SCAN APLIKASI ANDROID

SCAN APLIKASI ANDROID

EDISI SEPTEMBER 2018

Susunan Redaksi

Pemimpin Umum/Redaksi
Ir. Bambang Suharno
Wakil Pemimpin Umum/Usaha
Drh. Rakhmat Nuriyanto MBA
Redaktur Pelaksana
Ir. Darmanung Siswantoro
Koordinator Peliputan
Ridwan Bayu Seto
Nunung Dwi Verawati

Redaksi
Wawan Kurniawan, SPt, (Jabodetabek)
Drh Untung Satriyo (Jogja & Jateng)
Drh. Yonathan Rahardjo (Jatim)
Drh. Masdjoko Rudyanto (Bali)
Drh Heru Rachmadi (NTB)
Sadarman SPt (Riau)
Drh. Sry Deniati (Sulsel)
Drh. Joko Susilo (Lampung)
Drh Putut Pantoyo (Sumatera Selatan)

Kontributor
Prof Dr Drh Charles Rangga Tabbu,
Drh Dedy Kusmanagandi, MM,
Gani Haryanto,
Drh Ketut T. Sukata, MBA,
Drs Tony Unandar MS
Prof Dr Drh CA Nidom MS

Kabag Produksi & Sirkulasi
M. Farur Rozi

Staf Produksi & Sirkulasi
M. Sofyan, Achmad Febriyanto, Rizky Yunandi

Administrasi:
Nur Aidah,

Keuangan:
Eka Safitri
Achmad Kohar

Alamat Redaksi:
Ruko Grand Pasar Minggu
Jl. Raya Rawa Bambu No. 88A
Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520
Telp: (021) 7829689, 78841279, Fax: 7820408
e-mail:
Redaksi : majalah.infovet@gmail.com
Pemasaran : marketing.infovet@gmail.com

Rekening
Bank MANDIRI Cab Ragunan,
No 126.0002074119

Bank BCA KCP Cilandak KKO I
No 733-0301681
a/n PT Gallus Indonesia Utama

Redaksi menerima artikel yang berkaitan dengan kesehatan hewan dan atau peternakan. Redaksi berhak menyunting artikel sepanjang tidak merubah isinya.
Semua artikel yang dimuat menjadi milik redaksi.
Email artikel Anda ke: majalah.infovet@gmail.com

Jumlah Pengunjung

PT. GITA Group

Followers

Info Agribisnis Klik Di Sini

alterntif text

TRANSLATE

KUTU BUKAN SEMBARANG KUTU

On 5:09:00 AM

“Persyaratan sapi antara lain gemuk, tidak menunjukkan cacat fisik yang tidak diinginkan dan bebas dari ekto parasit. Yang termasuk cacat fisik yang tidak diinginkan adalah patah kaki, patah punggung, luka dan membahayakan keselamatan sapi yang bersangkutan atau sapi lain selama transportasi, serta cacat fisik lainnya. Termasuk ekto parasit adalah lalat, caplak dan kutu.”

Perhatikan, bukan main pentingnya tenak bebas dari penyakit parasit, termasuk kutu!

Sumber di Dinas Peternakan jawa Barat menyatakan bahwa melalui caplak dan kutu yang berpindah dapat ditularkan, Q fever, suatu penyakit yang bersifat zoonosis.

Drh Agus Lelana SpMp MSi dari FKH IPB dalam suatu kesempatan menyatakan kepada wartawan, layaknya bakteri Anthraks, Coxiella burnetti, bakteri penyebab penyakit Q Fever dapat disusupkan orang tak bertanggungjawab ke dalam produk makanan asal hewani sebagai senjata teror. Membahayakan kesehatan manusia, gejalanya tampak seperti flu biasa.

Jelas, kutu dapat menjadi perantara penyakit. Sehingga, Infovet sangat keheranan ketika menjumpai pada satu peternakan, kutu frengki begitu banyak pada kotoran ayam di lantai kandang ayam peternakan petelur. Lantas Infovet abadikan dalam gambar di pada artikel ini.

Begitulah, tentang penyakit parasit serangga ini, di samping lalat, kutu juga merupakan musuh utama peternak terutama peternak yang memelihara layer dengan kondisi manajemen kandang yang kurang bagus.

Apabila anak ayam dibiarkan berkeliaran, mereka harus dilindungi dari pemakan mangsa dan ayam yang buas terutama pada malam hari. Tikus dan kutu ayam kalau dibiarkan dapat menyebabkan kontaminasi pada makanan ayam yang ahirnya dapat menimbulkan penyakit.

Kutu merupakan ektoparasit yang sering ditemukan pada burung termasuk ayam. Kutu ayam digolongkan pada ordo Mallophaga yakni kutu yang mengunyah.

Hal ini berdasar pada terdapatnya mandibula yang terletak di bagian ventral kepala, tubuh pipih di bagian dorso ventral dan adanya antena pendek dengan 3-5 segmen. Mallophaga berkepala lebar dengan mandibula yang mengeras dan berpigmen.

Diantara spesies kutu yang harus diwaspadai kehadirannya di farm peternakan adalah kutu pada kepala (Cuclotogaster heterographa), kutu bulu halus (Goniocotes gallinae), kutu ayam coklat (Goniodes dissimilis), kutu sayap (Lipeurus caponis), kutu tubuh (Menachantus stramineus

Keberadaan kutu sebagai musuh utama ayam peliharaan peternak merupakan hal yang harus dihindari. Hal ini dikemukan M Hadie peternak broiler di Panam pinggiran Kota Pekanbaru.

Menurutnya, keberadaan lalat di kandang sangat mengganggu terutama pada broiler memasuki periode minggu kedua pemeliharaan. Sumber Infovet menyatakan, apabila bulu unggas rontok pada bagian perut atau sekitar dubur, penyebabnya pada umumnya adalah adanya parasit seperti kutu.


Metode Anti Kutu

Lalu bagaimana trik yang digunakan Hadie dalam memangkas perkembangbiakan kutu?

“Hanya dengan metode mekanik yakni dengan cara meningkatkan biosekuriti ternak dan biosekuriti luar dan dalam kandang. Dalam berusaha kita pasti ingin untung kan, sama halnya dalam pemeliharaan ayam, takkan ada penyakit bila kita mau menerapkan cara beternak yang baik dan yang dianjurkan oleh petugas lapangan dari kemitraan dan para Technical Service,” pungkas Hadie.

Sedang Zuhri Muhammad SPt Technical Service PT Medion merekomendasikan untuk menggunakan suatu obat tertentu. Menurutnya, penggunaan obat ini di lapangan hasilnya cukup bagus.

Adapun teknik pemakaiannya dengan cara menyemprotkan ke bagian tubuh ayam yang terserang kutu tersebut dan ini dilakukan secara terus menerus sampai tidak ditemukan lagi kutu pada tubuh ayam dimaksud.


Penyakit Kudis

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Lampung menyatakan, kambing bisa terserang penyakit, di antaranya kurap/kudis yang disebabkan parasit kulit, termasuk kutu. Tanda-tanda penyakit ini, kambing gelisah karena gatal, bulu rontok, kulit merah dan menebal. Tempat yang sering diserang adalah wajah, telinga, pangkal ekor, dan leher. Penyakit ini bisa dicegah dengan kebersihan dan pemisahan ternak yang sakit.

Demikian juga Sumber di Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi menyatakan bahwa kudis merupakan penyakit menular yang menyerang kulit domba pada semua usia.

Akibat dari penyakit ini produksi domba merosot, kulit menjadi jelek dan mengurangi nilai jual ternak domba. Penyebab penyakit kudis ini adalah parasit berupa kutu yang bernama Psoroptes ovis, Psoroptes ciniculi dan Chorioptes bovis.

Gejala domba yang terserang kudisan: tubuh domba lemah, kurus, nafsu makan menurun dan senang menggaruk tubuhnya. Kudis dapat menyerang muka, telinga, perut punggung, kaki dan pangkal ekor.

Pengendaliannya antara lain: dengan mengoleskan Benzoas bensilikus 10% pada luka, menyemprot domba dengan Coumaphos 0,05-0,1%.

Tentu Anda pun kaya pengalaman yang lain untuk berbagi. (Daman Suska, YR/ berbagai sumber).

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

1 komentar:

trimakasih infonya. alhamdulillah domba saya belum kena (dan semoga tidak akan pernah kena penyakit.. setidaknya tau cara pengobatannya...

Artikel Populer