Wednesday, August 15, 2007

Kekuatan Kata-kata

Kekuatan Kata-kata
Bambang Suharno

Salah satu motivator yang menurut saya sangat pintar mengolah kata-kata adalah Mario Teguh. Saya mengamatinya sejak 5 tahun lalu ketika ia menjadi narasumber talkshow di Radio Bisnis PassFM, kemudian ke Radio Ramako Jakarta dan kemudian ke bebarapa radio lain, dan berikutnya tampil di acara business art di saluran televisi O-Channel. Kalimat di bawah ini saya kutip dari salah satu artikelnya mengenai anger management (pengelolaan amarah). Perhatian baik-baik olahan kata per kata. Kita akan menikmati indahnya Mario Teguh mengolah kata menjadi sebuah kesadaran dalam diri kita.

Seseorang yang tidak bisa merasa marah tidak bisa disebut penyabar; karena dia hanya tidak bisa marah. Sedang seorang lagi yang sebetulnya merasa marah, tetapi mengelola kemarahannya untuk tetap berlaku baik dan adil adalah seorang yang berhasil menjadikan dirinya bersabar.

Kata-kata yang sejatinya tak lebih dari rangkaian huruf, yang kemudian diolah menjadi kalimat, dapat merubah banyak hal dalam diri banyak orang. Kata-kata menjadi sedemikian tajam di tangan seorang yang pandai mengasahnya.

Orang-orang yang pandai berkomunikasi bukanlah orang yang pintar mengumbar kata-kata. Mereka adalah orang yang tekun menyimak, membaca dan mengolah menjadi kata-kata yang dapat diterima lawan bicara (istilah lawan bicara kelihatannya kurang pas, apakah lebih tepat istilah teman bicara?)

Makanya anggapan bahwa seorang penjual yang sukses harus pandai berbicara banyak, adalah sangat keliru.

Para negosiator hebat adalah mereka yang pintar memilih kata-kata yang baik. Begitupun dengan para pemimpin-pemimpin dunia. Untuk memilih kata-kata yang matang, diperlukan kepandaian mendengar dan merasakan apa yang ada di benak lawan bicara. Dr.Drh.Soehadji, mantan Dirjen Peternakan pernah memperkenalkan istilah ”ukuran keempat” untuk menggambarkan ukuran yang dimensinya berbeda dengan jenis ukuran lainnya. Ukuran pertama adalah panjang atau lebar (satu dimensi dengan ukuran meter), ukuran kedua adalah luas (dua dimensi, menggunakan meter persegi), ukuran ketiga adalah isi (3 dimensi, dengan meter kubik) dan ukuran keempat adalah perasaan (dimensi kompleks). Mereka yang hebat dalam penjualan, negosiasi ataupun dalam memimpin pandai menggunakan ukuran yang abstrak ini. Kita mengenal istilah empati, yakni bagaimana memposisikan perasaan kita pada posisi lawan bicara. Itulah ukuran keempat.

Dari sebuah artikel Erwin Arianto di sebuah mailing list, saya menemukan cerita yang menarik mengenai seorang petani terkemuka di Finlandia yang sangat pandai memilih kata-kata dalam berkomunikasi. Waktu itu garis batas antara Finlandia dan Rusia sedang ditentukan, dan petani itu harus memutuskan apakah dia ingin menjadi warga Finlandia atau Rusia. Setelah memikirkan cukup lama, dia memutuskan untuk berada di Finlandia, tetapi dia tidak ingin melukai perasaan pejabat Rusia. Pejabat Rusia itu datang kepadanya dan bertanya mengapa dia ingin berada di Finlandia.

Petani itu menjawab,"Sudah merupakan kerinduanku sejak dulu untuk tinggal ditanah tumpah darahku Rusia, tetapi pada usiaku yang sudah lanjut seperti ini, aku tidak dapat bertahan menghadapi musim dingin di Rusia."

Dengan kalimat seperti ini pejabat Rusia mendukung keinginan petani untuk bermukim di Finlandia dan tetap bersahabat dengan pejabat Rusia. Tidak terbayangkan jika petani itu mengatakan,” maaf Bapak pejabat, saya punya hak penuh untuk memilih tempat tinggal. Ini bukan urusan Anda”.

Kisah lain yang sejalan dengan topik ini adalah seorang guru yang berusaha untuk menjelaskan kepada sekelompok orang mengenai betapa besarnya reaksi orang terhadap kata-kata, menelan kata-kata, hidup dalam kata-kata.

Salah seorang dari kelompok itu berdiri dan mengajukan protes. Dia berkata, "Saya tidak setuju dengan pendapat Anda bahwa kata-kata mempunyai efek yang begitu besar terhadap diri kita."

Guru itu berkata," Duduklah, anak haram!"

Muka orang itu menjadi pucat karena marah dan berkata,"Anda menyebut diri Anda sebagai orang yang sudah mengalami pencerahan, seorang guru, seorang yang bijaksana, tetapi kenyataannya Anda sangat tidak sopan. Seharusnya Anda malu dengan diri Anda sendiri."

Kemudian Guru itu berkata, "Maafkan saya, saya terbawa perasaan. Saya benar-benar mohon maaf, itu benar-benar di luar kesadaran saya, saya mohon maaf." Orang itu akhirnya menjadi tenang.

Kemudian Guru berkata lagi,"hanya diperlukan beberapa kata untuk membangkitkan kemarahan dalam diri anda; dan hanya diperlukan beberapa kata untuk menenangkan
diri anda, benar bukan?"***

Email: bambangsuharno@telkom.net
Informasi Training Pengembangan SDM hubungi Gita Organizer: 021.78841279

1 komentar:

Love Our OMEGA!! on November 12, 2009 at 10:02 PM said...

salam super untuk mas infovet yang super :)
saya kagum pada bapak mario teguh, kata-katanya singkat dan padat! terima kasih atas reviewnyasemoga bisa
saya
jadikan motivasi :)

Post a Comment

 
Infovet Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template