Monday, March 4, 2013

KANDANG SAPI MODEL AMERIKA DI INDONESIA

Sebelum sapi diperah susunya, sapi mesti dipelihara dalam kondisi terbaik. Hal istimewa yang ditunjukkan oleh  PT Greenfields Indonesia di Gunung Kawi yang menerapkan kandang yang belum diterapkan di peternakan lain di Indonesia namun Malang sudah diterapkan.
 
Dengan kandang terowongan atau tunnel room yang merupakan kandang semi closed house ini arus udara diatur, “Sehingga bisa di manipulasi atau dikontrol suhunya yang di dalam,” kata Drh Heru Prabowo Head of Unit Dairy Farm PT Greenfields Indonesia di dalam kandang bersama Infovet.
 
Infovet merasakan sendiri sedotan kipas angin besar yang membuang bau kotoran ke belakang luar. Konstruksi kadang ini memang dinding di satu sisi ditutup, dinding yang satu sisi dibuka, di belakang diberi kipas besar. “Sejumlah 50 kipas besar di dalam udaranya ketarik kesana, berfungsi penyedot udara, sehingga ruangan terasa dingin,” tegas Heru yang pernah menjadi Head of Veterinary Green Global Dairy 2010–2011.
 
Kandang khusus yang disebut tunnel room ini diistimewakan untuk sapi yang sudah kawin. Suhu di dalam ruangan ini bisa mencapai 20 oC dengan kecepatan angin di dalam ruangan sekitar 12-15 km per jam.
Dari sekian banyak kandang yang ada di peternakan ini memang masih satu kandang tunnel room ini yang akan diperbanyak jumlahnya, yang lain masih kandang terbuka. Di kandang-kandang tersebut di atas yang merupakan kandang bebas, sapi bisa berkeliaran bebas, pakan ada, tidur, tempat minum, birahi boleh.
 
Jelas sapi-sapi impor tersebut mendapat perlakuan istimewa di peternakan PT Greenfields Indonesia oleh karena harus siap diperah tiga kali sehari. Perlakuan lain guna kenyamanan, sapi yang belum kawin diberi kandang dengan alas gergaji kayu yang kehangatan baik saat siang maupun malam hari. Bahan gergajian kayu ini menyerap air kencing sapi sehingga tidak mengotori lantai, dan bila ada kotoran petugas mudah mengambil dan membersihkan. Serbuk gergaji kayu ini dua bulan sekali diganti dan bisa langsung dipakai untuk pupuk kompos.
 
Untuk alas, dipakai pasir yang telah disaring sehingga menghasilkan butiran pasir halus yang mudah mengikuti kontur tubuh sehingga memberikan kenyamanan khususnya saat tidur. “Hal ini berbeda bila sapi tidur di lantai. Sapi itu suka dingin atau setengah hangat, kalau bahagia di ruangannya mereka akan makan lebih banyak sehingga hasil susu yang diperah juga akan banyak,” papar Drh Heru.

Model Amerika
Perkandangan yang diterapkan Greenfields Indonesia tersebut, menurut Drh Heru Prabowo mencontoh model yang diterapkan di Amerika Serikat. “Di Amerika bagus dengan ukuran sebesar di ini. Model yang diterapkan ini mempercepat penanganan dan mengefiseinkan peternakan sapi perah dan sangat mudah ditemukan di sana dengan jumlah besar,” ungkapnya kepada Infovet.
 
Sebagai perbandingan, Drh Heru menyatakan penilaian umum bahwa peternakan sapi perah di Indonesia umumnya dilakukan secara tradisional, “Yang seperti dilakukan di PT Greenfields ini tidak banyak,” katanya seraya menambahkan maka perusahaan mengaca negara yang sudah maju. “Penanganannya mengacu best practice farming. Manajemen mengacu farm managerial,” tambahnya.
 
Mengapa tidak mencontoh model peternakan di Australia dan New Zealand? Menurut Drh Heru, kalau di Australia dan New Zealand, peternakannya memakai sistem seasonal farming. Sistem peternakan yang tergantung musim seperti di sana, ada saat-saat tertentu guna musim kelahiran. Ada hal yang tidak bagus di sana yang tidak cocok dengan kondisi Indonesia adalah perubahan musim yang ada empat musim. Dengan kondisi itu ada saat-saat sapi melahirkan, ada saat sapi dilepas merumput di mana pakan mengandalkan kondisi alam luas.
 
Di Indonesia dengan jumlah ternak sapi mencapai 6.000 ekor sementara lahan kurang, maka solusinya kandang sangat dibutuhkan tanpa banyak dipengaruhi oleh perbedaan musim yang tidak berbeda nyata sehari-harinya. “Setiap daya dukung dari 25 hektar ini dimanfaatkan seefisien mungkin,” ungkap Heru.
 
Begitulah, menurutnya pemilihan area peternakan dengan suhu dan lingkungan yang cocok ini untuk memastikan proses produksi dan peternakan sapi berjalan sesuai standar tinggi PT Greenfields Indonesia. Suhu, cuaca dan iklim di area sini tidak ekstrim. Di area peternakan sapi perah ini, suhu saat siang hari berkisar antara 24-24 derajat celcius. Saat malam, suhu berkisar 13-14 oC. Perbedaan antara suhu siang dan malam cukup stabil.
 
Hal tersebut mempengaruhi proses produksi susu. Mulai dari perawatan sapi-sapi perah, makanan sapi, proses peras susu hingga penyimpanan susu murni yang harus stabil di suhu 4 oC. Heru bertanggung jawab memastikan kualitas susu yang memenuhi standar. Sebab, peternakan sapi perah ini tak hanya didistribusikan di Indonesia saja.
 
Proses produksi susu ini juga diawasi oleh orang-orang penting di PT Greenfields Indonesia. Selain dokter hewan yang handal, produksi susu pasteurisasi ini juga diawasi langsung oleh Head of Marketing and Sales PT Greenfields Indonesia & PT Austasia Food Jan Gert Vistisen.
 
Bahkan, CEO PT Greenfields Indonesia Egdar Collins bersama Head of Dairy Operation Alvin Choo dan Head of Milk Processing Darmanti Setyawan selalu turun tangan memastikan standarisasi Susu Greenfields. “Sapi kami perlakukan sangat baik. Mulai dari pemenuhan gizi makanan, kandang dan lingkungannya, diusahakan membuat sapi tenang dan happy,” tutur Heru kepada Infovet. (Yonathan)

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template