Wednesday, February 22, 2017

BALITBANGTAN LUNCURKAN VARIETAS AYAM LOKAL PEDAGING UNGGUL

Ciawi, Bogor - Balai Penelitian Peternakan, Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) meluncurkan varietas Ayam Lokal Pedaging Unggul (SenSi-1 Agrinak) sebagai varian lanjutan dari Ayam KUB.
Varietas ayam lokal dari hasil permurnian ayam Sentul terseleksi ini menghasilkan ayam lokal pedaging yang memiliki keunggulan bobot tubuh dibandingkan ayam lokal non unggul (dengan bobot tubuh 800 - 1000 gr/umur 10 minggu) dan relatif lebih tahan terhadap penyakit flu burung dan tetelo.

Demikian disampaikan Plt Kepala Pusat Penelitian Peternakan Kementan, Dr. Fadjry Djufry saat memberikan keterangan pers dalam acara peluncuran Ayam Lokal Pedaging Unggul (SenSi-1 Agrinak, di kantor Balai Penelitian Ternak Ciawi, Selasa (21/2). Fadjry menjelaskan, "Tersedianya salah satu galur unggul ayam lokal di dalam negeri untuk menghasilkan ayam pedaging yang dapat meningkatkan penyediaan bibit DOC, sekaligus meningkatkan efisiensi budidayanya," jelas Djufry yang ditemui Infovet disela acara launching.
Plt Kepala Pusat Penelitian Peternakan Kementan, Dr. Fadjry Djufry
didampingi Kepala Balai Penelitian Peternakan Dr. Suharsono saat jumpa pers. 
Kepala Balai Penelitian Peternakan Dr. Suharsono menambahkan, ayam SenSi-1 (Sentul Terseleksi) Agrinak merupakan karya pertama peneliti. Galur baru ini merupakan salah satu galur murni (pure line) ayam lokal pedaging unggul, yang dapat dimanfaatkan sebagai ayam niaga (final stock) dan/atau sebagai ayam tetua (parent stock).
"Galur ini telah ditetapkan sebagai galur ayam lokal pedaging asli Indonesia berdasarkan SK Mentan Nomor 39/Kpts/PK.020/1/2017, tanggal 20 Januari 2017, tentang Pelepasan Galur Ayam SenSi-1 Agrinak," tambahnya.
Suharsono memaparkan bahwa Balitbangtan, Kementerian Pertanian melalui Balitnak pada tahun 1997-1998 berinisiasi melakukan penelitian breeding ayam lokal dengan mendatangkan indukan ayam lokal dari beberapa daerah di Jawa Barat yakni dari Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur; Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka; Kecamatan Pondok Rangon, Kota Depok; Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor; dan Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor. Tahun 2009, Balitnak mendatangkan indukan rumpun ayam Sentul dari Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.
Rumpun ayam Sentul ini mempunyai postur tubuh yang khas dan didominasi warna bulu abu polos yang khas, meskipun di tempat habitatnya ayam Sentul ini masih mempunyai keragaman warna bulu dan bentuk jengger, sebagai akibat perkawinan dengan rumpun asli ayam Kampung. Rumpun ayam Sentul telah ditetapkan dengan SK Mentan Nomor 698/Kpts/PD.140/2/2013, tanggal 13 Februari 2013 sebagai ayam nasional lokal asli dari wilayah Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.
Pengenalan ayam lokal pedaging unggul SenSi-1 Agrinak hasil penelitian Balitbangtan.
Penelitian yang dipimpin oleh Prof. Sofjan Iskandar dan Dr. Tike Sartika melakukan proses seleksi individu jantan pada umur 10 minggu untuk bobot tubuh permintaan pasar (berkisar 0,8 - 1 kg/ekor). Warna bulu dominan adalah pucak (putih bercak hitam] dan abu serta berjengger kacang (pea). Seleksi dilakukan di Balitnak selama 5 tahun, dengan tujuan untuk mendapatkan keseragaman tampilan dan perbaikan bobot hidup terutama pada ayam jantannya. Namun pada ayam betina tidak dilakukan seleksi bobot badan hanya warna bulu yang seragam pucak abu, agar warna bulu abu ayam SenSi-1 Agrinak tidak banyak berubah warna bulu rumpun aslinya.
Selain kriteria seleksi yang diberlakukan pada rumpun ini, lingkungan optimum, terutama kualitas pakan ditetapkan pada kualitas 17% protein kasar dengan 2800 kkal ME/kg selama masa pertumbuhan sampai dengan umur 20 minggu. Pertimbangan ini diambil untuk mengantisipasi kondisi pemeliharaan di peternak. Pemberian pakan dengan kualitas lebih baik diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan dan nilai ekonomis lebih baik.
Foto bersama tim Balibangtan dan asosiasi peternak dan perusahaan pembudidaya unggas lokal. 
Suharsono mengungkapkan pada tahun 2016 telah dilakukan Kerjasama Pra Lisensi untuk produksi bibit Ayam SenSi dalam rangka penyebaran bibit dengan 6 perusahaan. Yaitu PT Sumber Unggas di Cogreg Bogor Jawa Barat, Warso Unggul Farm Tangkil Bogor Jawa Barat, Dedi Farm Gunung Endut Sukabumi Jawa Barat, Badan Usaha Milik Tiyuh (desa) di Kabupaten. Tulang Bawang Barat Lampung, DNR Farm Ciampea Bogor Jawa Barat dan PT. ISFIN di Sleman Yogyakarta.
"Hasilnya, sampai saat ini telah dilakukan perbanyakan bibit sebanyak 100 ribu DOC yang untuk saat ini akan dikonsentrasikan di wilayah Jabodetabek. Diperkirakan populasi yang semula 6.000 DOC jantan-betina (unsexed) ditambah dengan para peternak non-MoU sebanyak 2.000 DOC unsexed, diperkirakan telah bertambah dengan keturunannya kurang lebih 80.000 ekor sebagai tetua pengganti," ungkap Suharsono.
Perlu diketahui, Ayam SenSi-1 Agrinak memiliki banyak keuntungan. Pertama, bobot hidup rata-rata pada umur 10 minggu untuk jantan 1066 lebih kurang 62,5 g/ekor dan untuk betina 745 lebih kurang 114 g/ekor. Kedua, konsumsi pakan umur 0-10 minggu sebanyak 2,7-3,2 kg/ekor. Ketiga, umur pertama bertelur 174 lebih kurang 17,69 hari. Keempat, bobot umur pertama bertelur 1909 lebih kurang 219 gr/ekor. Kelima, produksi telur puncak 61,98 lebih kurang 8,66 % hen day.
Kemudian, Keenam, puncak produksi telur pada umur ayam 34,5 ± 4,05 minggu. Ketujuh, bobot telur pertama seberat 32,83 ± 4,76 g, akan bertambah terus sampai 44,82 ± 3,63 g/butir pada saat puncak produksi. Kedelapan, Fertilitas sebesar 85,47 atau lebih kurang 6,58 %.
"Kesembilan, manfaat yang tidak kalah menariknya yaitu rata-rata produksi telur selama 40 minggu masa bertelur sebesar 39,58 % henday production. Angka kesuburannya pun tinggi mencapai 85,5%," pungkas Suharsono. (wan)

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template