Friday, May 11, 2012

CRD BANYAK DITEMUI DI KANDANG TERTUTUP

Pantas dan perlu untuk diungkapkan tentang sinyalemen sebagian pengamat dan praktisi yang selalu berasumsi bahwa penyakit pernafasan terutama Chronic Respiratory Disease (CRD) banyak dijumpai di kandang model tertutup. Sistem perkandangan yang lebih dikenal dengan istilah Closed Housed (CH) memang di Indonesia meskipun sudah dikenal cukup lama, namun aplikasi di lapangan tidak begitu cepat diadopsi oleh peternak.

Hal itu oleh karena memang iklim untuk diterapkannya system itu kurang kondusif, terutama kala itu ada regulasi yang mengatur jumlah kepemilikan ayam/populasi setiap peternak atau perusahaan. Regulasi yang dibuat saat rezim Orde Baru itu memang seolah ada niat baik pemerintah untuk mengkapling usaha budidaya ayam negeri (ayam potong dan petelur) sebagai wilayah peternak dan pemodal skala menengah. Sedangkan para pemodal kuat dan perusahaan besar untuk diarahkan menggarap segmen usaha di hulu dan hilir.
 
Toh pada kenyataannya, aturan yang kala itu dikenal dengan Keppres No 50 tahun 1981 dan kemudian diperbaharui menjadi Keppres No 22 tahun 1990 tentang pembatasan skala usaha budidaya ayam potong dan petelur itu, tidak mampu efektif berlaku. Skala usaha kala itu tetap saja menggiurkan bagi investor besar untuk menggarap, namun secara kamuflase alias tersembunyi. Muncul kiat para pemodal besar untuk menyikapi aturan itu dengan membagi skala usaha dengan berbagai cara dan modus. Argumentasi para pemodal besar, yang mengakali aturan itu adalah aspek efisiensi dan target capaian keuntungan. 
 
Akhirnya ketika rezim Soeharto jatuh dan beralih ke Orde Reformasi, saat Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berkuasa, aturan Skala Usaha Budidaya Ayam potong dan petelur itu dicabut dan diganti dengan Keppres No 85 tahun 2000. Keppres baru yang ditanda tangani oleh Gus Dur itu pada intinya kembali menegakkan Undang-undang (UU) No 6 tahun 1967 (kini No UU No 19 tahun 2009) dan UU No 9 tahun 2000 tentang Usaha Kecil dan UU No 9  tahun 2000 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.
 
Uraian sekilas itu merupakan gambaran latar belakang mengapa perkemba­ngan aplikasi CH di perunggasan Indonesia terkendala. Hal itu diungkapkan oleh para praktisi perunggasan Drh  Drh Boris Budiarto dan  Drh Harry Wibowo yang ditemui secara terpisah.
 
Menurut Boris, lambannya aplikasi CH di Indonesia memang dapat memunculkan penafsiran yang beraneka macam. Salah satunya memang, terkait erat de­ngan aspek kepercayaan peternak tentang titik impas usaha dan nilai/besarnya investasi untuk pembuatan CH. Padahal kendala terbesar aplikasi itu justru pada aturan/regulasi dari pemerintah. Dan setelah hampir satu dekade (10 tahun) pasca dicabutnya regulasi pembatasan skala usaha peternakan ayam, kini semakin nampak respon positip para pelaku usaha untuk menerapkan system kandang CH,
 
Berkaitan dengan sinyalemen bebe­rapa praktisi tentang potensi kasus penyakit CRD di  kandang CH, menurut Boris adalah sah-sah saja. Karena bagaimanapun pendapat itu tentu atas dasar pe­ngalaman dan pengamatan lapangan dari mereka selama ini. Namun demikian, jika saja hal itu kemudian menjadi ke­simpulan dan harga mati, maka justru hal itu menjadi yang tidak benar. “Mengapa demikian? Potensi penyakit apapun dapat terjadi dimana dan kapan saja. Namun jika tatakelola dengan benar dan baik, sudah barang pasti tidak akan dijumpai hal yang merugikan itu,” ujar Boris yang menjabat sebagai Direktur Operasinal PT Biotek Indonesia.
 
Boris menduga bahwa disamping kurang baik dalam tatakelola CH oleh para operator, maka kemungkinan terbesar justru oleh karena konstruksi dan cara pengoperasian sistem kandang CH yang salah. Seperti diketahui, bahwa para peternak ayam banyak sekali mendapatkan penawaran untuk pembangunan kandang CH dari para pemasar dan kontraktor CH. Namun hanya sedikit sekali, kontraktor/pelaksana pembuatan CH yang benar-benar memahami konstruksinya yang baik dan benar. Maka benar saja, seandainya saat ini banyak keluhan dari para peternak CH yang mengeluhkan optimalisasi produktifitas ayamnya. Termasuk dalam hal ini potensi yang tinggi kasus penyakit CRD. Namun, jika konstruksi CH nya benar dan baik serta tatakelolanya juga benar dan baik, maka dengan sendirinya produktifitas akan optmal sebagaimana yang selama ini di iklankan.
 
Menurut Boris, sebenarnya tidak hanya CRD saja yang berpotensi tinggi menyerang ayam di kandang CH. Artinya penyakit lainpun juga mempunyai probabilitas tinggi untuk menyebabkan wabah besar di dalam kandang CH. Hanya memang selama ini penyakit pernafasan dan pencernaan lah yang sering menjadi masalah. Hal itu oleh karena umumnya fungsi peralatan pengatur sirkulasi udara dalam CH yang tidak berfungsi secara baik.
 
Aplikasi kandang CH pada usaha budidaya ayam komersial pada saat ini memang sedang menjadi trend. Maka menjadi wajar, jika persoalan yang bersifat mendasar masih sering dijumpai dan butuh pendampingan ekstra intensif dari para praktisi CH. Maka tidak tepat jika kemudian muncul kesimpulan bahwa penyakit CRD banyak dijumpai pada kandang sistem CH.
 
Sedangkan menurut Drh Harry Wibowo, sebenarnya kasus penyakit konvensional akan jauh berkurang pada kandang CH. Sebab ayam di dalam kandang CH akan mencapai tingkat kenyamaan dan terpenuhinya kebutuhan sesuai prasyarat pertumbuhan ayam. Hal itu terutama jika dibandingkan dengan system kandang terbuka yang selama ini masih banyak dipakai oleh para peternak di Indonesia. Aspek produktifitas sudah pasti akan mencapai tingkat tertinggi, yang de­ngan kata lain faktor gangguan penyakit akan berada pada titik terendah. Namun demikian jika operasionalisasi kandang CH yang tidak tepat akan berakibat yang sebaliknya. Yaitu produktifitas yang tidak baik dan bahkan aneka gangguan ke­sehatan termasuk CRD yang sangat mungkin sangat sering terjadi.
 
Baik Boris maupun Harry berpendapat bahwa peluang kasus penyakit CRD memang  akan sangat tinggi terjadi di kandang terbuka dan konvensional da­ripada kandang sistem CH. Namun bukan berarti kasus penyakit itu tidak dijumpai pada kandang sistem CH, bahkan akan bissa terjadi sangat tinggi munculnya kasus penyakit itu, jika tatakelola dan operasionalisasi CH kurang baik.
 
Oleh karena itu menurut kedua praktisi itu, bahwa penyakit CRD akan mampu muncul dan menyerang ayam-ayam dimana saja ayam itu berada. Persoalan tingkat besar dan kecilnya kasus penyakit CRD sangat tergantung dari aspek pengelolaan saja. (iyo)

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template