-->

CEVA ANIMAL HEALTH

CEVA ANIMAL HEALTH

Boehringer Ingelheim

Boehringer Ingelheim

SIDO AGUNG FEED

SIDO AGUNG FEED

SCAN APLIKASI ANDROID

SCAN APLIKASI ANDROID

INFOVET EDISI JUNI 2022

INFOVET EDISI JUNI 2022

Susunan Redaksi

Pemimpin Umum/Redaksi
Ir. Bambang Suharno


Wakil Pemimpin Umum

Drh. Rakhmat Nurijanto, MM


Wakil Pemimpin Redaksi/Pemimpin Usaha
Ir. Darmanung Siswantoro


Redaktur Pelaksana
Ridwan Bayu Seto


Koordinator Peliputan
Nunung Dwi Verawati


Redaksi:
Wawan Kurniawan, SPt, (Jabodetabek)
Drh Untung Satriyo (Jogja & Jateng)
Drh. Yonathan Rahardjo (Jatim)
Drh. Masdjoko Rudyanto (Bali)
Drh Heru Rachmadi (NTB)
Sadarman S.Pt (Riau)
Drh. Sry Deniati (Sulsel)
Drh. Joko Susilo (Lampung)
Drh. Putut Pantoyo (Sumatera Selatan)

Kontributor:
Prof. Dr. Drh. Charles Rangga Tabbu,
Drh. Deddy Kusmanagandi, MM,
Gani Haryanto,
Drh. Ketut T. Sukata, MBA,
Drs. Tony Unandar MS.
Prof. Dr. Drh. CA Nidom MS.


Kabag Produksi & Sirkulasi
M. Fachrur Rozi

Staf Produksi & Sirkulasi:
M. Sofyan, Achmad Febriyanto, Rizky Yunandi

Administrasi
Nur Aidah


Keuangan:
Eka Safitri
Achmad Kohar


Pemasaran

Septiyan NE


Alamat Redaksi
Ruko Grand Pasar Minggu
Jl. Raya Rawa Bambu No. 88A
Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520
Telp: (021) 7829689, 78841279, Fax: 7820408
e-mail:
Redaksi: majalah.infovet@gmail.com
Pemasaran: marketing.infovet@gmail.com

Rekening:
Bank MANDIRI Cab Ragunan,
No 126.0002074119

Bank BCA KCP Cilandak KKO I. No 733-0301681
a/n PT Gallus Indonesia Utama

Redaksi menerima artikel yang berkaitan dengan kesehatan hewan dan atau peternakan. Redaksi berhak menyunting artikel sepanjang tidak merubah isinya.
Semua artikel yang dimuat menjadi milik redaksi.
Email artikel Anda ke:infovet02@gmail.com

Jumlah Pengunjung

PT. GITA Group

Pengikut

Info Agribisnis Klik Di Sini

alterntif text

TRANSLATE

WEBINAR DAMPAK DAN ANTISIPASI MASUKNYA PMK BAGI PETERNAKAN BABI

On Mei 27, 2022

 


“Sampai saat ini, peternakan babi kita tidak atau belum kena penyakit mulut dan kuku (PMK). Namun demikian, kiita tetap harus waspada,” tandas Ketua Umum Asosiasi Monogastrik Indonesia (AMI), Dr Sauland Sinaga SPt Msi.

Pernyataan tersebut disampaikan Sauland dalam sesi akhir webinar nasional “Dampak dan Antisipasi Masuknya PMK di Indonesia Bagi Peternakan Babi” yang diadakan Jumat (27/5) secara daring.   

Pembicara webinar yaitu Dewan Pakar Bidang Kesehatan Hewan AMI, Drh Tri Satya Naipospos Hutabarat MPhil PhD yang berhalangan hadir, pemaparan presentasi diwakili oleh Drh Yohanes Simarmata MSc selaku Anggota Dewan Pakar Bidang Kesehatan Hewan AMI dan Ketua AMI Nusa Tenggara Timur.

Dipaparkan Yohanes diantaranya mengenai wabah PMK yang melanda peternakan babi yang terjadi di negara Asia Timur seperti di China, Taiwan, Korea Selatan, Korea Utara, dan Hongkong.

“Ada 7 kali wabah PMK yang terjadi sepanjang tahun 2010-2011 di peternakan babi pada negara tersebut. Wabah PMK pada babi paling besar terjadi di taiwan pada tahun 1997,” sebut Yohanes.  

Sebanyak 6.147 ribu peternakan babi dengan lebih dari 4 juta ekor trinfeksi dan 37,7% babi di Taiwan baik karena mati (0,18 juta ekor) atau dimusnahkan (3,85% juta ekor). Akibat wabah PMK, Taiwan tidak bisa melakukan ekspor babi dan produk babi selama 24 tahun.

Sementara Sauland menambahkan, kasus PMK di Inggris terjadi di tahun 2001 merujuk pada sumber DEFRA (Departement of Environment, Food, & Rural Affairs UK). Sebanyak 146.000 ekor babi dimusnahkan.

Lebih lanjut Sauland mengatakan ternak babi berpotensi terinfeksi PMK banyaknya melalui oral. “Bagaimanapun paling penting upaya mencegah PMK masuk ke peternakan babi dengan memperketat lalu lintas ternak antar pulau, antar provinsi maupun zona,” tegasnya.

Pada acara yang sama, Drh Arif Wicaksono selaku Kasubdit Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Hewan Ditkeswan mengemukakan perihal pelaksanaan biosekuriti dan pengolahan swill feeding. Salah satu poin pentingnya adalah tidak disarankan memberikan pakan kepada ternak babi menggunakan sisa makanan.

Arif juga menjelaskan pengendalian lalu lintas ternak dalam hal ini pada tingkat peternak, pemerintah dengan bantuan berbagai pihak terkait melakukan pendampingan pada peternak untuk tidak menjual ternak sakit dengan melakukan terapi supportif pada hewan sakit. (NDV)

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Artikel Populer