Pemerintah Suriah yang baru telah memberlakukan pembatasan impor ayam beku, efektif mulai 15 Agustus 2025. Sebagai alasan di balik langkah ini, pihak berwenang menyuarakan kekhawatiran atas kualitas produk asing dan menekankan perlunya melindungi peternak lokal dari persaingan.
Keputusan ini muncul beberapa minggu setelah otoritas Suriah menangguhkan ekspor 20 produk pertanian, termasuk telur dan daging ayam broiler.
Dalam wawancara dengan kantor berita SANA, Saeed Ibrahim, Direktur Ekonomi dan Perencanaan Pertanian di Kementerian Pertanian, menekankan komitmen pemerintah untuk melindungi industri unggas melalui pembatasan impor ini. Langkah ini dipandang sebagai langkah signifikan untuk mendukung peternak lokal. Strategi baru ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada impor, memperkuat ketahanan pangan, dan meringankan beban perekonomian nasional.
Pembatasan ini akan direvisi sementara setiap bulan. Pembatasan ini dapat segera disesuaikan berdasarkan keseimbangan pasokan-permintaan yang ada dan situasi pasar. Karena pedagang lokal akan terpaksa bergantung pada produk lokal, hal ini akan mendorong peternak untuk memperluas operasinya.
Rezim mantan Presiden Bashar al-Assad di Suriah digulingkan pada Desember 2024, akibat serangan yang dilancarkan oleh pasukan oposisi, yang diwarnai perang. Peristiwa ini menandai berakhirnya perang saudara di negara itu yang dimulai pada tahun 2011.
Industri unggas mengalami kerusakan yang signifikan selama konflik, meskipun angka pastinya belum tersedia, terutama karena pemerintahan Assad dalam beberapa tahun terakhir hanya menguasai sekitar 60% wilayah Suriah.
Ketika perang pecah, Suriah memiliki industri unggas yang berkembang pesat dengan produksi tahunan sebesar 300.000 ton daging unggas dan 5 miliar telur, yang 1,5 miliar di antaranya diekspor ke negara-negara tetangga di Teluk Persia. Namun, akibat kerusakan industri ini, Suriah telah menjadi importir daging dan telur ayam selama beberapa tahun terakhir.
Menurut Observatory of Economic Complexity, pada tahun 2023, Suriah mengekspor unggas senilai hanya US$1,1 juta, dengan seluruh jumlah tersebut dikirim ke Lebanon. Total impor mencapai US$31,6 juta, yang seluruhnya berasal dari Turki.
Pemerintahan Suriah yang baru membatasi perdagangan pangan, yang baru mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Selama satu dekade terakhir, perdagangan pangan telah terhambat oleh sanksi internasional yang keras terhadap rezim Assad. Pada Mei 2025, Presiden AS Donald Trump dan Uni Eropa memerintahkan pencabutan sanksi terhadap Suriah.


0 Comments:
Posting Komentar