Friday, May 11, 2012

MENGATASI CRD di Broiler Dan Layer

Kondisi cuaca yang tidak menentu seringkali dijadikan sebagai indikator awal akan munculnya berbagai jenis penyakit. Betapa tidak, cuaca yang awalnya panas dalam hitungan menit bisa berubah mendung dan berakhir dengan turunnya hujan. Sejalan dengan itu, suhu yang terlalu panas akan menimbulkan kelembaban yang tinggi dan sebaliknya. Hal ini akan berefek pada memburuknya kondisi lingkungan. Sejatinya, lingkungan merupakan interaksi hidup dari semua makhluk hidup, mulai dari makroorganisme maupun mikroorganisme. Terkait dengan mikroorganisme tersebut, para pakar zoologi menyebut bahwa tidak semua mikroorganisme dapat bersahabat dengan makhluk lainnya. Artinya, kejadian penyakit pada unggas pun dapat berawal dari interaksi yang tak sehat antara mikroorganisme penyebab penyakit/patogen dengan unggas itu sendiri.

Penyakit yang sering kali muncul namun sering diabaikan peternak adalah Chronic Respiratory Disease (CRD). Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycoplasma gallisepticum ini merupakan penyakit menular menahun yang sebenarnya harus diwaspadai. Hal ini diungkapkan secara tegas oleh pakar kesehatan unggas Prof drh Charles Rangga Tabbu MSc PhD dalam bukunya dengan judul Penyakit Ayam dan Penanggulangannya Jilid 1. Hal yang sama disampaikan Hanggono SPt di depan para peserta seminar sehari dengan topik Manajemen Pemeliharaan Ayam Pedaging Modern dan Seni Mengobati yang dibesut oleh PT Riau Feed Centre bulan lalu.

Menurut Hanggono, kejadian CRD di lapangan sering dijumpai, baik pada ayam pedaging ataupun pada ayam petelur. “Penyakit yang seharusnya mendapatkan perhatian khusus adalah penyakit pernafasan menahun atau CRD karena bagaimanapun, penyakit ini tetap dapat merugikan secara ekonomis,” ujar alumni Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya ini. Kerugian secara ekonomis dapat saja berupa memburuknya nilai konversi ransum akibat menurunnya konsumsi ransum, sehingga capaian berat badan panen pun tidak akan optimal.

Hal senada juga disampaikan Syafrinaldi SPt melalui pesan singkatnya, “Kejadian CRD bisa dikatakan terus ada disetiap periode produksi ayam pedaging.” Alumni Fakultas Peternakan Universitas Andalas Padang ini menyebutkan bahwa penyakit CRD sama halnya dengan api, kecil dibiarkan aman namun jika membesar akan menjadi lawan yang akan mendatangkan kerugian.

Terkait dengan kondisi tersebut, Prof Dr HM Partadiredja MSc (Almarhum) dalam bukunya dengan judul Manual Penyakit Unggas, menyebutkan bahwa penyakit CRD disebut juga dengan penyakit ngorok ayam. Penyakit ini ditandai dengan ingus katar yang keluar dari lubang hidung, kebengkakan muka, batuk dan terdengarnya suara sewaktu ayam bernafas. Selanjutnya, pada kondisi tertentu menurut Prof Partadiredja, kemungkinan besar penyakit ini dapat menyebabkan gangguan pernafasan akut terutama pada ayam muda/pullet, sedangkan pada bentuk kronis efek nyata yang dapat diamati adalah terjadinya penurunan pada produksi telur. Menariknya, meskipun angka kesakitan/morbiditas dari penyakit bakterial ini sangat tinggi, namun angka kematian/mortalitasnya cukup rendah jika dibandingkan dengan penyakit bakterial lainnya.
Hal ini ditanggapi Drh Jalaluddin MSc sebagai faktor kewajaran jika di tingkat peternak kurang perhatian terhadap penyakit ini. “Kemungkinan fenomena inilah yang menyebabkan sebagian peternak kurang intens menghadapi penyakit CRD ini,” ujar Jalaluddin.

Jika boleh dikata jujur, sebagai akademisi, drh Jalal sedikit miris dengan kondisi tersebut, betapa tidak, meskipun tingkat mortalitas penyakit tersebut cukup rendah namun yang perlu diwaspadai menurutnya adalah ikutan mikroorganisme sekunder yang akan memperburuk kondisi tubuh ayam itu sendiri.

“Penyakit apapun yang mendera ayam, ujung-ujungnya tetap ada kaitannya dengan melemahnya sistem pertahanan tubuh. Ayam yang terpapar bibit penyakit CRD, secara alami jelas telah melakukan pengurasan terhadap sediaan produk pertahanan tubuh atau imunitas, lalu jika tidak ditangani cepat, kondisi tubuh yang lemah tersebut, jelas akan memudahkan terpaparnya ayam dengan berbagai mikroorganisme penyebab penyakit lainnya, sebut saja, apakah itu virus ND, IB dan atau virus dan bakteri patogen lainnya,” tutur alumni Pascasarjana Program Studi Sains Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini.

Jalal menegaskan, peternak harus fokus, jika dijumpai kasus mengarah pada gejala spesifik dari penyakit tersebut, harus cepat tanggap memberikan tindakan awal, yang dapat berupa pemisahan atau isolasi individu yang sakit dengan yang sehat, lalu individu yang sehat tersebut diberi antibiotika yang sesuai dengan target pencetus penyakit itu sendiri, dan untuk ayam yang sakit, lakukan tindakan pengobatan. Dengan demikian, kekuatiran akan munculnya infeksi sekunder dapat dilenyapkan dari ranah pikir peternak.

Terus Berulang

Penyakit CRD sering disamaartikan dengan lagu wajib, hal ini dimaknai sebagai penyakit yang kemunculannya terus berulang di lokasi peternakan/farm, baik di ayam pedaging maupun di ayam petelur. Melenyapkan penyakit CRD dari satu farm bukanlah suatu usaha yang mudah dilakukan peternak, hal ini mengingat bahwa penyakit tersebut dapat ditularkan secara vertikal dari induk ke anak melalui telur yang terinfeksi bakteri Mycoplasma gallisepticum.

Merujuk pada data lapangan hasil kerja keras para Technical Service (TS) PT Medion, penyakit CRD termasuk “Top Ten Diseases in 2007” di Indonesia. Data tersebut mendudukkan penyakit CRD pada urutan keempat. Walaupun menduduki posisi keempat, penyakit CRD bukanlah suatu penyakit yang dapat dianggap enteng oleh peternak, karena bagaimanapun dampak yang ditimbulkan cukup besar jika dihitung secara ekonomis.

Kejadian berulang pada CRD dapat saja berawal dari sistem pengelolaan usaha peternakan yang salah. Hal ini dibenarkan Syafrinaldi SPt, “Penerapan manajemen yang salah sering disebut sebagai pemicu munculnya kasus ini. Hal dimaksud misalnya peternak yang kebagian anak ayam (DOC) jelek, lalu dipelihara dan hasilnya tetap jelek,” urai Syafrinaldi yang juga technical services PT Sanbe Cabang Pekanbaru.

Senada dengan Syafrinaldi, Drh Jalalluddin MSc mengingatkan bahwa DOC dengan berat badan di bawah standar (<42 g) lebih rentan terserang penyakit pernapasan. Munculnya penyakit pernafasan tersebut menurut dosen FKH USK Nanggroe Aceh Darussalam ini dipicu oleh pemaksaan kerja paru-paru dalam menyuplai oksigen untuk proses metabolisme tubuh. Tindakan ini jelas salah karena dapat berdampak pada gangguan organ dan sistem organ pernapasan. Pemaksaan kerja keras pada paru-paru juga akan merusak organ pernapasan lainnya, seperti hidung (sinus hidung), trakea dan kantung udara. Akibat dari itu semua Kondisi tubuh akan melemah. Disamping itu, DOC yang berukuran tubuh lebih kecil tetap lebih mudah terinfeksi bakteri M. gallisepticum ataupun jenis mikroorganisme lainnya.

Sehubungan dengan itu, Salman peternak ayam pedaging yang tinggal di Desa Alam Panjang Kecamatan Rumbio Kabupaten Kampar menyebutkan bahwa kasus CRD dapat saja muncul disetiap periode pemeliharaan. Namun sejauh upaya peternak dalam menerapkan prinsip beternak aman dengan CRD, kasus tersebut setidaknya dapat diminimalisir kehadirannya.

Hal yang dimaksud Salman adalah memperhatikan semua hal terkait dengan manajemen pemeliharaan, mulai dari pemilihan DOC yang berkualitas tinggi sampai pada proses pemanenan. “Informasi yang saya dapatkan dari Majalah Infovet disebutkan kalau CRD merupakan penyakit yang muncul akibat kesalahan manajemen, jelaslah jika ingin penyakit tersebut tidak uncul di lokasi peternakan, maka perbaiki sistem manajemen yang ada di lokasi peternakan tersebut,” tutur Salman.

Salman melanjutkan, hal yang paling mudah dilakukan peternak sebenarnya adalah hanya menerima bibit atau DOC dengan kualitas prima saja, dan katakan tidak untuk sebaliknya. “Sulit memang dilakukan mengingat sebagian besar peternak beternak dengan pola kemitraan kan, artinya DOC dengan kualitas apa saja pastilah diterima, tak tau untung atau rugi, inilah risiko yang sebenarnya yang harus ditanggung peternak,” ujar peternak mandiri ini.

Hal lain yang dapat diterapkan disamping terkait dengan kualitas DOC adalah perbaiki sistem pemanas/brooding karena bagaimanapun, indikator keberhasilan dimulai dari fase tersebut. Lalu, menekan lajunya kadar amoniak yang ada di dalam kandang. Hal ini dilakukan Salman dengan jalan memperbaiki sistem turun naiknya tirai kandang yang digunakan, termasuk mengurangi tumpukan feses di bawah lantai kandang (jika kandang panggung).

Hal ini senada dengan apa yang dituliskan Prof Charles dalam bukunya  dengan judul Penyakit Ayam dan Penanggulangannya Jilid 1 bahwa tumpukan feses dapat memperburuk kondisi udara di dalam kandang akibat terjadinya peningkatan kadar amoniak yang bersumber dari tumpukan feses. Batas kadar amoniak yang aman sekitar 15-20 ppm. Selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 1.

Melengkapi apa yang dikatakan Salman, yang tidak kala pentingnya menurut Drh Jalaluddin MSc adalah penerapan aspek biosekuriti menyeluruh di lokasi peternakan. Hal ini dapat saja berupa membatasi lalu lalang angkutan umum, masyarakat atau apa saja yang terkait dengan kegiatan mobilitas di sekitar lokasi peternakan. Lalu, memisahkan ayam yang terpapar bibit penyakit dan atau ayam-ayam sakit dengan ayam yang tidak sakit, dan penerapan aspek sanitasi diseluruh areal kandang termasuk kandang itu sendiri, ayam dan anak kandangnya.

Hal ini diamini Fajar Datif Antariksawan, sejauh ini penyakit-penyakit yang berarti secara ekonomis belum sempat mampir (baca; tidak dijumpai) di lokasinya, kuncinya kata alumni Fapertapet UIN Suska Riau ini hanya satu, tetap menjaga kebersihan di seluruh lini area kandang. Dengan demikian, ternak tenang peternak pun senang, dan fulus pun datang (sadarman/riau).

4 komentar:

cindy on May 14, 2012 at 2:41 AM said...

baguuuuuss....

cindy on May 14, 2012 at 2:42 AM said...

bagusss

yoni hudawan on June 1, 2012 at 4:08 PM said...

cukup menambah wawasan kami...

fian ks on September 11, 2012 at 9:53 AM said...

nice gan

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template