SCAN APLIKASI ANDROID

SCAN APLIKASI ANDROID

EDISI SEPTEMBER 2018

Susunan Redaksi

Pemimpin Umum/Redaksi
Ir. Bambang Suharno
Wakil Pemimpin Umum/Usaha
Drh. Rakhmat Nuriyanto MBA
Redaktur Pelaksana
Ir. Darmanung Siswantoro
Koordinator Peliputan
Ridwan Bayu Seto
Nunung Dwi Verawati

Redaksi
Wawan Kurniawan, SPt, (Jabodetabek)
Drh Untung Satriyo (Jogja & Jateng)
Drh. Yonathan Rahardjo (Jatim)
Drh. Masdjoko Rudyanto (Bali)
Drh Heru Rachmadi (NTB)
Sadarman SPt (Riau)
Drh. Sry Deniati (Sulsel)
Drh. Joko Susilo (Lampung)
Drh Putut Pantoyo (Sumatera Selatan)

Kontributor
Prof Dr Drh Charles Rangga Tabbu,
Drh Dedy Kusmanagandi, MM,
Gani Haryanto,
Drh Ketut T. Sukata, MBA,
Drs Tony Unandar MS
Prof Dr Drh CA Nidom MS

Kabag Produksi & Sirkulasi
M. Farur Rozi

Staf Produksi & Sirkulasi
M. Sofyan, Achmad Febriyanto, Rizky Yunandi

Administrasi:
Nur Aidah,

Keuangan:
Eka Safitri
Achmad Kohar

Alamat Redaksi:
Ruko Grand Pasar Minggu
Jl. Raya Rawa Bambu No. 88A
Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520
Telp: (021) 7829689, 78841279, Fax: 7820408
e-mail:
Redaksi : majalah.infovet@gmail.com
Pemasaran : marketing.infovet@gmail.com

Rekening
Bank MANDIRI Cab Ragunan,
No 126.0002074119

Bank BCA KCP Cilandak KKO I
No 733-0301681
a/n PT Gallus Indonesia Utama

Redaksi menerima artikel yang berkaitan dengan kesehatan hewan dan atau peternakan. Redaksi berhak menyunting artikel sepanjang tidak merubah isinya.
Semua artikel yang dimuat menjadi milik redaksi.
Email artikel Anda ke: majalah.infovet@gmail.com

Jumlah Pengunjung

PT. GITA Group

Followers

Info Agribisnis Klik Di Sini

alterntif text

TRANSLATE

Kasus Penyakit Surra Terkini.

On 3:50:00 PM

Peta kejadian Surra di Banten
Sekitar Maret 2014, di Provinsi Banten ditemukan kasus penyakit Surra yang mengakibatkan kematian puluhan kerbau lokal maupun kerbau bantuan pemerintah. Hasil analisis PCR terhadap vektor lalat penghisap darah (haematophagous flies), menunjukkan hasil positif yang mengindikasikan ancaman penyebaran wabah Surra. 

Menteri Pertanian kembali menetapkan Surra sebagai salah satu Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS) dengan mengeluarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 4026/Kpts./OT.140/04/2013.  

Kejadian Surra di wilayah Banten terdeteksi pertama kali pada bulan Mei 2013, yakni di Desa Pagelaran, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pandeglang. Surra juga merebak di Desa Calung Bungur, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak. Pada September 2013, terjadi di Desa Bojong Leles, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak.

November 2013, kasus Surra di Kabupaten Pandeglang menyebar semakin merambah ke beberapa desa diantaranya Jiput, Pagelaran, Menes, dan Cimanuk. Di Kota Serang, Surra menuju Desa Curug Manis, Kecamatan Curug, kemudian Desa Terondol, Kecamatan Serang, dan Desa Pageragung, Kecamatan Walantaka. Sementara pada Maret-April 2014, kasus Surra terjadi di Desa Pagelaran, Desa Abuan, Mones, Kabupaten Pandeglang.

Drh Putut Eko Wibowo selaku Kepala Seksi Informasi Veteriner, Balai Veteriner Subang mengemukakan Provinsi Banten sebagai salah satu lumbung ternak kerbau nasional  masih memiliki masalah dengan kasus penyebaran  Trypanosoma sp. Putut yang dijumpai  keberadaan Taman Nasional Ujung Kulon di Propinsi Banten harus terus dilindungi dari bahaya infestasi penyakit Trypanosoma pada badak bercula satu yang ada didalamnya.

Keberadaan obat-obatan seperti Tryponil dan Trypamedium untuk penanggulangan Surra harus terus diamati efikasinya terhadap penanggulangan Trypanosoma. Insektisida yang aman dan ramah lingkungan sangat diperlukan dalam menanggulangi vektor yang ada. Pengaturan lalu lintas ternak antar kabupaten harus terus terpantau melalui peningkatan peran dokter hewan, terutama dalam merekomendasikan SKKH untuk ternak yang akan ditransportasikan.

Penyakit Surra terkait erat dengan lalu-lintas ternak, baik nasional maupun internasional. Kejadian Surra di Pulau Sumba pada tahun 2010 disebabkan masuknya ternak yang terinfeksi T.Evansi ke wilayah tersebut. Dalam waktu relatif cepat, ribuan ternak mati sampai diumumkan sebagai kejadian luar biasa (KLB).

Pulau Sumba memiliki sumber daya genetik asli (plasma nutfah) yaitu Sapi Sumba Ongola (SO) dan Kuda Sandel Wood. Oleh karena itu, diperlukan keseriusan semua pihak  untuk menyelamatkan dan melestarikan ternak tersebut.

Drh Manuel Agustinus Kitu, Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Peternakan Kabupaten Sumba Timur mengatakan mahalnya obat Surra dan patogenitas yang tinggi, serta banyak hewan menjadi reservoir, ditambah sulitnya pembentasan vektor menjadi  hal utama yang dikeluhan peternak. Secara nilai ekonomi, kerugian yang diakibatkan Surra pun mencapai ratusan miliar rupiah.

“Stok obat harus selalu ada, jangan sampai tersendat. Kalau kita kekurangan obat, Surra bisa semakin merajalela,” tanda Manuel kepada Infovet, Kamis (17/4) di Jakarta. Manuel menambahkan setiap tahunnya Direktorat Kesehatan Hewan memasok 6000 bungkus/dosis obat Surra baik itu Tryponil maupun Trypamedium.

Mengingat penyakit Surra bersifat immunosupresif, maka dlakukan pola pengobatan massal. “Pemberian Trypamedium setiap tiga atau empat sekali setahun, agar dapat menstimulasi munculnya respon antibody terhadap vaksinasi penyakit lainnya. Kami lanjutkan dengan pengobatan Tryponil pada ternak yang menunjukkan gejala klinis dan hasil diagnosa laboratorium, positif Surra,” jelas Manuel.

Pengendalian penyakit Surra, tidak semata-mata hanya untuk mencegah kerugian ekonomi, dampak negatif pada aspek sosial ekonomi rakyat, tetapi juga untuk mencegah kepunahan sumberd aya genetik ternak unggul nasional, termasuk satwa liar yang dilindungi.

Surra mungkin belum mampu diberantas seluruhnya. Operasionalisasi dalam pengendalian penyakit Surra di lapangan masih terhambat oleh beberapa hal seperti koordinasi, pengawasan lalulintas ternak, keterbatasan anggaran, kapasitas laboratorium veteriner, partisipasi masyarakat. Pengendalian Surra yang efektif, disamping dukungan hasil-hasil penelitian juga perlu dilakukan koordinasi dan sinergi lintas sektoral. (nunung)

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Artikel Populer