EDISI MEI 2018

Perlu Kiriman Artikel Via Email? Isi email Anda di bawah ini

Jumlah Pengunjung

Susunan Redaksi

Pemimpin Umum/Redaksi
Ir. Bambang Suharno
Wakil Pemimpin Umum/Usaha
Drh. Rakhmat Nuriyanto MBA
Redaktur Pelaksana
Ir. Darmanung Siswantoro
Koordinator Peliputan
Ridwan Bayu Seto
Nunung Dwi Verawati


Redaksi
Wawan Kurniawan, SPt, (Jabodetabek)
Drh Untung Satriyo (Jogja & Jateng)
Drh. Yonathan Rahardjo (Jatim)
Drh. Masdjoko Rudyanto (Bali)
Drh Heru Rachmadi (NTB)
Sadarman SPt (Riau)
Drh. Sry Deniati (Sulsel)
Drh. Joko Susilo (Lampung)
Drh Putut Pantoyo (Sumatera Selatan)

Kontributor
Prof Dr Drh Charles Rangga Tabbu,
Drh Dedy Kusmanagandi, MM,
Gani Haryanto,
Drh Ketut T. Sukata, MBA,
Drs Tony Unandar MS
Prof Dr Drh CA Nidom MS

Pemasaran :
Andi Irhandi (0815-9186-707)



Kabag Produksi & Sirkulasi
M. Farur Rozi

Staf Produksi & Sirkulasi
M. Sofyan, Achmad Febriyanto, Rizky Yunandi

Administrasi:
Nur Aidah,

Keuangan:
Eka Safitri
Achmad Kohar

Alamat Redaksi:
Ruko Grand Pasar Minggu
Jl. Raya Rawa Bambu No. 88A
Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520
Telp: (021) 7829689, 78841279, Fax: 7820408
e-mail:
Redaksi : majalah.infovet@gmail.com
Pemasaran : marketing.infovet@gmail.com

Rekening
Bank MANDIRI Cab Ragunan,
No 126.0002074119


Bank BCA KCP Cilandak KKO I
No 733-0301681
a/n PT Gallus Indonesia Utama

Redaksi menerima artikel yang berkaitan dengan kesehatan hewan dan atau peternakan. Redaksi berhak menyunting artikel sepanjang tidak merubah isinya.
Semua artikel yang dimuat menjadi milik redaksi.
Email artikel Anda ke: majalah.infovet@gmail.com

PT. GITA Group

Followers

Sistem IVMS Tingkatkan Produktivitas Sapi di NTB

On 1:52:00 PM

Penerapan IVMS menyesuaikan kebutuhan nutrisi dengan suplai pakan yang tersedia
Sistem Pengelolaan Pembiakan Terpadu di Desa atau Integrated Village Management System (IVMS) membawa kebahagiaan tersendiri bagi peternak sapi Bali di Dusun Karang Kendal, Desa Segara Katon, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara, NTB. Sapi Bali menjadi ternak unggulan yang dikembangkan dengan sistem IVMS.

Sejak tahun 2009, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi NTB bersama tim peneliti dari ACIAR, Universitas Mataram dan Universitas Queensland Australia melakukan pendampingan untuk peternak di sana.

Sistem IVMS merupakan sistem sekaligus paket teknologi yang diaplikasikan demi meningkatnya produktivitas sapi Bali. Prinsip dasar dalam penerapan IVMS yaitu menyesuaikan kebutuhan nutrisi dari pola reproduksi sapi dengan suplai pakan yang tersedia.

Peneliti BPTP NTB, Dr Ir Tanda S. Panjaitan 
Dalam workshop IndoBeef di Lombok yang digelar pada 30 Januari 2018 lalu, penulis menguraikan hambatan perkembangan produktivitas dan efisiensi sektor peternakan sapi di NTB.

Nutrisi buruk dan kelahiran terjadi pada waktu yang tidak tepat yaitu pada musim kering, waktu ketersediaan pakan menipis menyebabkan panjangnya interval dari kelahiran satu dengan kelahiran berikutnya. Selain itu, tingginya angka kematian pedet dan rendahnya angka pertumbuhan pedet menghambat perkembangan produktivitas ternak di ITB.

Sistem Pengelolaan Pembiakan Terpadu di Desa atau IVMS menekankan pada manajemen atau pengelolaan sebagai kunci menurunkan angka kematian pedet dengan menata waktu kelahiran atau menata musim kawin, sehingga induk sapi melahirkan pada saat yang tepat waktu pakan cukup tersedia untuk memenuhi kebutuhan induk menyusui dan pedet yang dilahirkan.

Sistem pengelolaan sapi alternatif ini dibuat pola reproduksi ternak sesuai dengan suplai makanan yang berasal dari pertumbuhan rumput di lapang maupun sisa panen.

Pengelolaan IVMS
Seperti apa pengelolaan IVMS? Pengelolaan IVMS terdiri dari penyapihan dini pada usia 5-6 bulan, kemudian tahap pemilihan sapi jantan, pengaturan musim kawin alamiah, serta pemberian pakan untuk sapi yang baru disapih.

Fase penyapihan dini di usia 5-6 bulan. Pedet yang berusia lima bulan pada musim kemarau harus disapih. Ketika musim penghujan, pedet yang berusia lima bulan dapat ditunda penyapihannya hingga berusia enam bulan.

Untuk menjaga kondisi tubuh sapi, nilai skor kondisi tubuhnya harus diatas level kritis yaitu 2,5 (skala 1-5), serta fokus meningkatkan efisiensi penggunaan pakan yang tersedia. ***

Lebih lengkap dapat dibaca di Majalah Infovet cetak edisi 285 April 2018. 

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Artikel Populer