lebih berkontribusi positif dalam pengembangan usaha bidang peternakan dan kesehatan hewan, memfasilitasi kegiatan stakeholder dalam memajukan peternakan dan kesehatan hewan, menjembatani komunikasi antara stakeholder peternakan dan kesehatan hewan dalam melakukan diskusi dan kajian isu-isu terkini yang sedang dihadapi.

Beberapa hal lain dibahas diantaranya agenda kegiatan FORMAT 2010 pasca lebaran, iuran anggota, rencana pembahasan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga organisasi, alamat sekretariat dan sebagainya.

Sekitar pukul 17.30 acara rapat Format selesai dan bergabunglah seluruh karyawan Infovet untuk berbuka puasa bersama. Pimpinan Umum Infovet Drh Tjiptardjo yang hadir untuk menutup acara rapat menyambut baik terbentuknya organisasi ini dan bersedia menjadi penasehat bersama senior lainnya yaitu Mubardjo dan Sutikno.

Syukur alhamdulilah, semua acara baik rapat maupun buka puasa bersama berlangsung lancar dan penuh nuansa persaudaraan.

Kiranya keberadaan FORMAT yang lahir di bulan suci Ramadhan dapat membawa kebaikan bagi pengembangan peternakan dan kesehatan hewan di Indonesia.

Selamat Idul Fitri Mohon Maaf Lahir dan Bathin, taqobbalallahu minna wa minkum, ja’alanallahu wa iyyakum minal aidin wal faizin. Artinya semoga Allah SWT menerima amal kami dan amal Anda. Dan semoga Allah menjadikan kami dan anda sebagai orang-orang yang kembali dan beruntung (menang). *** Red

Wednesday, August 18, 2010

Adhpi Punya Pengurus Baru 2010-2015

Selaku Ketua Umum ADHPI (Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia) periode 2005-2010, Prof Charles Ranggatabbu MSc PhD mengungkap tentang peran ADHPI dalam konstelasi peternakan dan kesehatan hewan unggas. Dalam berbagai kesempatan berkomunikasi dengan dokter hewan luar negeri, Prof Charles mengungkap keberadaan ADHPI dan setidaknya ada 800 dokter hewan yang ahli perunggasan di Indonesia.

Begitu banyak peluang kerjasama guna memajukan peternakan perunggasan, contoh terkini adalah kepedulian PBB dengan Badan Dunia bidang pertanian FAO yang membiayai ADHPI mengumpulkan lebih dari 100 dokter hewan perunggasan dari seluruh wilayah Indonesia untuk menyelenggarakan Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) guna reorganisasi dan pemilihan kepengurusan ADHPI periode 2010-2015.

Dalam pertanggungjawaban pada Munaslub ini, Prof Charles selaku Ketua Umum ADHPI periode 2005-2010 memaparkan berbagai kiprah ADHPI dalam berbagai peristiwa penting di tanah air Indonesia. Sebagai contoh, dipaparkannya, dalam wabah flu burung 2003 ADHPI sudah dihargai oleh pemerintah sebagai pendukung pengendalian AI. Anggota yang tergabung dalam Korwil daerah pun menyelenggarakan sosialiasi ke masyarakat luas.

Para pengurus ADHPI dengan integritasnya tak segan turut mengibarkan ‘bendera’ ADHPI meski mungkin acara itu tidak diselenggarakan secara langsung oleh ADHPI. Kegiatan yang dilakukan anggota dengan membawa nama ADHPI di dalam dan luar negeri itu seperti seminar dan workshop di berbagai tempat. Hal ini menjadi tanda betapa keberadaan ADHPI telah menyatu dalam diri pengurus mengingat peran penting yang dapat diemban.

Munaslub yang diselenggarakan pada Selasa 6 Juli 2010 di Jakarta sebelum acara Lokakarya Menuju Industri Perunggasan yang Berdayasaing Tinggi dan Sehat oleh FAO dan USDA itu berhasil memilih 7 (tujuh) orang formatur pengurus ADHPI periode 2010-2015. Mereka adalah Drh Taufik Junaedi, Drh Wahyu Suhadji, Drh Dedy Kusmanagandi MBA MM, Drh Joko Suseno, Drh Heru Achwan, Drh Iswandari serta Ketua Umum dan Sekjen ADHPI periode 2005-2010 Prof Charles Ranggatabbu MSc PhD dan Drh Hari Wibowo.

Ketujuh formatur ini akan memilih ketua dan sekjen baru yang akan menentukan pengurus baru dan menyusun program ADHPI selanjutnya setelah laporan pertanggungjawaban Ketua Umum ADHPI periode 2005-2010 tadi diterima secara aklamasi oleh forum. Para dokter hewan dari berbagai daerah baik yang menjadi pengurus atau bukan pengurus ADHPI 2005-2010 pun mengutarakan pendapat masing-masing terkait organisasi ADHPI.

Memang banyak peserta Munaslub yang pada periode 2005-2010 tidak terdaftar sebagai anggota namun dilibatkan dalam acara ini. Hal ini merupakan wujud kepedulian dokter hewan Indonesia terhadap perkembangan dunia perunggasan. Wujud kepedulian tersebut setidaknya dapat difasilitasi dalam organisasi ADHPI. Secara kelembagaan sendiri, ADHPI merupakan Organisasi Non Teritorial dalam organisasi induk PDHI (Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia).

Dengan posisi ini maka dalam kegiatannya ADHPI tidak terlepas dari aturan main yang berlaku di PDHI. Untuk Anggaran Dasar, ADHPI menggunakan Anggaran Dasar PDHI, meski sesungguhnya AD ADHPI pernah dibuat sendiri pada Munas pertama saat pendiriannya di Yogyakarta pada 2005. Sedangkan untuk Anggaran Rumah Tangga, ADHPI menggunakan ART sendiri yang membedakannya dengan ONT lain.

Anggota Majelis Pendidikan dan Profesi Kedokteran Hewan (MP2KH) PDHI yang juga salah seorang pengurus ADHPI 2005-2010 Dr Drh Desianto Budi Utomo dalam sosialiasi hasil Mukernas PDHI tentang ONT memaparkan tentang ONT PDHI tersebut. Dengan aturan yang dimaktub dalam Hasil Mukernas ADHPI, ONT ADHPI ini mempunyai persimpangan jalan yang dirasakan oleh sebagian besar anggota.

Persimpangan jalan ini adalah apakah ADHPI akan dibawa ke arah sains atau ke arah kepentingan bisnis. Salah satu pendapat misalnya datang dari Drh Wahyu Suhadji Pengurus ADHPI dan juga Pengurus PDHI dari Makassar. Menurutnya yang juga Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Perunggasan (FKMP) Sulsel, ADHPI tidak serta merta hanya bicara sains. Kalau menekankan kegiatan pada bidang sains, menurut Wahyu, sudah ada yang mengerjakan.
Menurutnya peran yang diharapkan untuk ADHPI adalah peran edukasi, peran advokasi, dan peran mengkritisi. “ADHPI harus menjadi garda terdepan untuk advokasi,” katanya.
Contoh pendapat lain datang dari Pakar Patologi FKH IPB Bogor Drh Hernomoadi Huminto MS yang menjadi peserta Munaslub. Ia berpendapat bahwa dari Munaslub itu terasa ada perbedaan dalam pengambilan kebijakan di ADHPI. Bila pendekatan pengambilan kebijakannya berangkat dari sisi ekonomi bisnis, menurutnya tidak mudah. Namun bila pengambilan kebijakan berangkat dari sisi dokter hewan, menurutnya cocok.

Organisasi yang mengurus dunia perunggasan memang begitu banyak baik secara langsung maupun tidak langsung. Sebutlah sudah ada GPPU (Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas) PPUI (Perhimpunan Peternak Unggas Indonesia), PPUN (Perhimpunan Peternak Unggas Nusantara), ASOHI (Asosiasi Obat Hewan Indonesia), GPMT (Gabungan Perusahaan Makanan Ternak), Pinsar UN (Pusat Informasi Pasar Unggas Nasional), Forum Komunikasi Masyarakat Perunggasan (FKMP) Sulsel, dsb.

Peran keilmuan dokter hewan perunggasan pada organisasi-organisasi ini tampak sudah menyatu dengan bidang keilmuan yang bukan semata kedokteran hewan, namun juga bisnis. Menurut Drh Hernomoadi, apa yang dituangkan Dr Desianto sebagai wakil dari PDHI sudah mengisyaratkan tentang landasan keilmuan kedokteran hewan yang perlu diperkuat di ADHPI.

Penguatan landasan keilmuan kedokteran hewan tersebut dapat dilakukan dengan berbagai perangkat organisasi yang dapat mengerucut pada peningkatan kualitas dan kompetensi dokter hewan spesialis perunggasan, sebagaimana dokter hewan spesialis lain sesuai dengan pemaparan hasil Munas PDHI.

Yang pasti, sesuai dengan yang diungkap dalam pertanggungjawaban Ketua Periode 2005-2010, ke depannya ADHPI mendapat tantangan program nasional kualitas perunggasan dan produk perunggasan. Mau ke mana ADHPI? Tentu semua optimis akan keberadaannya. (YR)

Fenomena Meningkatnya Kasus Necrotic Enteritis

Necrotic Enteritis (NE) merupakan jenis penyakit yang belakangan ini fenomenanya cenderung mengalami peningkatan kasus cukup signifikan dilapangan. Kasus NE tercatat banyak menimbulkan permasalahan pada peternakan ayam broiler modern, namun demikian cukup banyak juga dilaporkan terjadi pada peternakan ayam petelur komersial serta breeder (peternakan ayam pembibitan).

Kasus NE secara langsung menyebabkan gangguan fungsi sistem pencernaan, sehingga dinilai sangat merugikan secara ekonomis berkenaan dengan gangguan efesiensi pakan (FCR yang meningkat cukup signifikan) dan gangguan pertumbuhan serta sejumlah kematian. Dari sisi biaya yang harus dikeluarkan oleh peternak ayam broiler untuk pengobatan terhadap NE, untuk setiap ekor ayamnya dapat mencapai antara Rp 400 – 500 tergantung derajat keparahan penyakit, lama waktu pengobatan serta umur ayam saat dilakukan pengobatan.

Necrotic Enteritis merupakan salah satu penyakit infeksius yang disebabkan oleh bakteri jenis Clostridium perfringens, dimana tergolong bakteri gram-positif, bersifat anaerobic, umum dapat ditemukan di tanah, litter, debu dan pada level yang rendah ditemukan dalam usus ayam sehat. Clostridium perfringens hanya akan menyebabkan NE bila karena kondisi yang mendukung dalam saluran pencernaan ayam, bakteri tersebut berubah sifat dari type yang tidak memproduksi toksin menjadi type yang mampu memproduksi toksin.

Beberapa type Clostridium perfringens

Terdapat lima type dari Clostridium perfringens (A, B, C, D and E) dimana mampu memproduksi sejumlah toksin seperti toksin: alpha, beta, epsilon, iota and toksin CPE. Alpha toksin dan enzim phospholipase C diyakini sebagai kunci penyebab terjadinya NE. Namun demikian dari studi yang dilakukan oleh pada ahli belakangan ini, isolat dari Clostridium perfringens yang tidak memproduksi alpha toksin tetap dapat menimbulkan terjadinya NE.

Sebagai tambahan, toksin yang disebut NetB belakangan ini diidentifikasi dapat menyebabkan terjadinya NE yang disebabkan oleh salah satu isolat Clostridium perfringens (Anthony Keyburn, CSIRO Livestock Industries Researchers).

Usus dari ayam yang terinfeksi Clostridium perferingens menjadi rapuh dan menggelembung disertai adanya timbunan gas dan lesi-lesi bersifat nekrosis yang menyebar cukup luas disebabkan oleh toksin yang dihasilkan oleh Clostridium perfringens tersebut. Pada kejadian yang bersifat akut, sering kali adanya kematian pada ayam yang terinfeksi tidak disertai adanya gejala klinis. Namun demikian pada bentuk yang subklinis, lebih banyak menimbulkan kerugian secara ekonomis berupa gangguan pertumbuhan dan problem efesiensi pakan.

Gejala klinis dan lesi

Gejala awal dari ayam yang mengalami infeksi Clostridium perfringens penyebab NE serikali nampak ayam mengalami diare dengan kotoran agak encer warna merah kecoklatan (seperti warna buah pepaya) disertai dengan cairan asam urat yang keluar bersama feces dan terkadang fecesnya bercampur dengan sejumlah material pakan yang tidak tercerna secara sempurna. Akibat terjadinya diare, litter nampak cepat basah dan cemaran ammonia jadi meningkat cukup tajam ada dalam kandang, sehingga dapat memperparah kondisi sakit dari ayam dan meningkatnya jumlah kematian. Pada ayam broiler, seringkali kasus NE dapat diamati cukup jelas saat memasuki umur 3 (tiga) minggu keatas.

Gangguan pertumbuhan (pertumbuhan melambat) dan problem efisiensi pakan (FCR jadi membengkak) disebabkan karena rusaknya dinding usus oleh toksin yang dihasilkan oleh infeksi Clostridium perfringens, dimana terjadi gangguan penyerapan nutrisi pakan oleh dinding usus. Contoh gambar dibawah menunjukkan tingkatan derajat lesi disebabkan oleh paparan Alpha toksin yang dihasilkan oleh infeksi Clostridium perfringens (derajat lesi dari tingkat 1 – 4), dimana semakin berat derajat lesinya, maka semakin berkurang nutrisi yang mampu diserap oleh dinding usus, sehingga sangat berdampak pada gangguan pertumbuhan dan membengkaknya FCR.

Secara khusus kasus NE yang bersifat sporadik seringkali dapat terjadi pada peternakan ayam, baik pada peternakan ayam broiler (pedaging), petelur komersial maupun breeder, dapat terjadi bila mana tidak digunakannya antibiotika yang berfungsi sebagai growth promoters atau problem infeksi oleh Emeria spp. penyebab Koksidiosis tidak terkontrol dengan maksimal, praktik manajemen pemeliharaan ayam dibawah standar (tidak sesuai dengan keinginan ayam modern), serta pakan dengan kandungan NSP (Non Starch Polisacharida = Karbohidrat bukan Pati) yang cukup tinggi dan sumber protein asal hewani yang cukup tinggi kandungannya dalam sediaan pakan.


Faktor Predisposisi teradinya Necrotic Enteritis serta Manajemen penanggulangan terhadap Necrotic Enteritis Disajikan secara khusus dan lengkap oleh Drh. Wayan Wiryawan Technical Advisor, Malindo Group pada majalah infovet edisi 193/Agustus 2010, info pemesanan dan berlangganan klik disini

CLOSED HOUSE, CARA MODERN TINGKATKAN PRODUKSI BROILER

Ayam pedaging atau broiler lebih bagus hasil produksinya pada kandang sistem closed house daripada ayam petelur dengan sistem sama. Peningkatan teknologi secara menyeluruh berdampak besar bagi peningkatan produksi. Tidak ada kata tidak untuk penggunaan sistem closed house buat pemeliharaan ayam pedaging dengan hasil terbaik.

Inilah suatu cara modern untuk meningkatkan produksi ayam pedaging secara signifikan. Degan cara ini tidak ada gangguan pemeliharaan ayam pedaging karena lingkungan lebih baik, tempat pemeliharaan lebih hemat, kualitas ayam lebih baik, angka kematian rendah, kondisi pertumbuhan ayam merata, dan penampilan ayam yang dihasilkan baik secara maksimal.

Cara ini adalah cara yang sudah dikenal masyarakat perunggasan Indonesia dalam dekade ini, dan kali ini ditegaskan oleh Sales Area Manager PT Sierad Industry Dhanang Purwantoro ST. Tak lain tak bukan, cara ini adalah sistem kandang tertutup atau lebih dikenal dengan closed house yang ternyata lebih banyak digunakan untuk pemeliharaan ayam pedaging dibanding untuk pemeliharaan ayam petelur.

Bagaimana dan mengapa penerapan kandang tertutup lebih banyak khusus pada pemeliharaan ayam pedaging? Menurut Dhanang, secara penelitian, efek kandang tertutup untuk ayam pedaging menghasilkan perbedaan mencolok dibanding kandang postal dan kandang terbuka.
“Keberadaan, fungsi dan manfaat closed house pada prinsipnya tidak peduli kondisi daerah. Pada keadaan lingkungan daerah apapun, secara fleksibel kondisinya dapat diadaptasi oleh kandang tertutup,” tuturnya.

Akan tetapi, untuk pemeliharaan ayam petelur penggunaan kandang tertutup masih diteliti efektivitasnya. Secara keseluruhan, sedikit atau kurang dilakukan penelitian oleh berbagai pihak tentang dampak penggunaan kandang tertutup terhadap pemeliharaan ayam petelur.

Efektivitas pemeliharaan ayam petelur pada dasarnya tergantung produksi telur. Berdasar penelitian di Bali, Malang dan Tuban, penggunaan kandang tertutup untuk ayam petelur tetap berdampak pada pertumbuhan tubuh ayam, kurang berpengaruh untuk peningkatan produksi telur. Dari sedikit penelitian yang ada itu, hasilnya memang, “Ada perbedaan tapi belum signifikan, berbeda dengan untuk ayam pedaging yang hasilnya sangat signifikan atau berbeda nyata,” tegas Dhanang.

Menurut Dhanang Purwantoro, dengan kandang tertutup peternak bisa mengantisipasi segala musim. “Perbedaan musim panas dan musim penghujan dapat diatasi dengan penggunaan kandang closed house,” katanya. Dengan kandang tertutup, kondisi lingkungan bisa diantisipasi dengan baik. Bilamana suhu tidak panas, kondisi ayam tidak bermasalah, open house baik, closed house pun baik.

Hal ini berbeda dengan pemakaian kandang terbuka atau open house. Pada daerah panas seperti di Tuban Jawa Timur yang kondisi suhunya cenderung tinggi pada musim panas, pengaruh suhu panas sangat terasa. Kecenderungan suhu pada saat ini sebesar 32, 34, 37 derajat Celsius. Pada suhu lingkungan setinggi ini, ayam susah untuk berproduksi maksimal.

Sebaliknya pada musim banyak hujan, kelembaban sangat tinggi. Kondisi lingkungan memang antara lain mempengaruhi keberadaan lalat dan lain-lain. Pada peternakan open house kondisi berpengaruh buruk seperti ini sangat terasakan. Sebaliknya, dapat dikurangi dengan pemakaian kandang tertutup.

“Penggunaan closed house tetap efisien untuk menghadapi kondisi lingkungan ini,” ujar Dhanang. Memang pengaruh musim masih ada namun dapat dikata sedikit. Adapun kelembaban udara susah dikendalikan, namun demikian lebih banyak keunggulan kandang tertutup.

Kondisi kandang tertutup yang paling susah mengendalikan kelembaban ini lantaran pengaruh udara luar yang basah, di mana hujan terjadi secara terus-menerus baik siang maupun malam. Untuk menetralisir hal ini bagi kondisi dalam ruang, dibutuhkan heater atau pemanas ruangan untuk kandang tertutup.....................(YR)

Selengkapnya mengenai materi pembahasan diatas silahkan baca majalah infovet edisi 193/Agustus 2010, info pemesanan dan berlangganan klik disini

Broiler kian BERUBAH, bagaimana Manajemennya???

Secara nyata sifat ayam pedaging menurun atau berubah. Kondisi ideal atau keadaan yang tanpa kendala merupakan hal yang tidak mudah ditemui. Maka banyak faktor yang harus diperhatikan agar pertumbuhan ayam pedaging optimal. Tidak bisa dengan memakai manajemen peternak masa sebelumnya, manajemen di kandang menuntut peternak selalu menemukan hal yang baru dan lebih baik.

Technical Support di Tim Marketing PT Sierad Produce Tbk Sidoarjo Drh Mulyanto menyatakan penampilan ayam pedaging sudah berubah seiring dengan kemajuan rekayasa genetika yang diterapkan untuk mencipta bibit ayam pedaging unggul. Pendeknya, ayam pedaging modern telah menjadi hasil rekayasa genetika dengan tingkat pertumbuhan tubuh yang cepat.

Dari tahun ke tahun sifat ayam pedaging terus menyesuaikan perubahan ini. Guna mengoptimalkan kemampuan produksi ayam pedaging ini, sayangnya telah mengorbankan bagian lain, seperti sistem kekebalan tubuh. “Sistem imunologi akan dikorbankan,” kata Drh Mulyanto yang alumnus FKH Unair ini.

PETERNAK HARUS ‘IMPROVE’

“Peternak harus selalu ‘improve’, menyesuaikan dan sampai mendapatkan kecocokan dengan kondisi terbaru,” ujar Drh Mulyanto. Kalau perusahaan pembibitan menetapkan standar-standar tertentu dalam pemeliharaan ayam sesuai dengan masa-masa hidupnya seperti awal pemeliharaan, masa pertumbuhan dan masa panen, penerapan di lapangan, “Lebih membutuhkan kemampuan manajerial dari peternak,” tegasnya.

Lebih baik pada aplikasi di lapangan ini berarti peternak lebih disiplin. Di sisi lain hal ini butuh biaya yang berarti segala penyesuaian di lapangan butuh dana tambahan. Soal penyesuaian di lapangan ini, di antaranya adalah kondisi kandang dan lingkungan kandang yang berpengaruh sebesar 70 persen bagi keseluruhan pemeliharaan hingga produksi atau panen.

Hanya dengan cara ‘improve’ yang berarti memperbaiki, memajukan, mengembangkan, memanfaatkan semua hal yang baik guna perbaikan dan pengembangan seperti yang demikian, peternak dapat mengimbangi upaya-upaya perbaikan genetik ayam pedaging yang telah dilakukan para ahli guna menghasilkan produksi terbaik. (selengkapnya baca majalah infovet edisi 193/Agustus 2010)

MANAJEMEN PEMELIHARAAN AYAM PEDAGING DARI A-Z

Karena sekarang genetik ayam pedaging dipaksa harus tumbuh sesuai dengan keinginan peternak, mau tak mau kita jangan memberi fasilitas yang tidak memadai. Fasilitas harus memadai, antara lain, bibit sudah bagus, pakan harus bagus, dan manajemen juga harus bagus. Semua merupakan benang merah tebal, yang patut dipegang keteguhannya dalam manajemen pemeliharaan ayam pedaging dari A-Z.

Adalah Drh A Syaiful Hadi Research & Development PT Sierad Produce Tbk Sidoarjo yang menegaskan kembali tentang kondisi terkini ayam pedaging. Menurutnya, ayam pedaging modern mengalami perkembangan yang sangat signifikan dibanding masa sebelumnya.

Ambillah salah satu tolok ukurnya adalah angka konversi pakan (FCR, Feed Conversion Rate) alias angka daya kecernaan pakan. Diungkap oleh Drh Syaiful Hadi, FCR ayam pedaging yang dulu 2,2 kemudian menjadi 2,1, selanjutnya menjadi 1,9 bahkan saat ini mencapai 1,7. Perkembangan yang sangat drastis di bidang angka kecernakan pakan.

Pertumbuhan ayam pedaging yang berkembang dengan cepat sendiri memang selalu membutuhkan kecukupan zat gizi. Namun sebaliknya, bila zat gizi untuk pembentukan otot dan tulang tidak terpenuhi niscaya akan muncul gejala-gejala kelumpuhan. Maka, perubahan angka kecukupan beberapa mineral dan vitamin selalu mesti diperhatikan. Tak mengherankan, perusahaan pembibitan selalu membuat pencatatan pemberian pakan dan hasilnya pada penampilan ayam, untuk perbandingan penampilan ayam dengan standar penampilan ayam pedaging yang ada.

Manajemen pemeliharaan ayam pedaging dari A-Z berarti manajemen pemeliharaan dari masa DOC dalam pemanasan atau pengindukan buatan sampai masa panen. “Sebaik-baiknya kualitas DOC maupun pakan jika tidak disertai dengan manajemen pemeliharaan yang baik maka penampilan yang dicapai akan tidak optimal dan maksimal,” tegas Drh A Syaiful Hadi.(selengkapnya baca majalah infovet edisi 193/Agustus 2010)


BERHASIL DI PEMELIHARAAN AYAM PEDAGING DENGAN STRATEGI 4-4-3

Empat kunci sukses yang dimaksud adalah indikator bagi indeks prestasi pemeliharaan ayam pedaging yang baik yaitu bila angka konversi pakan (FCR) rendah, berat badan bagus, umur panen pendek, dan kematian kecil. Sementara 4 elemen strategis itu adalah bibit DOC (Day Old Chicken) yang baik, pola manajemen yang terukur dan teratur, pola pakan yang baik, dan program medikasi yang produktif. Ditambah lagi perhatian ekstra untuk 3 fase kritis kehidupan broiler yaitu fase saat ayam umur 0-12 hari, 12-21 hari dan 21 hari sampai panen.

Demikian diungkapkan Aria Bimateja SPt Sales Supervisor PT Sierad Produce Area Pare Kediri Jawa Timur saat ditemui Infovet disela customer gathering Sierad di Blitar.
Menurut Bima, demikian ia akrab disapa, kunci utama kesuksesan peternakan ayam pedaging ditunjukkan oleh kesuksesan di Indeks Prestasi atau Indeks Penampilan (Index Performance, IP). IP yang baik ini ditunjukkan oleh 4 indikator sebagai tolok ukur kesuksesan. 4 indikator bagi IP yang baik adalah bila angka konversi pakan (Feed Conversion Ratio, FCR) rendah, berat badan bagus, umur panen pendek, dan kematian kecil.

“Bagaimana mencapai 4 hal indikator itu semua secara baik? Dibutuhkan 4 elemen strategis,” ujar pria kelahiran 15 Desember 1980 ini. Menurutnya 4 elemen yang strategis itu adalah bibit DOC yang baik, pola manajemen yang terukur dan teratur, pola pakan yang baik, dan program medikasi yang produktif.

Aria Bimateja SPt memberi jaminan bila 4 elemen strategis tersebut dipenuhi secara disiplin, niscaya masalah penyakit ini dapat dieliminir, tertanggulangi dan dicegah. Dan lebih dari itu, 4 kunci sukses pemeliharaan ayam pedaging dapat dipenuhi guna produksi terbaik.


Selengkapnya mengenai materi pembahasan diatas silahkan baca majalah infovet edisi 193/Agustus 2010, info pemesanan dan berlangganan klik disini

Ajang Silaturahmi di INDOLIVESTOCK 2010

Indolivestock Expo & Forum bisa dikatakan telah menjadi ajang silaturahmi masyarakat peternakan terbesar di Indonesia. Hal ini sangat terasa dari perbincangan antar pengunjung baik di stand pameran, di area seminar maupun area lainnya. Banyak pengunjung yang sudah lama tidak bertemu dengan koleganya, dapat menjalin kembali silaturahmi dalam momen akbar ini.

Demikian halnya dengan Infovet. Sebagaimana Indolivestock Expo yang lalu dalam Indolivestock kali ini kami mengundang wartawan Infovet daerah yaitu Drh Untung Satriyo (Yogya), Drh Yonathan Rahardjo (Surabaya), Drh Masdjoko Rudiyanto MS (Bali), Sadarman, Spt, MSi. (Pekanbaru).

Dengan mengundang mereka ke arena Indolivestock, para wartawan daerah berkesempatan untuk melihat perkembangan dunia peternakan dan kesehatan hewan, sekaligus dapat bersilaturahmi dengan tim Infovet di Pusat. Kesempatan ini juga dimanfaatkan untuk melakukan kegiatan peliputan khusus dari stand ke stand.

Kami pun berbagi tugas kegiatan. Ada yang melakukan liputan ke stand, liputan seminar, dan menjadi pemandu stand. Tak lupa setiap malam melakukan koordinasi sejauh mana rencana kegiatan yang telah disusun terealisasi. Hasil dari semua itu adalah artikel liputan khusus yang dapat anda simak dalam edisi ini.

Dalam pameran kali ini stand Infovet dan ASOHI digabung dalam satu unit stand. Dengan penggabungan ini stand menjadi lebih luas dan relatif lebih megah dibanding pameran sebelumnya. Selain itu para pengunjung juga dapat menikmati ”sajian” stand yang antara lain menampilkan tampilan data bisnis peternakan dan obat hewan, buku-buku terbitan Gita Pustaka, informasi kegiatan seminar dan training, serta informasi berlangganan majalah Infovet.

Informasi data bisnis peternakan dan obat hewan tampak sangat diminati para pengunjung dari kalangan pemerintah dan pebisnis. Beberapa pengunjung dari luar negeri sengaja memotret tampilan data tersebut untuk oleh-oleh ke negaranya. Bahkan Menteri Pertanian Ir Suswono seusai membuka acara Indolivestock Expo berkunjung cukup lama di stand kami ketika ditunjukkan data ekspor obat hewan yang terus menerus meningkat dari tahun ke tahun.

Dalam kunjungan ke stand tersebut Menteri Pertanian memberikan apresiasi khusus kepada ASOHI khususnya ke eksportir obat hewan melalui Ketua Umum ASOHI Drh Rakhmat Nuriyanto yang menyambut hangat kehadiran Mentan di stand kami.

Tampaknya, Indolivestock Expo bukan saja meningkatkan silaturahmi di antara kami, melainkan juga silaturahmi antara kami dengan Menteri Pertanian serta tokoh-tokoh peternakan dan kesehatan hewan lainnya. (*)

Monday, July 26, 2010

Mahasiswa FKH UGM Ingatkan Bahaya Global Warming

Masalah lingkungan sudah selayaknya menjadi sorotan berbagai macam pihak, bukan hanya beberapa kalangan atau lembaga yang bergerak dalam konservasi tetapi juga untuk semua lapisan masyarakat termasuk calon dokter hewan, hal itu mencuat dalam Seminar Nasional Global Warming yang diselenggarakan oleh BEM FKH UGM Yogyakarta pada Minggu 18 April 2010. Tema yang diangkat adalah dampak perubahan iklim terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Seperti yang diketahui bersama perubahan iklim merupakan salah satu masalah lingkungan yang dihadapi pada saat ini dan perubahan lingkungan ini tentunya juga berimbas pada kesehatan masyarakat baik dalam segi kedokteran maupun kedokteran hewan.

Kita bisa ambil beberapa kasus yang telah terjadi pada masyarakat pada saat ini, di DKI Jakarta hampir setiap tahun mengalami banjir, dan dikarenakan adanya perubahan iklim hal ini berdampak signifikan terhadap frekuensi volume air bah yang semakin lama terus meningkat. Selain itu dampak kesehatan yang lain juga timbul akibat bencana banjir, misalnya munculnya kasus leptospirosis yang merupakan salah satu penyakit zoonosis (dapat menular dari hewan ke manusia atau sebaliknya) dan berakibat buruk pada kesehatan masyarakat.

Ketua panitia seminar Muhamad Atma Setyadi mengatakan, “Kami mengadakan acara ini untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat dan mahasiswa tentang masalah lingkungan yang juga berefek pada masalah kesehatan masyarakat dan juga berpengaruh pada kesehatan hewan dan patut menjadi perhatian bersama.”

Pada sesi awal acara ditayangkan video dari Green Peace Indonesia tentang dampak global warming terhadap lingkungan yang dilanjutkan dengan pemberian materi dari Kementrian Lingkungan Hidup Ir. Sri Hudyastuti.
Sementara dr.Abidinsyah Siregar mewakili Ikatan Dokter Indonesia (IDI) memberikan materi tentang aspek kesehatan masyarakat dan disambung penyampaian oleh DR.Drh. Widagdo SN, M.P yang merupakan dosen dari Bagian kesmavet tanteng aspek kesehatan masyarakat veteriner.

Seminar juga diramaikan dengan aksi teatrikal yang persembahkan oleh VENA FKH UGM. Aksi ini membawa pesan bahwa semua lapisan masyarakat selayaknya juga turut menjaga lingkungan dengan baik dan dilanjutkan dengan diskusi interaktif. Acara diakhiri dengan penanaman pohon di lingkungan FKH UGM secara simbolis oleh Ir. Sri Hudyastuti dan pembagian bibit pohon kepada peserta. Acara ini juga dihadiri oleh berbagai elemen mahasiswa dari beberapa universitas diantaranya adalah UII, UPN dan UNY.

Menurut beberapa peserta, seminar ini merupakan acara yang baik untuk mahasiswa dan secara keseluruhan esensi yang ditampilkan dapat diterima dengan baik. Eka Yanuarti dan Annisa Ullyanni perwakilan peserta mengatakan, “Menurut kami seminar global warming merupakan ajang yang bagus untuk mahasiswa, karena dengan adanya kegiatan semacam ini kita lebih bisa mengerti tentang masalah peubahan iklim dan dampaknya terhadap masyarakat, secara global acara ini sangat bagus karena banyak dihadiri oleh peserta yang berasal dari luar FKH UGM.”

Harapannya kegiatan ini dapat berlanjut pada tahun-tahun berikutnya dan dapat lebih banyak menggugah kesadaran masyarakat untuk menjaga bumi ini dari pemanasan global. (red)
 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template