Tuesday, February 9, 2016

Kapal Ternak Mulai Rutin Bawa Sapi ke Jakarta


Kapal ternak KM Camara Nusantara I bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok untuk ketiga kalinya pada pukul 06.30 WIB pagi ini dengan membawa 300 ekor sapi dari Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB).
Menteri Pertanian Amran Sulaiman didampingi jajaran Ditjennak, Karantina dan Bulog hadir menyambut kedatangan kapal tersebut yang sebelumnya membawa muatan penuh sebanyak 500 ekor ternak. Jenis ternak yang diangkut adalah 300 ekor sapi Bali yang diangkut dari Pelabuhan Tenau Kupang dan 200 ekor sapi Sumba Ongole yang diangkut dari Pelabuhan Waingapu dengan pelabuhan terakhir Pelabuhan Tanjung Priok.
Dari 500 ekor yang dibawa dari Pelabuhan Tenau, NTT, sebanyak 167 ekor sapi diturunkan di Cirebon tanggal 8 Februari lalu dan 33 ekor sapi di Surabaya tanggal 6 Februari. Kapal ternak KM Camara Nusantara I sebelumnya membawa 353 ekor sapi NTT ke Jakarta pada 11 Desember 2015 lalu. Kemudian dalam pelayaran kedua di Januari 2016 berlayar tanpa muatan karena tidak mendapat pasokan sapi.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman didampingi
Dirjen Peternakan & Kesehatan Hewan Muladno. 
Pakai Jasa Perantara
Amran menjamin kapal ternak tidak akan kosong lagi seperti pada pelayaran kedua. Sebab, pihaknya telah meminta 13 perusahaan yang berperan sebagai pedagang perantara untuk memasok 1.000 ekor sapi ke kapal ternak setiap bulan.
"Kita kerjasama dengan pengusaha ada 13, yaitu 10 dari pengusaha lokal di NTT. Minimal mereka pasok 2 kali sebulan, berarti 1.000 ekor," kata Amran saat menyambut kedatangan kapal ternak di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (9/2/2016).
“Ada pun 3 perusahaan lainnya adalah 2 BUMN dan 1 BUMD DKI Jakarta, yaitu PT Berdikari, Perum Bulog, dan PD Dharma Jaya. Ketiga pemain ini yang dominan, 10 lagi pengusaha lokal yang pasok ke Dharma Jaya dan Berdikari," papar Amran.
Diakuinya, harga sapi yang dipasok para pengusaha lokal ini lebih mahal daripada yang dipasok oleh Bulog, Berdikari, dan Dharma Jaya. Selisihnya antara Rp 1.000-2.000/kg bobot hidup.
Amran mengungkapkan bahwa ‎pihaknya sengaja menggandeng pedagang perantara agar semua pihak diuntungkan, baik peternak, pedagang, maupun masyarakat. Menurutnya, para pengusaha lokal pun harus terlibat.
Ia menambahkan bahwa pihaknya sengaja menggandeng pengusaha lokal untuk menjadi pedagang perantara karena tidak ingin mematikan mereka. Apalagi para pengusaha lokal tersebut sudah lama berbisnis sapi di NTT dan NTB.
"Kan biar pengusaha-pengusaha lokal juga terlibat, bukan kita ingin menghilangkan mereka," ‎kata Amran. Namun pengusaha-pengusaha lokal tak boleh mengambil keuntungan berlebih, harus wajar supaya peternak dan konsumen juga diuntungkan. Sapi harus dibeli dengan harga layak dari peternak, dan dijual dengan harga terjangkau bagi konsumen.
"Harus ada keseimbangan baru di mana peternak menikmati, mereka menikmati, konsumen juga menikmati," tukas dia.
Meski ada pedagang perantara, ‎dia menjamin harga sapi tetap murah, sampai di Jakarta Rp 35.000-36.000/kg bobot hidup dan dijual dalam bentuk daging sapi seharga Rp 85.000/kg ke masyarakat. "Harganya sampai di sini Rp 35.000-36.000/kg bobot hidup, dan Berdikari jual Rp 85.000/kg‎," tandasnya.
Menurut dia, kapal ternak akan mengubah struktur pasar dalam jangka panjang, memangkas rantai pasokan dan menekan biaya distribusi, sehingga harga sapi di peternak naik tapi harga di konsumen turun.

Mentan janji setiap bulan Kapal Ternak bisa angkut 1.000 ekor sapi
untuk penuhi kebutuhan wilayah konsumen. 
Per Bulan 1.000 Ekor 
Berdasarkan rekapitulasi data pengajuan Shipping Instruction (SI) sampai tanggal 29 Januari 2016, terdapat 13 perusahaan yang telah mengajukan permintaan untuk menggunakan kapal khusus ternak dengan jumlah ternak keseluruhan 1.063 ekor. Untuk pelayaran kali ini telah ditetapkan 9 perusahaan sebagai calon pengguna kapal, mengingat kapasitas kapal memiliki 500 ruang, sehingga ternak yang lainnya akan dimuat pada pelayaran berikutnya.
Hal ini membuktikan bahwa ketersediaan sapi potong di Provinsi NTT cukup banyak untuk dapat memenuhi angkutan kapal khusus ternak ke daerah konsumen. Kisaran harga sapi di pelabuhan bervariasi dan ditentukan berdasarkan B to B (Business to Business), sedangkan bobot badan ternak yang dikirim antara 275-325 kg.
Dari sisi efisiensi biaya, keberadaan kapal khusus ternak ini diharapkan mampu menghemat biaya, kemudian mengurangi susut ternak selama perjalanan karena menerapkan prinsip animal welfare selama perjalanan.
Setelah tanggal 2 Februari, jadwal pelayaran kapal khusus ternak selanjutnya adalah pada tanggal 16 Februari dan 1 Maret 2016. Kementerian Pertanian akan mensosialisasikan jadwal tersebut dan mendistribusikannya kepada Dinas yang menangani fungsi peternakan dan kesehatan hewan yang berada pada rute pelayaran, serta kepada BUMN/BUMD. Untuk selanjutnya Dinas-dinas tersebut dapat menginformasikan kepada calon pengguna kapal. (wan)

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template