Tuesday, May 13, 2014

EMPAT PERKARA PENYEBAB KEKERDILAN

Kasus kekerdilan dilatarbelkangi oleh empat poin, yakni bibit ayam berasal dari telur ayam parent stock yang produksi di bawah umur 25 minggu. masuknya virus Reo. kasus malnutrisi, dan karena proses brooding yang salah. 

Ilustrasi: Kasus ayam kerdil.
Drh Setyono Al Yoyok yang berpengalaman sekitar 20 tahun pada bisnis peternakan di Jawa dan luar Jawa mengungkap bahwa masalah ayam kerdil dapat disebabkan oleh 4 (empat perkara).

Pertama, bibit ayam berasal dari telur ayam parent stock produksi di bawah umur 25 minggu. Yang bagus, usia parent stock ini seharusnya di atas 25 minggu, yang alat produksinya sudah matang dan selanjutnya telur tetas hasilnya bisa dimasukkan hatchery atau penetasan. Sebaliknya telur dari indukan di bawah 25 minggu ini berkualitas kurang dan beresiko kasus kekerdilan tinggi.

Kedua, masuknya virus Reo mengakibatkan ayam kerdil.

Ketiga, kasus malnutrisi, oleh karena kualitas pakan yang tidak sesuai dengan umur ayam.

Keempat, kekerdilan terjadi karena proses brooding atau pemanasan pengindukan buatan yang salah. Akibatnya energi yang dihasilkan dengan konsumsi pakan untuk pertumbuhan beralih digunakan untuk mengatasi stres, seperti stres dingin!

Menurut Drh Yoyok, besaran kasus ayam kerdil ini antara 10-20 persen. Karena faktornya virus Reo maka kegagalan vaksinasi beresiko besar virus Reo masuk!

Dari intilah, peternakan plasma macam di atas tadi mendapat pasokan DOC. Tentu DOC ini terkait dengan pembibitan peternakan inti. Diungkap Drh Yoyok, DOC ini ada yang kecil, dan DOC yang kecil ada dua macam, yaitu DOC kecil yang loyo, dan DOC kecil yang lincah. Menurutnya, DOC kecil yang lincah masih bisa dipelihara. Sebaliknya DOC yang loyo harus diafkir.

Untuk mencegah adanya DOC yang bermasalah ini, katanya, “Dikaitkan dengan faktor hiegenitas dan sterilitas, maka sumber DOC yaitu hatchery atau penetasan harus terjaga biosecuritynya terhadap penyakit supaya tidak masuk.”

Menurutnya selain virus Reo, virus yang dapat menyebabkan kekerdilan di antaranya adalah virus Mareks. Penyakit ini pun bersumber dari indukan yang terdapat pada pembibitan. Namun sudah tentu pembibitan setidaknya melakukan hal yang terbaik pada peternakan pembibitannya. Wajar pembibitan melakukan dan mengaku diterapkannya standar terbaik.

Kalau kenyataannya di lapangan ada kiriman DOC bermasalah (kerdil), di sisi peternak yang menerima kiriman DOC, tidak ada jalan lain. “Kalau menerima DOC (mau tak mau, red), kita terima saja. Tapi kita punya cara,” kata Drh Yoyok. Cara itulah yang berdasar pengalamannya diterapkan pada peternakan.

Cara yang diterapkan berdasar pengalamannya, di antaranya adalah complain pada pembibitan. Ada pembibitan yang no complain. Bisa juga banyak prosedur atau aturannya. Ujung-ujungnya breeding tidak mau tahu kondisi di peternakan.

Namun ada juga breeding yang bagus servisnya. Berapapun jumlah bibit yang kerdil atau buruk akan diganti sampai umur sekian (sekitar 1-2 minggu).

Berkebalikan dengan DOC bagus, DOC yang tidak bagus diberi asupan apa-apa juga di-support dengan pakan bagus pun tidak akan signifikan bisa memperbaiki tubuh. Oleh sebab itu,  Drh Yoyok berkiat kalau kedapatan ayam kerdil lebih baik langsung diafkir dan yang dipelihara hanya DOC yang bagus guna efisiensi.

Semua itu menurutnya harus diantisipasi sejak dari masa parent stock. Sekali lagi, tegasnya, “Indukannya harus dari ayam berumur lebih dari 25 minggu, diperhatikan proses kebersihan hatchery, vaksinasi, dan selanjutnya lari ke pembesaran, budidayanya. Kebersihan kandang, kualitas litter dan sebagainya harus ketat.”

Dengan contoh kasus pada peternakan di Lamongan tadi, biaya pakan sendiri secara umum, besarannya 70 persen dari seluruh biaya produksi. Biaya untuk obat sebesar 10-20 persen dan paling tinggi 25 persen. Menurut Drh Yoyok, program vaksinasi Reo setidaknya akan memakan 2,5-5 persen dari 25 persen tersebut dilihat dari produksi peternakan. Penggunaan vaksin Reo di peternakan, menurutnya umumnya jarang sekali. Mengapa? /Yonathan

*Perihal alasannya, Silahkan simak di Majalah Infovet edisi cetak Mei 2014.

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template