Friday, June 6, 2014

MERS-CoV Mungkinkah Mendunia?

Waspadai virus mars VoC
Dunia dikagetkan dengan kemunculan virus flu unta atau Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-CoV). Berbagai hasil penelitian menaruh kecurigaan bahwa unta merupakan sumber penularan MERS-CoV. Adakah kemungkinan virus ini akan dapat menjadi pandemi, suatu wabah mendunia? Inilah ulasan Infovet.

Coronavirus dikenal sebagai infeksi saluran pernapasan ringan pada manusia, yang telah diidentifikasi sejak tahun 1960. Virus ini varian dari Coronavirus yang baru sehingga diberi nama Novel Coronavirus (MERS-Co V). Hal tersebut dipaparkan oleh Dr drh NLP Indi Dharmayanti MSi, Peneliti Bidang Virologi, Biologi Molekuler dan Penyakit Eksotis, Balai Besar Penelitian Veteriner Bogor.

Kita putar kembali waktu, tepatnya di Juni tahun 2012, novel betacoronavirus yang kemudian diberi nama Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-CoV) diisolasi dari penderita dengan demam dan gejala pernapasan berat yang kemudian dirawat di rumah sakit di Jedah, Arab Saudi. Spesimen pasien tersebut kemudian dibawa ke Neterherland untuk membantu dalam mengidentifikasi kasus. DNA Sekuen virus penyebab kemudian di upload di GenBank pada bulan September 2012. Sampai 22 April 2014, tercatat jumlah kasus laboratory-confirmed MERS-CoV di dunia berjumlah 333 orang dan 107 meninggal dunia.

 “Sejumlah besar virus RNA sebenarnya telah banyak menginfeksi di hewan termasuk kelelawar. Data surveilans yang terbatas menyebutkan bahwa sejumlah besar Coronavirus dengan berbagai diversitas dapat ditemukan pada kelelawar  berbagai spesies di beberapa daerah,” ungkap Drh Indi.

“Oleh karena itu, mengapa kelelawar diduga sebagai natural reservoir. Beberapa penelitian juga menemukan materi genetik MERS-CoV pada kelelawar di Saudi Arab mirip dengan MERS CoV manusia,” sambungnya.Lanjut dia, jalur penularan MERS-CoV pada manusia sementara ini adalah dengan  close contact, jadi belum ke airborne sebenarnya.

Prof dr Tjandra Yoga Aditama SpP(K), Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan, menguraikan bahwa hasil penelitian menunjukkan virus Corona yang  ditemukan pada unta (dromedary camel) 99,9% sesuai dengan genom pada manusia clade B MERS-CoV. Penelitian lain pada unta menunjukkan bahwa unta dewasa‎ sudah mempunyai antibodi terhadap MERS-CoV, angkanya bisa mencapai lebih dari 70% pada satu penelitian. Sedangkan anak-anak unta memiliki virus yang aktif, penelitian menunjukkan sampai 35% pada swab hidung unta muda.

“Ini merupakan satu dari tiga penelitian terbaru di 2014 tentang hubungan unta dengan MERS-CoV. ‎ Peneliti dari Amerika Serikat dan King Saud University berhasil mengisolasi virus MERS CoV pada usap (swab) hidung pada unta berpunuk satu, dan membuktikan bahwa sekuen genom di unta dan manusia adalah tidak berbeda,” ungkap Prof Tjandra kepada Infovet, Kamis (22/5) melalui surat elektronik.

Masih dibutuhkan penelitian lebih mendalam untuk memastikan, termasuk penelitian untuk mengetahui jalur penularan, penelitian kemungkinan pajanan dari binatang dan atau lingkungan dan kemungkinan rantai penularannya. Data-data hingga saat ini belum dapat membuktikan adanya penularan dari unta ke manusia secara jelas, karena hubungan langsung kausal belum ditemukan.

”Untuk sementara ini memang ada baiknya warga kita yang bepergian ke jazirah Arab untuk tidak kontak langsung dengan unta. Saya menganjurkan jangan ada paket kunjungan ke peternakan unta dalam paket perjalanan umroh jamaah kita,” tegas Prof Tjandra.  Selain itu, ada juga Anjuran WHO  lain yang menyebutkan agar jangan mengonsumsi susu mentah maupun makanan yang mungkin tercemar oleh kotoran binatang./nung.    

Selengkapnya bisa baca di edisi JUNI 2014

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template