Friday, September 28, 2007

BAGAIMANA MENGENALI DAN MENGATASI IMUNOSUPRESI ?

Pertahanan tubuh merupakan fungsi fisiologis yang amat penting bagi mahluk hidup. Dengan pertahanan tubuh berjalan optimal, mahluk hidup dapat tumbuh berkembang, bereproduksi dengan optimal. Bila berbicara mengenai pertahanan tubuh, perlu diketahui pula ancaman-ancaman penyakit yang dapat menyebabkan gangguan fungsi tubuh sehingga perkembangan tubuh dan produksi menjadi terganggu.

Imunosupresi adalah suatu kondisi dimana terjadi penurunan reaksi pembentukan zat kebal tubuh atau antibodi akibat kerusakan organ limfoid. Dengan adanya penurunan jumlah antibodi dalam tubuh, maka penyakit-penyakit akan lebih leluasa masuk dan menginfeksi bagian tubuh. Hal tersebut akan menyebabkan adanya gangguan pertumbuhan dan produksi. Jadi, sangatlah penting untuk mengenali dan mengetahui imunosupresi.

Pertahanan tubuh Ayam

Pertahanan tubuh ayam dapat dibagi menjadi dua, yaitu pertahanan tubuh non spesifik dan pertahanan tubuh spesifik.

Sistem pertahan tubuh non spesifik merupakan sistem pertahanan tubuh yang melindungi dari berbagai ancaman secara umum. Sistem pertahan non spesifik berupa : hambatan mekanik, seperti kulit, mukosa, mukus dan silia pada saluran pernafasan. Selain itu berupa fagositosis, sistem komplemen dan sel pembunuh.

Sistem pertahanan tubuh spesifik, berkaitan dengan adanya respon kekebalan tubuh yang dapat berperantara seluler maupun humoral. Respon kekebalan tubuh berperantara humoral dapat bersifat aktif maupun pasif. Sistem ini mampu mengenali antigen sebagai benda asing. Mempunyai spesifitas tertentu dan mempunyai memori atau ingatan terhadap antigen.

Respon kekebalan tubuh yang bersifat aktif merupakan hasil vaksinasi, dan materi yang berkaitan dengan repon kekebalan humoral aktif adalah antigen, epitop, antibodi dan limfosit.

Respon kekebalan tubuh yang bersifat pasif merupakan hasil transfer atau perolehan kekebalan asal induk. Perolehan kekebalan pasif yang didapatkan anak ayam dari induknya biasanya tidak seragam. Kekebalan yang diperoleh tergantung dari titer antibodi induk dan akan habis dalam waktu yang relatif singkat. Hal-hal inilah yang perlu diperhitungkan dalam menyusun program vaksinasi.


Parameter Imunosupresi

Kemampuan mengetahui tanda-tanda terjadinya imunosupresi sangat penting. Dengan mengetahui tanda-tanda imunosupresi, maka penanganannya akan menjadi efektif karena tepat pada sasaran.

Tanda-tanda terjadinya kasus imunosupresi adalah performa produksi yang jelek dari suatu flok peternakan, yang dapat disebabkan oleh adanya kematian yang sangat tinggi, pencapaian berat badan yang rendah, konversi pakan yang tinggi dan keseragaman pertumbuhan berat badan ayam yang rendah, banyaknya ayam yang kerdil. Tanda lain kasus imunosupresi adalah meningkatnya reaksi pernafasan, misal setelah melakukan vaksinasi dan terjadinya outbreak penyakit pada suatu peternakan. Hal tersebut dapat disebabkan adanya reaksi suboptimal terhadap vaksinasi. Gambaran perubahan patologi anatomi untuk kasus imunosupresi adalah terjadinya atrofi pada bursa fabricius dan rasio perbandingan ukuran antara bursa fabrisius dengan limpa. Bila ukuran bursa fabrisius sama atau lebih kecil dari limpa, pada 5 minggu pertama umur ayam, dapat mengindikasikan bahwa telah terjadi kasus imunosupresi.

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh ayam antara lain : rusaknya organ limfoid primer ataupun sekunder karena infeksi virus dan mikotoksin, rusaknya organ limfoid sekunder karena infeksi bakterial, stress yang mempengaruhi fungsi organ limfoid primer, dan efek nutrisi dan manajemen yang dapat mempengaruhi organ limfoid primer maupun sekunder. Oleh sebab itu, untuk mengoptimalkan sistem pertahanan tubuh, organ limfoid penghasil sistem kekebalan tubuh harus dijaga.

Organ Pertahanan Tubuh.

Organ tubuh ayam yang memegang peranan penting dalam pertahanan tubuh ayam adalah bursa fabricius dan thymus. Kedua organ ini merupakan organ primer atau utama dalam sistem kekebalan. Bursa fabricius akan tumbuh cepat dalam 3 minggu pertama umur ayam. Ukuran bursa akan lebih besar dari lien kurang lebih 5 minggu pertama kehidupan ayam dengan rasio ukuran bursa sebanding dengan ukuran berat badan tubuh. Bursa akan mengalami regresi dimulai pada umur 8 minggu.

Organ lain yang berperan dalam sistem kekebalan adalah limfa, lempeng peyer pada mukosa usus, tonsil sekalis, struktur limfoid sepanjang saluran pernafasan, kelenjar harder dan konjungtiva mata.


Penyakit Penyebab Imunosupresi.

Kejadian imunosupresi disebabkan oleh kerusakan dan terjadinya gangguan fungsi organ limfoid. Penyakit yang merusak struktur dan fungsi organ limfoid primer adalah gumboro, mareks, mikotoksikosis, infeksi reovirus, infeksi chicken anemia dan infeksi ALVJ. Sedangkan penyakit yang dapat merusak struktur dan fungsi organ limfoid sekunder adalah Newcastle disease, Avian Influenza, Swollen Head Syndrome, Infeksius bronchitis, Infeksius Laryngotracheitis, pox bentuk basah, aspergillosis, koksidiosis, mikoplasmosis, snot, kolibasilosis, kolera unggas, salmonellosis dan helmintiasis.

Lisovit, Optimalkan Fungsi Kekebalan

Sudah dapat dipastikan bahwa pencegahan penyakit lebih baik dari pada pengobatan. Praktek pencegahan penyakit yang baik dapat diilustrasikan seperti sebuah rantai sepeda yang akan bekerja dengan baik apabila keseluruhan bagian menyatu. Praktek pencegahan penyakit di peternakan dapat di bagi dalam beberapa bagian. Bagian-bagian tersebut adalah : Pencegahan stress pada ayam, manajemen pemeliharaan, kualitas dan suplai air minum, test serologi, sanitasi, vaksinasi, pencegahan parasit dan pengendalian polutan.

Masalah imunosupresi berkaitan dengan upaya untuk penanganan dan kontrol penyakit harus dapat diatasi secara serius karena hal tersebut dapat mengganggu konsep pengebalan ayam dan konsep optimalisasi kesehatan ayam yang telah disusun dengan baik. Selain dengan mengeliminasi dan memperbaiki penyebab utama timbulnya kasus imunosupresi, seperti pemberian antibiotika untuk penyebab imunosupresi asal bakteri ataupun penggunaan berbagai jenis vaksin sebagai pencegahan penyakit pencetus timbulnya imunosupresi, perlu suatu upaya untuk memperkuat status kekebalan ayam, atau mempercepat status perbaikan kekebalan ayam yaitu dengan pemakaian Lisovit® .

Lisovit® memiliki kandungan ensim muramidase yang memiliki dua efek yaitu efek anti bakterial karena kemampuannya memecah dinding sel bakteri di saluran pencernaan ayam dan kemampuan menstimulasi kekebalan tubuh ayam karena mampu memproduksi fragmen peptidoglikan, sehingga mampu meningkatkan aktivitas makrofag dan mampu untuk menstimulasi pembentukan limfosit.

Lisovit® memiliki kandungan ensim peroksidase yang memiliki efek katalisa oksidasi dari donor hidrogen untuk mendukung proses generasi molekul oksigen reaktif yang dapat menginaktivasi substansi asing.

Lisovit® mengandung ekstrak tanaman berkhasiat (Echinaecea) yang berperan menstimulir kekebalan seluler dengan meningkatkan aktifitas phagositik dari makrofag dan kecepatan pembentukan limfosit, serta meningkatkan aktifitas Sel T sebagai bagian dari mekanisme pertahanan tubuh.

Lisovit® juga mengandung dua macam vitamin, yaitu : vitamin E sebagai antioksidan yang mampu mempengaruhi berbagai sel dari system kekebalan seperti limfosit dan makrofag untuk menghasilkan interferon yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh. Yang kedua, vitamin C yang berperan dalam proses reduksi oksidasi di dalam tubuh yang mentransfer hidrogen dan meningkatkan daya tahan tubuh terhadap infeksi dan berbagai keadaan stress.

Berdasarkan mekanisme kerja yang terdapat di dalamnya, maka Lisovit® mampu mengoptimalkan vaksinasi, meningkatkan daya tahan tubuh ayam terhadap stress dan serangan penyakit, serta tidak kalah penting dapat meningkatkan daya kerja antibiotika golongan betalactam (amoxicillin, ampicillin, dll). Maka dengan pemberian Lisovit®, kasus-kasus imunosupresi dapat segera dipercepat pemulihannya dan dapat menstimulir timbulnya respon kekebalan sehingga konsep pengebalan ayam dan konsep optimalisasi kesehatan ayam dapat berjalan dengan baik.

Cara pemberian Lisovit® pada ayam pedaging, ayam petelur dan ayam bibit diberikan selama 3 hari berturut-turut dengan selang waktu 1 hari, pada saat vaksinasi atau kejadian stress. Dosis untuk ayam pedaging di minggu pertama 30 gram/1000 ekor, minggu kedua 50 gram/1000 ekor dan di minggu ketiga 100 gram/1000 ekor. Dosis untuk ayam petelur dan ayam bibit 100 gram/1000 ekor.


Drh Nur Vidia Machdum
Technical Department Manager
PT. ROMINDO PRIMAVETCOM
Jl DR Saharjo No 266
JAKARTA. Telp.021 8300300

0 komentar:

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template