Tuesday, January 20, 2009

Produksi Telur Turun, Perhatikan Kualitas Pakan dan Infeksi Penyakit

Produksi Telur Turun, Perhatikan Kualitas Pakan dan Infeksi Penyakit

Hadi Wibowo praktisi perunggasan dari PT Sumber Multivita ikut urun rembuk soal penurunan produksi telur. Ia menegaskan bahwa ayam dapat berproduksi dengan baik tak lepas dari peranan 4 hal, yaitu pemeliharaannya yang terjaga dengan baik, vaksinasi dilaksanakan sesuai program, kondisi kandang nyaman, dan pakan yang diberikan berkualitas sesuai dengan kebutuhan nutrisinya.
“Empat hal ini merupakan syarat utama untuk produktivitas yang maksimum, dan sekaligus mencegah munculnya masalah akibat penyakit tertentu,” jelas Hadi.
Terkait dengan persoalan Avian Influenza yang tak kunjung rampung di Indonesia, Hadi berpendapat hal ini tak lepas dari akar penyebab masalah itu sendiri. Dari sudut pandangnya ia menyoroti tentang kualitas pakan ternak yang akhir-akhir ini kualitasnya turun naik.
Kenapa pakan, karena pakan merupakan kebutuhan utama ayam yang mengandung zat gizi dimana ayam saat ini dipelihara dengan cara “dieksploitasi maksimum” sehingga membutuhkan gizi yang paling baik untuk menunjang target produksi yang ditetapkan. Nah, yang menjadi pertanyaan apakah kuantitas dan kualitasnya telah sesuai dengan kebutuhan ayam?
Hadi menuturkan, seperti kita tahu penggunaan tepung bulu untuk menaikkan kadar protein dalam pakan ternak unggas lazim digunakan. Namun penggunaannya tak boleh berlebihan dan ada batasannya karena sifat protein dari tepung bulu yang sulit tercerna.
Memang bulu ayam berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai sumber protein pakan alternatif pengganti sumber protein konvensional seperti bungkil kedele dan tepung ikan. Bulu ayam mengandung protein kasar yang cukup tinggi, yakni 80-91 % dari bahan kering (BK) melebihi kandungan protein kasar bungkil kedelai 42,5 % dan tepung ikan 66,2 % (Anonimus, 2003). Bahkan Hadi menuturkan dari hasil uji lab di perusahaan swasta terkenal kandungan protein kasar dari tepung bulu menggunakan analisa Kieldahl dapat mencapai 87,4 %
Sayangnya kandungan protein kasar yang tinggi tersebut tidak diikuti dengan nilai biologis yang tinggi. Tingkat kecernaan bahan kering dan bahan organik bulu ayam secara in vitro masing-masing hanya 5,8 % dan 0,7 %. Nilai kecernaan yang rendah tersebut disebabkan bulu ayam sebagian besar terdiri atas keratin yang digolongkan ke dalam protein serat. Keratin merupakan protein yang kaya akan asam amino bersulfur, sistin.
Ikatan disulfida yang dibentuk diantara asam amino sistin menyebabkan protein ini sulit dicerna. Keratin dapat dipecah melalui reaksi kimia dan enzim, sehingga pada akhirnya dapat dicerna oleh tripsin dan pepsin di dalam saluran pencernaan. Dengan demikian bila bulu ayam digunakan sebagai bahan pakan sumber protein, sebaiknya perlu diolah terlebih dahulu untuk meningkatkan kecernaannya.
Di Indonesia, tepung bulu untuk pakan unggas tersedia dalam bentuk produk pabrik dan siap pakai atau tepung bulu yang sudah diolah. Berbagai hasil penelitian di berbagai belahan dunia ini menunjukkan bahwa tepung bulu dapat digunakan pada level tidak lebih dari 4 % dari total formula ransum tanpa membuat produktivitas unggas merosot.
Semakin baik pengolahannya, akan semakin baik pula hasilnya. Semakin banyak digunakan tepung ini justru akan menekan prestasi unggas, produksi telur berkurang dan pertambahan berat badan juga merosot (Rasyaf, 1992).
Tepung bulu mempunyai energi metabolis (ME) sebesar 2.354 kalori/ kg dan asam amino tersedia sebesar 95 %. Jadi 35 % asam amino yang terdapat dalam tepung bulu tidak tersedia untuk unggas dan terbuang keluar lagi. Inilah sebabnya tepung bulu tidak bisa terlalu banyak dimasukkan dalam formula ransum yaitu tidak lebih dari 4 % dari total formula ransum.
Lebih lanjut, Hadi mengungkap, penyakit adalah dampak dari pakan yang kurang baik. Pakan yang berkualitas jelek meningkatkan kejadian malnutrisi, dalam hal ini kurang asam aminonya, pada ternak yang menyebabkan turunnya produksi antibodi. Karena bahan pembentuk antibodi adalah asam amino yang merupakan penyusun molekul protein, kondisi ini bila berlangsung lama pada akhirnya akan memicu munculnya penyakit. Sehingga ND, IB, EDS dan AI yang menurunkan produksi telur akan lebih mudah masuk.
Hadi juga menekankan bahwa empat pokok pendukung performa produksi ayam petelur adalah genetik, nutrisi, kesehatan dan manajemen pemeliharaan. Oleh karenanya empat hal ini harus diperhatikan dengan benar karena saling terkait satu dengan lainnya.
“Sebenarnya yang dibutuhkan oleh ayam agar berproduksi optimal diantaranya adalah pakan yang berkualitas baik, kehangatan dan kelembaban yang ideal, air yang sehat dan udara sehat yang segar dan bersih,” ujar Hadi.
Kenapa suhu lingkungan penting diperhatikan karena cekaman atau stres panas setiap kenaikan suhu 1 derajat Celcius akan meningkatkan metabolisme 20-30%. Pada suhu lingkungan 28 oC nafsu makan menurun sekitar 12%. Selain itu kondisi tubuh ayam harus selalu PRIMA dan SEHAT guna menunjang hasil vaksinasi dalam tubuh ayam optimal baik untuk vaksin viral (ND, IB, AI, EDS) maupun vaksin bakterial (Snot, Kolera)
Selain itu, penggunaan jenis vaksin harus tepat dan mengingat banyaknya program vaksin dan banyaknya penyakit yang menghambat pembentukan kekebalan, maka diperlukan bala bantuan seperti imunomodulator. Hadi menambahkan, “setelah itu semua dilakukan, jangan lupa selalu lakukan seleksi ayam yang sakit dan tidak produktif, serta penerapan biosekuriti tidak boleh kendor.”

Membedakan ND, EDS’76 dan IB
Mengenali penyakit turunnya produksi telur tak bisa hanya berdasarkan gangguan produksi. Untuk itu, perlu gejala yang lain untuk menentukan diagnosa yang lebih tepat. Hal itu bisa dilihat dari tabel.
Pada kesempatan yang sama, Hadi juga memaparkan tentang temuan terbaru penyakit AI pada broiler yang dari hasil patologis anatomisnya ditunjukkan dengan haemorraghis (kemerahan) pada saluran pencernaan bagian atas. Selain itu pankreas juga menunjukkan bintik merah hingga menghitam. Pada bagian mesenterium atau penggantung usus juga berwarna merah yang membuat haemorraghis usus seperti kena koksi.
Sementara upaya pengendalian diantaranya dengan pencegahan berupa langkah biosekuriti dan vaksinasi. Saat ini telah banyak vaksin ayam petelur yang berisi kombinasi ketiga penyakit ND, EDS’76, dan IB sehingga dalam aplikasi lebih prkatis. Namun untuk pelaksanaan sebaiknya disesuaikan dengan program vaksinasi penyakit lain secara keseluruhan agar optimal.
Setelah vaksinasi dilakukan lakukan monitoring antibodisetiap 2-3 bulan dengan cara mengambil sampel darah ayam untuk diperiksa titernya. Dengan melakukan pemeriksaan titer antibodi secara rutin akan didapatkan pola kenaikan/penurunan titer antibodi yang akan memudahkan untuk pengambilan keputusan pelaksanaan jadwal vaksinasi. (wan)

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template