Sunday, September 25, 2016

Mengenang Dr. Drh. Soehadji ; Butir-Butir Pasir Membangun Gunung

Buku karya Soehadji terbitan Gita Pustaka


Hari Minggu, 25 September 2016, sekitar jam 15 kami menerima kabar duka cita yang mengejutkan; Innalilahi wainnailaihi Rojiun. Telah meninggal dunia Dr. Drh. H. Soehadji, mantan Dirjen Peternakan. Semoga Khusnul Khotimah. Aamiin. (dari Drh. Andi Wijanarko).

Meskipun meninggal di usia 80 tahun, kepergiaan Dr. Soehadji tetap mengagetkan kami. Minggu lalu, ia datang ke kantor Infovet dalam kondisi yang segar bugar dalam usia 80 tahun. Waktu itu ia mengabarkan tentang rencana Kongres Peternak Rakyat yang konon akan diselenggarakan bersamaan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2016. Ia menunjukkan usulan tema dengan kalimat yang apik "Merakyatkan Peternakan Rakyat". "Saya sudah usulkan tema ini ke Pak Teguh Boediyana (Penggagas kongres)," ujarnya bangga, sambil menunjukkan draft disain konsep kongres.


Minggu sebelumnya, ia datang untuk meng-copy lagu "Ayam dan Telur" karyanya sewaktu menjadi Dirjen Peternakan, yang hilang bertahun-tahun dan baru ketemu bulan Agustus lalu oleh sekretaris Pinsar Indonesia, Samhadi.

Butir-Butir Pasir Membangun Gunung

Kisah hidup Soehadji ibarat butir-butir pasir yang mampu membangun gunung.  Ia lahir dari keluarga biasa. Berjuang keras hingga meraih gelar dokter hewan dari IPB lantas memulai karir dari kecamatan dan terus menanjak hingga menjadi Dirjen Peternakan.

Banyak karya dan kata-kata bijak Soehadji semasa menjabat sebagai Dirjen Peternakan selama 8 tahun (1988-1996). Di setiap pidato, pejabat yang satu ini sangat pandai memukau audiens. Jujur saja, selama saya bergaul dengan para pejabat khususnya di lingkungan Kementerian Pertanian, hanya Soehadji yang sambutannya ditunggu para audiens. Pejabat lain umumnya sangat normatif dalam menyampaikan sambutan. Tak heran, para hadirin lebih suka ngobrol sendiri bahkan ada yang ngantuk ketika pejabat menyampaikan sambutan.

Kata-kata yang dikutip dari Edward Young ini, ia sampaikan saat menyampaikan orasi Doktor Honouris Causa di Unpad Bandung tahun 1994. "Janganlah kau abaikan apapun yang kamu alami. Detik-detik menjadi tahun, butir -butir pasir membangun gunung, pengalaman kecil membangun kehidupan".

Melihat riwayat hidupnya, memang perjalanan hidup Soehadji bagai butir pasir membangun gunung. Soehadji lahir di Sawah Lunto, Sumatera Barat 26 Februari 1936, saat ayahnya bekerja di sebuah perusahaan pertambangan. Namun ayahnya meninggal diwaktu ia masih sekolah dasar.
Ia dan keluarganya balik ke kampung orang tuanya di Madiun Jawa Timur, memulai hidup dengan sederhana bersama ibundanya.

Berkat kerja kerasnya ia berhasil lulus sebagai dokter hewan IPB tahun 1962. Nah sejak lulus itulah hidupnya menjadi dramatis. Sebagai dokter hewan lulusan tahun 1960an, tentunya ia bisa menjadi PNS dimanapun sesuai kemauannya. Namun ia tidak menolak ditempatkan di kecamatan Sendawar Kabupaten Kutai, Kalimantan Timur (Bayangkan situasi Kecamatan di Kutai tahun 1962). Menurut Soehadji, ada tiga orang yang ditempatkan di Kaltim, dan yang bertahan di sana hanya Soehadji seorang. Dua orang lainnya memilih pergi ke kota.

Tugas pertama sebagai dokter hewan muda sangat jauh dari bayangannya. Ia harus bergaul dengan masyarakat yang semula hidup berpindah-pindah. Ketika Soehadji muda diberi tugas menyebarkan sapi bantuan pemerintah ke masyarakat. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengenalkan ke masyarakat "ini sapi".

Dan ketika ia menjelaskan tentang memelihara sapi, masyarakat berkeluh kesah ," pak kami hidup sudah susah, jadi jangan bapak kasih beban kesusahan lagi," kata Soehadji menirukan keluhan masyarakat ketika mendapat bantuan sapi. "Rupanya bantuan sapi yang saya bayangkan membuat mereka bahagia, malah dianggap sebagai beban," katanya sambil tertawa mengenang persitiwa itu ketika berbincang dengan Infovet belum lama ini.

Dari situlah jiwa leadership Soehadji mulai terasah. Ia melihat, masyarakat setempat umumnya patuh sama pastur. Ma ka ia berkenalan dengan Pastur dan suatu hari ia meminjam traktor (milik gereja) untuk dibawa keliling kampung. Saat itulah masyarakat mulai mendengar dan mengikuti saran-saran Soehadji sebagai orang Dinas yang dekat dengan Pastur.

Soehadji yang memulai hidup berkarya di daerah terpencil kemudian diangkat menjadi kepala Dinas Peternakan Kabupaten Kutai dan selanjutnya menjadi Kepala Dinas Peternakan Provinsi Kaltim.
Karya Soehadji di Kaltim masih dikenang sampai sekarang. Salah satunya adalah logo Provinsi Kaltim yang bertuliskan "Ruhui Rahayu". Meskipun sudah lama meninggalkan tanah Kaltim , Soehadji masih sering diundang sebagai narasumber dan penasehat di Provinsi Kaltim. Bahkan buku "Berjuang Untuk Mencapai Puncak" yang diterbitkan GitaPustaka (Infovet Group) di-launching di Samarinda dan dihadiri oleh para pejabat provinsi setempat, setelah sebelumnya di-launching di Jakarta. (Bagi Anda yg belum punya buku tersebut hubungi GITAPustaka 021 7829689 email Gita.pustaka@gmail.com atau klik www.jurnalpeternakan.com).

Hingga akhir hayatnya Soehadji masih dipercaya sebagai salah satu tokoh Kaltim antara lain sebagai anggota forum pembangunan Kaltim.

Semasa menjabat Kepala Dinas Peternakan Provinsi, ia sering mendapat kepercayaan dari Gubernur Kaltim untuk ke Jakarta bertemu dengan pejabat pemerintahan pusat. Mungkin karena dilihat kemampuan leadership dan lobbynya, ia diminta oleh Dirjen Peternakan Prof Hutasoit untuk pindah ke Jakarta menjadi Direktur Bina Program.  Dari jabatan ini kemudian menjadi staf ahli Menteri Muda Urusan Pembangunan Peternakan dan Perikanan.

Dan kemudian puncaknya adalah tahun 1988 ia menjadi Dirjen Peternakan. Semasa Dirjen, ia juga pernah dipercaya sebagai Direktur organisasi kesehatan hewan dunia (OIE) wilayah Asia Pacific dan Oceania.

Selama 8 tahun menjadi Dirjen, banyak sekali karyanya yang hingga sekarang masih dipakai oleh pemegang kebijakan. Cara membuat kebijakan pun sangat kreatif sehingga mudah dipahami publik. Misalnya kebijakan tentang sapi potong, yang dicanangkan di Lampung tahun 1990an. Ia menggunakan istilah "Gaung dari Lampung". Gaung adalah singkatan dari Tiga Ung.
Tiga ung yang dimaksud adalah peternakan rakyat sebagai Tulang Pungg(ung), impor sapi bakalan sebagai penduk(ung), impor daging sebagai penyam(bung). Karena dicanangkan di Lampung maka disebut sebagai Gaung dari Lampung.

Di bidang perunggasan ia menggambarkan polemik di perunggasan dengan Lingkaran Siput, yang merupakan singkatan "Selalu Itu Permasalahannya Untuk Tuduh-Tuduhan". Yang menarik, bukan hanya singkatannya, melainkan juga  diagram lingkaran siputnya yang bisa dengan gamblang menjelaskan duduk permasalahan perunggasan. Ia juga yang menciptakan konsep industri peternakan rakyat, disingkat Inayat. 

Ketika tahun 1991 terjadi kemarau panjang hingga peternak kesulitan bahan baku pakan, Soehadji melakukan Operasi pendekar, singkatan dari Operasi penanggulangan Dampak kekeringan, berupa impor bahan baku pakan dengan bea masuk nol persen, dimana hasil jimpitan operasi itu diserahkan ke organisasi peternak unggas. Ia juga menciptakan program Gerbang Serba Bisa (Gerakan Pembangunan Sentra Perbibitan Pedesaan). Di bidang kesehatan hewan, ia menciptakan konsep boarding system dalam kegiatan pemberantasan penyakit hewan.

Sementara itu konsep Soehadji tentang jenis campur tangan pemerintah terhadap peternakan berdasar skala usahanya, saat ini masih menjadi materi kuliah di berbagai Fakultas Peternakan. Sungguh , demikian banyaknya daya inovasi Soehadji sebagai Dirjen Peternakan, hingga kita sulit menghitungnya.Yang tak kalah pentingnya, banyak diantara gagasan Soehadji yang masih sangat relevan dengan permasalahan sekarang, bahkan sangat mungkin masalah yang akan datang.

Bukan hanya karya dalam bentuk konsep, ia juga aktif di berbagai organisasi. ia adalah salah satu pendiri Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI), dimana hingga akhir hayatnya masih dipercaya sebagai anggota dewan penasehat ASOHI. Semasa pensiun ia juga aktif di Dewan Daging Sapi Nasional (DDSN), PORDASI (Perhimpunan Olah Raga Berkuda Seluruh Indonesia),  Kamar Dagang dan Industri dan berbagai organisasi lainnya.

Lagu "Ayam dan Telur"

Soehadji juga sangat peduli terhadap kampanye gizi khususnya kampanye konsumsi ayam dan telur sebagai sumber protein yang harganya terjangkau masyarakat . Bukan hanya ceramah tentang pentingnya konsumsi ayam dan telur maupun produk peternakan lainnya. Ia dengan daya kreatifnya mampu menciptakan lagu berjudul "Ayam dan Telur". Lagu tersebut liriknya diciptakan Soehadji dan aransemen lagunya oleh A Riyanto, pencipta lagu papan atas. Lagu itu direkam dalam sebuah kaset tahun 1990an dimana saat itu belum ada teknologi digital.

Malangnya, tahun 1996, kantor Dirjen Peternakan di Jl Salemba terbakar (Peristiwa Sabtu kelabu, ketika kantor PDI diserang dan dibakar, merembet ke kantor Dirjen Peternakan), dan kaset itu entah kemana, mungkin ikut terbakar. Beberapa kali ia menyampaikan rasa kehilangan lagu tersebut ke Infovet. "Karena itu lagu yang bagus, kok nggak ada yang menyimpan kasetnya," ujarnya meyayangkan.

Suatu hari di Bulan Agustus 2016 lalu sekretaris Pinsar Samhadi menemukan kaset rekaman lagu tersebut ketika sedang membongkar arsip. Rupanya ada copy kaset yang disimpan Ketua Umum Pinsar saat itu, Karyoto (Karyoto adalah pendiri Pinsar Indonesia bersama Soehadji). Saya langsung meminta agar kaset tersebut dibawa ke studio agar ditransfer menjadi file MP3.

Rupanya kaset tersebut isinya bukan hanya lagu ayam dan telur, melainkan juga lagu Susu sapi dan lagu "Lima Sehat Lagi Sempurna" . Ketiganya karya Soehadji. (Kini lagu "ayam dan telur" karya Soehadji  bisa kita nikmati dengan membuka website Pinsarindonesia.com. Coba buka dari komputer, bukan dari hp, dan anda dengarkan, liriknya indah dan lagunya enak didengar. Saya yakin anda mengacungkan jempol).

"Syukur Alhamdulillah, akhirnya ketemu juga. Saya ingin memutar lagu ini saat Rapat Dewan Penasehat ASOHI agar teman-teman mendengar ini lho lagu karya saya," ujar Soehadji ketika menerima copy lagu tersebut. Soehadji tampak sangat bahagia menerima copy lagu tersebut.

Rupanya Tuhan berkehendak lain. Sebelum sempat Rapat Dewan penasehat ASOHI berlangsung, Allah SWT memanggilnya. Innalilahi wainailaihi rojiun.
Soehadji telah berpulang ke Rakhmatullah. Namun karya-karyanya tetap lestari.
Semoga semua karya Soehadji menjadi amal ibadah yang tak terputus pahalanya sampai kapanpun dan kita dapat meneladani semua kebaikannya. Aamiin Ya Robbal Alamin.



Bambang Suharno.
Redaksi Infovet
Tim Penulis Biografi Dr Soehadji





 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template