Tuesday, October 21, 2008

SINAR X UNTUK KEDOKTERAN HEWAN

SINAR X UNTUK KEDOKTERAN HEWAN

Info Iptek Infovet 160 September 2008


(( KIVNAS X (Konferensi Ilmiah Veteriner Nasional X PDHI 2008) yang dilaksanakan di IPB International Convention Center (IICC) di Bogor pada 19 Agustus sampai dengan 22 Agustus 2008 di antaranya mempresemntasikan pemanfaatan radiografi sebagai sarana diagnostik penunjang dalam dunia kedokteran hewan yang aman bagi hewan, manusia dan lingkungan. ))

M. Fakhrul Ulum dan Deni Noviana dari Bagian Bedah dan Radiologi, Departemen Klinik, Reproduksi dan Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor menyatakan bahwa Radiografi merupakan sarana penunjang diagnostik yang sudah berkembang pesat baik didunia kedokteran manusia maupun dalam dunia kedokteran hewan yang bertujuan untuk kesejahteraan.

Menurut ilmuwan tersebut, pemanfaatan sinar-x dalam radiodiagnostik dunia kedokteran hewan sangat menunjang dalam penegakkan diagnosa. Secara tidak langsung hal ini akan memberikan kontribusi radiasi yang berasal dari sumber radiasi buatan terhadap pasien.

Kontribusi radiasi buatan akan menimbulkan efek biologis yang secara langsung atau tidak langsung akan diderita oleh penerima radiasi. Pemanfaatan radiasi yang semena-mena tanpa memperhatikan bahayanya sangat merugikan pada banyak pihak yang ikut andil dalam radiogafi.

Selanjutnya, kata M. Fakhrul Ulum dan Deni Noviana, pemanfaatan radiasi di Indonesia diawasi oleh Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN). Oleh karena itu, maka pemanfaatan sinar-x sebagai radiodiagnostik bidang kesehatan telah diatur oleh pemerintah dalam Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2007 tentang Keselamatan Radiasi Pengion dan Keamanan Sumber Radioaktif serta Surat Keputusan Kepala BAPETEN Nomor 01/Ka-BAPETEN/V-99 tentang Ketentuan Keselamatan Kerja dengan Radiasi.

“Dengan demikian segala sesuatu berkaitan pemanfaatan radiasi untuk radiodiagnostik harus dilakukan dengan arif dan bijaksana yang aman baik bagi hewan, manusia dan lingkungan,” kata dua ilmuwan itu.

M. Fakhrul Ulum dan Deni Noviana bermaksud sosialisasi pemanfaatan sinar-x sebagai sarana diagnosa penunjang (radiodiagnostik) dalam dunia kedokteran hewan yang aman baik bagi hewan, manusia dan lingkungan.

Sejarah Sinar X

Sinar-x ditemukan oleh ahli fisika Jerman yang bernama Wilhelm Conrad Roentgen pada 8 November 1895, sehingga sinar-x ini juga disebut Sinar Roentgen.

Perkembangan Roentgen di Indonesia dimulai oleh Dr. Max Herman Knoch seorang ahli radiologi berkebangsaan Belanda yang bekerja sebagai dokter tentara di Jakarta. Pemanfaatan sinar-x ini terus berkembang dari tahun ke tahun dan sudah banyak dimanfaatkan dalam dunia kedokteran hewan sebagai sarana penunjang diagnosa.

Radiasi Ionisasi

Sinar-x merupakan gelombang elektromagnetik atau disebut juga dengan foton sebagai gelombang listrik sekaligus gelombang magnit. Energi sinar-x relative besar sehingga memiliki daya tembus yang tinggi. Sinar-x tebagi atas 2 (dua) bentuk yaitu sinar-x karakteristik dan sinar-x brehmsstrahlung.

Proses terbentuknya sinar-x diawali dengan adanya pemberian arus pada kumparan filament pada tabung sinar-x sehingga akan terbentuk awan elektron. Pemberian beda tegangan selanjutnya akan menggerakkan awan elektron dari katoda menumbuk target di anoda sehingga terbentuklah sinar-x karakteristik dan sinar-x brehmsstrahlung.

Sinar-x yang dihasilkan keluar dan jika beinteraksi dengan materi dapat menyebabkan beberapa hal diantaranya adalah efek foto listrik, efek hamburan Compton dan efek terbentuknya elektron berpasangan. Ketiga efek ini didasarkan pada tingkat radiasi yang berinteraksi dengan materi secara berurutan dari paling rendah hingga paling tinggi. Radiasi ionisasi akan mengakibatkan efek biologi radiasi yang dapat terjadi secara langsung ataupun secara tidak langsung.

Bahaya Efek Biologis Radiasi

Disamping sinar-x memiliki nilai positif juga memiliki nilai negatif secara biologis. Efek biologis berdasarkan jenis sel yaitu efek genetik dan efek somatik. Efek genetik terjadi pada sel genetik yang akan diturunkan pada keturunan individu yang terpapar. Sedangkan efek somatik akan diderita oleh individu yang terpapar radiasi.

Apabila ditinjau dari segi dosis radiasi, efek radiasi dapat dibedakan berupa efek stokastik dan deterministik (non stokastik). Efek stokastik adalah peluang efek akibat paparan sinar-x yang timbul setelah rentang waktu tertentu tanpa adanya batas ambang dosis.

Sedangkan efek deterministik (non stokastik) merupakan efek yang langsung terjadi apabila paparan sinar-x melebihi ambang batas dosis dimana tingkat keparahan bergantung pada dosis radiasi yang diterima. Dosis radiasi bersifat akumulatif sehingga dosis paparan yang diterima akan bertambah seiring dengan frekuensi radiasi yang mengenahinya.

Keselamatan Radiasi dalam Radiodiagnostik

Keselamatan radiasi adalah tindakan yang dilakukan untuk melindungi pasien (hewan), pekerja (operator, dokter hewan, paramedis), anggota masyarakat dan lingkungan hidup dari bahaya radiasi. Radiodiagnostik merupakan kegiatan yang memanfaatkan energi (sinar-x/foton) untuk tujuan diagnosis berdasarkan panduan Radiologi.

Syarat proteksi radiasi dalam pemanfaatan sinar-x sebagai sarana penunjang diagnosa radiodiagnostik harus memperhatikan beberapa hal diantaranya adalah (1) justifikasi pemanfaatan tenaga nuklir, (2) limitasi dosis dan (3) optimisasi proteksi dan keselamatan radiasi.

Justifikasi didasarkan pada manfaat yang diperoleh lebih besar dari resiko yang timbul. Limitasi dosis ditentukan oleh BAPETEN dan tidak boleh dilampaui atau disebut dengan Nilai Batas Dosis (NBD). NBD adalah dosis terbesar yang dapat diterima dalam jangka waktu tertentu tanpa menimbulkan efek genetik dan somatik akibat pemanfaatan tenaga nuklir.

“Optimisasi proteksi dan keselamatan radiasi harus diupayakan agar dosis yang diterima serendah mungkin dengan mempertimbangkan faktor sosial dan ekonomi,” kata dua ilmuwan itu.

Tindakan Keselamatan Radiasi Radiodiagnostik

Keselamatan pasien dilakukan dengan meminimalisasi dosis paparan. Tindakan dilakukan dengan cara memperkecil luas permukaan paparan, mempersingkat waktu paparan, menggunakan filter dan menggunakan tehnik radiografi dengan memanfaatkan kV tinggi.

Keselamatan operator (dokter hewan) terhadap paparan radiasi dilakukan dengan melakukan radiografi dalam jarak sejauh mungkin dari sumber sinar-x, menggunakan sarana proteksi radiasi (apron Pb, sarung tangan Pb, kaca mata Pb, pelindung tiroid Pb dan alat ukur radiasi) serta mempersingkat waktu radiasi.

Keselamatan lingkungan terhadap bahaya radiasi dilakukan dengan merencanakan desain ruang radiografi yang aman baik bagi pasien, operator dan lingkungan. Melapisi ruangan dengan Pb dan memperhitungkan beban kerja ruangan terhadap sinar-x yang sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.

Yang Harus Diperhatikan

Pemanfaatan sinar-x sebagai sarana diagnostik penunjang penegakkan diagnosa. “Harus memperhatikan efek biologis negatif dalam radiografi sehingga pemanfaatan sinar-x menjadi aman baik bagi hewan manusia dan lingkungan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” kata M. Fakhrul Ulum dan Deni Noviana mengakhiri bahasannya. (KIVNAS/ YR)

TERKAIT MISI DAN VISI KITA

TERKAIT MISI DAN VISI KITA


Ruang Redaksi Infovet 171 Oktober 2008

Terkait perpindahan kantor Infovet ke alamat baru per 1 Nopember 2008, Segenap Pimpinan dan Staf Majalah Infovet PT Gallus Indonesia Utama pun menyampaikan informasi, “Syukur kepada Tuhan YME atas kemajuan kami sehingga kami mampu memiliki dan pindah ke gedung dan bangunan sendiri. Segala keperluan dengan Majalah Infovet dan PT Gallus Indonesia Utama per 1 November 2008 akan dialihkan ke alamat baru di Jalan Raya Pasar Minggu Jakarta Selatan.”

Terkait kasus Rabies, Dr Drh Tri Satya Putri Naipospos ahli Indonesia yang bekerja di Badan Kesehatan Dunia di Thailand menyatakan, “Meski Rabies cuma satu diantara beribu masalah di tanah air dan tidak banyak yang bisa diharapkan menjelang Pemilu 2009 kasus ini juga perlu dicermati untuk kesiapsiagaan antara lain dengan melindungi Vaksinator rabies di lapangan.”

Terkait vaksin Rabies, Drh Lukas Agus Sudibyo Direktur Pemasaran PT Romindo Primavetcom menuturkan,” Pengalaman saya sekitar pertengahan tahun 1979, saya tidak bisa bayangkan seandainya saya tidak membawa bangkai kucing tadi ke BPPH Medan untuk diperiksa,… Juga apa jadinya kalau kita tidak punya koneksi untuk mendapatkan vaksin Rabies untuk manusia."

Terkait vaksin Anthraks, dalam suatu kesempatan Dr Drh Soeripto MVS dari Balai Besar Penelitian Veteriner Bogor yang karyanya diakui dunia internasional bahkan hak paten internasional berkata, “Siapa mau buat vaksin Anthraks? Jual ke Amerika, kalau berkualitas kemungkinan besar dibeli. Amerika sudah mencoba membuat dengan dana yang besar, tetapi belum berhasil.”

Terkait vaksin EDS, dalam suatu kesempatan Drh Nanik Sianita Widjaja dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Surabaya menyatakan, “Perlu dipikirkan kemungkinan membuat antigen EDS' 76 yang dapat membedakan antara antibodi akibat vaksinasi ataukah terinfeksi virus EDS'76.”

Terkait mahalnya harga ayam, dalam suatu kesempatan Drh Suhartono dari PT Japfa Comfeed Makassar mengungkap, “Untuk memproduksi daging ayam 1 kg di Indonesia, biaya nya masih lebih mahal bila dibandingkan dengan negara lain seperti USA, Brazil, dan lain-lain. Mahal bukan nilai uangnya kita membeli mahal, tetapi semata atas perbandingan yang tidak sesuai."

Terkait daging busuk, dalam suatu kesempatan Dr Drh Denny Lukman MSc pakar Kesmavet dari FKH menyampaikan, “Dari aspek kesmavet, daging "sampah" ini sangat tidak layak dikonsumsi manusia, mengingat daging tersebut sudah dibuang, bersatu dengan sampah lain, dan kemungkinan terjadi proses pembusukan/kerusakan yang menjadikan daging tidak layak dan bahkan memungkinkan mengganggu kesehatan konsumen.”

Terkait harga produksi asal ternak pada Lebaran 2008, Ketua Gabungan Organisasi Peternakan Ayam Nasional (GOPAN) Ir Tri Hardiyanto menuturkan, “Akhir-akhir ini harga produk itu melambung hingga lebih dari Rp5.000 per kg. Harga DOC stabil di level tinggi akhir-akhir ini. Ini tren musiman, kalau mau libur permintaan naik, selesai libur baru turun lagi. Naik lagi nanti kalau menjelang Lebaran. Kami berharap turunnya tidak banyak."

Terkait Hari Raya Lebaran atau Idul Fitri 2008, Segenap Pimpinan dan Staf Majalah Infovet PY Gallus Indonesia Utama menyampaikan ucapan kepada Umat Muslim yang merayakannya, “Selamat Hari Raya Idul Fitri. Mohon Maaf Lahir dan Batin.”

Selanjutnya dengan semangat kembali ke fitrah, “Mari melangkah mantap dengan visi dan misi yang kita pegang teguh di dunia kesehatan hewan dan peternakan untuk kesejahteraan lahir batin umat manusia.” (Yonathan Rahardjo)

Mengapa Harga Ayam Mahal?

Mengapa Harga Ayam Mahal?

Ekonomi Bisnis Infovet 171 Oktober 2008

(( Harga produksi ayam kita lebih mahal dibanding negara-negara lain, kita perlu mengupayakan langkah-langkah koreksi. ))


Untuk memproduksi daging ayam 1 kg di Indonesia, biaya nya masih lebih mahal bila dibandingkan dengan negara lain seperti USA, Brazil, dan lain-lain. Demikian Drh Suhartono dari PT Japfa Comfeed di Makasar mengatakan bahwa mahal bukan nilai uangnya kita membeli mahal, tetapi semata atas perbandingan yang tidak sesuai.

Suhartono mengungkap perbandingan ongkos produksi broiler Dolar Amerika/kg: Belanda0.98 USD/kg, India 0.60, France 0.99, England 1.05, USA 0.62, Brazil 0.58 USD/kg. Kata Suhartono, "Kalau sekarang harga broiler Rp. 11,000 kan berarti per ekor ayam kira-kira 1.2 USD/kg."

Menurut Drh Andhi Trapsilo, penyebab harga ayam mahal ini karena biaya produksinya sudah tinggi, di mana mencakup harga bibit, obat-obatan, dan pakan. Juga didorong oleh tingginya permintaan konsumen apalagi pada saat menjelang lebaran seperti ini pasti harga mahal sekali. Di sisi lain pasti juga akan menguntungkan bagi para peternak.

Harga jual ayam ini, "Tergantung pada mekanisme pasar. Pedagang tergantung harga penunjangnya, mobilitas, atau kalau mau cepat kaya. Pedagang-pedagang yang lain tergantung harga minyak dunia serta komoditas penunjangnya," katanarasumber berinisial Galiman.

Harga pakan dan obat sudah tidak dapat dipungkiri, "Memang sudah standartnya seperti itu, mau tidak mau peternak tetap harus mengeluarkan isi kantong untuk memenuhi kebutuhan ternak ayamny berupa pakan dan obat," kata Yadi Cahyadi Sutanto.

Dalam hal inilah peternak yang menentukan biaya operasional peternakannya, tuturnya, "Perlu kecerdikan dan sedikit intuisi yang tajam dalam mencari celah supaya peternakannya tetap berjalan baik, ternak sehat, tetapi tidak terlalu banyak menguras isi kantong."

Pada suatu kesempatan dalam beberapa bulan Yadi Cahyadi Sutanto melakukan penelitian dengan hewan coba ayam -layer lebih tepatnya-. "Menurut pemikiran saya peternaklah yang cukup memiliki andil dalam penentuan harga ayam," katanya.

Yadi menambahkan, "Ada satu pengalaman yang pernah saya dengar dari seorang senior di kampus saya tentang bagaimana beliau mengakali pemakaian litter supaya bisa tetap
berhemat dan memang dari caranya tersebut beliau bisa benar-benar mengurangi
biaya operasional."

Peternak perlu menganalisa sendiri, "Bagaimana perkembangan manajemen peternakannya, karena pada dasarnya ternak seperti halnya manusia juga membutuhkan pakan dan beberapa obat tertentu supaya bisa tetap hidup dan berkembang," tutur Ahmaraning Wahyu dari FKH Universitas Airlangga seraya menuturkan yang paling menyebabkan harga mahal yang paling tepat mungkin Pemerintah dan Konglomerasi yang sudah mengarah ke Kartel.

Adapun Veronica Umboh mengungkap harga ayam mahal jelas karena skenario global para kaum modal. "Jika saja daya serap pasar lemah sudah pasti akan terkoreksi dengan sendirinya. Namun demikian jika memang komoditi itu sudah menjadi kebutuhan pokok masyarakat modern, sangat sulit harga untuk turun secara signifikan. Berdoalah saja agar petani jagung dan padi merasakan dampak positif dari naiknya harga ayam," tutur Veronica.

Adapun narasumber lain Junta Emilia Sondakh mengungkap harusnya kita bergembira ria, karena para peternak bisa mendapatkan laba untuk menyambung usaha dan membesarkan skala usahanya. "Harus kita terima dan syukuri. Lebih baik mahal dari pada murah, tapi peternak bangkrut," katanya.

Sesuai hukum ekonomi, "Harga pasar ditentukan oleh perbandingan ketersediaan barang dan tuntutan pasar. Kalau banyak peternak gulung tikar karena ada flu burung trus ayam-ayam dimusnahkan, pakan, obat dan transportasi mahal. Lalu ada rentenir dan tengkulak beli ayam yang masih muda terus digelonggongin, maka di pasar harga ayam jadi mahal," papar Drh Silfiana Ganda Kesuma.

Drh Suhartono kembali mengingatkan bahwa mahal bukan nilai uangnya kita membeli mahal, tetapi semata atas perbandingan yang tidak sesuai. Maka untuk ke depannya, kita selalu butuh data yang selalu diperbarui, dan langkah-langkah koreksi di semua lini. (dokter_hewan/ YR)

Ketika Kasus Flu Burung Tutupi Rabies

Liputan Khusus Infovet edisi 171 Oktober 2008

(( Jangan remehkan kasus Rabies meski tertutup kasus Fu Burung. ))

Dalam melakukan surveilans AI pada burung liar, Merk vaksin yang protektif terhadap penyakit rabies ternyata dibutuhkan karena dalam surveilans itu petugas sering harus membebaskan kelelawar yang terperangkap di jaring; sementara kelelawar adalah salah satu penyebar Rabies.

Pengalaman Drh Zulfi Arsan salah seorang anggota milis dokter_hewan itu dijawab salah seorang anggota yang lain dengan informasi untuk vaksin rabies manusia bisa ditanyakan di Depkes kantor P2M (Pemberantasan Penyakit Menular) jalan Percetakan Negara bagian Penyakit Bersumber Binatang seberang Rutan Salemba atau di RS Sulianti Saroso di dekat Tanjung Priok Jakarta.

Dr Drh Tri Satya Putri Naipospos ahli Indonesia yang bekerja di Badan Kesehatan Dunia di Thailand menyatakan wajar bila isu rabies tertutup isu avian influenza. Namun, meski Rabies cuma satu diantara beribu masalah di tanah air dan tidak banyak yang bisa diharapkan menjelang Pemilu 2009 kasus ini juga perlu dicermati untuk kesiapsiagaan antara lain dengan melindungi Vaksinator rabies di lapangan.

Menurut seorang anggota milis itu, Galiman, mungkin hampir 90 persen petugas lapangan terkait dengan penanggulangan rabies di Indonesia belum diproteksi atau belum divaksin Rabies (VAR) akibat kesalahan prosedur operasional yang sangat mendasar.

Di negara lain belakangan ini rabies meningkat di China di mana, "Kasus rabies meningkat pada manusia dikarenakan terlambat dilakukan VAR (vaksin anti rabies) dan SAR (serum anti rabies)," kata Galiman seraya menambahkan di Amerika keberadaan VAR baik HD (human diploid )atau verocell infonya stok sedang mengalami defisit secara nasional.

Di tanah air, kasus terbaru rabies antara lain di Jawa Barat dan Nusa Tenggara Timur. "Terakhir memang muncul kasus rabies yang tadinya sudah dinyatakan bebas di NTT, terus di Lebak Banten dengan kasus gigitan pada manusia, serta di Kabupaten Sukabumi wilayah Selatan terakhir ini," kata ahli kesehatan masyarakat veteriner Dr Drh Denny Lukman MSc dari Fakultas Kedokteran Hewan IPB Bogor.

"Sebagai penyakit zoonosis, Rabies penting untuk mendapatkan perhatian serius dari kita, pemerintah dan masyarakat," kata Tri Satya Putri dilanjutkan tutur Dr Denny Lukman, "Ini memang mesti dapat perhatian serius dari pemerintah dan dokter hewan (pemerintah dan non pemerintah). Masih banyak tantangan zoonosis ke depan bagi negeri kita ini. Seperti pernyataan kolega dokter hewan di dunia, terkait One World One Health, sudah saatnya dokter hewan bekerjasama aktif dengan dokter dan profesi medik lainnya dalam mengantisipasi zoonosis."


Jawa Barat

”Sekarang Jawa Barat sudah tidak bebas rabies lagi,” pernyataan Kepala Dinas Peternakan Jawa Barat Rachmat Setiadi kepada waratawan belum lama ini menunjukkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat mencabut status bebas rabies untuk wilayah Jawa Barat yang disandang sejak tahun 2004.

Rachmat Setiadi mengatakan pencabutan status bebas rabies itu karena munculnya kasus rabies di Sukabumi pertengahan 2008 di mana belasan warga dilaporkan positif terserang Rabies akibat serangan gigitan anjing liar. Sejumlah serangan di Garut dan Tasikmalaya tidak mengakibatkan penyakit anjing gila pada orang.

"Virus rabies diidap anjing liar di wilayah Sukabumi diduga berasal dari anjing hutan yang merambah ke permukiman penduduk akibat kekurangan makanan di musim kemarau," kata Rachmat seraya menambahkan kemungkinan terjadi perkelahian antara anjing liar dengan anjing hutan yang mencari makan di perkampungan penduduk.

Untuk mengatasi masalah itu, Rachmat Setiadi mengatakan petugas Dinas Peternakan sudah diterjunkan ke wilayah-wilayah yang terdapat Rabies untuk memburu anjing liar guna dimusnahkan dengan racun, termasuk anjing hutan yang turun ke perkampungan penduduk.

Kata Rachmat, bekerja sama dengan camat setempat petugas juga akan memvaksinasi anjing peliharaan yang ada di wilayah yang terlaporkan muncul Rabies.


Nusa Tenggara Timur

Sejumlah 178 warga di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) digigit anjing rabies dua bulan terakhir dan berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium di Maros, Sulawesi Selatan, delapan anjing positif terjangkit rabies. Demikian Drh Maria Geong petugas penyuluh rabies wilayah Flores di Kupang kepada wartawan belum lama ini.

Drh Maria Geong mengharapkan masyarakat di Pulau Flores terus waspada terhadap anjing rabies terkait populasinya yang terus meningkat hingga 20.000 ekor. Yang perlu juga jadi perhatian adalah kedekatan masyarakat Pulau Flores serta pulau-pulau lain di Flores bagian timur dengan anjingnya sebagai "teman" untuk menjaga rumah dan ladang dari serangan hama babi hutan serta monyet yang membuat mereka tak sampai hati membunuh anjing-anjingnya meski di antaranya telah terjangkit penyakit rabies,

Drh Maria Geong mengungkap, tanda-tanda anjing yang terjangkit rabies itu terdengar dari suaranya saat menggonggong yang tiba-tiba berubah melonglong dan mengeluarkan air liur berlebihan. Anjing juga tampak kebingungan dan terus menggigit benda apa saja yang ditemui. "Jika sudah ada tanda-tanda seperti itu, kami langsung mengejar dan membantainya dengan parang atau tombak guna menghindari gigitan terhadap warga," kata Valens Masan salah seorang warga pemilik anjing.

Kasus rabies ini sudah berulang kali diberantas oleh Dinas Peternakan, namun tetap saja tidak berhasil karena keterbatasan vaksin anti rabies. "Kasus Rabies di NTT memang membutuhkan penanganan yang serius," kata Drh Indrasnowo seraya menambahkan, "Tantangan tersebut harus kita pecahkan bersama. Banyak kendala yang dihadapi oleh petugas di NTT dalam penanggulangan Rabies; keterbatasan vaksin rabies, masalah geografis, kultur, dana dan mungkin masih ada lagi lainnya. Hal ini membutuhkan konsentrasi kita semua untuk memecahkannya."

Menurut Drh Indrasnowo, seandainya jumlah vaksinnya mencukupi tetapi masalah rantai dinginnya terkendala akibat masalah geografis, hal ini juga akan menyebabkan kekurangberhasilan vaksinasi. Katanya, mungkin ada baiknya untuk dikaji mengenai penggunaan vaksinasi rabies injeksi dan peroral untuk anjing-anjing di NTT.

Seorang Dokter Hewan anggota milis berinisial Galiman pun mengungkap, "Dengar-dengar yang paling krusial penyelesaian rabies di Flores tidak lagi masalah vaksin (signifikansinya kecil). Kendala operasional (budgeter) apapun kegiatannya juga sangat berperan."

Namun, lanjutnya, "Katanya kendala yang paling besar adalah sosio-humanisme. Kebinekaan suku membuat ada 'ego' tersendiri dalam penyelesaian berbagai masalah di
masyarakat. Demikian pula masalah rabies. Anjing sudah benar-2 menjadi companion, teman hidupnya, tapi di beri kebebasan hidup, bergaul, tidak bermaksud meliarkan atau menelantarkan."


Pengalaman di Medan

Di milis dokter_hewan, Drh Lukas Agus Sudibyo Direktur Pemasaran PT Romindo Primavetcom pun mengatakan pengalamannya sekitar pertengahan tahun 1979, sebagai Drh baru di Medan ia kedatangan pasien kucing tetangga dengan gejala lemah dan hipersalivasi. "Saya tidak menduga kearah Rabies (sudah stadium lanjut) sehingga pada waktu memeriksa tangan saya yang luka kontak dengan liur kucing tersebut," kata Drh Lukas.

Keesokan harinya kucing tersebut mati dan bangkainya ia minta untuk diperiksakan ke BPPH Medan dan ternyata kucing tadi positif RABIES. Drh Lukas mengaku betul-betul merasa takut, stres dan ngeri membayangkan resiko yang harus ia hadapi.

Cerita Drh Lukas, "Drh. Mastur, staff BPPH kala itu menyarankan saya untuk menemui Kepala BPPH Medan untuk minta vaksin Rabies manusia buatan Jepang yang dikhususkan untuk pegawai BPPH. Akan tetapi Kepala BPPH Medan tidak bersedia memberikan vaksin tersebut. Lalu saya mencoba mencari vaksin ke apotek-apotek di Medan tapi hasilnya nihil."

Sore harinya Drh Lukas telpon ke kantor pusatnya (PT Romindo Primavetcom, red) di Jakarta dan kebetulan atasan Drh Lukas masih dikantor lalu ia ceritakan masalahnya ke atasan itu. Atasan Drh Lukas menjanjikan bahwa besok siang vaksin Rabies HDCV buatan Institue MERIEUX Perancis pasti sudah sampai di Medan.

Ternyata vaksin Rabies HDCV tersebut dibawa oleh salah seorang staf kantor pusat ke Medan dan langsung disuntikkan oleh dokter. Drh Lukas betul-betul kagum dan berterima kasih atas perhatian perusahaan tempat saya bekerja terhadap pegawainya. "Puji syukur kepada TUHAN YME saya terhindar dari ancaman Rabies," katanya.

Drh Lukas tidak bisa bayangkan seandainya ia tidak membawa bangkai kucing tadi ke BPPH Medan untuk diperiksa, tentunya ia tidak akan melakukan tindakan pengobatan atau pencegahan apa-apa. "Juga apa jadinya kalau kita tidak punya koneksi untuk mendapatkan vaksin Rabies untuk manusia," ujar Drh Lukas.

Dari pengalaman pribadi tersebut, Drh Lukas sangat mendukung untuk dilakukan vaksinasi Rabies pada vaksinator ataupun Drh praktek, karena kita tidak tahu resiko yang akan dan harus dihadapi pada saat kita berhadapan dengan pasien (anjing dan kucing).

"Semoga kita tetap dapat melestarikan motto "MANUSYA MRIGA SATWA SEWAKA" menjaga kesejahteraan manusia melalui kesehatan hewan," tutur Drh Lukas di milis dokter_hewan, yang kebetulan Hari Rabies Dunia jatuh pada tanggal 28 September.

Drh Yunianto Kartowinoto pun mempertanyakan sebuah pekerjaan rumah buat kita semua, "Apakah daerah-daerah zona bebas Rabies yang berlaku di beberapa daerah di Indonesia sudah di audit lagi?"(YR/ milis dokter_hewan)

Ketika Ayam Dijual Murah

Ketika Ayam Dijual Murah

Peristiwa Infovet edisi 175 Oktober 2008

(( Sebuah dilema muncul lagi ketika menjumpai ayam dihargai murah. Benarkah daging itu baik dan sehat? Padahal kita ingin ayam murah, sehat dan segar. ))


Drh Suhartono dari PT Japfa Comfeed Makassar mengungkap kalau harga ayam hidup 13000 per kg di pasaran, maka menjadi karkas harga 20800 per kg. Katakanlah dibagi menjadi 8 potong maka harga per potong menjadi 2,600 rupiah. Jadi, menurut Hartono, “Masih masuk akal kalau ada penjual nasi + ayam goreng + teh botol = 7500 rupiah.”

Itu baru karkas, kata Hartono, “Belum jerohan (hati empela), kepala leher atau pun ceker yang harganya jauh lebih murah dari pada karkas utuh. Kalau potongan nyalebih kecil lagi misalnya dibagi menjadi 12 kan jatuhnya lebih murah lagi.”

Drh Junta Emilia Sondakh mengungkap daging ayam yang sudah murah masih banyak yang meragukan kesegarannya, makanya daging sapi limbah hotel yang pantas untuk orang miskin. Harus diakui seperti ayam yang mati di kandang dalam pengangkutan dan di pedagang besar sebelum masuk ke pemotong benar adanya.

Menurutnya, hitungan Drh Suhartono memang masuk akal, tapi, “Apa ya mau konsumen makan dengan sekerat nyaris mirip jari manis untuk lauk, pedagang nasipun tidak tega menjual sekerat. Maka disediakan yang agak layak mesti tidak bisa dibantah asal daging ayam dari tiren. Ini fakta kok.”

Coba tengok di pasar ayam, lanjut Junta Emilia Sondakh, pengepul berapa puluh ekor ayam tiren setiap hari. Apa mereka mau merugi? Dengan alasan untuk pakan lele, atau untuk buaya. Jumlahnya berapa untuk kebutuhan konsumen lele dan buaya? Hendaknya fakta ini jangan dinafikan. Hanya itu permasalahannya.”

Namun demikian sebuah fakta yang tidak terbantahkan bahwa banyak ayam mati di kandang, dalam pengangkutan dan juga ketika berada di pangkalan. Demikian Christian Admiral Janggel mengungkap, “Jadi khusus daging ayam banyak sekali beredar daging ayam bangkai (tiren) yang sulit untuk dicarikan jalan keluar.”

Lanjutnya, “Apakah masuk akal jika kita makan di stasiun kereta, terminal dengan 5000-7500 per porsi dengan daging ayam segar? Jelas tidak masuk akal, karena dari mana penjual nasi itu dpt untung kalau memnag daging ayamnya tidak dari ayam bangkai. Kembali tentang daging sampah dari hotel dan restauran, itu hanya pucuk dari gunung es.

Memang baru-baru ini dijumpai daging sisa restoran dan hotel di Jakarta ada yang didaur ulang lalu dijual di pasar-pasar tradisional dengan harga relatif murah. Ditemukan daging yang dipungut dari tempat sampah dijual dalam bentuk olahan seperti bakso, rendang dan sop. Makanan olahan berbahan daging daur ulang, bisa dilihat sekilas, sama dengan makanan olahan berbahan daging segar. Sebelum dijual di pasar, daging sisa tersebut diberi pewarna agar mirip daging segar. Pewarna yang digunakan adalah pewarna pakaian.

Kronologisnya pemulung memilah sisa makanan dari hotel ataupun restoran, lalu mengirim daging sisa itu ke tempat pedagang makanan untuk diolah dengan membayar rp 100.000 ke setiap pemasok yang kemudian mengolah daging itu secara dicuci dengan formalin, direbus dan digoreng, diberi warna dengan cara disepuh, selesai diwarna daging siap dijual di pasar.

Dr Drh Denny Lukman MSc pakar Kesmavet dari FKH mengungkap sangat memprihatinkan dan menyedihkan kondisi makanan kita, khususnya pangan asal hewan. Kekurang pahaman sebagian masyarakat, ketidakpedulian produsen dan konsumen, serta kelemahan pengawasan dari pemerintah membuat hal ini terjadi.

Dari aspek kesmavet, kata Drh Denny Lukman, “Daging "sampah" ini sangat tidak layak dikonsumsi manusia, mengingat daging tersebut sudah dibuang, bersatu dengan sampah lain, dan kemungkinan terjadi proses pembusukan/kerusakan yang menjadikan daging tidak layak dan bahkan memungkinkan mengganggu kesehatan konsumen.”

Gangguan kesehatan yang mungkin muncul, lanjut Denny, “Antara lain diare, muntah, pusing, dan dalam jangka waktu lama muncul gangguan hati, ginjal dan saluran pencernaan, munculnya kanker. Hal ini mungkin jika proses pengolahan ditambahkan bahan-bahan yang bukan untuk pangan (pengawet formalin, zat warna tekstil). Bahan-bahan tersebut bersifat karsinogenik.”

Dari aspek hukum, maka praktek tersebut melanggar pasal-pasal di undang-undang pangan nomor 7 tahun 1996 dan undang-undang perlindungan konsumen nomor 8 tahun 1999.

Pasal yang dilanggar dalam uu pangan adalah Pasal 6 setiap orang yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan kegiatan atau proses produksi, penyimpangan, pengangkutan, dan atau peredaran pangan wajib: memenuhi persyaratan sanitasi, keamanan, dan atau keselamatan manusia;

Lalu Pasal 10 di mana setiap orang yang memproduksi pangan untuk diedarkan dan dilarang menggunakan bahan apa pun sebagai bahan tambahan pangan yang dinyatakan dilarang atau melampui ambang batas maksimal yang ditetapkan.

Kemudian Pasal 21 di mana setiap orang dilarang mengedarkan pangan yang mengandung bahan beracun, berbahaya atau yang dapat merugikan atau membahayakan kesehatan atau jiwa manusia pangan yang mengandung bahan yang dilarang digunakan dalam kegiatan atau proses produksi pangan; pangan yang mengandung bahan yang kotor, busuk, tengik, terurai, atau mengandung bahan nabati atau hewani yang berpenyakit atau berasal dari bangkai sehingga menjadikan pangan tidak layak dikonsumsi manusia

Adapun sanksi Undang-Undang Pangan: Pasal 55 barang siapa dengan sengaja melanggar pasal 10 dan 21 dpt dikenakan pidana penjara maksimal 5 tahun dan atau denda paling banyak 600 juta rupiah.

Lalu Pasal 56 barang siapa dengan kelalaiannya, melanggar pasal 10 dan 21, dapat dikenakan pidana penjara maksimal 1 tahun dan atau denda paling banyak 120 juta rupiah.

Kemudian Pasal 59 barang siapa yang melanggar pasal 6 dapat dikenakan pidana penjara maksimal 4 tahun dan atau denda paling banyak 480 juta rupiah.

Pasal yang dilanggar dalam uu perlindungan konsumen adalah Pasal 8 (1) pelaku usaha dilarang memproduksi dan atau memperdagangkan barang dan atau jasa yang (b) tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan standar yang dipersyaratkan dan ketentuan peraturan perundangan (3) pelaku usaha dilarang memperdagangkan sediaan farmasi dan pangan yang rusak, cacat atau bekas dan tercemar, dengan atau tanpa memberikan informasi secara lengkap dan benar.

Sanksi pelanggaran pasal 8, sesuai pasal 62 akan dikenakan pidana penjara maksimal 5 tahun atau pidana denda paling banyak 2 milyar rupiah. Sedangkan dari aspek kesmavet, hal ini juga melanggar pp nomor 22 tahun 1983 tentang kesmavet. Sayangnya dalam pp ini tidak ada sanksi.

Berdasarkan kasus ini, Drh Denny Lukman berpendapat memandang perlu dan urgen adanya rencana dan implementasi sistem pasar sehat. Tentunya sistem ini disusun oleh berbagai instansi, perguruan tinggi, organisasi-organisasi. Perlu dirumuskan pengawasan dan penanggung jawab. Sistem pasar sehat ini harus mampu menjamin (1) tersedianya pangan yang aman, layak dan halal; (2) kesehatan manusia/masyarakat (dicegah dari penularan penyakit zoonotik yang ada pada hewan hidup yang dijual di pasar, dicegah dari kasus foodborne illness akibat konsumsi pangan asal hewan); (3) kebersihan dan kelestarian lingkungan sekitar pasar.

Selain itu, “Perlu adanya peraturan dan pengawasan tentang sampah makanan hotel-restoran yang diperuntukkan untuk pakan hewan. Hal ini untuk mencegah penyimpangan-penyimpangan serta menjaga kesehatan ternak yang akan diberikan pakan tersebut,” tambah Drh Denny.

Drh Denny menegaskan, “Saya berharap agar pemerintah memiliki komitmen tinggi untuk menuntaskan masalah ini, serta mendidik konsumen dan pedagang untuk meningkatkan rasa kepedulian dan tanggung jawab demi terwujudnya keamanan pangan dan kesehatan masyarakat.”

Mudah-mudahan setiap momentum yang ada apapun momentumnya, kata Iwan Berri Prima dari FKH IPB, “Terutama yang terkait dengan bahan pangan asal hewan/ kesmavet, mampu kita maknai sebagai bentuk pentingnya otoritas veteriner yang tegas, jelas dan lugas di negara ini. (dokter_hewan/ YR)

Produksi Telur Ayam Kampung di Sisi Ayam Ras

(( Jangan hanya ayam ras, ingatlah ayam kampung. Dengan kepedulian dan pengembangan teknologi seperti diungkap di awal tulisan ini maka niscaya semua bukan hanya sebatas mimpi. ))


Produktivitas ayam buras yang optimum dapat dicapai pada kondisi thermoneutral zone, yaitu suhu lingkungan yang nyaman. Suhu lingkungan yang nyaman bagi ayam buras belum diketahui, namun diperkirakan berada pada kisaran suhu 18 hingga 25 °C.

Ayam buras pada suhu lingkungan yang tinggi (25-31 °C) menunjukkan penurunan produktivitas, yaitu produksi dan berat telur yang rendah, serta pertumbuhan yang lambat
Demikian Gunalvan dan D.T.H. Sihombing dalam Wartazoa.

Penurunan produksi telur pada suhu lingkungan tinggi dapat mencapai 25% bila dibandingkan dengan yang dipelihara pada suhu nyaman . Berat badan ayam buras umur 8 minggu juga berbeda, yaitu 257 g/ekor pada suhu tinggi, sedangkan pada lingkungan nyaman dapat mencapai berat 427 g/ekor.

Penurunan produktivitas tersebut terutama disebabkan oleh penurunan jumlah konsumsi pakan, maupun perubahan kondisi fisiologis ayam. Upaya meningkatkan produktivitas ayam buras di daerah suhu lingkungan tinggi antara lain melalui seleksi dan perkawinan silang, manipulasi lingkungan mikro, perbaikan tatalaksana pemeliharaan dan manipulasi pakan.

Manipulasi kualitas pakan adalah metode yang paling murah, mudah dilakukan dan umumnya bertujuan meningkatkan jumlah konsumsi zat gizi . Metode ini berupa penambahan vitamin C, mineral phosphor atau pemberian sodium bikarbonat dalam ransum.

“Disarankan jumlah penambahan vitamin C sebanyak 200-600 mg/kg ransum pada fase produksi telur dan sebanyak 100-200 mg/kg ransum pada fase pertumbuhan,” Gunalvan dan D.T.H. Sihombing menguatkan bahwa produksi telur ayam kampung pun sangat berpotensi memenuhi kebutuhan telur, apalagi dengan kelebihan telur ayam kampung dibanding telur ayam ras.

Narasumber Infovet yang lain menyatakan, telur ayam memang merupakan jenis makanan bergizi yang sangat populer dikalangan masyarakat yang bermanfaat sebagai sumber protein hewani. Hampir semua jenis lapisan masyarakat dapat mengkonsumsi jenis makanan ini sebagai sumber protein hewani. Hal ini disebabkan telur merupakan salah satu bentuk makanan yang mudah diperoleh dan mudah pula cara pengolahannya.

Kata narasumber itu, telur menjadi jenis bahan makanan yang selalu dibutuhkan dan dikonsumsi secara luas oleh masyarakat. Pada gilirannya kebutuhan telur juga akan terus meningkat. Telur dihasilkan oleh jenis hewan unggas antara lain ayam, bebek, angsa, dan jenis unggas lainnya.

Ayam merupakan jenis unggas yang paling populer dan paling banyak dikenal orang. Selain itu ayam juga termasuk hewan yang mudah diternakkan dengan modal yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan hewan besar lainnya seperti sapi, kerbau dan kambing.

Produk ayam (telur dan daging) dan limbahnya diperlukan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Telur dan daging ayam yang diperlukan oleh ratusan juta manusia di dunia ini mengakibatkan tumbuhnya peternakan ayam skala kecil, menengah dan industri ayam modern hampir diseluruh dunia berkembang pesat.

Di samping semakin pentingnya peranan telur ayam ras dalam struktur konsumsi telur, telur ayam ras memiliki sifat permintaan yang income estic demand, bila pendapatan meningkat, maka konsumsi telur juga meningkat. Di masa yang akan datang, pendapatan per kapita per tahun akan meningkat terutama pada negara-negara yang saat ini negara yang berkembang dan sedang berkembang.

Dengan demikian konsumsi telur juga diperkirakan akan meningkat. Dengan memanfaatkan data proyeksi penduduk tiap tahun dan proyeksi konsumsi telur per kapita pada tahun yang sama, maka diperkirakan konsumsi telur pada tahun tersebut mencapai harapan.

Sementara itu, bila dilihat kecenderungan produksi telur ayam ras yang meningkat sebesar per tahun maka peluang pasar telur ayam pada tahun berikutnya akan terus meningkat. Peluang pasar ini diisi oleh telur ayam buras dan telur itik yang pangsanya masing-masing 15% dan selebihnya merupakan peluang pasar telur ayam ras. Peluang pasar ini belum termasuk pasar ekspor, baik dalam bentuk telur segar maupun powder. Tentu saja jangan lupakan ayam kampung di sini.

Akhirnya narasumber Infovet menyatakan, secara ekonomi pengembangan pengusahaan ternak ayam ras petelur di Indonesia memiliki prospek bisnis menguntungkan, karena permintaan selalu bertambah. Hal tersebut dapat berlangsung bila kondisi perekonomian berjalan normal. Lain halnya bila secara makro terjadi perubahan-perubahan secara ekonomi yang membuat berubahnya pasar yang pada gilirannya akan mempengaruhi permodalan, produksi dan pemasaran hasil ternak.

Di sini sekali lagi, jangan hanya ayam ras, ingatlah ayam kampung. Dengan kepedulian dan pengembangan teknologi seperti diungkap di awal tulisan ini maka niscaya semua bukan hanya sebatas mimpi. (bbs/ YR)

Tuesday, October 14, 2008

Diagnosalah Penurunan Produksi Telur


Fokus Infovet Edisi 171 Oktober 2008

Diagnosalah Penurunan Produksi Telur


(( Untuk mendiagnosa kasus-kasus itu beberapa kasus infeksius, diagnosa menurut sumber Disnak Sumatera Barat Infovet urutkan berdasar peringkat berdasar hasil survei Infovet yaitu: ND, EDS, IB, disusul Lain-lain selain AI dan IBD. ))


Berdasar hasil jajak pendapat Infovet terhadap 29 responden tentang penyakit yang paling menyebabkan penurunan produksi telur adalah: ND (24%), EDS (20%), IB (20%), Lain-lain (20%), AI (6%) dan IBD (6%), Infovet menyusun tiap penyakit ini terkait kasus penurunan produksi menjadi trend saat ini.

Sumber peternakan di Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat faktor penting yang mempengaruhi penurunan produksi telur adalah strain ayam layer modern yang mengalami seleksi genetika untuk mencapai penampilan produksi yang maksimal.

Ayam layer dengan karakter dan genetik yang baru ini, kata Drh Asrul Anwar, “Sangat peka terhadap penurunan produksi telur baik akibat kegagalan manajemen, fluktuasi nutrisi pakan, maupun kasus penyakit. Pola penurunan produksi berbeda baik segi intensitas / keparahan kasus, kompleksitas, dan frekuensi kasus. Agar produksi dapat kembali mencapai standard, diperlukan diagnosa lebih teliti.”

Di lain pihak, Drh Asrul Anwar menyarankan para peternak harus memelihara lingkungan, menjalankan manajemen yang baik dan memberikan pakan yang berkualitas agar ayam mencapai potensi genetiknya.

Drh Asrul Anwar menyatakan di lapangan penyebab penurunan produksi bervariasi. Ada 2 kelompok besar, kasus infeksius dan non infeksius. Kasus Infeksius terdiri atas Virus: AI, ND, IB, ILT, EDS; lalu Bakteri: Coryza, E. Coli, Pasteurella, Pseudomonas, Clostridium, Mycoplasma; kemudian Parasit: Leucocytozoon sp, Helminthiasis.

Untuk mendiagnosa kasus-kasus itu beberapa kasus infeksius perlu diketahui manifestasi klinisnya. Diagnosa menurut Drh Asrul Anwar itu Infovet urutkan berdasar peringkat berdasar hasil survei Infovet yaitu: ND, EDS, IB, disusul Lain-lain selain AI dan IBD.


Kasus ND

Menurut Drh Asrul Anwar Kasus Newcastle Diseases atau ND dapat menyebabkan penurunan poduksi tergantung pada status kekebalan tubuh ayam. Penurunan produksi pada kasus ini cepat tetapi kenaikan kembali produksi lambat. Pada telur dari ayam penderita ND, variasi warna kerabangnya lebih kecil dari IB, yakni

Kasus EDS

Kasus Egg Drop Syndrome atau EDS menurut Drh Asrul Anwar umumnya menyerang ayam menjelang puncak produksi. Tidak tampak gejala klinis. Perubahan spesifik adalah pada telur dengan kulit yang sangat tipis, atau menyerupai telur penyu. Produksi dapat menurun sebanyak 30-50% hanya dalam jangka 2 minggu.

“Produksi telur akan berada pada titik terendah selama 1-2 minggu, baru kemudian berangsur-angsur naik kembali dan mencapai kurva normal dalam waktu 48 minggu kemudian. Pengujian patologi anatomis dapat dijumpai oedema pada uterus,” kata Drh Asrul Anwar pada sumber Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat itu.


Kasus IB

Terjadinya kasus Infectious Bronchitis atau IB, dituturkan Drh Asrul Anwar, “Umumnya pada 4-6 minggu sebelum puncak produksi atau 4-6 minggu setelah puncak produksi. Bobot rata-rata telur umumnya menurun sebanyak 5 - 15% pada 2-3 minggu sebelum jumlah telur mengalami penurunan dan prosentase penurunan sangat beragam.”

Kata Asrul Anwar, pada ayam yang tidak divaksin, produksi telur dapat turun sebanyak 50 – 70% dari awal hanya dalam waktu 1 minggu. Berada pada level terendah selama 1-2 minggu, kemudian kembali meningkat mendekati kurva standar dala waktu 6-8 minggu, tetapi tidak pernah mencapai puncak kurva normal. Kegagalan ini akibat adanya kerusakan permanen pada ovarium dan oviduct.

Selanjutnya Drh Asrul Anwar menuturkan, pada ayam yang telah divaksin tatapi tidak cukup terproteksi. Penurunan produksi dapat terjadi sebesar 30% dari awal kasus dalam waktu 1 minggu. Level terendah bertahan selama 1 minggu pula dan berangsur-angsur meningkat dalam 4-6 minggu, namun tidak dapat kembali ke kurva awal.

Sementara pada ayam dengan tantangan tertinggi, ungkapnya, terjadi penurunan produksi sebesar 10% dalam jangka 1 minggu dan berada di level terendah selama 1 minggu, selanjutnya akan meningkat dalam 1 minggu kemudian. Jika diamati telur dariayam yang terserang kasus ini akan berwarna pucat dengan variasi warna hingga 7 macam.

“Telur yang mengalami depigmentasi ini sebanyak 20% dan 10% diantaranya mempunyai bentuk kerabang yang tidak normal.salah satu perubahan spesifik adalah bentuk albumin yang cair pada 10% telur dengan kerabang yang tidak normal dan dijumpai gumpalan kecil darah yang dikenal dengan blood spot,” ujar dokter hewan ini.


Kasus Mg atau Ms

Menurut Drh Asrul Anwar, kasus Mycoplasma gallisepticum (Mg) mengganggu jumlah telur yang diproduksi serta dapat menyebabkan kurva produksi seperti mata gergaji atau jigsaw phenomenon, umumnya menyerang ayam pada tiga titik kritis yaitu pada saat produksi 5%, 75% atau satu bulan setelah puncak produksi.

“Kualitas kerabang menurun dengan warna yang lebih pucat. Di samping itu ditemukan adanya sandy egg yaitu bintik-bintikmaterial kerabang yang menyerupai pasir di ujung tumpul permukaan kulit telur sebanyak lebih 1%,” ujar Asrul.

Diungkap, gejala Klinis berupa gangguan pernafasan akibat Mycoplasma gallisepticum (Mg) pada ayam produksi seringkali tidak jelas. Pada pengujian patologi anatomis dapat ditemukan kabut atau perkejuan pada kantong hawa, pada Mycoplasma synoviae(Ms) diikuti oleh enteritis yang tidak spesifik, hepatomegali (perbesaran hati), splenomegali (pembengkakan limpa) dan sinovitis (peradangan pada persendian lebih dar 2 tulang) hingga kelumpuhan.

Akhirnya, uji laboratorium dapat dilakukan dengan Rapid Serum Test untuk mengetahui IgM yang menjadi petunjuk dari infeksi akut. IgM ini dapat terdeteksi pertama kali 5-7 hari setelah infeksi terjadi. (disnaksumbar/ Infovet/ YR)

Mempertimbangkan Vaksinasi Yang Banyak Sekali

Fokus Infovet Edisi 171 Oktober 2008

Mempertimbangkan Vaksinasi Yang Banyak Sekali

(( Terkait dengan topik penurunan produksi telur yang berdasar survei Infovet terutama disebabkan oleh penyakit ND, EDS dan IB, maka yang dipilih dari program itu hanya vaksinasi penyakit ND, EDS dan IB. ))

Sumber di Glory Farm menyampaikan bahwa vaksinasi menurut breeder secara keseluruhan, vaksinasi yang paling banyak dilakukan adalah vaksinasi ND/IB Live. Untuk kesehatan vaksinasi ini sangat menjamin

Berdasar tulisan dr. Sauvani J Vaksinasi Standard Breeder, Glory Farm menyampaikan bahwa jika dibedah satu persatu maka akan didapatkan Vaksin ND –IB Live dilakukan dengan tetes mata pada hari pertama diikuti dengan injeksi subcutan pada hari kelima. Pengulangan berikutnya sangat sering terutama setelah umur 20 minggu, vaksinasi ini dilakukan setiap 5 minggu melalui air minum.

Selanjutnya Vaksinasi Gumoro dilakukan 2 kali melalui air minum dengan selang 10 hari dan pada vaksinasi kedua dilakukan vaksinasi ND-IB Live melalui air minum pula.

Kemudian Vaksinasi Coryza secara injeksi intramuskuler dilakukan pada minggu ke 7 dan diulang pada minggu ke 12 dan 17.

Lantas Vaksinasi Pox dan ILT diberikan pada hari yang sama dan vaksin ILT diberikan melalui air minum.

Disusul Vaksinasi triple yaitu ND+IB+EDS dilakukan pada minggu ke 15 sebelum ayam masuk ke kandang baterai.

Berikutnya, Vaksinasi ND Kill yang dilakukan dengan injeksi intramuskuler dilakukan secara berulang dimulai pada umur 20 minggu diulang setiap 6,5 bulan (26 minggu) kemudian.

Bagaimana dengan pertanyaan segi finansial dari begitu banyaknya vaksinasi yang dilakukan dengan rentang waktu yang cukup pendek belum lagi pemberian obat-obatan lainnya? Sebuah pertanyaan yang pastut diajukan untuk kita bersama.

Ada narasumber yang berkata hal itu sangatlah memusingkan dan tidak memungkinkan untuk melakukan semuanya walaupun vaksin ND-IB tergolong vaksin yang tidak mahal. Ada lagi yang bilang Vaksinasi Cocci tidak dilakukan mungkin mengingat pakan yang diberikan sudah mengandung koksidiostat.

Bagaimana menurut Anda? Sumber Glory Farm sendiri menyampaikan mempunyai program vaksinasi itu. Terkait dengan topik penurunan produksi telur yang berdasar survei Infovet terutama disebabkan oleh penyakit ND, EDS dan IB, maka yang dipilih dari program itu hanya vaksinasi penyakit ND, EDS dan IB.

Vaksinasi ND + IB

Vaksinasi ND dan IB ini menurut sumber di Glory Farm adalah untuk menimbulkan kekebalan ayam terhadap infeksi ND dan IB. “Pada area peternakan kami saat ini bukan merupakan daerah yang endemis ND maupun IB, namun karena letak peternakan kami berdekatan dengan peternakan yang lain, maka sebagai antisipasinya mereka selalu melakukan vaksinasi ini. Kami melakukan vaksinasi ini dengan dua cara yaitu tetes mata dan injeksi intramuskular pada otot dada,” kata sumber tersebut.

Vaksinasi IB

Selain merupakan gabungan dengan ND, sumber di Glory Farm juga melakukan vaksinasi IB dengan memberikannya pada air minum. Vaksinasi ini mereka berikan pada ayam umur 35 hari dan 13 minggu.

Vaksinasi ND La Sota

Sumber di Glory Farm Vaksin menyatakan ND La Sota dilakukan pada anak ayam umur 4 hari, 28 & 29 hari, hari ke 56 & 57, minggu ke 12 dan minggu ke 16. Metode pemberian vaksinasi ND La Sota ini ada 2 macam yaitu melalui air minum dan injeksi intramuskuler pada otot dada.

Sumber itu sengaja memberikan kedua metode tersebut pada hari ke 28 & 29 serta hari ke 56 & 57 hanya untuk memastikan bahwa kekebalan yang terbentuk dapat sempurna. Namun tidak menutup kemungkinan jika anda yang ingin mengadopsi program vaksinasi ini tidak memberikan vaksinasi ND metode air minum namun cukup dengan melakukan injeksi intramuskuler otot dada saja.

Vaksinasi ND + IB + EDS (Vaksinasi Triple)

Sumber di Glorya Farm menyampaikan vaksinasi ini dilakukan tepat sebelum ayam layer masuk ke kandang baterai yaitu pada usia 16 minggu. Cara vaksinasi sama dengan injeksi intramuskuler pada dada ayam (vaksin ND + IB pada ayam usia 30 dan 50 minggu). (gloryfarm/ YR)

VAKSIN ANTHRAKS NASIONAL DAN DUNIA

VAKSIN ANTHRAKS NASIONAL DAN DUNIA


(( Vaksin Anthraks yang berkualitas memang pekerjaan penuh tantangan, sekaligus peluang bagi peneliti Tanah Air Indonesia untuk berbicara di tingkat nasional dan dunia untuk kemahslatan hajat hidup manusia dan kemanusiaan. ))


Belum lama ini seorang ilmuwan pemerintah Amerika Serikat bernama Bruce Ivins dari Lab Research for Biodefence di Ft. Detrick Md ditemukan bunuh diri, menghindar dari kejaran pemerintah. Pasalnya, ilmuwan ini telah berlaku ugal-ugalan (kriminal) dengan memperbanyak benih Anthraks di laboratoriumnya dan disebarkan ke mana mana melalui surat.

Demikian cerita Dr Drh Soeripto MSV dari Balai Besar Penelitian Veteriner (Bbalitvet) yang berkunjung ke Amerika Serikat belum lama berselang seraya bertutur, “Hal ini dilakukan Bruce Ivins semenjak 2001 di mana dia telah berhasil membunuh 5 orang dan sedikitnya 17 orang menderita akibat Anthraks, dan terakhir sebelum dia bunuh diri, diberitakan pada bulan yang lalu benih Anthraks tersebut telah disebarkan ke beberapa members of Congress.”

Dr Soeripto yang karyanya diakui dunia internasional bahkan dipatenkan dan diproduksi Negara produsen obat hewan di luar negeri dengan mendapat hak paten pun berkomentar,

“Siapa mau buat vaksin Anthraks? Jual ke Amerika, kalau berkualitas kemungkinan besar dibeli. Amerika sudah mencoba membuat dengan dana yang besar, tetapi belum berhasil.”

Sumber Infovet mengatakan, Anthraks atau Anthraks adalah penyakit menular akut yang disebabkan bakteria Bacillus anthracis dan sangat mematikan dalam bentuknya yang paling ganas. Anthraks paling sering menyerang herbivora-herbivora liar dan yang telah dijinakkan, namun juga dapat menjangkiti manusia karena terekspos hewan-hewan yang telah dijangkiti, jaringan hewan yang tertular, atau spora Anthraks dalam kadar tinggi.

Meskipun begitu, menurut sumber Infovet, hingga kini belum ada kasus manusia tertular melalui sentuhan atau kontak dengan orang yang mengidap Anthraks. Anthraks bermakna "batubara" dalam bahasa Yunani, dan istilah ini digunakan karena kulit para korban akan berubah hitam.

Infeksi Anthraks jarang terjadi namun hal yang sama tidak berlaku kepada herbivora-herbivora seperti ternak, kambing, unta, dan antelop. Anthraks dapat ditemukan di seluruh dunia. Penyakit ini lebih umum di negara-negara berkembang atau negara-negara tanpa program kesehatan umum untuk penyakit-penyakit hewan.

Beberapa daerah di dunia (Amerika Selatan dan Tengah, Eropa Selatan dan Timur, Asia, Afrika, Karibia dan Timur Tengah) melaporkan kejadian Anthraks yang lebih banyak terhadap hewan-hewan dibandingkan manusia.

Sumber Infovet menuturkan ada 4 jenis Anthraks yaitu Anthraks kulit, Anthraks pada saluran pencernaan. Anthraks pada paru-paru, Anthraks meningitis. Penyakit zoonoziz yang menular dari hewan ke manusia ini biasa ditularkan kepada manusia karena disebabkan pengeksposan pekerjaan kepada hewan yang sakit atau hasil ternakan seperti kulit dan daging, atau memakan daging hewan yang tertular Anthraks.

Selain itu, penularan juga dapat terjadi bila seseorang menghirup spora dari produk hewan yang sakit misalnya kulit atau bulu yang dikeringkan. Pekerja yang tertular kepada hewan yang mati dan produk hewan dari negara di mana Anthraks biasa ditemukan dapat tertular B. anthracis, dan Anthraks dalam ternakan liar dapat ditemukan di Amerika Serikat. Walaupun banyak pekerja sering tertular kepada jumlah spora Anthraks yang banyak, kebanyakan tidak menunjukkan simptom.

Karena bersifat zoonozis inilah maka Antharks di Indonesia bahkan di manapun sangat meresahkan. Tanah Air Indonesia beberapa kali heboh mengenai kasus Anthraks. Tentu kita masih ingat kasus kematian burung onta di Purwakarta pada akhir hampir sepuluh tahun lalu yang menghebohkan dan menjadi perhatian dunia internasional.

Lalu kasus daging kambing dari Bogor yang terkena bakteri Anthraks sehingga mengkhawatirkan para konsumen dan menjadi kepedulian pemerintah dan masyarakat luas. Betapa tidak, Bakterio Anthraks dapat memasuki tubuh manusia melalui usus kecil, paru-paru (dihirup), atau kulit (melalui luka). Anthraks tidak mungkin tersebar melalui manusia kepada manusia.

Yang paling heboh di dunia ketika Amerika menuduh Irak menyimpan senjata biologis sebagai rentetan peristiwa yang terjadi pada 11 September 2001, saat teror menghancurkan World Trade Centre (WTC) di New York. Menyusul tragedi itu, muncul bentuk serangan teror baru berupa pengiriman surat-surat gelap dalam amplop berisi bakteri berbahaya ke sejumlah alamat di AS. Sejauh ini, di AS surat berbahaya ini sudah menewaskan satu jiwa dan puluhan korban lainnya yang tertular.

Senjata biologis yang paling banyak dikenal masyarakat adalah bakteri yang terdapat di dalam amplop surat-surat gelap itu, yakni bakteri anthraks yang berbahaya. Umumnya bakteri yang di Indonesia lebih sering dipicu oleh penularan secara alami itu berbentuk serbuk atau bubuk putih. Sejauh ini belum berhasil diketahui atau dilacak, siapa pelaku pengiriman surat anthraks itu.

Daging yang terkena Anthraks mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: berwarna hitam, berlendir, berbau. Beberapa gejala-gejala Anthraks (tipe pencernaan) adalah mual, pusing, muntah, tidak nafsu makan, suhu badan meningkat, muntah bercampur darah, buang air besar berwarna hitam, sakit perut yang sangat hebat (melilit) atau (untuk tipe kulit) seperti borok setelah mengkonsumsi atau mengolah daging asal hewan sakit Anthraks.

Gejala yang terlihat pada penderita adalah adanya luka yang berwarna kehitaman di tengah karena terjadi kematian sel dan mengering, tidak ada rasa sakit, dan disertai cairan. Bentuk ini dapat mengakibatkan kematian sampai 20 persen bila terjadi sepsis yang ditandai adanya demam tinggi. Pengobatan dengan antibiotika akan mengurangi kasus kematian.

Bentuk gastrointestinal merupakan bentuk yang jarang terjadi. Biasanya bentuk gastrointestinal terjadi karena memakan daging yang terkontaminasi Anthraks dan tidak dimasak dengan baik.

Gejala yang timbul bervariasi: demam, tonsilitis, muntah, sakit perut, diare berdarah, dan ascites (penimbunan cairan di rongga perut). Sepsis dapat terjadi pada ketiga bentuk infeksi Anthraks pada manusia dan akan berakibat fatal yaitu kematian.

Terapi Penisilin merupakan obat pilihan yang dapat digunakan untuk menanggulangi Anthraks pada manusia. Adanya kemungkinan B anthracis tahan terhadap antibiotika membuat penggunaan antibiotika harus berhati-hati. Beberapa antibiotika yang bisa digunakan berdasarkan hasil riset pada hewan percobaan dan menunjukkan hasil yang baik adalah doxycycline dan ciprofloxacin.

Imunisasi pasif dengan antitoxin Anthraks juga dapat digunakan untuk menanggulangi Anthraks. Vaksin Anthraks di Amerika Serikat telah dikembangkan sejak tahun 1970, namun penggunaannya masih terbatas di kalangan militer yang masih aktif.

Artinya, keberhasilan vaksin Anthraks masih jauh dari harapan. Penanggulangan Anthraks secara besar besaran di berbagai negara di Eropa dengan vaksin spora strain Sterne dimulai pada tahun 1930 an dan berkat pemakaian vaksin tersebut banyak negara dapat mengendalikan penyakit anthraks.

Di Indonesia, pemberantasan anthraks pada hewan juga vaksin spora strain yang sama dan hasilnya juga sangat memuaskan. Akan tetapi, reaksi post vaksinal terutama pada ruminansia kecil sangat berat bahkan sering menimbulkan kematian. Reaksi yang parah tersebut membuat banyak peternak menolak ternaknya divaksin oleh petugas dinas peternakan. Hal ini tentunya sangat menghambat dalam usaha pemberantasan penyakit. Dalam banyak kesempatan, dinas peternakan sering meminta penyediaan vaksin yang lebih aman.

Vaksinasi terhadap ternak rakyat sudah dilakukan selama ini, namun tidak semua peternak bersedia memvaksin ternaknya karena pada kambing yang habis divaksin biasanya terjadi anavila shock(semacam kejang).

Sumber di Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian melakukan penelitian untuk mengurangi anavila shock terhadap kambing yang sudah divaksin. Penelitian ini akan menghasilkan vaksin yang bisa mengurangi anavila shock, sehingga ke depan masyarakat tak perlu takut lagi kalau ternaknya divaksin anthraks. Penelitian ini dilakukan Balai Besar Penelitian Veteriner, tempat di mana Dr Drh Soeripto MSV menjadi salah satu peneliti ahli.

Vaksin Anthraks yang berkualitas memang pekerjaan penuh tantangan, sekaligus peluang bagi peneliti Tanah Air Indonesia untuk berbicara di tingkat nasional dan dunia untuk kemahslatan hajat hidup manusia dan kemanusiaan. (YR)
 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template