Thursday, January 24, 2008

Masalah Itu Muncul dari Pembibit

Fokus Majalah Infovet Edisi 162 Januari 2008

Umumnya kekerdilan baru diketahui peternak setelah memasuki usia panen sekitar umur 28 hari. Di usia itu biasanya ayam kerdil tak mencapai bobot 1 kg dimana teman seangkatannya berbobot 1,2-1,4 kg.

Kekerdilan yang semacam ini bukan terjadi karena masalah pakan tetapi lebih disebabkan oleh infeksi virus MAS (malabsorption syndrome). MAS menyebabkan tidak optimalnya pencernaan dan penyerapan sari makanan yang berbuntut pada kekerdilan.

Selain kasus kekerdilan ada juga kasus keterlambatan tumbuh yang bisa disebabkan oleh kualitas pakan yang jelek dan atau buruknya manajemen pemeliharaan di fase awal pemeliharaan. Contohnya pemberian pemanas yang kurang tepat, stres dan kepadatan yang berlebihan.

Selain itu kerdil juga bisa disebabkan oleh kualitas genetik dari bibit ayam yang memang membawa sifat kerdil. Karena menurut Hadi kekerdilan akan selalu ada setidaknya 20% dalam setiap flok, namun persentase tersebut bisa bervariasi tergantung kualitas ayam bibit. Ayam seperti ini biasanya menunjukkan pertumbuhan normal dengan berat badan yang tidak standar.

Hadi selalu mengkaitkan antara kekerdilan dengan keterlambatan tumbuh karena kedua kasus ini hampir selalu ditemukan bersamaan menjelang akhir masa pemeliharaan. Kendati menurut Hadi kasus kerdil bisa disebabkan karena kesalahan di manajemen, pakan dan bibit. Ia juga menjelaskan bahwa infeksi penyakit yang menekan kekebalan (imunosupresan) juga umumnya dapat menyebabkan ayam lambat tumbuh. Penyakit itu diantaranya adalah Koksidiosis, Avian Influenza, Necrotic Enteritis, Marek, Coryza, dll.
Hadi juga menuturkan bahwa sewaktu dirinya masih mengelola farm setidaknya dari populasi 10.000 ekor ditemui kasus kekerdilan sebesar 2-10%. Dari perhitungannya bila setiap boks ayam jumlahnya 102 ekor, maka kerugian akibat kekerdilan yang dirasakan peternak mencapai 8% dari jumlah populasi yang dipeliharanya. Menurut Hadi sebaiknya kasus kekerdilan bisa ditekan minimal hingga 1-2% saja dari total populasi.

Kasus kekerdilan ini, lanjut Hadi, disebabkan oleh kualitas bibit yang tidak standar. Ia mengkaitkan kejadian ini dengan naik turunnya harga bibit DOC. Bila harga sedang jelek misalnya harga DOC broiler atau layer Rp 500 maka kasus kekerdilan dipeternak akan menurun. Sementara bila harga sedang baik yaitu untuk DOC broiler berkisar antara Rp 3500-Rp 4000 dan harga DOC layer Rp 4.000 sampai Rp 6.000 seperti baru-baru ini terjadi maka bisa dipastikan kualitas bibit DOC akan menurun yang disertai dengan meningkatnya kasus kekerdilan.

“Hal ini tak lain dari ulah pembibit yang sengaja melepas DOC diluar standar memanfaatkan sedang bagusnya harga DOC di pasaran. Jadi ada tekanan kepentingan bisnis disini,” ujar Hadi Wibowo dari PT Sumber Multivita.

Hal inilah yang disebut Hadi sebagai penyebab kekerdilan non genetis. Sehingga bisa disimpulkan kasus kekerdilan semacam ini tak akan mengenal musim atau waktu. Karena bisa terjadi di awal, tengah atau akhir tahun.

Namun fenomena ini berusaha dibantah oleh Drs Tony Unandar (konsultan perunggasan swasta) belum lama ini di Bogor. Menurut Tony, tak ada usaha pembibitan yang menggiring pelanggannya yang nota bene adalah peternak kejurang kerugian. Karena bila peternaknya rugi tentu pembibit juga akan rugi.

Hadi menimpali, memang secara teoritis begitu yang berlaku, namun bila kita melihat kenyataan di lapangan tak bisa dipungkiri peran bibit pasti ada walaupun sekecil mungkin terhadap maraknya kasus kekerdilan. Entah itu karena penyakit bawaan dari induk yang terinfeksi reovirus, manajemen pengiriman yang menyebabkan ayam stres dan dehidrasi, atau karena manajemen di fase awal yang kurang tepat diterapkan peternak.

Hadi tetap menekankan bahwa faktor harga DOC sangat berpengaruh terhadap kualitas DOC yang dijual. Dimana apabila harga sedang bagus maka biasanya banyak anak ayam yang akan mengalami kekerdilan. Hal itu berdasarkan pengamatan pengalamannya selama lebih dari 25 tahun berkecimpung di perunggasan.

Perlu Perlakuan Khusus

Ia menyarankan untuk meminimalisasi dampak buruk dari ayam yang berpotensi kerdil, ada baiknya di awal DOC baru datang dilakukan seleksi berdasarkan berat badan. Nah, DOC bermasalah inilah yang disisihkan untuk diberikan perlakuan khusus. Kalau diculling tentu akan mubazir karena harga DOC yang sedang mahal. Karena kalau tidak tentu akan memperparah keburukan kerdil yang disebabkan ia kalah bersaing dalam mendapatkan makan dan minum. Itu dilakukan supaya nanti saat dipanen perbedaan capaian berat badan tidak terlampau mencolok.

Hadi kembali menegaskan keterkaitan harga DOC dengan kualitas, bila harga sedang bagus biasanya 10 sampai 20 persennya bermasalah. Masalah itu bisa berupa membawa sifat kerdil secara genetis, bobot badan tidak standar/DOC kapas, terinfeksi pullorum, dehidrasi dan setengah mati akibat tergencet atau lainnya.

Perlakuan khusus untuk DOC bermasalah ini dengan memberikan perlakuan manajemen yang optimum. Seperti pemberian pemanas yang sesuai dan merata, kualitas dan kuantitas pakan pre-starter yang superior mempunyai nutrisi dan digestibility tinggi.

Tambahkan pula ATP dan Zinc dalam minumnya untuk meningkatkan nafsu makannya.
“Niscaya dengan perlakuan seperti ini tingkat keseragaman berat badan saat panen akan terbantu lebih seragam,” ujar Hadi. (wan)

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template