Monday, June 8, 2015

Di Balik Peluang Ada Peluang

Oleh : Ir. Bambang Suharno

Di balik kesulitan ada kemudahan. Di balik kemudahan, mungkin saja ada kesulitan, dan bisa juga ada kemudahan yang lain. Jika bisnis  Anda terasa berat untuk melakukan pertumbuhan, mungkin saja anda tengah mendaki menuju puncak kesuksesan. Sebaliknya jika terasa berjalan ringan, hati-hatilah , siapa tahu di depan ada jurang.

Cerita tentang krisis melahirkan peluang baru, sudah sering kita dengar. Mereka yang  sukses di tengah krisis adalah yang percaya bahwa dalam situasi yang sulit mereka dapat melakukan langkah lompatan yang orang lain tidak bisa lakukan. Mereka punya cara berpikir sendiri; di balik kesulitan ada kemudahan.

Ada pula orang yang melihat di balik kemudahan ada kemudahan baru. Tatkala ada trend bisnis tertentu, yang hanya dinikmati masyarakat kelas tertentu, akan muncul orang mampu mengikuti perubahan dan memanfaatkannya meskipun bukan termasuk kelas tertentu tersebut.

Tahun 1800an, di California Amerika Serikat banyak orang ingin  masuk ke bisnis tambang emas karena potensinya sangat menjanjikan. Waktu itu banyak konglomerat, orang-orang pintar, dan pejabat menginvestasikan uangnya di bisnis tambang emas. Benar, bisnis tambang  emas saat itu sangat booming, dimana-mana orang memilih berbisnis tambang emas kalau ingin meraih potensi besar. Hanya saja yang bisa berbisnis tambang emas adalah mereka yang punya keahlian, dan sudah punya modal, atau mereka yang punya kenalan yang punya modal.

Namun sebagaimana bisnis pada umumnya, tidak  semua orang dapat meraih sukses di bisnis tambang emas. Sekitar 90% pebisnis gagal di 5 tahun pertama, dan 5 tahun berikutnya ada 90% lagi yang gagal. Yang tak terduga-duga adalah ada seorang bernama Sam Brannan yang menjadi milioner pertama di California saat itu tanpa menjadi penambang emas.

Dia adalah orang biasa (bukan orang kaya) yang menjual sekop dan alat-alat pertambangan emas. Usaha itu laku keras. Di era yang hampir bersamaan, ada orang lain yang bernama Levi Strauss, yang mencoba peruntungan dengan menjual tenda ke para penambang emas. Sayangnya ia kurang berhasil, karena ternyata sudah banyak yang jual tenda.

Levi Strauss tidak kehilangan akal. Ia percaya pasti ada peluang lain di tengah “kerumunan” penambang emas. Karena punya keahlian menjahit, maka ia mencoba membuat celana yang nyaman dan tahan lama untuk dipakai oleh para penambang emas. Rupanya dari sinilah aliran rejeki Levi Strauss mulai mengalir deras.

Ia akhirnya menjadi milioner juga dalam era pertambangan emas, karena menjual banyak sekali celana jeans ke para penambang emas saat itu. Bukan hanya itu, celana jeans dengan merk Levis itu kemudian berkembang menjadi celana untuk semua orang di manapun di dunia. Bisnisnya berkilau melebihi kilau bisnis tambang emas.

Pertanyaan yang kerap muncul, bagaimana mereka bisa sukses menangkap peluang, sementara yang lain hanya sebagai penonton saja? Mengapa yang lain bisa terus optimis di masa apapun, sebaliknya ada yang tetap mengeluh meski situasi ekonomi negara makin baik.

Jennie S. Bev seorang penulis Indonesia yang tinggal di AS mengatakan, yang penting bagi kita yang mau sukses dalam situasi apapun adalah mindset sukses. “Success is a mindset. It is not a journey, nor a destination. It is already within you,” katanya. Jadi sukses itu mindset, bukan perjalanan, bukan tujuan. Sukses itu sudah ada di dalam diri  kita, tinggal dibangunkan saja dari tidurnya.

Menurut American Heritage Dictionary, mindset adalah keyakinan teguh yang menjadi dasar bagi respons-respons dan interpretasi yang dimiliki oleh seseorang terhadap sesuatu kejadian. Terhadap kejadian yang sama, seseorang bermindset sukses mempunyai respons dan interpretasi yang berbeda dengan seseorang yang bermindset pecundang. Contoh mudahnya, apabila seseorang mengalami kesusahan hidup, seorang sukses selalu melihat kesulitan sebagai guru yang baik, karena ia bisa belajar bagaimana mengatasi kesusahan di masa depan. Sebaliknya seorang pecundang, menjadikan kesulitan hidup sebagai alasan mengapa ia sekarang bernasib seperti sekarang, yaitu “malang.” Ia mencari kambing hitam untuk menjelaskan mengapa ia mengalami kegagalan hidup dan hidup penuh kemalangan seperti sekarang ini.

Levi Strauss  tidak mampu ikut menjadi investor tambang emas karena tidak punya modal, namun ia terus mencari cara agar bisa ikut bergerak meraih pendapatan besar seiring booming tambang emas. Ia memiliki mindset sukses, sehingga tidak mencari-cari alasan bahwa rakyat biasa tak mungkin bisa menikmati dampak booming-nya tambang emas.***

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template