Tuesday, December 8, 2015

PENCEGAHAN DAN PENANGANAN MILK FEVER PADA SAPI PERAH

Peternakan sapi perah rakyat di Indonesia masih banyak menemui beberapa permasalahan serius yang berulang dari waktu ke waktu. Salah satunya penyakit gangguan metabolisme yang masih banyak ditemukan adalah Milk fever atau hipocalsemia. Banyak kejadian sapi-sapi yang ditemukan ambruk setelah melahirkan dan tidak kuat berdiri lagi berujung pada pisau jagal. Beberapa pertolongan medik  baik secara peroral, intravena maupun subkutan dari berbagai macam sediaan kalsium yang ada belum memberikan hasil yang signifikan.
Peternak harus paham sapi-sapi yang menunjukkan gejala-gejala awal Milk fever seperti gemetar pada otot-otot pergerakan sehingga pertolongan memberikan harapan baik. Presentase kasus Milk Fever terjadai sebelum melahirkan 3%, pada saat melahirkan 6%, 1-24 jam setelah melahirkan 75%, 25-48 jam 12 %, lebih dari 48 jam 4 %
Kalsium sangat penting peranannya dalam kontraksi otot polos tubuh termasuk pergerakan otot polos saluran pencernaan, kontraksi uterus dan  pembukaan penutupan spinchter putting pada sapi perah. Kadar kalsium darah pada kondisi normal adalah 10 mg/100 ml. Pada kondisi Milk fever, kadar Ca darah akan menurun sampai menjadi sekitar 3-7 mg/100ml.

Pemberian pakan dengan kandungan Ca > 100 g/hari selama masa dry pregnant 
berhubungan dengan meningkatnya risiko kejadian milk fever.


Metabolisme kalsium
Metabolisme kalsium erat hubungannya dengan magnesium dan vitamin D. Hubungan magnesium dalam metabolisme kalsium bisa melalui beberapa jalur. Magnesium dibutuhkan untuk pelepasan paratiroid hormon dari kelenjar paratiroid. Bila paratiroid hormon yang disekresikan kurang, akan mempengaruhi mobilisasi kalsium dari tulang.
Vitamin D diperlukan untuk menstimulasi absorbsi kalsium dari saluran pencernaan. Vitamin D harus diubah dulu menjadi 25 hidroksi vitamin D di hati yang prosesnya membutuhkan magnesium. Kemudian menjadi 1,25 dihidroksi vitamin D di ginjal yang membutuhkan paratiroid hormon. Sehingga bisa dinyatakan bahwa magnesium berperan pada langkah pertama, yaitu pelepasan paratiroid hormone dari kelenjar paratiroid, kemudian paratiroid hormon berperan pada langkah kedua yang berfungsi langsung mempengaruhi mobilisasi dan absorbsi kalsium.

Pengaturan Homeostasis Ca



Peranan magnesium dikatakan lebih kepada fungsi regulatorik. Kekurangan magnesium akan mengakibatkan terlambatnya proses yang dibutuhkan untuk memulai proses mobilisasi kalsium pada kondisi hipokalsemia.
Peranan vitamin D dalam metabolisme Ca adalah dalam aksi sinergisnya dengan hormone paratiroid untuk merangsang aktifitas osteoklastik resorpsi tulang dan meningkatkan reabsorpsi tubulus ginjal terhadap Ca. Peranan utama 1,25 dihidroksi vit D adalah kemampuannya merangsang transport aktif (trans seluler) Ca dari pakan melewati epitel usus halus. Ca bisa di serap dari lumen usus halus baik dengan aktif maupun pasif transport (peri seluler). Transpot pasif (peri seluler) sangat dipengaruhi oleh kadar ion Ca dalam lumen usus.
Transport yang efisien dari Ca yaitu bila Ca dari pakan sangat rendah atau kebutuhan akan Ca sangat tinggi terjadi dengan cara transport aktif melewati epitel usus halus. Proses transport ini membutuhkan 1,25 dihidroksi vit D untuk merangsang terbentuknya protein pembawa Ca melewati epitel usus halus.

Penyimpanan Kalsium di Tulang
Penyimpanan kalsium di tulang dibagi menjadi dua bentuk:

  1. Sebagian besar kalsium terikat dalam kolagen tulang dalam bentuk deposit CaHPO4. Mobilisasi Ca dari deposit CaHPO4 dipengaruhi oleh hormone paratiroid
  2. Sejumlah kecil kalsium disimpan dalam bentuk larutan yang berada dalam kanalikuli tulang. Paratiroid hormone akan menstimulasi larutan kalsium dalam tulang untuk ditransfer cepat ke darah. Pada sapi dewasa larutan kalsium ini berjumlah sekitar 6-10 g Ca. Menariknya, penambahan garam-garam anion (ammonium klorida) dalam pakan selama masa transisi dalam formulasi yang tepat bisa meningkatkan transfer larutan Ca ini sekitar 5-6 g.


Patofisiologis Hipokalsemia
Hemostasis kalsium berasal dari keseimbangan output, input dan siklus ulang dari kalsium. Mekanisme mobilisasi dari tulang, absorbsi dari makanan dan konservasi di ginjal dari kalsium dipengaruhi oleh hormon paratiroid dan 1,25 dihidroksi vitamin D. Secara umum, kadar kalsium dalam plasma darah diatur dengan sangat akurat.
Dimulainya laktasi membutuhkan kalsium dalam jumlah yang sangat banyak pada sapi perah. Sapi yang menghasilkan 10 liter kolostrum (2,3 g Ca/kg ) akan kehilangan 23 g Ca hanya pada satu kali pemerahan. Jumlah ini sama dengan hampir sembilan kali jumlah  kalsium dalam seluruh plasma darah sapi. Kalsium yang hilang dari kolostrum ini harus segera digantikan kembali dengan cara meningkatkan absorbsi dari saluran pencernaan dan mobilisasi dari tulang.
Selama masa dry, kebutuhan kalsium yang minimal (12 g/hari) membuat mekanisme mobilisasi dan absorbsi kalsium ini relatif inaktif. Pada saat kelahiran, sapi harus bisa menyediakan 30 g kalsium atau lebih perhari. Kondisi ini mengakibatkan, hampir semua sapi mengalami  hipokalsemia dalam variasi derajat keparahan sehari setelah melahirkan pada saat usus halus dan tulang berusaha menyesuaikan diri dengan kebutuhan kalsium pada awal masa laktasi itu. Melihat kenyataan ini kita seharusnya tidak heran apabila beberapa sapi gagal mengatasinya. Pada sapi yang gagal menyediakan kalsium ini, susu yang dihasilkan akan mengakibatkan kalsium di ekstra sel dan plasma akan menurun  drastis dan menampakkan tanda-tanda klinis hipokalsemia atau Milk fever.
Ada tiga tahapan gejala klinis  Milk fever, tahap 1: sapi masih bisa berdiri, namun sudah mulai gemetaran (tremor), sempoyongan, telinga dingin, dan terjadi eksitabilitas. Jika tidak segera dilakukan penanganan akan melanjut ke fase 2. Tahap 2: sapi tidak mampu berdiri, namun masih mencoba bangun, posisi duduk  (sternal recumbency),  namun tidak mampu untuk bangun. Kondisi sapi melemah, tidak mau makan, suhu tubuh subnormal, sapi kadang meletakkan kepalanya pada flank membentuk huruf S yang menyebabkan kelemahan otot-otot tulang belakang.  Tahap 3: dalam jangka waktu lama jaringan otot akan kekurangan Ca, terjadi kelumpuhan. Sapi mengalami penurunan reflek tubuh, koma, kembung, dan terjadi kematian beberapa jam kemudian.

Tabel level calcium pada induk laktasi dan kejadian Milk fever
Kondisi induk
Level calcium dalam darah
  1. Laktasi normal
8.4-10.2 mg/100 ml
  1. Pada saat melahirkan
6.8-8.6 mg/100 ml
  1. Milk fever ringan
4.9-7.5 mg/100 ml
  1. Milk fever sedang
4.2-6.8 mg/100 ml
  1. Milk fever berat
3.5-5.7 mg/100 ml

Hipokalsemia dan akibat sekunder yang ditimbulkannya
Sebuah study yang melibatkan 7.761 ekor sapi perah dari 34 peternakan sapi perah di Amerika Serikat menunjukkan bahwa sapi yang menunjukkan tanda-tanda hipokalsemia akan mengalami 2,6 kali lebih berisiko terhadap distokia, 2,4 kali terhadap ketosis dan 2,3 kali terhadap Left Displasis Abomasum. Distokia akan berhubungan lebih lanjut dengan retensi plasenta yang akan meningkat 2,2 kali dan 2,1 kali terhadap metritis. Bila retensi plasenta terjadi, kemungkinan akan menjadi metritis akan meningkat menjadi 6,0 kali. Studi juga menunjukkan bahwa Milk fever klinis secara langsung meningkatkan risiko terhadap kejadian RFM (retained foetal membranes) 3,2 kali dan 1,7 kali terhadap metritis.
Milk fever juga berhubungan erat dengan prolapsus uteri. Hal ini berhubungan dengan terlambatnya involusi selama sapi dalam kondisi hipokalsemia. milk fever juga berhubungan secara kualitatif dengan meningkatnya kejadian sistik ovari meskipun mekanismenya belum begitu jelas. Distokia, RFM, sistik ovari, metritis dan gangguan pasca kelahiran lainnya akan mempengaruhi penampilan reproduksi baik secara langsung maupun tidak langsung. Milk fever meningkatkan risiko terhadap gangguan pasca kelahiran tersebut sehingga meskipun tidak secara langsung mempengaruhi, milk fever diprediksi menurunkan tingkat kesuburan sapi (fertility).

Strategi Pencegahan Milk Fever
1. Kalsium dalam pakan.
Pemberian pakan dengan kandungan Ca > 100 g/hari selama masa dry pregnant berhubungan dengan meningkatnya risiko kejadian milk fever. Sapi dengan berat 500 kg membutuhkan 31 g Ca/hari untuk maintenance dan kebutuhan fetus pada kebuntingan akhir.  Bila sapi selama dry pregnant diberi pakan dengan kandungan Ca yang tinggi (>100g/hari), kebutuhan Ca dapat dipenuhi semuanya hanya dengan transport pasif dari Ca dalam pakan. Transport aktif dan penyerapan Ca dari tulang, tertekan dan tidak terjadi. Hasilnya, pada saat melahirkan, pada saat  sapi membutuhkan Ca dalam jumlah tinggi sapi tidak bisa menggunakan mekanisme penyerapan Ca dari tulang maupun transport aktif Ca dari pakan. Akibatnya, sapi akan mengalami hipokalsemia berat sampai mekanisme tersebut bisa di rangsang dan bekerja yang biasanya berlangsung dalam beberapa hari setelah melahirkan.
Pakan dengan Fosfor yang tinggi (>80g PO4/hari) juga meningkatkan risiko terjadinya milk fever. Hal ini terjadi karena tingginya Fosfor dalam darah akan secara langsung menghambat enzyme yang mengkatalisis pembentukan 1,25 dihidroksi vitamin D di ginjal. Hal ini akan menurunkan produksi 1,25 dihidroksi vitamin D yang pada akhirnya juga menurunkan resorbsi Ca dari lumen usus halus sebelum kelahiran.

2. Pemberian Garam Anionik
Keseimbangan kation-anion dalam pakan sapi transisi sebelum melahirkan terbukti bisa mempengaruhi kejadian Milk fever. Pakan dengan kandungan kation yang tinggi khususnya Na + , K + dan Ca ++  cenderung menyebabkan Milk fever. Pakan dengan kandungan anion yang tinggi khususnya Cl – dan S – bisa mencegah terjadinya Milk fever. Pakan sapi transisi yang cenderung banyak hijauan, banyak mengandung kation, khususnya K +. Hal ini akan mengakibatkan sapi akan berada pada kondisi metabolic alkalosis yang bisa dilihat dari tingginya pH urine. Penambahan anion akan menakibatkan penurunan metabolic alkalosis bahkan bisa menyebabkan metabolic acidosis.
Hormon paratiroid dan 1,25 dihidroksi vitamin D menurun kemampuannya dalam metabolisme Ca bila kondisi darah adalah alkaline. Dan akan meningkat apabila kondisi darah asam.  Ada cara untuk menghitung perbedaan kation anion dalam pakan (DCAD = Dietary Cation Anion Difference) yang bisa digunakan untuk menghitung seberapa banyak anion yang harus ditambahkan dalam pakan agar bisa mengakibatkan metabolic acidosis. Perbedaan tersebut dinyatakan dalam mEq.

3. Injeksi Vitamin D
Vitamin D berperan dalam metabolisme Ca seperti yang sudah dijelaskan pada pemaparan sebelumnya. Penambahan dalam tubuh dari sumber luar akan membantu penyerapan Ca dari lumen usus halus.

4. Treatment Pencegahan dengan Calcium Chloride
Calcium Chloride telah dipakai secara efektif sebagai sumber Ca untuk pencegahan Milk fever. Senyawa ini merupakan bentuk Ca yang ketersediaannya sangat bagus. Bentuk  Ca lain seperti limestone (CaCO3) Calcium propionate diserap kurang bagus. CaCl2 juga merupakan senyawa yang bersifat asam. Kombinasi dari ketersediaan yang baik, sifat asam dan by pass sebagian oleh rumen mampu meningkatkan kadar Ca darah. Puncak Ca darah bisa dicapai dalam 30 menit setelah pemberian oral dan akan menurun lagi setelah 24 jam.
Calcium Chloride merupakan garam Ca yang sangat mudah larut dan ionisasi akan meningkatkan penyerapan Ca. Penyerapan Ca dari CaCl2 bisa terjadi baik dalam bentuk transport aktif maupun pasif. Pemberian CaCl2 oral mampu menurunkan kejadian Milk fever klinis dari 11,8% menjadi 4,9%. Oral CaCl2 juga mampu menurunkan Milk fever subklinis dari 52% menjadi 29,4%, juga mampu menurunkan kejadian LDA dari 7,8% menjadi 1%.
Oral CaCl2 juga bisa digunakan untuk kasus Milk fever yang kadar Ca darahnya sampai   4 g/100ml. Oral CaCl2 juga bisa digunakan untuk mencegah kejadian Milk fever yang berulang setelah treatment Ca intravena dilakukan. CaCl2 adalah senyawa yang iritan sehingga dapat menimbulkan risiko yang mengiringi administrasi oral. Bila sampai terjadi aspirasi pneumonia maka akan mengakibatkan iritasi  saluran pernafasan dan alveolusnya. Pengguanaan dalam bentuk gel mengurangi risiko yang mungkin  terjadi.

Drh. Joko Susilo
Medik Veteriner  Muda, Balai Veteriner Lampung
Direktorat Kesehatan Hewan, Dirjen PKH
Kementrian Pertanian RI


1 komentar:

Risa Antari on September 9, 2016 at 1:48 PM said...

Terimaksih postingannya menarik....membantu proses belajar kami para mahasiswa

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template